Khotbah II Raja-Raja 4 : 8 - 13, Minggu 20 September 2015

Renungan

Invocatio :

Kata Yesus kepadanya untuk ketiga kalinya: “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?” Maka sedih hati Petrus karena Yesus berkata untuk ketiga kalinya: “Apakah engkau mengasihi Aku? Dan ia berkata kepadaNya: “Tuhan Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau”. Kata Yesus kepadanya : “Gembalakanlah domba-dombaKu”.

Bacaan : Yohanes 21:15-19; Khotbah : II Raja-raja 4:8-13

Tema :

Mendukung Hamba Tuhan (Tumpak-Tumpak Serayan Tuhan)

 

I. Pendahuluan
 
Betapa bahagianya Allah melihat anak-anakNya saling mendukung dalam pekerjaan-pekerjaanNya. Para hamba Tuhan dan jemaat yang saling mendukung tentu akan menghasilkan gereja yang sehat dan gereja yang bertumbuh dengan baik. Allah telah memilih dan mengutus setiap orang yang percaya kepadaNya untuk mengambil bagian dalam kehidupan pelayanan kepadaNya. Dan Allah telah memilih dan mengutus orang-orang yang dikhususkanNya untuk menebarkan kebenaran Injil. Tentunya dalam hal ini harus didukung oleh jemaat- jemaat Tuhan agar penyebaran Injil itu dapat dilakukan dengan lancar.
 
II. Pendalaman Nats.
 
Seorang abdi Allah bernama Elisa yang pergi ke Sunem. Dalam kehidupan perjalanan pelayanan Elisa, dia sampai di Sunem dan menginap di sebuah rumah perempuan yang kaya di Sunem. Dalam nats khotbah kita ini memperlihatkan bagaimana perempuan Sunem itu memperlakukan Elisa.
 
 
1. Kehidupan Perempuan Sunem.
 
Letak kota Sunem berada di daerah bagian suku Ishakar. Sehingga kemungkinan besar perempuan Sunem ini adalah keturunan dari kaum Isakhar. Perempuan ini juga dikenal dengan perempuan kuat dari Ishakar.
Perempuan Sunem ini memiliki kondisi ekonomi yang baik. Dalam teks khotbah dituliskan bahwa perempuan ini adalah seorang perempuan yang kaya. Dari Kitab Kejadian 49:14-15 dijelaskan bahwa suku Ishakar akan menikmati hasil dari kerja kerasnya. Ini menunjukkan bahwa perempuan ini mendapatkan kekayaannya dari kerja kerasnya. Hal ini memberitahukan bahwa perepmpuan Sunem ini adalah seorang yang mau bekerja keras.
 
2. Karakter Perempuan sunem.
 
Perempuan Sunem sangat menghormati suaminya, selalu mengambil keputusan dengan cara berunding dengan suaminya, tidak bertindak sendiri (ayat 9, 22). Perempuan Sunem ini juga sangat menghormati dan memperhatikan Elisa sebagai Abdi Allah. Ia memperhatikan keamanan dan kenyamanan tempat tinggal Elisa. Sehingga perempuan Sunem dan keluarganya menyediakan tempat khusus bagi Elisa. Tidak hanya itu, segala kebutuhan di tempat tinggal khusus Elisa juga diperhatikan (segala perabotan dan kebutuhan Elisa). Tidak hanya menyediakan tempat tapi juga menyediakan segala kebutuhan Elisa. Perempuan Sunem juga membuat makanan untuk menjamu Elisa.
 
Dengan semua yang telah ia lakukan kepada Elisa perempuan Sunem itu juga tidak mengharapkan balasan atas segala kebaikannya. Dengan jelas diperlihatkan dalam ayat 13 jawaban perempuan Sunem terhadap Gehasi : “aku ini tinggal di tengah-tengah kaumku” (kerina keperlunku enggo cukup dat aku i tengah-tengah bangsaku). Dari hal yang dilakukan perempuan Sunem bagi Elisa adalah memberi tumpangan dan memberi makan nabi Allah.
 
Hal ini dilakukannya karena ia tahu bahwa Elisa adalah seorang nabi Allah yang kudus (Allah yang memilih dan mengutus Elisa). Jadi sebenarnya terlihat bahwa perempuan Sunem dan keluarganya sangat menghormati Allah melalui pelayanannya terhadap hamba Allah (Serayan Tuhan).
 
III. Aplikasi
 
Allah (Serayan Tuhan) ialah orang-orang yang telah dikhususkan Tuhan, yang dipakai Tuhan untuk melanjutkan pekerjaanNya. Sebagai orang-orang yang percaya kepada Tuhan tentu kita harus mendukung segala pekerjaan-pekerjaan Tuhan. Dan sebagai dukungan kita sebagai jemaat tentunya adalah dengan mendukung hamba-hamba Tuhan (Serayan-serayan Tuhan) dalam perjalanan pelayanannya. Karena seorang hamba Tuhan tidak mungkin terpisah dari jemaat. Dan dukungan dari jemaat tentu sangat mempengaruhi pelayanan para hamba Tuhan.
 
