image image image image
Grand Opening GBKP Runggun Cikarang GBKP Cikarang yang telah disyahkan menjadi Jemaat/Runggun pada sidang GBKP klasis Jakarta-Bandung tanggal 10-12 Oktober 2014 di Hotel Rudian-Puncak,
PEMBINAAN BP RUNGGUN – RAMAH TAMAH TAHUN BARU – PENCANANGAN TAHUN PENINGKATAN SOSIAL EKONOMI DAN BUDAYA JEMAAT Pada tanggal 10 Januari 2015 di GBKP Runggun Bekasi telah di laksanakan kegiatan Pembinaan BP Runggun di Klasis Jakarta-Bandung. Kegiatan yang dimulai pukul 08.00 Wib diawali kebaktian pembukaan oleh Pdt. Alexander Simanungkalit,
WISATA LANSIA GBKP KLASIS JAKARTA-BANDUNG KE BANGKOK-PATTAYA Wisata Lansia yang menjadi salah satu program Bidang Diakoni GBKP Klasis Jakarta-Bandung telah dilaksanakan tanggal 8-11 Desember 2014 ke Bangkok-Pattaya. Wisata yang diikuti 47 peserta ini di damping Kabid Diakonia, Dk. Ferdinand M. Sinuhaji dan Pdt.S.Brahmana.
PEMBUKAAN SIDANG KERJA SINODE (SKS) DAN SIDANG PROGRAM & KEUANGAN (SPK) TAHUN 2014 Pembukaan Sidang Kerja Sinode (SKS) dan Sidang Program dan Keuangan (SPK) tanggal 22-25 Oktober 2014 telah dilaksanakan pada pukul 10.00 Wib, di dahului kebaktian pembukaan yang dipimpin Pdt.Vera Ericka Br.Ginting, direktur Percetaken dan Toko Buku GBKP Abdi Karya Kabanjahe,

Khotbah Mazmur 121:1-8, Minggu tanggal 12 Maret 2017 (PASSION III)

Invoctio :
Sebab Tuhan Allah kita, Dialah yang telah menuntun kita dan nenek moyang kita dari tanah Mesir, dari rumah-rumah perbudakan dan yang telah melakukan tanda tanda mujizat yang besar ini di depan mata kita sendiri, dan yang telah melindungi kita sepanjang jalan yang kita tempuh dan diantara semua bangsa yang kita lalui, (Yosua 24:17)
 
Bacaan :
Yohanes 3:1-17 (responsorial)

Tema :
Tuhanlah Perlindunganku
 
 
1. Masmur 121 merupakan masmur Ziarah yang biasa dinyanyikan umat dalam perjalanan menuju atau mendaki ke bukit Sion yaitu kota Yerusalem, yang terletak di dataran tinggi pegunungan Yehuda. Seluruh orang Israel yang berziarah akan berjalan dengan hati yang sukacita (Mazmur 42:5; Yesaya 30:29) untuk menghadiri tiga perayaan besar orang Israel yang terdapat di Ulangan 16:16 dan juga Keluaran 23:14-17 yaitu hari raya Roti tidak beragi, hari raya Tujuh minggu dan hari raya Pondok daun. Ditambahkan dalam Ulangan 12:5-7 disebutkan tentang pemberian persembahan bakaran, korban sembelihan, persembahan persepuluhan, persembahan khusus, korban nazar dan korban sukarela. Dalam hal ini ziarah berarti datang ketempat yang mulia (rumah ibadah), mengikuti perayaan besar keagamaan dan mempersembahkan persembahan. Ziarah dalam konteks mengunjungi tempat sakral (bermakna dalam sejarah iman/ agama) juga merupaken tindaken konkrit sebagai latihen rohani yang secara khusus masih dilakukan oleh umat Islam dan Katolik dengan cara yang berbeda.

2. Dalam perjalanan ziarah tersebut juga sekaligus membawa korban persembahan sehingga dengan banyaknya beban maka perjalanan akan semakin sulit ditambah dengan medan yang cukup sulit dilalui. Perjalanan mendaki dengan barang yang banyak ditambah cuaca ekstrim panas disiang hari dan dingin dimalam hari sehingga pemazmur mengatakan alam Ayat 1 “Aku melayangkan pandanganku ke gunung-gunung; dari manakah akan datang pertolonganku?” Kata gunung-gungung mengacu ke kondisi perjalanan yang dilalui peziarah yaitu daerah perbukitan dan rawan kejahatan juga, bandingkan dengan perumpamaan Yesus tentang orang Samaria yang baik hati dalam Lukas 10:25-37. Peristiwa pemberian Hukum Taurat kepada Musa terjadi di Gunung Sinai (Kel 20) yang akhirnya mempengaruhi pemahaman bangsa Israel bahwa Allah itu berada di tempat yang tinggi. Pertanyaan tersebut dijawab sendiri oleh pemazmur dengan kesadaran tentang siapa yang akan sanggup menolongnya, ayat 2 “…Pertolonganku ialah dari Tuhan, yang menjadikan langit dan bumi”. Jawaban tersebut menjelaskan sumber/ asal pertolongan yang diharapkan yaitu dari Tuhan semata. Menjadi perenungan untuk kita bahwa ketika kita dalam kesusahan hidup ada begitu banyak tawaran yang menjanjikan penyelesaian dan jalan keluar namun pemazmur memastikan bahwa pertolongan yang kita butuhkan yaitu yang datangnya dari Tuhan pencipta langit dan bumi.

