Khotbah Kejadian 8:18-22, Minggu 6 Nopember 2011

Renungan

Introitus :
Alangkah limpahnya kebaikan-Mu yang telah Kausimpan bagi orang yang takut akan Engkau, yang telah Kaulakukan bagi orang yang berlindung pada-Mu, di hadapan manusia (Masmur 31:20)

Bacaan : Mikha 6:6-8; Khotbah : Kejadian 8:18-22


Tema :
Dia memperlihatkan kasih-Nya yang abadi

PENGANTAR
Menurut Paulus kasih tidak bersukacita karena ketidak adilan. Oleh karena itu rasa kasih yang paling dalam dapat menimbulkan perlakuan yang seakan-akan kejam. Tidak selamanya kasih itu di perlihatkan dengan cara yang mengenakkan. Orang tua yang mengasihi anaknya, akan menunjukkan rasa cinta kasihnya dengan “rotan” jika anaknya berbuat yang tidak baik . Ada istilah dalam bahasa Karo “Jungut Kekelengen (terj. Bebas BI : “Amarah Kasih Sayang” jadi bersyukurlah jika masih ada orang yang menegor kita, menasihati kita bahkan memarahi kita, karena dengan demikian akan timbul kesadaran bagi kita, apakah kita masih berjalan sesuai dengan norma yang berlaku.

Sulit sekali bagi manusia untuk mengerti bahwa “ganjaran/hukuman” itu sebagai wujud kasih sayang. Seorang anak kecil akan sulit memahami bahwa “suntikan” yang dia alami adalah wujud kasih sayang dari orang tuanya, sehingga dia berontak, dan menunuh bapaknya adalah seorang yang kejam. Kecenderungan manusia memahami cinta kasih itu adalah selamayna yang indah-indah dan mengasyikkan. Melalui Firman Tuhan yang menjadi renungan kita Minggu ini, mari kita belajar tentang kasih Tuhan yang abadi.

PENDALAMAN NATS
Allah itu kudus sehingga tidak tahan melihat kejahatan. Melihat kejahatan yang dilakukan manusia mencapai puncaknya, maka menyesallah Tuhan telah menjadikan manusia di bumi sehingga Tuhan mau memusnahkan semua yang telah diciptakan-Nya. Tetapi nuh mendapat kasih karunia di mata Tuhan. Tuhan bukan seperti orang yang dimabuk kepayang oleh karena kasih-Nya, Dia bukan seperti orang yang dilanda “cinta buta” yang mencintai orang tanpa syarat. Dia tidak suka (mencintai) orang yang bebal, orang yang kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan. Tetapi Tuhan sangat mencintai orang yang benar dan tidak bercela, orang yang taat akan printah Tuhan.

Kesetiaan dan ketaatan Nuh itu teruji, ketika dia disuruh untuk membuat sebuah bahtera, dia lakukan seperti yang di perintahkan Tuhan. Lalu hujan pun turun dengan lebatnya selama 40 hari 40 malam. Selama 40 hari air itu menutupi semua permukaan bumi, 15 hasta diatas gunung yang paling tinggi, sehingga matilah semua yang hidup di permukaan bumi, demikianlah Tuhan menghapuskan semua yang ada di atas permukaan bumi. Dan air itu berkuasa diatas bumi selama 150 hari.

Lalu keluarlah mereka dari dalam bahtera itu. Keselamatan semua seisi bahtera itu adalah cara Tuhan untuk menunjukkan kecintaan-Nya terhadap dunia dan seluruh isinya. Keselamatan seisi bahtera itu adalah proses pemulihan seluruh ciptaan Tuhan. Angkatan manusia yang jahat telah punah, maka akan ada angkatan yang baru. Setelah keluar dari Bahtera itu Nuh mendirikan mezbah bagi Tuhan dan memberikan persembahan korban bakaran. Ketika Tuhan mencium bau persembahan itu, berfirmanlah TUHAN dalam hati-Nya: "Aku takkan mengutuk bumi ini lagi karena manusia, sekalipun yang ditimbulkan hatinya adalah jahat dari sejak kecilnya, dan Aku takkan membinasakan lagi segala yang hidup seperti yang telah Kulakukan. Ini adalah bukti “kasih Allah yang Abadi, Dia telah berjanji dalam diri-Nya, sesungguhnya walaupun manusia penuh dengan kejahatan Dia tidak akan mengulang memberikan hukuman yang sama. Ini adalah kabar sukacita bagi dunia ini, Tuhan yang memegang kendali dunia berjanji akan memelihara kehidupan semua ciptaan di dunia ini. Dan selagi dunia masih ada Tuhan yang mengatur semua musim, dan pengaturan musim itu akan mewarnai perjalanan kehidupan manusia, penyesuain hidup sesuai dengan musim adalah salah satu wujud ‘kasih Allah yang abadi, sehingga manusia harus hidup sesuai dengan tuntutan musim. Dengan demikian maka Allahlah yang menjadi juru mudi kehidupan manusia, siapa yang tidak bisa mengikuti perjalanan musiam maka dia sendirilah yang akan menanggung akibat utamanya.

