image image image image
Grand Opening GBKP Runggun Cikarang GBKP Cikarang yang telah disyahkan menjadi Jemaat/Runggun pada sidang GBKP klasis Jakarta-Bandung tanggal 10-12 Oktober 2014 di Hotel Rudian-Puncak,
PEMBINAAN BP RUNGGUN – RAMAH TAMAH TAHUN BARU – PENCANANGAN TAHUN PENINGKATAN SOSIAL EKONOMI DAN BUDAYA JEMAAT Pada tanggal 10 Januari 2015 di GBKP Runggun Bekasi telah di laksanakan kegiatan Pembinaan BP Runggun di Klasis Jakarta-Bandung. Kegiatan yang dimulai pukul 08.00 Wib diawali kebaktian pembukaan oleh Pdt. Alexander Simanungkalit,
WISATA LANSIA GBKP KLASIS JAKARTA-BANDUNG KE BANGKOK-PATTAYA Wisata Lansia yang menjadi salah satu program Bidang Diakoni GBKP Klasis Jakarta-Bandung telah dilaksanakan tanggal 8-11 Desember 2014 ke Bangkok-Pattaya. Wisata yang diikuti 47 peserta ini di damping Kabid Diakonia, Dk. Ferdinand M. Sinuhaji dan Pdt.S.Brahmana.
PEMBUKAAN SIDANG KERJA SINODE (SKS) DAN SIDANG PROGRAM & KEUANGAN (SPK) TAHUN 2014 Pembukaan Sidang Kerja Sinode (SKS) dan Sidang Program dan Keuangan (SPK) tanggal 22-25 Oktober 2014 telah dilaksanakan pada pukul 10.00 Wib, di dahului kebaktian pembukaan yang dipimpin Pdt.Vera Ericka Br.Ginting, direktur Percetaken dan Toko Buku GBKP Abdi Karya Kabanjahe,

Khotbah Keluaran 17:8-16, Minggu 04 September 2016

Invocatio :
Sebab itu tempuhlah jalan orang baik, dan peliharalah jalan-
jalan orang benar (Amsal 2:20)

Bacaan :
Kejadian 39:1-6 (Tunggal)

Tema :
Permata GBKP Terteki
 
 
1. Memahami dan Merenungkan Bacaan 1
a. Yusuf diperkirakan dijual pada saat usia 17 tahun dan diperkirakan bahwa Yusuf berada di rumah Potifar selama lebih kurang 10 tahun. Sekalipun dia berada di rumah Potifar tetapi dia tetap disertai oleh Tuhan (ay. 2). Dan penyertaan tersebut menyebabkan ada step-step kemajuan hidup Yusuf di rumah Potifar. Kemajuan tersebut adalah; segala yang diperbuatnya berhasil (ay. 2b). Potifar melihat bahwa Tuhanlah yang membuat pekerjaan Yusuf berhasil (ay. 3a) dan ini menyebabkan Potifar mengijinkan Yusuf melayani dia (ay. 4a). Tuhan memberkati Yusuf, bukan saat Yusuf berdiam diri, tetapi saat Yusuf juga bekerja. Ini terlihat dari kata-kata “Pekerjaannya” (ay. 2), “dikerjakannya” (ay. 3), “melayani dia” (ay. 4). Ingatlah bahwa Tuhan tidak akan memberkati orang yang malas.

b. Potifar menyerahkan segala miliknya dalam kuasa Yusuf, sehingga dengan bantuan Yusuf ia tidak perlu mengurus apa-apa lagi kecuali makanannya sendiri (ay. 4b-6). Memang tidak diizankan bagi seorang Ibrani untuk mengurus makanan orang Mesir karena itu dianggap sebagai kekejian.

c. Penyerahan segala sesuatu ke dalam tangan Yusuf menyebabkan Potifar diberkati oleh Tuhan. (ay. 5b). Sama seperti Laban diberkati karena kehadiran Yakub (Kej. 30:27). Perenungan bagi kita bahwa kehadiran kita dimanapun kita bekerja, kita menjadi berkat bagi orang lain dan sekitar kita. Tetapi, penyebab utama dari semua itu adalah kedekatan dengan Tuhan. Kita akan menjadi berkat bagi orang lain, disaat kita terkoneksi baik dengan Tuhan. Yusuf disebut sebagai orang berhasil, bahkan akhirnya dipercaya sebagai penguasa Mesir (pada akhirnya) karena ia memiliki Tuhan yang hidup, yang senantiasa menyertai hidupnya. Keberhasilan Yusuf bukan karena apa yang dia miliki tetapi siapa yang dia miliki yaitu TUHAN yang dalam Efesus 3:20 dikatakan "Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita"