3. Tuhan adalah Penolong dijelaskan secara lebih mendetail di ayat-ayat berikutnya. Tuhan Penjagamu tidak akan terlelap (ay 3); tidak tertidur (ay 4) artinya Tuhan menempatkan manusia dibawah pengawasan dan penjagaanNya. Menjadi renungan bahwa manusia memiliki keterbatasan dalam membantu sesamanya namun Tuhan sangat mampu memberi pertolongan tepat pada waktunya. Tuhan memberikan perlindungan sekaligus pertolongan, dalam konteks pemazmur pertolongan dan perlindungan diterima saat melakukan perjalanan ziarah yang penuh dengan tantangan yaitu matahari tidak akan menyakiti pada waktu siang dan bulan pada waktu malam (ayat 6) dan Tuhan akan menjaga dari segala kecelakaan, menjaga nyawa (ayat 7). Demikianlah kesetiaan Tuhan yang memberikan rasa aman dan tenteram selama perjalanan ziarah. Menjadi renungan bahwa dalam perjalanan hidup setiap harinya (ziarah?) Tuhan hadir menjadi Penjaga dan Penolong umatNya sekarang dan selamanya (ayat 8). Dalam Perjanjian Baru kita mendapat penegasan tentang kasih setia Tuhan dalam Yohanes 3:16 “ karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNya yang Tunggal supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal”. Demikianlah kesetiaan Allah memberikan rasa aman dan tenteram dalam perjalanan ziarah, tidak saja dalam ziarah tapi dalam perjalanan kehidupan setiap harinya sehingga kehadiran Allah dalam kehidupan umat-Nya pasti. Oleh karena itu Martin Luther menyebut Yoh.3:16 sebagai miniature of Gospel.

4. Nikodemus peminpin agama Yahudi, menjumpai Yesus ketika hari sudah gelap untuk berbincang dengan Yesus, pemilihan waktu ini diambil supaya orang banyak tidak tahu tentang pertemuan tersebut. Dalam percakapan ada dibahas tentang dilahirkan kembali. Nikodemus memahami dilahirkan kembali berarti masuk kembali kerahim ibunya dan dilahirkan lagi. Namun Yesus menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah dilahirkan dari air dan Roh, hidup baru. Karya Roh Kudus tidak dapat dikendalikan oleh manusia dan manusia yang sudah lahir kembali dalam Roh, keselamatanya tidak dapat diukur dengan ukuran manusia. Hal ini baru bagi Nikodemus karena bagi orang Parisi, kebaikan/ keselamatan seseorang biasanya diukur dengan melihat kepatuhannya terhadap hukum Taurat. Keselamatan tidak akan didapatkan hanya dengan taat melakukan Hukum Taurat tapi merupakan anugerah Allah. Tuhan langsung turun tangan untuk menyelamatkan manusia.

5. Masing-masing kita sedang berjalan dalam “ziarah” di dunia ini dan pasti banyak tantangan dan pergumulan yang sudah dan akan kita temui. Melalui bahan renungan kita diminggu ini ditegaskan kembali bahwa Tuhan yang kita sembah tidak akan membiarkan kita berjalan sendiri tanpa pengawalan, pengawasan dan pertolongan. Keyakinan ini akan memberi kita kepercayaan diri bahwa dalam ziarah ini, dalam penyertaan Tuhan, akan membawa kita dengan selamat pada tujuan. Tantangan yang dihadapi pengikut Kristus tidak akan membuat kita berhenti apalagi hilang pengharapan namun tetaplah focus pada anugerah Tuhan yang telah disediakan bagi kita sekarang dan selamanya.

Pdt. Erlikasna Purba
GBKP Denpasar
   

Suplemen PJJ tanggal 26 Feb-04 Maret 2017, Ogen Mazmur 1:1-6;119:105

“KataNdu kap tendang man nahengku”
Mazmur 1 : 1 – 6 ; 119 : 105
 
 
1. Kerina jelma ndarami “Kemalemen ate”, Bhs.Karo indekah : “Ketuahen” = Sangap (Bhs Ind.”Berbahagia”).
Malem ate labo berarti lalit jumpa masalah, lalit perbeben, seh sura-sura, anak-anak, perpulangen/ndehara, mama/mami, bibi/bengkila kerina bagi ukur. Ibas Perjabun megati isingetken : “Sangap kam njabuken bana, Mberih manuk ni asuh, Mbuah Page ni Suan, jumpa Bulan ras matawari”.
Adi la seh kai sinisehken enda berarti la malem ate???

