image image image image
Grand Opening GBKP Runggun Cikarang GBKP Cikarang yang telah disyahkan menjadi Jemaat/Runggun pada sidang GBKP klasis Jakarta-Bandung tanggal 10-12 Oktober 2014 di Hotel Rudian-Puncak,
PEMBINAAN BP RUNGGUN – RAMAH TAMAH TAHUN BARU – PENCANANGAN TAHUN PENINGKATAN SOSIAL EKONOMI DAN BUDAYA JEMAAT Pada tanggal 10 Januari 2015 di GBKP Runggun Bekasi telah di laksanakan kegiatan Pembinaan BP Runggun di Klasis Jakarta-Bandung. Kegiatan yang dimulai pukul 08.00 Wib diawali kebaktian pembukaan oleh Pdt. Alexander Simanungkalit,
WISATA LANSIA GBKP KLASIS JAKARTA-BANDUNG KE BANGKOK-PATTAYA Wisata Lansia yang menjadi salah satu program Bidang Diakoni GBKP Klasis Jakarta-Bandung telah dilaksanakan tanggal 8-11 Desember 2014 ke Bangkok-Pattaya. Wisata yang diikuti 47 peserta ini di damping Kabid Diakonia, Dk. Ferdinand M. Sinuhaji dan Pdt.S.Brahmana.
PEMBUKAAN SIDANG KERJA SINODE (SKS) DAN SIDANG PROGRAM & KEUANGAN (SPK) TAHUN 2014 Pembukaan Sidang Kerja Sinode (SKS) dan Sidang Program dan Keuangan (SPK) tanggal 22-25 Oktober 2014 telah dilaksanakan pada pukul 10.00 Wib, di dahului kebaktian pembukaan yang dipimpin Pdt.Vera Ericka Br.Ginting, direktur Percetaken dan Toko Buku GBKP Abdi Karya Kabanjahe,

Khotbah Roma 12:3-8, Minggu 27 Agustus 2017

Invocatio :
Jadi janganlah malu bersaksi tentang Tuhan kita dan janganlah malu 
karena aku, seorang hukuman karena Dia, melainkan ikutlah menderita bagi Injil-Nya oleh kekuatan Allah ( 2 Timotius 1 : 8 ).

Bacaan :
Lukas 22:24-30

Tema :
Ambil bagian dalam pekerjaan-pekerjaan gereja
 
 
I. PENDAHULUAN
Salah satu pengertian yang digemari Paulus ialah mengenai Gereja sebagai satu tubuh (1 Kor 12:12-27). Anggota-anggota tubuh tidak saling bertengkar, tidak saling iri atau mempersoalkan yang mana yang lebih penting. Tiap bagian tubuh melaksanakan tugasnya masing-masing. Tiap-tiap anggota mempunyai tugas yang harus dilaksanakan; dan hanya dengan melaksanakan tugasnya masing-masinglah maka tubuh Gereja itu berfungsi sebagaimana mestinya.
 
Paulus berkeinginan supaya jemaat di Roma hidup secara rukun dan bisa menguasai diri supaya tidak berpikir tentang hal-hal yang lebih tinggi. Selayaknya tangan dan kaki memiliki fungsi yang berbeda dan mereka menjalankan tugas masing-masing tanpa harus tangan berpikir untuk menjadi kaki lalu melakukan tugas dari kaki, begitupun kaki yang berpikir untuk menjadi tangan dan melakukan tugas dari tangan.
 
II. PEMBAHASAN
Latar belakang dari penulisan bagian ini oleh Paulus ialah penekanan pada soal bagaimana respons umat yang telah dibaharui, dilahir barukan atau diselamatkan, itu berarti bahwa umat yang dibaharui atau sudah diselamatkan bukan berarti bersikap masa bodoh, tidak tahu apa yang harus dibuat. Ada tindakan-tindakan pembaharuan hidup yang harus dinyatakan oleh umat Tuhan sebagai bentuk tanggung jawab iman. Paulus dalam hal ini mnasihatkan jemaat yang ada di Roma untuk memikirkan apa yang layak dipikirkan sebagai orang yang beriman pada Tuhan. Yakni berpikir dalam kapasitas sebagai umat yang sudah diselamatkan. Sebagai satu tubuh, kita memiliki banyak anggota yang masing-masing punya tanggung jawab yang berbeda-beda. Perbedaan itu bukan untuk menciptakan perpecahan tetapi saling mengisi dan saling membutuhkan satu sama lain.
 