d. Selama 10 tahun Yusuf ada di rumah Potifar dan oleh sebab “Yusuf itu manis sikapnya dan elok parasnya” (ay. 6b). Dan kita bandingkan dengan ayat 10a “Walaupun dari hari ke hari perempuan itu membujuk Yusuf, Yusuf tidak mendengarkan bujukannya itu untuk tidur di sisinya dan bersetubuh dengan dia.” Tetapi Yusuf tetap masih bertahan dalam iman. Ini menunjukkan kehebatan Yusuf. Selama 10 tahun hidup di kalangan orang kafir, kerohaniannya bisa tetap terjaga dengan baik. Iman Yusuf tidak tergantung kondisi luar. Sekali lagi, bahwa Yusuf tidak melakukan hal zinah dengan istri Potifar bukan karena takut dengan Potifar yang merupakan tuannya, tetapi karena dia takut akan Tuhan. Yang perlu kita renungkan adalah ketika saat ini orang-orang lebih takut berbuat hal negatif dihadapan manusia daripada dihadapan Tuhan. (ingat lagu KAKR “mata Tuhan melihat apa yang kita perbuat”). Jadi kalau tidak mau berdosa jangan dekati sumber dosa. Yusuf ketika digoda istri Potifar dia lari keluar (ay. 13) bukan lari ditempat. Ingatlah bahwa “integritas diuji saat kita merasa tidak ada ORANG yang melihat”. Integritas adalah menyatunya kata dan perbuatan atau menyatunya iman di dalam tindakan nyata. Alkitab berkata : ...TUHAN menyertai Yusuf, sehingga ia menjadi seorang yang selalu berhasil dalam pekerjaannya. Keberhasilan merupakan anugerah Allah. Tetapi, pada tingkat tertentu keberhasilan bisa menjadi jerat yang membuat dia lupa diri. Karena itu, keberhasilan yang sejati harus disertai dengan integritas yang teruji. Jangan mau kompromi dengan dosa. Ula kari ninta “sekali nge!” sekali nge lebe maka dua kali ras seterusna. Ingat PERMATA, saat ini banyak sekali yang “harga dirinya” murahan, tidak menjaga kekudusan saat masih PERMATA. Jangan sekali-sekali berzinah! Ada kalimat mengatakan “carilah pasangan yang mengajakmu buka Alkitab, bukan mengajakmu buka baju”

e. Memang kita tidak bisa menghindari adanya dosa ataupun godaan-godaan. Tetapi seperti kata Marthin Luther “Kita tidak bisa menghalangi burang terbang di atas kepala kita, tapi kita bisa mencegah burung bersarang di atas kepala kita”. Artinya dosa dan godaan akan tetap ada, tetapi jangan itu yang menguasai kita, sehingga kita benar-benar menjadi orang yang bisa dipercaya. Luk. 16:10 "Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar.” Perlu diingat oleh setiap kita secara khusus oleh PERMATA, dalam mencari pekerjaan atau pasangan hidup tetaplah berintegritas, TUHAN sendiri yang akan mem-PROMOSI-kan kita. Seperti Yusuf yang diberi kemampuan untuk menafsir mimpi Firaun yang pada akhirnya menjadi orang nomor dua di Mesir. Akan tetap ada cara ajaib Tuhan yang jauh di luar nalar kita.
 
2. Memahami dan merenungkan bacaan ke 2
a. Menurut Kej.36:12, “Timna adalah gundik Elifas anak Esau; ia melahirkan Amalek bagi Elifas. Itulah cucu-cucu Ada isteri Esau,” Amalek adalah cucu Esau. Dan Bilangan 24:20, Amalek adalah bangsa pertama yang melawan Israel, “Ketika ia melihat orang Amalek, diucapkannyalah sanjaknya, katanya: Yang pertama di antara bangsa-bangsa ialah Amalek, tetapi akhirnya ia akan sampai kepada kebinasaan.” Amalek memerangi Israel karena ingin merebut sumber air.

b. Nats ini bercerita tentang pertempuran antara Israel dan Amalek di Rafidim. Tetapi pertempuran itu adalah pertempuran dimana Allah sendiri yang berperang melawan Amalek (Ul.25:17–19; Kel.17:14). Amalek jelas-jelas memberontak kepada Allah, sehingga Allah-lah yang berperang. Sehingga Musa naik ke bukit, dan berdoa, dan bukannya membuat mujizat langsung dari tongkat. Hasil doa Musa, Allah dikenal sebagai Jehovah Nissi (Tuhan panji-panji Israel). Satu-satunya tempat dalam Alkitab dimana Tuhan disebut sebagai Jehovah Nissi. Jehovah Nissi menunjukkan bahwa ketika Israel melangkah menuju Kanaan, Tuhan menyertai. Tuhan menjadi “penunjuk arah” bagi umatNya. Yang perlu kita renungkan adalah dunia dan segala isinya ini banyak menawarkan segala-sesuatu, tetapi ingatlah bahwa Allahlah Sang Penuntun hidup kita yang sejati. Jangan mengikuti arah yang dunia ini inginkan, tetapi ikutklah YEHOVAH NISSI (TUHAN Panji-panji Israel Sang Penuntun).

c. Perjalanan kehidupan kita persis sama seperti proses keluarnya bangsa Israel dari perbudakan Mesir. Di tengah jalan banyak tantangan dan rintangan. Ingat, bahwa menjadi Kristen tidak pernah ditawarkan jalan penuh dengan bunga mawar bahkan dikatakan “harus pikul salib”. Menjadi PERMATA saat ini memiliki tantangan tersendiri. Baik tantangan dari dalam diri sendiri yaitu keinginan daging dan tantangan dari luar seperti misal teknologi-medsos-game online dsb. Ingatlah bahwa kita tidak akan mampu jika mengandalkan kemampuan diri sendiri dalam menghadapi tantangan tsb. Efesus 6:11-18 “ Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis; karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara. Sebab itu ambillah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu dan tetap berdiri, sesudah kamu menyelesaikan segala sesuatu. Jadi berdirilah tegap, berikatpinggangkan kebenaran dan berbajuzirahkan keadilan, kakimu berkasutkan kerelaan untuk memberitakan Injil damai sejahtera; dalam segala keadaan pergunakanlah perisai iman, sebab dengan perisai itu kamu akan dapat memadamkan semua panah api dari si jahat, dan terimalah ketopong keselamatan dan pedang Roh, yaitu firman Allah, dalam segala doa dan permohonan. Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk segala orang Kudus” Jangan memberi kesempatan mata untuk melihat sesuatu yang mendatangkan dosa, telinga jangan dipersiapkan untuk mendengar hal-hal yang membuat hati kita rusak, pikiran dilindungi oleh damai sejahtera Allah, mulut dijaga supaya tidak mengeluarkan kata-kata tidak baik. Ini semua dikenakan pada kepala kita sebagai ketopong keselamatan.