2. Erpalasken Mazmur enda Pemazmur encidahken ,pemahamenna kerna nggeluh Malem ate.
Ibas ayat 1 lit 3 isingetken kalak si Malem atena eme:
 “Sila-megiken kalak jahat” – Ind. “Tdk Berjalan menurut nasihat orang pasik”
 “Si-langusih perbahanen kalak perdosa” – Ind.”Tidak Berdiri di jalan orang berdosa”
 “Si-la erteman ras kalak megombang man Dibata” – Ind.”Tidak duduk dalam kumpulan pencemooh”

Jadi Kemalemen ate Labo erkiteken kai “sinialoken” kita ibas kegeluhenta tapi kai “sinilakoken” kita, kata “Berjalan”, “Berdiri”, ras “Duduk” nuduhken maka kita bersikap, beraktivitas, bergerak ngelakoken.
 
3. Keriahen la hanya ibas kita ngasup la megiken, la ngusih ras la ertemen tapi pe gelah serta arus matuhi undang-undang Tuhan ras ngukurisa suari ras berngi”. Ngukuri undang-undang Tuhan disambing reh ku PJJ, PA ras ku Perminggun, arus lit SATE
- SATE SAPI : SAat TEduh SetiAp PagI
- SATE JAMAL : Saat Teduh Jam MALam
 
4. Adi enda ilakoken “ia seri ras batang kayu si turah itepi lau anak”. Batang kayu siturah itepi lau anak la bakal kekurangen lau sabab uratna njoler nuju kempak lau anak e. Bagepe pe kita “uratta” njoler nuju , lau kegeluhen e. Man jagan gelah ula sempat “uratta” njoler ku sideban sierbahanca kita la sanganp ngeluh enda.Bahkan bali kita ras kalak jahat nirangken Dibata.
 
5. Rikutken cataten sejarah lih penelitian i Amerika encidahken maka tuhu-tuhu teridah perbedan Sinursur kalak Benar ras sinursur kalak jahat :
Abad ke-18 hidup seseorang hamba Tuhan terkenal bernama Jonathan Edwards; ia menikah dengan seorang gadis yang takut akan Tuhan dan kemudian mereka berdua menjadi misionaris di India. Pada saat yang sama, hidup pula seorang ateis bernama Max Jukes yang menikah dengan sesama orang ateis. Setelah beberapa generasi terlihat nyata perbedaan di antara kedua keluarga tersebut.
Dari keluarga Edwards: lahir 13 orang rektor, 65 profesor, 3 senator AS, 30 hakim, 100 pengacara, 60 dokter, 75 perwira angkatan darat dan laut, 100 penginjil dan pendeta, 60 penulis terkenal dalam disiplin ilmu masing-masing, 1 wakil presiden AS, 80 pemuka masyarakat dan 195 alumnus universitas yang menjadi gubernur dan menteri. Tak seorangpun dari 1.394 keturunan mereka yang didata memboroskan dan menjadi beban keuangan negara walau satu sen pun.
Sedangkan dari keluarga Jukes: lahir 310 orang yang mati sebagai gembel, 150 orang penjahat, 7 orang pembunuh dan 100 orang pemabuk berat. Selain itu hampir separuh keturunan mereka menjadi pelacur dan 540 orang keturunan mereka menjadi beban negara, memboroskan keuangan negara tak kurang dari US $ 250.000, - (seperempat juta dolar).

6. Jadi kepeken sikap geluhta genduari “kalak benar kita” tah “kalak jahat kita”, nentuken kesusurenta pagin. Emaka adi ateta Sangap kita seh ku sinursurta jadilah keriahenta matuhi undang-undang Tuhan.Jadikenlah kata Dibata jadi tendang man nahenta, guna nerangi dalin sinidalani kita.
 
Pdt. Iswan Ginting Manik,M.Div
   

Suplemen PA Moria tanggal 19-25 Februari 2017, ogen Matius 20:1-16

Bahan : Matius 20 : 1 - 16
Thema : Lit Kin Aku La Bujur Man Bandu
 

1. Biak manusia ibas ndahiken pendahin tetap ngarapken lit “upah” ibas ia nggo ndahiken dahinna. Janah oratna kin adi enggo latih erdahin lit ka upah si ialokenna. Janah sope ndahiken dahen e enggo me lebe ietehna asakai si banci ialokenna. Arusna min maka adi enggo lit kesepakaten kerna asakai upah si banci ialokenna, maka tanggungjawabna eme ndahiken dahin e rikutken kata si enggo isepakati. La perlu natap ntah pe mbanding-mbandingken kerna uga kalak si deban ibas ia ndahiken dahinna ras asakai ka si ilokenna. Saja, biasana adi lit ka si eteh kerna kalak si deban ras pe erpengakap kita maka liten ka pendahinta asa pendahinna, bage pe la ka si akap “payo” perbahanen si mada dahin, tentu lit ka nge turah “kut-kuten” ibas pusuh. Tapi, pantas kin bage? Sabab enggo ndai lit kesepaketenta, ras pe enggo si eteh kai dahinta?