Bagian bacaan ini hingga pasal 12:21 berisikan himbauan umum yang menyangkut dengan kehidupan gereja. Pembukaannya segera membangkitkan perhatian : Berdasarkan kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku, aku berkata kepada setiap orang diantara kamu : janganlah kamu menilai dirimu lebih tinggi daripada apa yang patut kamu pikirkan , tetapi hendaklah kamu menilai diri dengan tepat, sehingga kamu menguasai diri menurut ukuran iman, yang dikaruniakan Allah kepada kamu masing-masing. Dapat diprediksi seperti inilah keadaan gereja di Roma, sehingga yang seorang menganggap dirinya lebih tinggi dari yang lain. Dapat dikaitkan juga dengan dengan tema yang lemah dan yang kuat (pasal 15), hanya saja dalam bacaan ini, Paulus menggunakan istilah-istilah yang lebih umum.: karunia-karunia yang berbeda tak boleh menyebabkan penilaian yang berbeda Dalam ayat 4-8 Paulus beralih kepada karunia-karunia karismatis, dan di sini kita harus memperhatikan tekanannya. Setiap orang harus mempergunakan karunianya tapi bukan untuk meninggalkan diri sendiri melebihi orang lain. Hal ini secara logis diikuti oleh perintah untuk mengasihi, karena bila manusia yang menganggap dirinya lebih daripada yang lain dibuat agar melihat bahwa perbedaan-perbedaan di antara mereka itu dihubungkan oleh perbedaan karunia-karunia yang dianugerahkan, maka mereka akan kembali berbalik pada satu sama lain di dalam kasih.
 
Setiap orang memiliki karunia yang berbeda-beda. Dari karunia-karunia yang dituliskan Paulus dalam bacaaan ini, tidak ada orang memiliki kesemuanya itu sekaligus karena itu penilaian atau pengevaluasian terhadap diri sendiri itu sangat diperlukan. Paulus menegaskan supaya terlebih dalulu jemaat menilai dirinya sendiri dan jangan menilai orang lain sehingga mengakibatkan adanya rasa cemburu atau iri yang mengakibatkan jemaat tidak bisa melihat karunia apa yang ada padanya.
 
III. REFLEKSI
Setiap karunia yang ada pada tiap-tiap orang, apakah itu karunia untuk bernubuat, melayani, mengajar, menasihati, dll, diharapkan supaya digunakan untuk kemuliaan Tuhan, supaya gereja Tuhan semakin bertumbuh dalam pekerjaan pelayananNya di dunia ini. Karunia atau talenta adalah berkat Tuhan yang tidak hanya disimpan tetapi harus dikembangkan. Diberdayakan atau disalurkan seperti ketika memiliki sesuatu harus juga dibagikan. Itu harus dilakukan dengan tulus ikhlas. Jika ada orang dengan karunia memimpin, kenapa harus disimpan jika itu dibutuhkan? Ketika kita menggunakan karunia yang ada pada kita, kita juga akan menerima berkat Tuhan, justru akan merugikan diri kita sendiri jika karuna itu hanya disimpan saja.
 
Bacaan ini mengajak kita sebagai satu tubuh dalam Kristus yaitu satu persekutuan gereja yang Tuhan pakai untuk pekerjaan pelayanan didunia ini, kita diingatkan bahwa kita ini adalah umat yang diberkati walaupun memiliki karunia yang berbeda-beda tetapi itu bukan menjadi penghalang bagi kita untuk berlomba-lomba secara aktif tanpa hitung-hitungan untung dan ruginya melibatkan diri dalam pelayanan gereja. Melibatkan diri dalam berbagai pekerjaan gereja seperti : Menjadi Song leader, Organis, pendoa syafaat, pengisi pujian, menjamu tamu gereja, mengunjungi yang sakit, memberi dari kepunyaan kita untuk mendukung pelayanan di gereja, memberi waktu untuk terlibat ber PI, dll.
 
Untuk giat dalam pekerjaan Tuhan ada banyak macammya sesuai dengan karunia-karunia yang kita miliki. Jika kita tidak pandai bernyanyi, mengapa kita memaksakan diri untuk menyanyi lalu akhirnya kita sadar bahwa kita tidak bisa lalu akhirnya kita meninggalkan pelayan kepada Tuhan. Mungkin kita bisa bermain music dan mengajarkan sesama untuk bisa bermain music lalu diaplikasikan dalam setiap kegiatan gereja. Tinggal dari kita sendiri menggunakan hikmat dari Tuhan lalu mengolah karunia-karunia yang kita punya.
 
Ketika kita menjalankankan tanggung jawab pelayanan diakonia gereja, turut serta dalam kunjungan sesama yang sakit, memberi perhatian kepada saudara kita yang berkekurangan, menopang para pekerja gereja serta tanggung jawab pelayanan gereja yang bersaksi, bersekutu dan melayani, di sinilah kita melihat karunia yang ada pada kita yaitu aktif dalam partisipasi kegiatan gerejawi.
 
Setiap kita yang memberi diri bagi pekerjaan Tuhan sesuai karunia atau talenta yang Tuhan berikan kepada kita, maka kita sudah mengakui pemberian Tuhan yang lebih dahulu dilakukan-Nya pada kita dan kita menghargai atas apa yang sudah diberikannya itu. Kita belajar mensyukuri semua anugerah Tuhan bagi kita sebagai gereja. Di kehidupan kita yang hanya sementara, alangkah baiknya kita jadikan kesempatan untuk melayani Tuhan. Jangan kita sia-siakan apa yang sudah Tuhan beri kepada kita, karena itu hidup kita harus bisa jadi berkat. Biarlah Tuhan pakai hidup kita selagi kita masih kuat hingga pada saat kita sudah tidak berdaya lagi, hidup kita ini sudah jadi berkat. Amin
 