POINTER APLIKASI

  1. Air bah merupakan wujud kemarahan Tuhan pada manusia yang tidak taat kepada perintah-Nya. Untuk itu marilah kita menghindari “dosa”
  2. Peristiwa air bah adalah wujud pemeliharaan Tuhan terhadap dunia yang di cintai-Nya, agar tidak lenyap di telan dosa.
  3. Jika Allah memberikan hukuman kepada kita, bersyukurlah. Karena itu salah satu cara Tuhan untuk mengasihi kita, agar semua sifat-sifat buruk kita di musnahkan dan akan di tumbuhkan sikap yang baru yaitu ketaatan terhadap Tuhan. Kita harus berani mengatakan bahwa “Dukaku tempat kudus-Mu”, tidak bisa di pungkiri justru dalam penderitaan kita merasakan betapa indah persekutuan dengan Tuhan. Dalam penderitaan kita akan merasakan “kasih” penyertaan Tuhan yang luar biasa.
  4. Kita harus mengucap syukur kepada Tuhan yang telah menyelamatkan kita. Sudah selayaknya kita memberikan tubuh kita sebagai persembahan yang hidup yang berkenan kepada Tuhan dalam kehidupan ini, hidup berlaku adil, mencintai kesetiaan dan rendah hati di hadapan Tuhan , hasilkanlah buah sesuai dengan pertobatanmu
  5. Walaupun Tuhan telah berjanji tidak akan mengutuk bumi ini, bukan berarti memberikan kesempatan untuk hidup “sebebas-bebasnya” karena pada saatnya kita akan menghadapi pengadilan/penghakiman yang terakhir.
  6. Badai kehidupan boleh dahsyat, badai itu boleh mengombang-ambingkan bahtera kehidupan, biarlah bahtera itu terbentur oleh benda-benda yang keras, tetapi orang yang tinggal/hidup dalam bahtera itu selamat. Bahtera itu ibarat Yesus Krsitus, walaupun badai kehidupan ini terlalu besar untuk dikendalikan, kita boleh saja di bola-bolakan oleh badai kehidupan, walaupun Yesus mati disalibkan, namun orang yang hidup di dalam Yesus pasti diselamatkan, jangalah keluar dari Yesus walaupun sejenak, sehingga kita mendapat perlindungan yang sempurna.

Pdt. Saul Ginting, S.Th,M.Div
HP : 082111125849

Catatan Sermon:
  1. Nuh seorang pendoa. Dan bagi pendoa banyak hal rahasia yang dari Allah diberitahukan kepadanya untuk kebaikan manusia.
  2. Ada dua hal dari perikop ini: (1) mustahil bagi manusia tetapi bagi Allah tidak. Hal ini nampak dalam hal konsumsi nuh dan hewan dan binatang yang ada di kapal Nuh. Domba di Timur Tengah walaupun makan sedikit tapi gemuk. Kalau diberkati Allah sedikit pun cukup dan membawa kebahagiaan. (2) Jemaat masih rendah mengucap syukur. Indonesia Timur tidak demikian, mereka suka sekali mengucap syukur karena HUT. Demikian juga Nuh, setelah turun dari bahtera hal pertama yang dilakukan adalah mengucap syukur. Persembahannya menyenangkan hati Tuhan.
  3. Dalam menghadapi masalah perlu ada teman curhat, apakah kepada teman yang kita percaya dan mengakui spiritualitasnya atau kepada Tuhan.
  4. Ketika menghadapi masalah, jangan lagi mengapa tapi apa gunanya (Bd.Roma 8:28).

BP-KLASIS-XXX

"SELAMAT DATANG mengunjungi Web GBKP KLASIS JAKARTA-BANDUNG"

Renungan

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
  • 6
  • 7
  • 8
  • 9
  • 10
  • 11
  • 12
  • 13
  • 14
  • 15

Pengunjung Online

We have 62 guests online

Login Form