2. Minggu enda ngerana kita kerna Si Mada Juma ras “kalak upahen”. Si mada juma ngidah maka lit dahin si arus idungi emaka idilona kalak guna banci ndahiken dahin e gelah banci dung janah enggo isepakati kerna upah. Tapi si mada juma ngidah maka kenca tengah wari erpengakap ia maka labo banci dung dahin e, emaka itambahina ka si erdahin alu upah si bali ras si tang-tangna, bage pe nandangi ben wari erpengakap ka ia maka perlu itambahi si erdahin gelah dung dahin e; upahna pe bali. Pelajaren si banci si datken eme : Si mada juma labo ngenen kubas upah si iberekenna tapi ku bas “dungna dahin” e. Man bana uga maka banci dung dahin e, emaka asakaii ia perlu kalak guna ndungi dahin e tentu ate-atena erbahanca, labo lit hak man si erdahin guna “protes” sabab nggo lit “kesepakaten” kerna upahna. Kalak si erdahin “ngidah” arah dahin ras waktu (dekahna) ia ndahiken dahin e, la akapna pantas upahna ipebali si mada juma; lupa ia maka nggo lit “kesepakatenna”. Arusna min rukur ia arah dampar si deban, maka labo kerina kalak banci erdahin i juma e. Banci saja kesempaten e ibereken man kalak si deban, labo man bana. Emaka ije perlu “rembang tengah rukur”

3. Dibata eme si mada juma janah kita me si erdahinna. Doni enda (termasuk keluarga, masyarakat bage pe gereja) eme juma. Kita ringan i doni enda janah nggeluhken kegeluhennta eme sada kesempaten guna banci encidahken maka adi Tuhan Dibata erdilo ntah nuruh kita guna erdahin ibas jumaNa eme encidahken maka Tuhan mereken kesempaten man banta guna encidahken maka kita banci erdahin alu mehuli. Masalah ise lebe idiloNa ngelai Ia ras kai si enggo ibahan si arah lebe, e la man pandangen. Bage pe kerna kai si ibereken Tuhan jadi upahna, e pe labo urusenta. Saja ibas Tuhan ndilo kita, arus kita tek maka Tuhan la pernah mereken “upah” si salah ntah la pantas man banta. Justru, sope denga kita idiloNa guna ndahiken dahinNa, enggo leben kita iberena upah eme kegeluhen ras pasu-pasuNa.

4. Themanta ngataken maka Lit Kin Aku La Bujur Man Bandu ngataken maka Tuhan Dibatannta, ibas Ia njadiken kita jadi persuruhenNa enggo erbahan maka pasu-pasuNa tetap nemani kita seh ku kedungen jaman. Enda ngataken maka ieteh Tuhan kai si jadi tanggungjawabna, janah ieteh Tuhan kai si mehuli guna kita ibas kegeluhenta ras ibas kita erdahin guna Ia. Janah arus kita tek maka la lit si la mehuli si enggo ipesikap Tuhan man banta. Kerna kalak si deban (teman-temanta) si banci jadi pudin asangken kita ibas erdahin guna Tuhan la perlu si idoi. Si perlu sitanemken man banta eme kerina kita erdahin guna Tuhan, Sabab mbelang Juma si man dahin tapi lalap kurang nge si ndahikenca. Emaka ermeriah ukurla ibas Tuhan nggit makeken kita jadi si erdahinna.

Pdt. Benhard Roy C Munthe
   

Khotbah Roma 5:12-19, Minggu 05 Maret 2017 (PASSION II)

Invocatio :
“Sebab TUHAN, Allahmu, adalah Allah Penyayang, Ia tidak akan meninggalkan atau memusnahkan engkau dan Ia tidak akan melupakan perjanjian yang diikrarkan-Nya dengan sumpah kepada nenek
moyangmu” (Ulangan 4:31).

Bacaan :
Mazmur 32:1-11(Tunggal)

Tema :
Hidup Dalam Kasih Karunia Tuhan
 
 
I. Pengantar
Rumusan teologia Calvin tentang manusia yang sudah jatuh kedalam dosa adalah “Rusak total”, barang yang rusak total sudah selayaknya di buang. Walaupun manusia sudah rusak total oleh kejatuhannya kedalam dosa, tapi Tuhan tidak memusnahkannya, itulah yang disebut dengan kasih karunia. Paulus mengatakan bahwa manusia yang telah jatuh kedalam dosa adalah orang durhaka (ay 5:6), cerita anak durhaka yang terkenal adalah cerita Malinkundang yang dikutuk menjadi batu, iya memang itulah selayaknya dilakukan kepada orang-orang durhaka “dikutuk”. Tetapi Tuhan tidak mengutuk manusia bahkan mau menanggung “kutukan” dosa itu dengan mati di kayu salib, inilah kasih karunia yang terbesar. Mati untuk orang baik, orang benar dan bagi orang yang dicintai, mungkin ada, tapi kalau mati untuk orang durhaka, penjahat, pembrontak, berkorban bagi barang yang rusak, ini adalah sesuatu yang imposible. Tetapi itulah yang dilakukan oleh Yesus, melalui kematianNya di Kayu Salib, inilah yang di sebut dengan “Kasih Karunia”. Kita sudah mengenal kasih karunia, dan sekarang bagaimana supaya kita tetap hidup didalamnya? Mari kita telusuri Firman Tuhan yang menjadi renungan kita di minggu Passion yang ke-2 ini.
 