Pdt. Karvintaria br Ginting, STh
GBKP Rg.Klender
   

Khotbah Lukas 10:30-37, Minggu 20 Agustus 2017. MINGGU MAMRE

Invocatio :
“Biarlah kuambil sepotong roti, supaya tuan-tuan segar kembali , kemudian bolehlah tuan-tuan meneruskan perjalanannya, sebab tuan-tuan telah datang ke tempat hambamu ini. Jawab mereka: Perbuatlah seperti yang kau katakan itu.” (Kejadian 18:5b)
 
Bacaan :
Rut 2 : 14 – 19 (Tunggal)

Tema :
“Melayani Suatu Kehormatan”(Ngelai E Sada Kehamaten)
 

I. PENDAHULUAN
Ibu Teresia dari Kalkuta sebuah teladan pembawa dan cermin kasih Allah. Dia menerima panggilan Allah untuk melayaniNya dalam diri orang-orang termiskin. Dengan cara yang sederhana yaitu merawat orang yang sakit dan yang hampir mati yang ditemuinya di sepanjang jalan di Kalkuta. Ia melayani Yesus dalam diri kaum miskin. Merawatnya, memberi makan dan pakaian dan mengunjunginya. Kita melihat dalam diri Ibu Teresia bahwa ia tumbuh dalam cinta kepada Yesus. Ia berkata : “untuk melakukan hal ini kita harus terus mencintai dan mencintai, memberi dan memberi, hingga cinta itu melukai diri kita”. Itulah jalan yang dilakukan Tuhan Yesus.

II. PENDALAMAN TEKS
Ada dua episode penting dari teks ini, keduanya memiliki struktur pertanyaan, dan pernyataan dengan pola yang hampir sama. Diawali dengan sebuah pertanyaan ujian dari seorang ahli taurat di ayat 25 tentang “yang harus dilakukan untuk memperoleh hidup yang kekal”, diikuti kemudian dengan pertanyaan balik Yesus kepadanya tentang “hukum yang pertama dan terutama” dalam hukum Yahudi. Setelah menjawab dengan benar pertanyaan Yesus itu, dilanjutkan kemudian dengan episode kedua, yaitu pertanyaan ahli taurat kepada Yesus tentang “siapakah sesamanya”, dan tanggapan Yesus diungkapkan melalui perumpamaan ini. Perumpamaan ini diakhiri dengan sebuah pertanyaan Yesus kepada ahli taurat untuk menarik kesimpulan tentang “siapakah sesama” yang dimaksud. Dengan kata lain, melalui perumpamaan ini,Yesus membiarkan ahli taurat untuk menjawab sendiri pertanyaannya sebelumnya kepada Yesus tentang siapakah sesamanya itu. Dan Yesus menutup dialog mereka itu dengan mengatakan “pergilah dan perbuatlah demikian” (Ay. 37b).

Dua pihak yang sebenarnya memiliki hubungan yang sangat tidak harmonis, ditampilkan sekaligus dalam kisah ini, yaitu orang Yahudi (dalam hal ini imam dan orang Lewi), dan orang Samaria (dalam hal ini penolong orang yang dirampok tersebut). Dan orang yang bertanya adalah orang Yahudi (ahli Taurat, unsur pimpinan dalam masyarakat/agama Yahudi).

Pada zaman Yesus, terutama pada zaman pembaca tulisan Lukas, jalan ke Yerikho merupakan sesuatu yang sangat berbahaya. Pada abad pertama, jalan ke Yerikho terkenal sebagai jalan atau tempat yang paling berbahaya. Jaraknya cukup jauh, sekitar 17 mil (lebih dari 27 km). Tidak hanya itu sepanjang jalan adalah hutan belantara (wilderness) dan gua-gua dimana orang dapat bersembunyi tidak ada perlindungan bagi siapapun yang melewati jalan itu, tidak ada tenaga keamanan di jalan pada saat itu. Gerombolan perampok tinggal di gua-gua tersebut dan siapapun melewati jalan itu adalah sasaran empuk mereka, dan umumnya si korban ditinggalkan begitu saja dalam kondisi terluka parah. Konteks geografis seperti inilah yang dipakai Yesus dalam perumpamannya untuk menggambarkan peristiwa perampokan dan bagaimana orang Yahudi maupun orang Samaria menunjukkan “perhatian” (care) terhadap si korban. Ada beberapa alasan iman tidak mau membantu orang yang nyaris mati itu. Seandainya ia membantu, secara otomatis ia menjadi najis. Untuk menjadi tahir kembali, ia harus menjalani upacara khusus selama seminggu dan tidak boleh mengikuti kegiatan keagamaan bersama umat lain (ay. 31-32).

Tindakan belas kasihan orang Samaria yang diceritakan dalam ayat 33-35 sungguh ironis. Sebab dimata bangsa Yahudi , orang Samaria bukan “sesama”. Namun justru orang Samarialah membuktikan dirinya sebagai sesama bagi orang yang dirampok. Ia lebih memahami kehendak Allah daripada para wakil resmi agama Yahudi.