d. Dalam hukum perang, seorang yang mengangkat tangan di hadapan musuh menunjukkan tanda menyerah. Demikian pula saat Musa mengangkat kedua tangannya, berarti dia merasa tidak mampu menghadapi Amalek sehingga Tuhan berperang melawan Amalek. Bukti kehidupan yang menyerah sepenuh kepada Tuhan ialah ‘bila kita mengangkat tangan, Tuhan akan turun tangan’. Mengangkat tangan juga berarti berada di pihak Allah; kalau Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita (Rom. 8:31).

e. “Maka penatlah tangan Musa, sebab itu mereka mengambil sebuah batu, diletakkanlah di bawahnya supaya ia duduk di atasnya. Harun dan Hur menopang kedua belah tangannya, seorang di sisi yang satu, seorang di sisi yang lain sehingga tangannya tidak bergerak sampai matahari terbenam.” (ay. 12) Tugas pekerjaan besar hanya akan berhasil kalau dilakukan bersama-sama dalam kesatuan sama seperti tubuh itu satu dan anggota-anggotanya banyak namun semua anggota meskipun banyak merupakan satu tubuh; demikian pula Kristus (1 Kor 12:12). PERMATA bukan “aku” tetapi “kita”. Biarlah setiap anggota tidak mementingkan dirinya sendiri. Jaga integritas dan biarlah segala tanggungjawab yang diemban seperti Yusuf dan Yosua tetap bisa dipercaya.
 
Pdt. Dasma S. Turnip
Runggun Pontianak
   

Khotbah Lukas 15:11-24, Minggu 21 Agustus 2016

Invocatio :
Orang benar yang bersih kelakuannya – berbahagialah
keturunanannya (Amsal 20:7)

Bacaan :
Kejadian 13:1-12

Tema :
Ayah yang Baik (Bapa Si Melias)
 
Pendahuluan
Untuk memahami kasih Allah bagi manusia dan memperjelas ajaran Allah Yesus sering memakai sebuah perumpaan (kiasan). Maksud dan tujuan Yesus sebenarnya bukanlah mengemukakan perumpaan itu saja, melainkan menyampaikan Injil atau Kabar Baik melalui perumpamaan. Dengan perumpaan biasanya para pendengar lebih kosentrasi untuk mendengarkannya. Karena tampa kosentrasi, pendengar tidak akanmengerti isi dan tujuan perumpaan itu. Dengan perumpaan pendengar diajak untuk berpikir dengan serius.
 
Lukas 15 sebagai ajaran Yesus dengan menggunakan perumpaan, perumpaan yang disampaikan Yesus untuk menekankan bagaimana pandanga Yesus terhadap orang berdosa berbeda dari pandangan Farisi dan ahli-ahli Taurat. Faris dan ahli Taurat keberatan atas tindakan Yesus terhadap para pemungut cukai dan orang-orang berdosa. Sebab bagi orang Farisi dan dan ahli Taurat, mereka adalah orang-orang yang berstatus ‘tidak masuk hitungan’ di tengah masyarakat dan harus disingkirkan. Barangsiapa masih memihak kepada orang-orang seperti itu pantas untuk dicurigai. Itulah sebabnya orang Farisi dan ahli Taurat bersungut-sungut karena Yesus seakan-akan memanjakan orang itu. Tapi melalui perumpaan ini Yesus menekankan bahwa kehadiran Dia di dunia untuk mencari orang-orang yang hilang atau orang-orang yang tersingkirkan. Sebagi wujud kasih Allah sebagai Bapa untuk manusia sebagi anak-anakNYa.
 
Penjelasan
Perikop Firman Tuhan dalam Lukas 15:11-24 mengambarkan kasih seorang bapa yang mengenal akan sifat dan karakter kedua anaknya. Walau pun bukan hal yang sopan dan wajar yang telah dilkukan oleh anaknya yang bungsu/muda dengan meminta warisan sebelum ayahnya meninggal . tapi itu juga diberikan oleh ayahnya. Setelah menerima bagiannya maka dia pergi meninggalkan ayahnya (tradisi Yahudi seorang anak yang sudah menerima warisan orang tua harus meninggalkan rumah). Dan harta yang sudah diperoleh dipergurnakan hanya untuk kesenangan dunia sampai harta itu habis dan dia kelaparan di negeri orang dan tidak seorang pun yang perduli dengan kesusuhan yang ada padanya. Dalam kondisi kelaparan dan penolakan orang-orang disekitarnya ia mengingat akan rumah ayahnya yang berlimpah makanan, dan penuh keyakinan ia bergerak untuk pulang dan kepulanganya disambut dengan sukacita oleh ayahnya dengan dengan pesta yang meriah dengan tidak pernah memperhitungkan kesalahan yang telah dilakukan anaknya (ayat 24). Tapi apa yang dilakukan ayahnya tidak menjadi sukacita oleh anaknya yang sulung/tua, sebab ia merasa apa yang telah dilakukan oleh adiknya selama ini tidak benar terhadap ayahnya tapi mengapa ayahnya sangant bersukacita akan kehadirannya. Ia yang selama ini ada bersama ayahnya dan melakukan apa yang jadi aturan dirumah ayahnya malah tidak pernah merasakan apa yang dilakukan ayahnya kepada adiknya yang sudah pulang (ayat 25).
 
Dalam kerajaan Allah terdapat sukacita dan kegembiraan yang tiada taranya. Hanya orang yang benar-benar telah berada di dalam Kerajaan Allah itu yang dapat merasakannya. Bukan berarti hal itu mulai berlaku disurga, tetapi ketika kita masih berada di dunia ini. Orang-orang yang tidak mengenal Kerajaan Allah memang tidak akan bisa merasakannya, bahkan mengkritiknya. Itu yang dilakukan oleh orang Farisi dan ahli Taurat yang tidak merasa sukacita dengan bertambahnya pengikut Kerajaan Allah. Sehingga menjadi pertanyaan apakah mereka sudah menjadi penghuni Kerajaan Allah, karena kalau sudah tentu mereka turut bersukacita dengan yang dilakukan , Yesus,menerimaorang-orang berdosa yang sudah bertobat.
 