II. Pendalaman Naskah Alkitab
1. Dosa (12)
Dosa adalah pelanggaran cinta kasih terhadap Tuhan atau sesama yang dapat mengakibatkan terputusnya hubungan antara manusia dengan Allah. Utamanya, dosa disebabkan karena manusia mencintai dirinya sendiri atau hal-hal lain sedemikian rupa sehingga menjauhkan diri dari cinta terhadap Allah. Dosa adalah penyimpangan dari Firman Allah. Upah dosa adalah maut (Roma 6:23). Sifat dosa sama seperti “racun kontak” atau seperti lingkaran obat anti nyamuk, mulai dari lingkaran luar (dalam) jika di bakar perlahan akan menjalar kedalam (keluar), tergantung dari mana dimulai. Demikian dikisahkan bagaimana dosa memasuki dunia dan mencemari semua manusia, dimulai dari kehidupan Adam (manusia pertama). Dosa itu semakin hari semakin berkembang melebihi deret hitung bahkan mengalahkan perkembang biakan ayam, satu ayam bertelur 12 dan menetas, penetasan berikutnya sudah 13 ekor dan akan bertelur lagi di kali 12 =156 di kali 12 menjadi 1572 dan seterusnya, cepat sekali pertambahan/ perkembangnnya, tetapi masih kalah dengan pertambahan/ perkembangan dosa, karena setiap orang bukan saja melahirkan satu dosa, sehingga dosa ada dimana-mana, di kiri- di kanan, di atas – dibawah, sehingga tidak ada lagi manusia yang benar seorang pun tidak (Roma. 3:11-18), dengan demikian semua manusia layak di hukum mati, di musnahkan, dan di kutuk (disalibkan).

2. Dosa Lebih Tua dari Hukum Taurat (13-14)
Semua manusia sudah berdosa, ini menjadi perdebatan di zaman Paulus, karena pemahaman umum (apalagi di dunia hukum), bagaimana orang tahu melanggar undang-undang (hukum) kalau hukumnya tidak ada? Bukankah dosa itu dikenal setelah ada Undang-undang (Hukum Taurat). Paulus mengatakan bahwa dari dulu dosa itu sudah ada tetapi tidak diperhitungkan. Kalau tidak diperhitungkan ya sama saja dengan tidak ada. Untuk memahami ayat 13 ini kita, harus perhadapkan dengan ayat 20 “dimana dosa bertambah banyak di situ anugerah bertambah banyak” artinya hukum taurat menolong kita untuk menghitung berapa banyak dosa pelanggaran kita dan berapa banyak anugerah yang kita terima, sehingga Paulus mengatakan bahwa kalau Taurat tidak ada dosa tidak dapat diperhitungkan. Hukum Taurat adalah hukum yang tertulis yang diberikan melalui Musa, sedangkan jauh sebelum itu perintah Tuhan (undang-undang Tuhan) sudah ada yang langsung di sampaikan (lisan) kepada orang yang dipilih Tuhan (bd. Peraturan/ Perintah yang diberikan kepada Adam agar jangan makan buah pohon pengetahuan). Sama dengan peradaban manusia sebelum ada undang-undang yang tertulis sudah ada hukum-hukum (norma-norma) yang berlaku, dan setiap pelanggarannya pasti mendatangkan sangsi.

Kelihatannya Paulus tidak mau berlama-lama berdebat tentang hal ini, tetapi Paulus lebih menekankan bahwa “ada atau tidak ada hukum Taurat” dosa itu sudah ada dan setiap perbuatan dosa pasti mendatangkan hukuman. Jadi hukuman atas dosa itu bukan saja setelah zaman Musa tetapi sejak zaman Adam (bd. Kej. 3:17-19). Manusia yang pertama sampai manusia yang terakhir nantinya membutuhkankan “pertolongan” (kasih Karunia Allah). Karena orang yang sudah jatuh ke dalam dosa dan sesama orang yang sudah jatuh kedalam dosa, tidak bisa menyelamatkan dirinya atau sesamanya). Hukuman dosa yang ditanggung dalam hal ini bukan saja pelanggaran hukum Tuhan yang tertulis atau tidak tertulis, tetapi jauh lebih dalam adalah tabiat dosa yang sudah mewarnai semua hati (bathin) manusia.

3. Kasih Karunia Tuhan (15-19)
Kasih karunia adalah kasih yang diberikan kepada orang yang sesungguhnya tidak layak menerimanya (anak durhaka yang diampuni, barang yang rusak total diperbaiki menjadi seperti baru). Paulus mengatakan bahwa : Dosa dan kematian dibawa oleh satu pribadi masuk ke dunia, demikian juga dengan ketaatan satu pribadi semua manusia dibenarkan. Paulus menekankan kemampuan tertinggi dari penebusan yang disediakan oleh Yesus Kristus untuk menghapus dampak dari kejatuhan kedalam dosa. Adam membawa dosa dan kematian tetapi Kristus membawa kasih karunia dan hidup.
 