Siapakah siantara ketiga orang ini “..sesama manusia...”, ahli hukum tidak menjawab, “Orang Samaria itu!,” melainkan “dia yang menunjukkan belas kasihan”.(ay. 36-37).
Rut adalah seorang wanita Moab, menantu Naomi. Dalam pemeliharaan Allah, Rut menjumpai Boas, seorang sanak saudara Elimelekh yang kaya raya. Boas menawarkan jelai yang baru disangrai sampai dia kenyang , dan masih ada sisanya bahkan cukup untuk diberikan kepada Naomi setelah dia pulang (2:18). Boas memerintahkan dia untuk memungut juga di antara berkas-berkas,sedangkan hukum hanya menyebut di pinggir ladang. Boas bahkan memerintahkan pekerja-pekerjanya utuk “sengaja menarik sedikit-sedikit dari onggokan jelai itu untuk dia”, sehingga Rut bisa mendapat lebih banyak. Tanggapan Boas dengan kemurahan hati jauh melebihi tuntutan hukum.

III. APLIKASI
Perumpamaan ini menekankan bahwa dalam iman dan ketaatan yang menyelamatkan terkandung belas kasihan bagi mereka yang membutuhkan. Panggilan untuk mengasihi Allah adalah panggilan untuk mengasihi orang lain. Orang percaya seharusnya mewujudnyatakan kepedulian atau perhatian bagi siapapun yang membutuhkan, yang tidak dibatasi oleh sekat-sekat apapun. Kasih, kepedulian, perhatian, kepekaan dan empati kepada mereka yang membutuhkan haruslah menempati tempat yang penting dalam kehidupan orang percaya.

1. Hidup baru dan kasih karunia yang Kristus karuniakan bagi mereka yang menerima Dia akan menghasilkan kasih, rahmat dan belas kasihan bagi mereka yang tertekan dan menderita. Semua orang percaya bertanggung jawab untuk bertindak menurut kasih Roh Kudus yang ada dalam diri mereka dan tidak mengeraskan hati mereka.

2. Mereka yang menyebut dirinya Kristen namun hatinya tidak peka terhadap penderitaan dan keperluan orang lain, menyatakan dengan jelas bahwa di dalam diri mereka tidak terdapat hidup kekal
 
Putri Br Brahmana
Detaser GBKP Rg. Bogor
   

Suplemen PA Mamre tanggal 13-19 Agustus 2017, Ogen Jesaya 46:4 HUT LANSIA-SAITUN

Tema:
"Mediate Nandangi Kecibal Orangtua"

Tujun:
Gelah mamre:
* Ngangkai maka umur si gedang e me pasu-pasu i bas Dibata nari.
* Ngergaken kalak si enggo lansia

Metode :
Diskusi
 

Kata Penaruh
Berikut enda itulisken kami sada kutipen ibas borupangggoaran.blogspot.com
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menggolongkan lanjut usia menjadi 4 yaitu : Usia pertengahan (middle age) 45 -59 tahun, Lanjut usia (elderly) 60 -74 tahun, lanjut usia tua (old) 75 – 90 tahun dan usia sangat tua (very old) diatas 90 tahun. Sedangkan menurut Prayitno dalam Aryo (2002) mengatakan bahwa setiap orang yang berhubungan dengan lanjut usia adalah orang yang berusia 56 tahun ke atas, tidak mempunyai penghasilan dan tidak berdaya mencari nafkah untuk keperluan pokok bagi kehidupannya sehari-hari. Saparinah ( 1983) berpendapat bahwa pada usia 55 sampai 65 tahun merupakan kelompok umur yang mencapai tahap praenisium pada tahap ini akan mengalami berbagai penurunan daya tahan tubuh/kesehatan dan berbagai tekanan psikologis. Dengan demikian akan timbul perubahan-perubahan dalam hidupnya. Demikian juga batasan lanjut usia yang tercantum dalam Undang-Undang No.4 tahun 1965 tentang pemberian bantuan penghidupan orang jompo, bahwa yang berhak mendapatkan bantuan adalah mereka yang berusia 56 tahun ke atas. Dengan demikian dalam undang-undang tersebut menyatakan bahwa lanjut usia adalah yang berumur 56 tahun ke atas. Namun demikian masih terdapat perbedaan dalam menetapkan batasan usia seseorang untuk dapat dikelompokkan ke dalam penduduk lanjut usia.

Arah uraian i datas si ikataken lansia e erbage bage, lit si ngatakenca umur 60 tahun lebih, lit pendapat si ngatakenca umur 55 entah 56 tahun. Gerejanta GBKP ngelompokken si ikataken lasia e me si berumur 60 tahun ke atas. Persekutun kategorial Lansia ibas GBKP (genduari igelari persekutun kategori Saitun) itetapken ibas sidang sinode GBKP pe XXXV, tanggal 11-18 April 2015. Tapi tanggal tubuhna persekutuan kategorial Lansia itetapken sejak pajekna Pusat Pelayanen Orangtua Sejahtera (PPOS) i Sukamakmur tanggal 15 Agustus 1991, jadi ibas tahun 2017 enda siperingeti HUT Saitun pe 26 ken. Janah ibas bahan PA Mamrenta enda sehubungen ras HUT Saitun kita ncakapken entah erlajar kerna mediate nandangi cibal lansia.