Dengan adanya pertobatan itu, ,maka warga Kerajaan Allah semakin bertambha dan sukacita pun tidak dapat dihambat. Orang yang tadinya hilang dapat kembali, sama artinya dengan orang yang tadinya mati menjadi hidup kembali. Tentu wajar sekali terjadi sukacita dan kegembiraan yang luar biasa.
Sukacita itu bukan hanya pada Allah Bapa atau pada Yesus Kristus yang telah berhasil menyelamatkan orang-orang yang percaya yang telah berhasil menyelamatkan orang-orang yang percaya, tetapi juga berlaku bagi ‘penghuni’ kerajaan Allah itu. Tidak ada iri hati atau cemburu atas kehadiran ‘orang lain’, yang pernah dianggap golongan atau setingkat pemungut cukai da orang-orang berdosa.

Tugas orang-orang beriman yang lebih dahulu masuk ke dalam Kerajaan Allah ialah menyambut orang-orang yang bertobat dengan penuh sukacita tampa kritik. Sebab orang-orang berdosa sama dengan orang-orang pemberontak terhadap Allah, dan Allah sendiri melihat mereka sama seperti orang-orang yang telah mati, karena akibat dosa atau kematian. Kalau orang yang telah bertobat, yang kembali ke rumah bapa-bukan dalam arti meninggal –kembali ke dalam Kerajaan Allah sudah sepantasnya disambut dengan penuh sukacita.
Kasih Allah yang mau menerima orang-orang bertobat adalah dasar sukacita. itulah sebabnya perumpamaan ini, perumpamaan tentang kasih Bapa, bukan hanya perumpaman tentang anak yang hilang. Penekanannya terletak pada tindakan kasih Bapa, yang menyambut kembali anak-anaknya yang sempat hilang. Pantaslah sukacita Allah adalah juga sukacita kita semua.
 
Penutup
Perumpaan anak yang hilang menjadi gambaran kasih Bapa si surga akan anak-anaknya, yang tidak memperhitungkan kesalahan-kesalahan masa lalu anaknya. Memberikan pilihan yang menurut anak-anaknya baik bagi mereka. Seperti Abram (Bapa orang percaya) yang memberi pilihan kepada Lot untuk tanah yang menjadi tempat tinggalnya. Walau pun secara penglihatan tanah yang dipilih Lot adalah tanah lebih bagus tapi Abram selaku bapa yang biasanya berhak untuk lebih dulu memilih bagiannya tidak melakukan hal tersebut(Kej. 131-12).
 
Minggu ini adalah Minggu Mamre GBKP, HUT Mamre GBKP yang ke 21 tahun. Seperti arti dan makna istilah Mamre yang dipakai sebagai persekutuan kaum bapa di GBKP menjadi tempat persembahan kepada Allah atau membawa/menjadi iman untuk membawa keluarga menjadi persembahan bagi Allah (bnd. Kejadaian 18:1). Maka kehadiran Mamre ditengah keluarga harus mampu menunjukkkan bagaimana Kasih Bapa bagi umatnya. Dengan tema khotbah Bapa Si Melias, kehadiran ayah untuk anak yang hilang menunjukan mamre juga mampu menjadi ayah yang sangat dirindukan oleh anak-anaknya dan keluarganya yang diyakini akan adanya kedamaian bagi setiap keluarga. Memberi keputusan yang bijak atas keinginan anak-anaknya/keluarga (bnd. Abram). Dalam rangka mewujudkan Kasih Allah bagi umatnya yang tidak terbatas oleh apa pun, seperti itu juga Mamre ditengah keluarga, lingkungan, dan gerejaNya yang menjadi harapan bagi semuanya.

Pdt. Mea Purba
Rg. Cibubur
   

Suplemen PA Moria tanggal 21-27 Agustus 2016, Ogen Kolose 3:12-17

Tema :
Makeken Paken Anak Dibata
 
Tujun :
Gelah Moria:
• Erlajar kerna paken anak Dibata
• Menaken percakapen kerna paken anak Dibata guna pekenaken kegeluhen

Metode :
Aksi
 

Kata Penaruh
Kai jadina adi kerina kalak si tek nangtangi cara nggeluh si male ras nggeluhken kegeluhen si mbaru? Doni enda pasti jadi dame. Gereja ras sektor ibas gereja-gerejanta pasti dame. Jabu-jabu kalak kristen pasti dame. Pribadi lepas pribadi kalak Kristen pasti dame. Adi kerina kalak Kristen enggo makeken cara nggeluh si mbaru emaka lanai bo lit ingan nebeh ate, dendam, meganjang rukur, rendah diri, pelit, ras sidebanna, e maka lanai bo lit ingan si iblis ibas kegeluhen kalak sitek. Tapi sebalikna kai ka jadina adi enggo pe kalak jadi kristen tapi lalap denga ia nggeluh salu cara kegeluhen si male; pergelut, pernembeh, perubat-rubat, dendam, cian ate, pelit ras sidebanna tentu lalit ije keharmonisen ras perbedan-perbedan si lit berpotensi jadi sumber perubaten. La lit ingan kedamen ibas kegeluhen pribadi, keluarga, sektor, gereja ras bermasyarakat.
 