III. Pointer aplikasi
1. Semua manusia telah jatuh kedalam dosa, upah dosa adalah maut.
2. Semua manusia membutuhkan kasih karunia Tuhan, karena orang yang sudah jatuh kedalam dosa tidak bisa menyelamatkan dirinya.
3. Berbahagialah karena Tuhan tidak memperhitungkan semua pelanggaran kita, serusak apapun kita, sedurhaka apa pun kita, ketika kita berseru kepada Tuhan dan mau bertobat kita akan diampuni (Mzm 32:1-11), karena Allah kita penuh dengan kasih karunia (bd. Invocatio).
4. Hidup di dalam kasih karunia. Sebagai orang yang sudah diampuni/ dibebaskan yang ada adalah “bersyukur dan bersukacita”. Sebagai orang yang sudah dimerdekakan kita memiliki paradigma baru tentang Taurat Tuhan. Di zaman dulu Taurat itu dipandang sebagai beban yang sangat berat (kuk yang menekan), tetapi bagi kita adalah anugerah. Karena melalui Hukum Taurat kita dapat menghitung berapa besar dosa (pelanggaran) kita dan sebesar itu jugalah kasih karunia yang Tuhan berikan bagi kita (Roma 5:20 “Tetapi hukum Taurat ditambahkan, supaya pelanggaran menjadi semakin banyak; dan di mana dosa bertambah banyak, di sana kasih karunia menjadi berlimpah-limpah). Ibarat utang, semakin banyak utang kita yang dilunasi semakin banyak anugerah yang kita terima (Catatan: tetapi bukan memberi kebebasan untuk berbuat dosa, Roma 6:14 “Sebab kamu tidak akan dikuasai lagi oleh dosa, karena kamu tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia”). Taurat adalah wujud kasih Allah agar kita dapat berjalan dalam koridor yang benar (orang yang telah diselamatkan, mengucap syukur dengan ketaatan pada Allah). Menjadi rambu-rambu yang dapat mengantarkan kita ke “negeri Kasih Karunia, dimana tidak ada tangis dan kematian. Jadi boleh kita katakan bahwa Hidup dalam kasih karunia Tuhan hidup sesuai dengan “Hukum Taurat” yang sudah disederhanakan isinya, yaitu : “mengasihi Allah dengan segenap hati dan mengasihi sesama manusia seperti mengasihi diri sendiri”. Sebagai wujud mengasihi Tuhan dan sesama, kita aktif dalam persekutuan (koinonia), gigih dalam bersaksi (marturia) dan rajin dalam pelayanan (diakonia).

5. Di Minggu-minggu Passion ini mari kita merenungkan betapa “Hebat” penderitaan Yesus untuk menanggung dosa kita, Dia rela dicaci maki, di fitnah dan diludahi, di cambuk dan di salibkan, di tombak dan dibunuh. Tidak ada kasih yang lebih besar selain kasih yang memberikan nyawanya bagi sahabatnya (Yoh. 15:13). Dalam Galatia 2:20 “ Paulus mengatakan hidupku bukannya aku lagi melainkan Kristus yang ada di dalamku”, lebih jauh lagi dalam 1 Korintus 9:16 “celakalah aku jika aku tidak memberitakan Injil”. Inilah tanggung jawab yang harus kita lakukan sebagai ungkapan rasa syukur dan suka cita hidup dalam kasih karunia Tuhan, selamat mencoba. Tuhan memberkati.
 
Pdt. Saul Ginting, S.Th, M.Div
GBKP Bekasi
   

Khotbah Mazmur 2:1-12, Minggu 26 Februari 2017

Invocatio :
“Berkat Tuhanlah yang menjadikan kaya, susah payah tidak akan menambahinya”(Amsal 10 : 22).
 
Pembacaan :
2 Petrus 1 : 16 – 21
 
Tema :
Panggilan untuk Memperbaiki
 
 
I. Pengantar
Menurut Kalender Tahun Gerejani kini gereja memasuki masa-masa Pra-Paskah atau Minggu-minggu sengsara, juga disebut Minggu Passion yang akan dilalui selama 7 (tujuh minggu lamanya). Peristiwa ini didasari oleh sengsara yang dialami Yesus dan menjadi peringatan bagi kehidupan ke kristenan mula-mula yang mendapat penganiayaan karena imannya kepada Kristus. Symbol Liturgi dinampakkan dengan gambar Ikan tertulis ICHTUS singkatan, Iesous Christos Theou Uios Soter yang artinya Yesus Kristus, Anak Allah, Juru Selamat. Rasid Rachman dalam bukunya Hari Raya Liturgi – Sejarah dan Pesan Pastoral Gereja, mengatakan Minggu-minggu sengsara atau Pra Paskah tidak diisi melulu dengan dukacita dan pergumulan berat – oleh sebab itu tidak disebut masa atau Minggu-minggu sengsara – tetapi juga dengan kesukaan dan pengharapan sebab di sinilah waktu dan kesempatan gereja untuk lebih menghayati peristiwa salib Kristus. Masa Pra Paskah adalah kesempatan spiritual umat dan lembaga gereja untuk lebih mengenal kasih Allah di dalam Kristus melalui pertobatan yang sungguh. Pertobatan dari dosa selalu diikuti dengan anugerah pengampunan Allah.