Pembahasen Teks
Jesaya 46 enda e me rangkaian peristiwa penelamaten si ilakoken Dibata nandangi Israel si itaban bangsa Babel. Kalak Babel memuja dewa Bel ("Tuan") entah pe igelari dewa Marduk e me dewa si meganjangna. Dewa enda simbol kekuaten Babel janah bangsa-bangsa termasuk Israel pe mbiar nandangi dewa enda. Keadan kalak Israel tuhu-tuhu enggo man sampaten, janah adi la kin ibebasken Dibata labo banci idatken Israel kemerdekanna pulah ibas kebiaren si melemahken mental ras kinitekenna. Erkiteken keleng ate Dibata bangsaNa e maka Dibata turun tangan. Salu kuasaNa, iruntuhken Dibata kerina dewa-dewa kalak Babel. Nabonidus raja Babel mbaba dewana e alu iampekenna ku gurung asuh-asuhen. Gana gana si ndube ibiari gegehna ibas ngkawali bangsa Babel, tapi erkite-kiteken pernembeh ate Dibata enggo man sampaten.

La bias terjeng ngidah Dibata ngeradasken dewa dewa kalak Babel, kepribadin-troma ras kiniteken Israel pe perlu ipulihken. Guna si e Dibata ngulihi petandaken diriNa alu nuriken perbahanenNa si enggo idahikenna man kesusuren Jakub, maka Dibata e labo pernah nadingken bangsaNa. Jesaya njelasken perbahanen Dibata bahwa Dibata enggo ngelakoken keleng ateNa man Israel alu natang kegeluhenna mulai kin ibas bertin nari, Israel tubuh ras jadi metua (lanjut usia). Kekelengen Dibata si mbelin e arus iakui Israel; maka Dibata mperlakuken Israel sebage anakNa si seh kal ateNa keleng, si iembah-embahNa seh umurna metua ras ubanen. Nina kata Dibata "Aku si njadiken kam, kutatang tatang kam, kuangkip-angkip janah ku kelini kam. Enda me kalimat si pasna ibad mpetandaken Dibata mulihi man Israel. Dibata labo la mediate man Israel maka kalak Israel lit ibas kesusahen (itaban) tapi Israel nge si ngelupaken Dibata.

Dibata labo pernah ngadi ngkelengi bangsaNa, sabab kekelengen e me jati diriNa. Perhatin Tuhan la pernah ngadi ibas kerina situasi umur Israel; mulaikin Israel e tubuh bagi sekalak anak jadi ibas bertin nandena, tubuh seh ubanen, tetap Tuhan mediate nandangi bangsaNa. Bageme istimewana kalak pilihen Tuhan ilebe-lebe Dibata.

Pembahasen tema
Kekelengen Dibata man israel bangsa pilihenna, tuhu-tuhu terbukti, ibas Dibata ndahiken keselamaten ras kesejahteran Israel. Meherga kal man Dibata kalak si ipilihna, emaka irawatNa, ipebiasiNa kebutuhen geluhna, ikawaliNa dingen iberekenNa umur si gedang dingen kemulian.

Man kalak Israel umur si metua jadi meherga e me adi orangtua e ibas masa pertumbuhen anak anakna enggo isehkenna pengajaren kata Dibata (Sepuluh Pedah Dibata alu benar, ipimpinna isi jabuna eribadah telu kali sada wari; erpagi-pagi, ciger ras karaben-berngi wari janah ia si mimpinsa jadi imam. Ibas jenjang umur anak remaja orang tua ertanggung jawab memperlengkapisa alu keterampilen, keahlin erdahin si akan menjadi mata pencarinna adi seh pagi paksana ia membentuk rumah tanggana. Anak si la ipersiapken orangtuana alu benar ijadikena kap anak-anakna e jadi anak si jahat janah orantua e me pagi si mabab latihna ras suina jadi korban kejahaten anakna e. Pembekalen anak alu benar erbahansa mehamat anak e man orang tuana, terlebih-lebih adi orangtuana e enggo lanjut usia. Lansia si bijaksana, mehamat kalak man bana, metedeh anak-anakna, kempu-kempuna ras entena man bana janah aminna pe umurna enggo "lansia" enggo kurang pembegina, lanai jelas pengenehenenna, lambat gerakenna janah enggo sakit-sakiten tapi la kurang kehamaten kalak man bana.

Aplikasi ras Renungen
* Menjadi lansia hendaknya seperti "ilmu padi" semakin tua semakin berisi dan semakin berharga gelah kalak lalap mehamat man bana.

* Gelah lansia tetap iergai, e maka lansia pe tetap arus ngergai dirina,labo mposisiken dirina jadi objek pelayanen, adi lit denga gegeh kengasupe tetaplah melayani Tuhan.

* Sebage Mamre selaku anak entah kempu nandangi orangtua si enggo lansia ula lupa ndalanken tanggung jawab r'orangtua. Ngerawat orangtua asa bancina tetap min ilakoken sendiri ula iwakilken ku pelayan si ngelai i rumah jompo atau ibahan perawatna kusus. Arus min anak-anak entah kempu nikapken waktu berinteraksi lansung, ngerana-ngerana entah erbahan kegiaten bersama.