Pembahasen
Teks enda ngajuk kalak si tek i Kolose gelah ngaloken dame Kristus ibas pusuhna. Dame Kristus e me kengasupen ngalo-ngalo teman, sada ras si debanna lit ibas hubungen harmonis. Selaku kalak si ipilih ras ipebadiaken Dibata si itebus alu dareh ni Kristus, terutama man kelompok Jahudi si jadi Kristen maka geluh ke kristenen e labo bias terjeng praktek-praktek ibadah saja tapi arus min jadi perbahanen. Kalak si erkiniteken iajuk gelah nggeluh ibas gaya kegeluhen si mbaru alu make paken ate perkuah, mehuli, rukur meteruk, lemah lembut dingen sabar. Perbahanen kalak si enggo itebus Kristus, si enggo jadi sikerajangen Kristus arus min ngikuti kegeluhen Kristus, ngelakoken kai si ilakoken Kristus khususna ibas nggit ngalemi teman, sebab ibas kiniersadan kalak si tek (gereja) la tertutup kemungkinen banci terjadi konflik. Erkiteken si e ope denga terjadi perubaten ibas perpulungen, Rasul Paulus ngingeken man perpulungen gelah tetap njaga hubungen sada ras sidebanna irakut alu kekelengen si mpersadaken ras nempurnaken kiniersadan e gelah adi jadi selisih paham la jadi perubaten ras la lit ije potensi terjadina perpecahen.
 
Roma 5:1 "Erdandanken kita enggo rembak ras Dibata erkiteken kinitekenta, e maka kita nggeluh i bas perdamen ras Dibata arah Tuhanta Jesus Kristus."Ibas hubungan perkade kaden sada kiniteken" (persaudaraan rohani) tiap tiap kalak arus min kubas perayaken nggeluh ibas dame. Dame ibas pusuh e me ibas pusuh si mbagesna nari (pusat kehendak), enggo min mendarah daging. Kerina perpulungen itebus dingen ipersada Kristus guna ersada ibas dame, alu bage ngasup perpulungen e nggeluh ibas keriahen ras kemalemen ate, e me ku "tingkat kegeluhen si meganjangna kal" ngataken bujur (bersyukur). Nggeluh kiniersadan perpulungen e lanai lit ije si rubat rubat, selisih paham, persaingen ras sidebanna janah ngasup nggejapken maka kerina kinilitenna entah si lit ibas temanna rehna ibas Dibata nari, ipergunanaken guna kemulian Dibata, bagi cara nggeluh perpulunge si pemena si jadi model kegeluhen kalak Kristen sepanjang jaman, alu ersada ukur ibas ertedeh ate, tep-tep wari ia jumpa pulung mpermuliaken Dibata janah kinibayakenna ibahanna jadi penampat man temanna si ibas kekurangen (bdg. Kis 2:43-47).
 
Pusuh kalak si enggo ipelimbarui ibas Tuhan Jesus perayakenna bagi ate Tuhan, cakap si ibelaskenna pe bagi cakap Tuhan. Lanai iambur amburna rananna ncakapken si la erguna tapi si membangun, si memotifasi, si masu masu. Cakap ni Kristus e me cakap si seri ras cakap si ibelasken Kristus, alu pengajaren si mpekeke ukur ngelakoken kebenaren. Kerina min perpulungen mediate man temanna, lit si salah la ipediatna nggeluh ibas kesalahen tapi ipersingetina salu hikmat, isehkenna pengajaren kata Dibata. Keriahenna rende muji Dibata alu ngendeken ende enden pujin ras erberita ( ermazmur) kerna kiniulin Tuhan, khususna kiniulin Tuhan si enggo inanamina (kesaksin pribadi).
Kekelengen e ijadikenna pengerakut kiniersadan ibas kinierbagen, alu kiniersadan si nggit mengesampingken perbedan, nggeluh ras kalak si labo seri ras ia tapi labo ihapuskenna perbedan si lit e (tetap berbeda tapi banci lalap ersada). Kekelengen e seh kal pentingna sebab perpulungen e terancam perpecahen; perpecahen ibas perukuren ras cara nggeluh ibas la ngasup ngaloken teman sebab perbedan-perbedan. Teptep kalak si tek e arus min ndarami ras ndalanken dame Kristus gelah ibas paksa terjadi perbedan pendapat la berpotensi jadi perpecahen. Dame Kristus merentah ibas pusuhndu ertina dame Kristus e jadi "wasit" khusna ibas paksa terjadi perbedan pendapat gelah kerina kalak si tek nadingken kebenaren menurut pendapatna ras merayak ndarami kebenaren ibas Jesus Kristus Takal Ni Perpulungen.
 
Refleksi ras komitmen
Ibas memaknai makeken paken si mbaru (kegeluhen si mbaru) arus min dame si ibereken Kristus ibas pusuh e si ngajari ibas erbahan keputusen. Ula bagi piga-piga kalak si pentar, ibas ia muat keputusen e ertimbangken pemetehna, logikana, emosina si maun maun enggo menyimpang arah kebenaren. Maun jumpa kita kalak si erpendidiken ras pentar, tapi carana ertimbang ras muat keputusen la ertimbangken pusuh peratenna si mbagesna, e maka keputusen si ibijaksanaina la mpertimbangken kepentingen kalak si deban, la mpertimbangken nilai-nilai sosial. Umpamana saja bagi pejabat si la mpertimbangken kepentingen jelma si enterem, ibuatna sen rakyat, ngalo sogok ia, hanya demi rumah mewah, demi mobil mewah ras kesenangenna alu la mperdiateken kepentingen rakyat.
 
Kalak si tek, keputusen-keputusen si ibahanna alu palas dame ni Kristus si ngerajai pusuhna, dame e jadi pengendali kerina aspek kegeluhenna, maka "jiwa sosialna sehat." La ia nggit ncariken untung man bana saja, apaika alu ngkorbanken kalak si deban, tapi nggit ia mbagiken kinilitenna gelah kegeluhen kalak tersampati ras reh ulina. Mehuli hubungenna ras kerina jelma, keriahen ukurna lanai itentuken barang barang doni enda entah situasi si ialamina, janah ibas kerina keadaan ngasup ia ngataken bujur man Dibata (ermasmur).
 