Dengan demikian tahapan demi tahapan Minggu-minggu sengsara atau masa Pra Paskah menjadi perenungan berangkat dari tema Minggu Passion I kita (GBKP), “Terpanggil untuk Memperbaiki”. Apakah yang harus diperbaiki: di gereja, jemaat, keluarga juga di dalam masyarakat? Dan bagaimanakah sikap serta peran orang/ pihak yang terpanggil untuk melakukan perbaikan? Ada perbaikan karena telah terjadi kerusakan. Bagaimana standar kerusakan sehingga perlu perbaikan yang dimasud di dalam tema renungan saat ini?
 
II. Makna Minggu Passion I
1. Pengantar Teks Pembacaan II Petrus 1 : 16 – 21
Jelas bahwa di dalam surat Petrus yang menjadi pembacaan ada kelompok atau golongan yang merusak. Mereka membuat cerita dongeng yang turut memberi issu pada pemberitaan rasul Petrus tentang kedatangan Yesus Kristus sebagai raja. Cerita dongeng tersebut datangnya dari golongan Gnostik, yang hanya merupakan cerita khayalan belaka. Petrus mengatakan dongeng-dongeng isapan jempol manusia. Kesaksian rasul Petrus mengatasi cerita khayalan belaka tersebut. Diperkuat oleh informasi atau data otentik sebagai bukti terhadap peristiwa dimana rasul Petrus ikut menjadi saksi. Dia, Petrus adalah saksi sejarah yang melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana Yesus menerima tanda kemuliaan dan kehormatan dari Allah Bapa di atas gunung itu. Ketika itu memang Petrus diundang oleh Yesus ikut naik ke atas gunung itu. Bersama dengan Yesus, rasul Petrus juga mendengar suara yang datangnya dari sorga yang berkata: ”Inilah Anak yang Kukasihi kepadaNya Aku berkenan” (Mat 17:1-5, Mark 9:2-7, Luk 9:28-35). Kesaksian rasul Petrus di dalam suratnya ini tidak dapat diragukan lagi karena peristiwa ini benar-benar disaksikan oleh mata, juga tempat dimana peristiwa ini terjadi, yaitu diatas gunung yang kudus. Gunung adalah merupakan sarana tempat penyataan Allah (Kel 3:5; 19:23). Saksi mata dan tempat terhadap peristiwa datangnya kembali Kristus sebagai raja tidaklah mungkin dirusak oleh cerita dongeng atau khayalan yang mau merusak berita yang disampaikan oleh rasul Petrus tersebut. Pandangan ini bagi para rasul adalah penggenapan dari PL yang sangat menarik (Mat. 1:22; 2:5,6). Karenanya sebagai orang yang percaya harus memperhatikan akan kedatangan Kristus. Kedatangan Kristus itu digambarkan seperti pelita yang bercahaya di dalam gelap, Gelap melukiskan keadaan dunia bila tanpa Terang yang sesungguhnya (bd. Yoh. 8:12). Pelita dikenal sebagai Firman Allah/ Alkitab (Mzm. 119:105). Dan fajar yaitu hari kedatangan Kristus (3:10; Rom. 13:12) atau disebut Bintang Timur (Yun, Phosphoros), yaitu bintang yang membawa fajar. Dalam kebudayaan Yunani dan Romawi Kuno menunjuk Bintang Kejora menjadi lambang bagi Tuhan Yesus (Bil. 24:17; Luk. 1:78; Why. 22:16).
 