* Persinget man Mamre, keleng kap ate Dibata man lansia, janah ibas ndalanken keleng ate Dibata e ipilihna kita kususna si tading deherken kalak si enggo lansia gelah mperdiateken lansia ras ndahiken keleng ate Tuhan e.

* Adi lit lansia ndeher ras kita, terlebih-lebih orangtuanta si enggo lasia jadi ujian iman kap e man banta. E maka arus min tetap sabar ngadapisa, tami-tamilah ia janah periahkenlah ukurna.

Pdt. Ekwin W. Ginting  Manik
GBKP Rg. Cikarang
   

Suplemen PJJ Tanggal 13-19 Agustus 2017, Ogen Nehemia 4:11-15

Thema : ”Jadi Mbisa”
“Menjadi Kuat-berkuasa”
 
 

Pendahuluan
Bangsa yang mengalami kekalahan dalam peperangan dan ditindas maka rakyatnya akan menjadi lemah dan tidak berdaya sehingga mereka tidak dapat memperbaiki situasinya. Diperlukan kebangkitan baru dapat terjadi apabila rasa nasionalis-cinta kepada bangsa tetap bergelora di dalam hati rakyatnya. Karena itu di dalam suatu perjuangan sangat diperlukan hadirnya tokoh nasionalis yang kepemimpinannya dapat diandalkan, kuat, berani, memiliki jiwa berkorban, cerdas, terampil, dapat dipercaya, dan memiliki visi masa depan yang jelas. Tidaklah mudah menemukan pemimpin seperti hal tersebut di atas, tetapi tidak mustahil hal tersebut lahir dari orang Kristen yang percaya sebab karena imannya telah menghadapi berbagai bentuk pergumulan sebagai pengujian dan melalui pengajaran gereja telah mendapat pendidikan tanggungjawab sebagai warga negara dan cinta bangsa.

Tafsiran dan Pembahasan teks
Tembok adalah simbol kokohnya berdiri suatu bangsa, pemerintahan yang berjaya dan aman, serta politik yang berkemenangan. Apabila tembok kota runtuh, pintu gerbangnya dibakar dan menjadi puing-puing berarti negara tersebut telah runtuh dan di taklukan. Karena itu ketika tembok Israel runtuh maka runtuhlah kebanggaan dan hilanglah kejayaan Israel. Secara politik mereka telah takluk kepada Persia yang menjajahnya. Keadaan tembok Israel yang telah menjadi puing-puing sangat mempengaruhi mental mereka menjadi lemah terlebih lagi ketika mereka diperbudak. Untuk dapat bangkit kembali Israel memerlukan seorang tokoh pemimpin yang dapat mengembalikan keyakinan dan semangat juang, membangkitkan rasa nasionalis berbangsa, dan semangat berkorban, berjuang membangun kembali Israel yang sudah menjadi puing-puing.
 
Nehemia sebagai tawanan di Persia, telah mendapat kepercayaan raja Artaserses melayaninya sebagai juru minuman. Sebagai seorang pelayan raja ia berhasil mendapat hati raja, sehingga ketika Nehemia menyampaikan keinginannya kembali ke Yerusalem dan memimpin bangsa Israel yang sudah kembali dari pembuangan membangun kembali tembok Israel yang telah runtuh, Nehemia mendapat izin raja serta mendukungnya (bd. 2:1-10). Nehemia bersama para imam, orang Lewi dan segenap bangsa Israel bekerja keras bersama-sama siang dan malam tiada hentinya membangun kembali tembok Israel yang telah menjadi puing-puing.
 
Pembangunan tersebut mendapat tantangan ditolak oleh Sanbalat gubernur Samaria, orang-orang Arab dipimpin oleh Gesyem, orang-orang Amon dipimpinoleh Tobia (2:19) dan orang-orang Asdot (salah satu suku orang Filistin). Mereka meremehkan, mengejek dan menghina pekerjaan pembangunan kembali tembok Israel, sebab mereka takut apabila pembangunan tembok berhasil maka Israel kembali menjadi kuat. Penghinaan itu adalah teror untuk menghancurkan semangat membangun Israel, sebab secara politik apabila Israel menjadi kuat akan menjadi ancaman bagi mereka. Pembangunan tembok bukan hanya sekedar pembangunan politik berdirinya kembali Israel yang berkuasa seperti sejarah Israel pada masa lalu tapi juga secara agama berdirinya tembok Israel berarti menjadi bukti Allah tetap berpihak kepada Israel dan tinggal di Yerusalem untuk membela Israel umat pilihanNya.
 