Kalak si dame Kristus merentah ibas pusuhna tetap mpersadaken dirina ras kerina jelma, ngasup mpersadaken dirina ras perpulungen si erbage-bage e jadi "sada kula", la nerapken bana alu mpedauh dirina ibas perjumpan perjumpan si ibahan ibas perpulungen. Bagi perjabun adi anggota jabu e la mere pusuhna ikuasai dame Kristus jabu e labo banci dame. Ate keleng (cinta) saja labo bias, sebab adi la dame Kristus si merentah ibas pusuh, cinta e banci jadi luntur erkitekiteken melala sebab, umpamana cian ate, ketersinggungen, ke egoisen ras sebab sebab sidebanna. Tapi adi pusuh ikuasai dame Kristus ibas sijadi la bagi ukur pe ngasup ia mbelasken cakap bagi si isehken Jesus i datas kayu persilang "O Bapa alemi min kalak enda, sabab la iangkana kai si ibahanna enda." (Lukas 23:34).
 
Suasana hati nentuken kai si ibelasken. Erkiteken si e kalak si pusuhna dem alu nembeh ate e maka intonasi ibas ia erbelas lebih keras. Erkiteken si e moria selaku pernanden perlu nggermetkenca, adi lit pernanden nembeh rusur tiap-tiap ngerana ku anakna, nggit pe nina ku anakna "motu" ras belas-belas sidebanna, perlu ngkoreksi diri sebab entah maun mungkin labo anak-anak e si ermasalah tapi pusuh pernanden e nge si la dame. Adi dame Kristus e lah si merentah ibas pusuh, lalit si metahat wajah dunia, gereja ras jabu-jabunta, ras pribadi lepas pribadi pe banci irubah jadi rupa dame.
 
Selamat er-PA Moria
Pdt. Ekwin Wesly G Manik
GBKP Sitelusada
HP 08128483563
   

Khotbah I Korintus 7:17-24, Rabu 17 Agustus 2016

Invocatio:
Aku hendak hidup dalam kelegaan, sebab aku mencari titah-titah-Mu. (Mazmur 119:45)
 
Bacaan :
Mikha2:8-13 (Tunggal)
 
Tema :
"Mempergunakan Kebebasen"
 
 Pendahuluan
Dalam memperingati 71 tahun Indonesia merdeka, sejenak marilah kita memahami arti kata merdeka. Merdeka artinya bebas (dari perhambaan, penjajahan, dsb); berdiri sendiri, tidak terkena atau lepas dari tuntutan..., tidak terikat, tidak bergantung kepada orang atau pihak tertentu; leluasa, boleh berbuat dengan merdeka (bdg. KBBI). Dan pernyataan Indonesia di dalam pembukaan UUD 1945 tentang kemerdekaan " Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan." Kemerdekaan itu adalah hak segala bangsa (setiap orang) sebab penjajahan itu adalah kekejaman yang merusak perdamaian dan ketentraman. Penjajahan itu musuh yang harus diperangi dan penjajah adalah penjahat.
 
Selanjutnya pembukaan UUD 1945 mengatakan "Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya." Sebagai negara yang percaya kepada Tuhan, Segenap rakyat Indonesia mengakui bahwa kemerdekaan itu diperoleh atas rahmat (belas kasihan) Allah Yang Maha Kuasa. Karena itu gema semangat kemerdekaan harus nyata di sepanjang jaman, sebab rasa syukur kepada Allah tidak pernah cukup dan tidak boleh berakhir sepanjang Indonesia masih tetap berdiri. Segenap rakyat Indonesia harus tunduk kepada kasihan Allah yang memerdekakan Indonesia, supaya kita dapat membangun Indonesia dengan tiada letih, jujur, adil dan rela berkorban sebab dasarnya syukur kepada Allah. Tanpa dasar rasa syukur maka kemerdekaan itu akan dimanfaatkan orang-orang yang tidak bertanggung jawab sebagai kesempatan memperkaya diri, memuaskan rasa senang sendiri dll dan dilakukannya tanpa takut akan Allah, tanpa pertimbangan moral dan etika yang benar. Mari kita buka mata dengan situasi Indonesia dan mari kita mengukur semangat nasional kita bagi Indonesia. Sudahkah kita menyatakan syukur dan mengumumkan kepada dunia bahwa seisi rumah kita adalah umat Allah yang bersyukur dan merdeka dengan mengibarkan bendera merah putih di depan rumah kita?
 
Pembahasan
Di dalam bahasan Firman Tuhan di hari kita mempeingati kemerdekaan Indoneia yang ke 71 hari ini, kita melihat persoalan yang terjadi di dalam jemaat Korintus yaitu sebahagian kelompok orang-orang Yahudi yang menjadi kristen menuntut supaya orang-orang kristen yang bukan berlatar belakang Yahudi apabila mereka menjadi kristen mereka harus disunatkan terlebih dahulu (di Yahudikan). Sunat menurut mereka menjadi persyaratan mutlak yang harus di lakukan supaya orang-orang yang bukan Yahudi dapat dilayakkan menjadi ahli waris Kerajaan Allah seperti yang diperintahkan Allah kepada Abraham "Orang yang lahir di rumahmu dan orang yang engkau beli dengan uang harus disunat; maka dalam dagingmulah perjanjian-Ku itu menjadi perjanjian yang kekal." (Kej. 17:13) bandingkan Kej. 17:7-14.
 