2. Penegasan Renungan / Teks Khotbah Mazmur 2 : 1 – 12
Mengawali kesaksian pemazmur, memperlihatkan situasi kerusuhan diantara bangsa-bangsa. Kerusuhan tersebut didasari oleh permufakatan raja-raja dunia melawan Tuhan dan yang diurapiNya. Melawan Tuhan adalah perlawanan terhadap Israel dimana Tuhan sendiri adalah Raja bagi bangsaNya Israel. Permufakatan antar raja-raja dunia yang dimaksud disini adalah sistim pemerintahan politik yang tidak membawa kepada pemerintahan kehidupan yang adil damai tentram dan aman. Tetapi justru berdampak pada korban kemanusiaan. Pelanggaran HAM, realitas kemiskinan serta keterpurukan dari berbagai segi kehidupan. Akibatnya, berdampak pada kerusakan. Kerusakan mental, moral dan atau kepribadian bangsa dan warga negaranya khususnya pada generasi bangsa. Inilah pertanda politik bangsa yang melawan kepemimpinan Raja Israel yang diurapi oleh Tuhan. Cara mufakat raja-raja dunia seperti ini sangat merugikan, dan sangat ditentang oleh Raja Israel. Politik seperti ini hanya menjadi tertawaan atau ejekan. Allah menertawakan kepemimpinan raja-raja dunia yang menjalankan perpolitikan yang merusak dan atau yang merugikan. Allah memperlihatkan politik yang perlu ditertawakan atau diejek. Ditertawakan berarti dipermalukan. Dipermalukan karena kepemimpinan yang dijalankan tidak menciptakan keadilan dan kedamaian tetapi hanya memporak-porandakan kehidupan manusia dan dunia. Politik yang merusak resikonya adalah berhadapan dengan Tuhan yang adalah Raja diatas segala raja-raja di dunia. Dia tidak hanya menertawakan tetapi juga dapat melenyapkan mengalahkan dengan mudah sistim perintahan raja-raja dunia yang merugikan. Tuhan menghukum politik pemerintahan yang merugikan. PadaNya ada gada (tongkat) kekuasaan dan besi sebagai alat untuk menghancurkan kepemimpinan yang menjalankan politik pemerintahannya dengan tindakan kekerasan. Sistim perintahan atau politik bangsa yang merusak akan dilenyapkan oleh Tuhan. Karena pemerintahan yang demikian hanya mengacaukan tatanan kehidupan dunia dan hidup antar bangsa. Raja-raja tidak seharusnya menjalankan pemerintahan dengan melawan Tuhan sebagai Raja, tetapi justru meminta perlindungan kepada Tuhan dalam menjalankan masa kepemimpinanNya untuk menjalankan kepemimpinan bangsa dengan bijaksana. Yaitu kebijaksanaan yang diajarkan oleh Tuhan. Belajar daripada Tuhan berarti menyerahkan kepemimpinan dibawah kekuasaan Tuhan sendiri. Kepemimpinan Raja Israel telah nyata dengan keamanan dan ketenangan kota Sion yang tetap dilindungi dalam pemerintahan Raja Israel sendiri. Kita telah mengalami kepahitan bangsa dalam situasi kerusuhan-kerusuhan yang terjadi pada masa lalu (1999). Di Poso, Ambon dan kota-kota lainnya, bahkan sampai sekarang suasana bangsa yang tidak kondusif mengajak kita untuk belajar dari kepemimpinan Raja Israel. Juga termasuk kepemimpinan raja-raja dunia yang diperhadapkan oleh berbagai problema bangsa termasuk masalah teroris atau ISIS.
 
III. Perenungan Teologis : Minggu Passion I
Nyanyian pemazmur sebagai perenungan dalam masa Pra Paskah (Passion I) sengsara Yesus, adalah nyanyian penobatan Raja yang diurapi Tuhan. Pujian pemazmur ini adalah ditujukan kepada Kristus yang dalam sengsaraNya memasuki dunia perpolitikan raja-raja dunia, untuk memperbaiki sistim pemerintahan dari kerusakan peradaban dunia ke dalam hidup perdamaian. Presiden Amerika Serikat Donal Trump mengawali kepemimpinan perdananya mempererat pelukannya mendukung Jepang terkait dengan uji coba rudal Korea Utara. Peluncuran rudal ini sangat tidak bisa ditoleransi, dan semestinya Korut harus mengikuti resolusi PBB (Minggu 12 Peb 2017), demikian salah satu berita surat kabar yang kemudian dikatakan belum diketahui secara persis apa maksud peluncuran rudal tersebut bagi kehidupan dunia.

Dimana-mana pasti ada saja sikap dan tindakan pihak-pihak yang merencanakan kejahatan atau kerusuhan. Teroris, ISIS atau kejahatan lainnya sangat dekat dengan lingkungan dimana kita berada. Menghadapi situasi ini bukan kita harus menjadi takut. Tetapi kita dipanggil untuk peka dan peduli terhadap sikap dan tindakan untuk memperbaiki kerusakan yang terjadi disekitar kita. Atau setidaknya menjaga agar tidak terjadi kerusuhan atau pengerusakan disekitar tempat kita tinggal menetap. Panggilan ini adalah seperti penunjukkan Tuhan kepada Sang Raja yaitu Yesus Tuhan yang dipilih oleh dan diurapi oleh BapaNya, ‘AnakKu Engkau! Engkau telah Kuperanakkan…’ (bdk. 2 Pet 1:17). Bahwa tugas panggilan untuk menjaga atau memperbaiki dari kerusakan adalah juga panggilan kepada kita pribadi lepas pribadi melakukan karya kebaikan/ perbaikan sebagai persembahan bagi kemuliaan nama Tuhan. Seperti Tuhan mempermuliakan AnakNya sekalipun Ia harus mengalami sengsara. Demikian juga kita, atas tugas panggilan untuk memperbaiki yang rusak akan dijalani seiring dengan penderitaan atau sengsara. Keadaan ini tentu harus dimaknai dari apa yang telah dikerjakan Yesus di dunia ini. Baik di dalam rumah tangga/ keluarga, jemaat/ gereja dan di tengah masyarakat serta tempat dimana kita bekerja, kita terpanggil berkorban memperbaiki kerusakan disekitar kita sebagai makna penebusan Kristus dimana kita juga turut berperan mengerjakannya.
 
Pdt Merry Tatuwo br Sembiring, STh
Perpulungen/ Jemaat GBKP Makassar
   

Page 1 of 140

BP-KLASIS-XXX

"SELAMAT DATANG mengunjungi Web GBKP KLASIS JAKARTA-BANDUNG"

Renungan

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
  • 6
  • 7
  • 8
  • 9
  • 10
  • 11
  • 12
  • 13
  • 14
  • 15

Pengunjung Online

We have 38 guests online