Kepemimpinan Nehemia berlandaskan kepada iman “takut akan Allah” dan dalam segala pergumulan yang di hadapinya ia selalu berdoa memohon penyertaan Allah membuatnya selalu kuat, berani dan berkuasa membimbing Israel. Ia sangat meyakini bahwa Allah sendiri yang akan berperang untuk Isrtael (bd 2:20). Menghadapi “teror” tentunya membuat Israel merasa terancam dan merasa takut tetapi bersama Allah dibawah kepemimpinan Nehemia tidak membuat Israel mundur. Bangsa-bangsa yang menentang berdirinya kembali tembok Israel tidak berhasil menghentikan pembangunan Israel dengan terornya, dan paralawan-lawan Israel tersebut bersepakat memerangi Israel dan membuat kekacauan. Menghadapi ancaman dari tekanan politik tersebut Israel bangkit sebagai bangsa yang siap berjuang mengangkat senjata menghadapi lawan-lawannya, berkorban demi negaranya. Dengan waspada mereka terus bekerja menyelesaikan pembangunan tembok itu dan terus berjaga-jaga. Nehemia mengatur pembagian tugas diantara Israel, sebahagian berjaga-jaga dan yang lain terus bekerja dengan mempersenjatai diri. Kesungguhan Israel membangun tembok itu di gambarkan dengan kalimat satu tangan memegang senjata dan tangan yang lain terus bekerja.
 
AplikasidanRenungan
• Sehubungan dengan peringatan kemerdekaan 72 tahun Indonesia merdeka, marilah kita membangun nilai-nilai nasionalis yang tinggi, semangat juang, kerelaan berkorban untuk membangun Indonesia. Menjadi perenungan bagi kita dalam mengukur kedalaman rasa nasionalis di dalam diri sebagai bagian Indonesia dalam menyambut HUT RI ke 72 “Apakah anda sudah mengibarkan bendera merah putih di depan rumah anda?”
• Jadilah tokoh-pemimpin yang dapat memberi motivasi bagi pembangunan nasional, seperti Nehemia yang mengorbankan zona nyamannya sebagai juru minuman raja, dengan mengandalkan Tuhan memimpin gerakan baru bagi bangsa Israel-membangun kembali tembok Israel yang telah menjadi puing-puing, menjadi ahli strategi pembangunan itu, pengamanannya dan tetap dapat di percaya dan diandalkan.
• Jadilah pemimpin yang berani, tidak takut dan tidak menjadi lemah karena teror dan ancaman.
• Jadilah pemimpin yang memiliki visi masadepan yang jelas dan sanggup menjabarkannya menjadi semangat pembangunan.
• Jadilah tokoh politik yang juga tokoh rohani sebab iman percaya kepada Allah dan selalu mengedepankan doa dan penyertaan Tuhan.
• Jadilah rakyat Indonesia yang peduli dan memiliki pendirian yang teguh; tidak mudah diombang-ambingkan kepentingan politik yang tidak bertanggung jawab, berani membela yang benar dan bertanggungjawab.
• Di semua tempat orang percaya berada; di lingkungan tempat tinggalnya, di kantor, di tempat ia membangun usaha, di pasar, di mol, di jalanan dll hendaknya orang percaya dapat membawa perubahan-pembaruan yang positif.

Pdt. Ekwin W. Ginting Manik
GBKP Rg. Cikarang
   

Suplemen PJJ tanggal 06-12 Agustus 2017, Ogen Lukas 4:16-19

Thema:
”Gereja Menghadirkan Damai Sejahtera Bagi Jemaat”
“Gereja Simaba Kejuah-juahen Nandangi Perpulungen”
 

Pendahuluan
Orang percaya (Gereja) hendaknya menyadari keberadaannya di tengah-tengah dunia yang terus bertumbuh dan bergerak kepada perubahan dan pergeseran nilai-nilai moral. Pertumbuhan industry, pertumbuhan politik, dll sebanding dengan kemerosotan etika dan kesehatan. Ada orang yang mengalami peningkatan hidup secara social, ekonomi dan politik dengan luar biasa tetapi ada banyak orang yang juga menjadi korban dari segala pertumbuhan tersebut. Manusia semakin egois di tengah-tengah orang-orang yang membutuhkan perhatian dan pertolongan. Untuk itulah gereja di utus Allah kedalam dunia, gereja tidak boleh egois hanya untuk dirinya sendiri saja. Gereja harus mendengar, memperhatikan dan berbuat untuk membebaskan dan memerdekakan.

Tafsiran dan Pembahasan teks
Yesus melayani di Nasaret di rumah ibadat (Synagoge) setelah Yesus dibaptis (3:21-38) dan menjalani pencobaan dari si iblis di padang gurun (4:1-13). Semenjak peristiwa itu Yesus memulai pelayananNya dan pelayanan Yesus diberitakan sebagai pelayanan yang penuh kuasa sebab Roh Tuhan ada padaNya. ROH TUHAN ADA PADAKU adalah tema penting dari seluruh pelayanan Yesus. Roh Tuhan ada padaKu berarti Yesus adalah sungguh-sungguh Anak Allah yang kepadaNya Allah berkenan- Allah memilihNya – yang diurapi Allah. Pelayanan yang berkuasa di awali dari perkenanan atau pilihann Allah dan kepada orang yang dipilih tersebut Allah member kuasa untuk menyatakan kehadiran Kerajaan Allah bagi dunia yaitu dengan menyampaikan kabar baik; membebaskan orang miskin, memberitakan-mengerjakan pembebasan kepada orang yang tertawan dan penyembuhan orang buta, membebaskan orang-orang yang tertindas dan untuk menyampaikan berita tahun rahmat Tuhan sudah dating dan sedang bekerja bagi dunia.
 