Sebahagian kelompok Yahudi kristen memahami sunat tidak penting karena itu ketika menjadi kristen tidak perlu di sunatkan. Pendapat tersebut juga menjadi pertentangan diantara kelompok kristen yang berlatar belakang Yahudi.
 
Pengajaran menjadi kristen harus di sunatkan terlebih dahulu mempengaruhi sebahagian kelompok kristen yang bukan berlatar belakang Yahudi, sehingga diantara kristen yang bukan berlatar belakang yahudi juga terjadi perselisihan. Atas persoalan tersebut Rasul Paulus menjelaskan "Kalau seorang dipanggil dalam keadaan bersunat, janganlah ia berusaha meniadakan tanda-tanda sunat itu. Dan kalau seorang dipanggil dalam keadaan tidak bersunat, janganlah ia mau bersunat. Sebab bersunat atau tidak bersunat tidak penting. Yang penting ialah mentaati hukum-hukum Allah. (7:18-19).

Kalimat Rasul Paulus yang mengatakan "Yang penting ialah mentaati hukum-hukum Allah" kemungkinan besar tegoran yang disampaikan Rasul Paulus di dalam teks ini ditujukan kepada kelompoh Yahudi sebab mereka menjadi Kristen tetapi tidak mengedepankan perubahan ketaatan kepada ajaran dan aturan yang baru di dalam kekristenan.
 
Kelompok orang-orang Yahudi yang menjadi kristen mereka telah di bebaskan dari keadaannya sebagai hamba bagi hukum taurat dan tradisi sunat dan kalau mereka telah menjadi kristen seharusnya mereka hidup sebagai umat Allah yang telah di merdekakan dalam penebusan di dalam Kristus. Kematian kristus di atas kayu salib adalah pembayaran tebusan dengan harga yang lunas. Kalau dalam pemahaman lamanya orang-orang kristen yang berlatar belakang Yahudi memahami diselamatkan oleh karena menjadi keturunan Abraham dengan tanda lahiriah sunat, tetapi di dalam penebusan di atas kayu salib orang-orang kristen telah di jadikan anak bagi Allah, menjadi ahli waris kerajaan Allah. Pemahaman lama dengan ajaran baru tidak boleh di campur adukkan, sebab menjadi kristen berarti dipilih dan di panggil Tuhan untuk pelayananNya, adalah menjadi orang-orang bebas untuk menyatakan imannya dan ia sepenuhnya menjadi milik Tuhan, untuk melakukan kehendak Tuhan. Apabila orang Yahudi melakukan ketaatan sebagai suatu keharusan atau keterpaksaan berarti ketaatan mereka sebagai ketaatan budak. Berbeda dengan ketaatan kristen dilakukan dalam rangka syukur kepada Allah atas penebusan di dalam Yesus Kristus. Mengucap syukur dalam perbuatan di sampaikan sepanjang hidup bukanlah keterpaksaan tetapi ekspresi dari kemerdekaan-kebebasan yang dilakukan dengan suka cita.
 
Refleksi dan Penutup
Belenggu dosa yang mengikat manusia, memperbudaknya dan manusia itu selalu gagal membebaskan dirinya. Dosa membuat kualitas hidup manusia rendah dan manusia itu kurang berharga. Dalam peristiwa Yesus menebus manusia yang diperbudak dosa dengan harga lunas bukanlah karena alasan pertimbangan manusia yang terbelenggu dosa itu berharga tingi di mata Allah tetapi penebusan Allah dilakukanNya karena alasan begitu besar kasih Allah kepada dunia - manusia (bdg. Yoh 3:16), kasih Allah yang mendorong-Nya membebaskan manusia dari perbudakan dosa. Bukan karena manusia berharga, sebab menjadi budak dosa membuat manusia itu tidak berharga, tapi Yesus menebus manusia dengan harga nyawa-Nya. Jadi hidup manusia yang tidak berharga oleh karena diperbudak dosa itu menjadi berharga karena penebusan di dalam Yesus yang memberinya nilai yang baru. Karena itu katakan kepada diri kita "Kamu berharga karena penebusan di dalam Yesus Kristus!" "karena itu hiuplah sebagai manusia yang merdeka, lakukanlah kewajibanmu:...."
 
Umat Kristen yang telah diberi harga tersebut memiliki martabat yang tinggi untuk menyatakan kasih Allah dan bersyukur oleh karena kasih Allah di tengah tengah bangsa Indonesia. Sebagai manusia rohani dan sebagai bagian bangsa Indonesia orang percaya telah mendapatkan kemerdekaannya. Itulah modal dan kesempatan yang terbesar untuk berkarya membangun bangsa Indonesia. Menjadi manusia yang berkualitas, berakal budi, penuh hormat, jujur, adil dapat dipercaya dan berani membuat terobosan baru dalam sistim sosial, ekonomi dan politik yang bergejolak di tengah tengah masyarakat. Orang percaya hendaknya memiliki keberania sebagai manusia merdeka untuk menyatakan pendapatnya, berkrya memerdekakan bangsa ini dari keterpurukan, kemiskinan, penyakit sosial dll.
 

Pdt. Ekwin WGM-GBKP sitelusada bekasi
   

Khotbah Lukas 4:38-41, Minggu 24 Juli 2016

INVOCATIO :
Mata Kutertuju kepada orang-orang setiawan di negeri, supaya mereka diam bersama-sama dengan Aku. Orang yang hidup dengan tidak bercela akan melayani Aku (Mazmur 101 : 6)
 
Bacaan :
Kisah Para Rasul1 : 6 – 10 (Responsoria)
 
Thema :
Gereja yang melayani
 
Latar Belakang
Kitab Injil Lukas pada awalnya dipersembahkan kepada “Teofilus yang mulia” (yang mengasihi Allah). Ungkapan’ yang mulia’ biasanya digunakan khusus untuk para pejabat tinggi Romawi pada waktu itu. Dipersembahkan kepada Teofilus dengan maksud untuk mendapat dukungan antara lain ‘dana’ dalam penyebaran injil khususnya yang ditulis oleh Lukas ini.