Sebelum peristiwa tersebut Yesus sudah biasa di hari sabat beribadah di rumah ibadah tersebut dan dipercayakan untuk membacakan Alkitab. Di hari sabat tersebut kepada Yesus juga diberi kesempatan untuk membacakan Alkitab bagi jemaat. Firman Tuhan untuk dibacakan pada setiap hari sabat sudah di tetapkan dan pada saat itu kepada Yesus diberikan kitab nabi Yesaya 61:1-3. Apa yang dibacakan Yesus menjadi perhatian para rabi yang sekampung dengan Yesus di Nazaret itu dan sesudah pembacaan itu Yesus berkata : “Pada hari ini genaplah nast ini sewaktu kamu mendengarnya” (ay. 21). Baru ssjaperistiwaapa yang dibacakan Yesus tersebut dialami Yesus ketika Ia di urapi, tentunya orang banyak menghubungkan apa yang dibacakan Yesus dengan apa yang baru dialami Yesus dan hal penggenapan nubuatan Yesaya di dalam diri Yesus adalah hal yang mustahil bagi mereka sebab mereka mengenal Yesus sebagai anak Yusuf situkang kayu. Mereka marah, lalu menghalau Yesus keluar kota keatas sebuah tebing untuk melemparkanNya dari tebing itu. Tapi Yesus berlalu dari tengah-tengah mereka.
 
Penyertaan Roh kudus tidak berarti menggeser segala rintangan dari pelayanan yang dilakukan Yesus. Tetapi kuasa yang menyertai Yesus sangat nyata menjadikan Yesus berkuasa menyatakan kebenaran, tidak takut menghadapi penolakan bahkan rencana pembunuhan bagi diriNya. Penyertaan Roh kudus menyelamatkan Yesus lepas dari rencana pembunuhan yang dialamiNya.
 
Hal lain yang mengudang kemarahan orang banyak adalah penjelasan Firman yang disampaikan Yesus tentang pembebasan bagi orang-orang yang menderita, miskin dan sakit dll, adalah pembebasan dan perhatian Allah keluar dari orang-orang Yahudi bahkan “seakan-akan” Allah meninggalkan orang-orang Yahudi. (bd. Elia di utus kepada janda di Sarfat bukan janda orang Israel dan di zaman nabi Elisa banyak orang sakit kusta di Israel tetapi tidak satupun di tahirkan tetapi Naaman orang Siria ditahirkan –ay. 25-27). Pemahaman orang-orang Yahudi merekalah umat pilihan yang berkenan bagi Kerajaan Allah dan orang-orang kafir kelak akan menjadi kayu api bagi neraka. Karena itu mustahil bagi orang-orang Yahudi mencurahkan perhatiannya, peduli dan memberi bantuan kepada orang-orang yang bukan Yahudi. Orang-orang yang sakit menurut pemahaman Yahudi adalah orang-orang berdosa, orang yang ditolak Allah, pembawa celaka yang pantas menerimahukuman penderitaan yang berat.
 
Aplikasi dan Renungan
• Allah mengutus orang percaya (gereja) kedalam dunia dan memperlengkapinya dengan Roh Kudus, supaya gereja memiliki kuasa untuk menyatakan tanda-tanda Kerajaan Allah.

• Dipilih Allah bukan berarti di tarik dari dunia tapi seperti Yesus diutus kedalam dunia untuk menjadi garam dan terang dunia. Orang percaya tidak boleh berguna bagi dirinya sendiri. Garam tidak boleh terus menerus ada di dalam tempat garam, misalkan garam akan berarti bila dipergunakan untuk memberi rasa asin bagi makanan dan mengawetkan ikan menjadi ikan asin. Terang tidak boleh tetap di dalam kumpulan terang, ia harus masuk kedalam kegelapan untuk meneranginya.

• Tugas pengutusan orang percaya (gereja) supaya warga gereja berfungsi sebagai kawan sekerja Allah dan ikut serta (meneladani Yesus) dalam segala tindakan Allah supaya segala sesuatu dapat memperoleh “kemerdekaannya”.

• Membebaskan orang yang miskin secara jasmani dan rohani. Membebaskan orang orang yang tertawan dan tertindas oleh rupa rupa penyesatan dan penderitaan atau kesulitan hidup atau penyakit atau penyakit social atau tekanan politik dll. Menyembuhkan orang yang buta jasmani dan buta rohaninya, yang tidak melihat kemuliaan Tuhan, yang tidak mempunyai pengharapan dan melihat gelap hari depan.

• Setiap orang percaya pada disiplin ilmu yang dimilikinya, pekerjaan atau usaha yang digelutinya dan pada jabatan tertentu yang ditanggungjawabinya mereka harus menjadi utusan Allah menjadi penyembuh dan pembebas mengerjakan damai sejahtera Allah.
 
Pdt. Ekwin W. Ginting Manik
GBKP Runggun Cikarang
   

Page 1 of 152

BP-KLASIS-XXX

"SELAMAT DATANG mengunjungi Web GBKP KLASIS JAKARTA-BANDUNG"

Renungan

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
  • 6
  • 7
  • 8
  • 9
  • 10
  • 11
  • 12
  • 13
  • 14
  • 15

Pengunjung Online

We have 125 guests online