Penulisan Injil Lukas ini sekitar tahun 80 M, hal ini terlihat dari keterangan dalam Lukas 19 : 43 – 44; 21 : 20 – 24 yang isinya menyinggung kehancuran Yerusalem pada tahun 70 M (Band. Lukas 21 : 24). Injil Lukas ditulis untuk menjangkau dua kelompok pembaca yaitu kelompok pertama yang berasal dari kalangan terpelajar ‘Helenis’ (yang menggunakan bahasa Junani) yang tertarik kepada ajaran kekristenan; kelompok kedua yaitu orang Kristen yang non Jahudi yang masih membutuhkan bimbingan teologis. Lukas sebenarnya bukan orang Jahudi, dia berasal dari Makedonia dan Injil yang ditulisnya ditujukan kepada orang-orang Kristen generasi kedua.
 
Pemahaman Teks
- Ayat 38 – 39. Setelah Yesus menyelesaikan pelayanan di Sinagoge Kapernaum, tepi danau Galilea, lalu pergi kerumah Petrus untuk istirahat karena pelayanan mengajar dan mengusir setan sebelumnya sangat melelahkan Dia. Pada saat ingin beristirahat pun ternyata Yesus tidak keberatan ketika keluarga Simon memohon untuk menyembuhkan ibu mertuanya yang sedang sakit. Yesus tidak menolak pelayanan walaupun pada saat itu kondisi badannya sedang kelelahan. Dia siap senantiasa melayani, walaupun tidak lazim dalam kebiasaan laki-laki Jahudi pada waktu itu mengabaikan waktu istirahat demi menolong seorang perempuan. Dalam pelayanannya, Yesus tidak membedakan laki-laki/perempuan, orang Jahudi/non jahudi atau orang asing sekalipun (Band.Kisah Yesus menyembuhkan hamba seorang Perwira Romawi (Lukas 7 : 1 - 10).

Kecenderungan orang pada umumnya melakukan perbuatan baik supaya dilihat orang, dipuji, dan menjadi terkenal, namun pelayanan yang dilakukan Yesus dalam menyembuhkan mertua Petrus adalah secara personal dan hanya sedikit orang yang melihat. Setelah mertua Petrus menerima kesembuhan, kemudian dia berdiri dan langsung melayani orang-orang yang berada disitu. Dari sikap mertua petrus tersebut dapat diambil pelajaran bahwa orang yang telah menerima berkat atau kesembuhan dari Tuhan wajib bersyukur dan melakukan pelayanan juga seperti yang dilakukan mertua Petrus tersebut (Band.Thema diatas ‘Gereja yang Melayani’). Kita melayani karena kita telah dilayani terlebih dahulu oleh Yesus, bahkan nyawaNya diberikan untuk penebusan dosa-dosa kita.

- Ayat 40. Ketika matahari terbenam merupakan saat-saat istirahat bagi orang-orang yang telah bekerja seharian, lain halnya dengan Yesus ketika saat istirahatnya pun diganggu oleh orang banyak yang menderita berbagai macam penyakit. Yesuspun berbelas kasihan dan meletakkan tanganNya diatas mereka.

- Ayat 41. Selain penyakit yang disembuhkan, orang-orang yang kerasukan setan pun disembuhkan. Setan-setan berteriak “Engkau adalah anak Allah”, namun Yesus melarang orang banyak itu untuk menceritakan bahwa Dia Mesias. Hal itu disebabkan konsep orang Jahudi pada zaman itu yang memahami Mesias adalah seorang Raja yang akan dating untuk menaklukkan bangsa Romawi sehingga Yesus melarang mereka memberitakan bahwa Ia mesias untuk menghindari kesalahpahaman mengenai konsep Mesias.
 
Perenungan/Implementasi :
Yesus selalu siap untuk menolong dan melayani manusia, demikian juga kita sebagai pengikut Kristus harus senantiasa siap menolong dan melayani sesame kita tanpa alas an sedang istirahat, lagi sibuk, dan sebagainya.Yesus melakukan pelayanan bukan untuk mendapatkan pujian dari manusia, bagiNya tidak menjadi masalah apakah perbuatan baiknya diketahui banyak orang atau tidak bahkan sebelum tiba waktunya Dia melarang orang banyak memberitakan Dia dan menyebut Dia sebagai Mesias. Dia tidak membedakan siapa yang ditolongnya baik jenis kelamin, status sosial (Band. Perempuan samaria di sumur Jakub-Yoh4 : 1 - 42; pelacur yang mengurapi kaki Yesus dengan minyak dan menyekanya dengan rambutnya-Luk. 7 : 36 - 50), dan tidak membedakan ras/suku bangsanya.

Seperti mertua Petrus, setelah disembuhkan dengan segera dia melayani Yesus dan murid-muridnya, demikian juga kita sebagai pengikut Yesus yang telah menerima karunia kehidupan, kesehatan, dan berkat yang melimpah, apalagi keselamatan yang tidak bias dibeli dengan uang sehingga kita wajib melayani sesame kita yang membutuhkan dengan tulus, tanpa membeda-bedakan, dan tidak mengharapkan pujian.
 
Pdt Immanuel Bayak Manik, MTh, D.Min
   

Page 1 of 131

BP-KLASIS-XXX

"SELAMAT DATANG mengunjungi Web GBKP KLASIS JAKARTA-BANDUNG"

Renungan

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
  • 6
  • 7
  • 8
  • 9
  • 10
  • 11
  • 12
  • 13
  • 14
  • 15

Pengunjung Online

We have 23 guests online