Para hamba Tuhan butuh dukungan dari para jemaat dari segala aspek. Sekuat-kuatnya para hamba Tuhan dalam pelayanan dan imannya, para hamba Tuhan tidak terlepas membutuhkan dukungan. Para hamba Tuhan membutuhkan topangan dari orang lain. Dukungan itu dapat saja berupa pemikiran, dana, peralatan, pendidikan, tempat tinggal, (sarana dan prasana pendukung pelayanan) dan juga dukungan doa. Jemaat harus tahu bahwa bukan hanya jemaat yang butuh didoakan oleh hamba Tuhan tapi para hamba Tuhan juga butuh dukungan doa dari jemaat.
 
Paulus sangat menyadari betapa pentingnya doa dan dukungan dari jemaat didalam pelayanannya. Hal ini dapat kita lihat dalam Kolose 4:3 “ Berdoa jugalah kepada kami, supaya Allah membuka pintu untuk pemberitaan kami, sehingga kami dapat berbicara tentang rahasia Kristus, yang karenanya aku dipenjarakan”. Doa jemaat yang dipanjatkan dengan tulus kepada para hamba Tuhan tentu menggerakkan hati Tuhan untuk melancarkan pelayanan para hambaNya. Doa jemaat sangat mempengaruhi pelayanan para gembalanya. Bila kita menemukan kekurangan-kekurangan gembala di gereja tentu kita harus bertanya kepada diri kita sebagai jemaat sudahkah diri kita mendukung pelayanan hamba Tuhan itu. Banyak sekali terjadi kemunduran pelayanan para hamba Tuhan karena para jemaat tidak mendoakan dan tidak mendukungnya.
 
Para hamba Tuhan bukanlah manusia yang sempurna, mereka tentu memiliki kelemahan. Disinilah sangat penting doa dan dukungan para jemaat agar hambaNya semakin di perlengkapi dan tidak jatuh kedalam hal yang tidak diinginkan Tuhan. Para hamba Tuhan memiliki berbagai macam tantangan yang dihadapinya dalam perjalanan pelayanannya.(bnd.Mat. 10:16).
 
Dalam pembacaan kita Yohanes 21: 15-19 terlihat bagaimana Yesus meyakinkan Petrus dengan bertanya kepadanya sebanyak tiga kali. Hal ini menunjukkan bahwa bagi para hamba Tuhan harus memiliki hati yang mengasihi Tuhan. Hati yang teguh untuk melayani Tuhan. Ketika hamba Tuhan memiliki hati mangasihi Tuhan maka hamba Tuhan dapat melayani jemaat Tuhan (perintah Yesus kepada Petrus: “gembalakanlah domba-dombaKu”). Untuk itu para hamba Tuhan juga tentunya harus tetap menjaga kekudusan dirinya sebagai orang-orang pilihan Tuhan (I Tim.4:16).
 
 
Dengan demikian pada minggu ini kita dinasehatkan oleh Firman Tuhan: 
1. Menjalin hubungan yang baik antara jemaat dan para hamba Tuhan (serayan Tuhan). hal ini tentunya untuk memuliakan nama Tuhan. karena pekerjaan pelayanan yang dilakukan adalah pekerjaan Allah.
2. Sebagai jemaat, mendukung pelayanan para hamba Tuhan dengan doa, daya, dana dan segala kemampuan yang ada. Dan janganlah mengharapkan dari segala kebaikan yang dilakukan bagi hamba Tuhan (seperti perempuan Sunem yang begitu ikhlas).
3. Ketika kita melayani sepenuh hati kepada Tuhan (salah satu mendukung para hambaNya), maka Tuhan akan melihat apa yang kita perbuat. Dalam ayat 12-17 terlihat bagaimana Elisa berdoa baginya. Secara kehidupan memang perempuan itu tidak kekurangan tetapi perempuan itu belum memiliki anak. Sehingga hati Tuhan tergerak dan memberikan seorang anak kepadanya.Tuhan akan selalu memperhitungkan atas kebaikan-kebaikan yang kita lakukan bagi para hambaNya.
4. Para hamba Tuhan juga harus tetap menjaga kekudusan dirinya agar tetap bisa menjadi teladan bagi jemaat.
 
 
Tuhan memberkati.

 

Pdt. Nopritawati Br Sembiring, S. Th
 
GBKP Perpulungen Banjarmasin.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Khotbah 1 Timotius 4 : 12 - 16, Minggu 06 September 2015

Renungan

Invocatio :
Ya, jikalau engkau berseru kepada pengertian, dan menujukan suaramu kepada kepandaian, jikalau engkau mencarinya seperti mencari perak, dan mengejarnya seperti mengejar harta terpendam,
(Amsal 2:3-4).
 
Ogen :
Amsal 23:12-15 (Tunggal); Khotbah :1 Timotius 4:12-16 (Tunggal)
 

Tema : PERMATA Jadi Teladan

 

Pendahuluan
 
Lirik lagunya Rhoma Irama, berkata: Darah muda, darahnya para remaja, yang selalu merasa gagah dan tak pernah mau mengalah. Masa muda masa yang berapi-api, yang maunya menang sendiri walau salah tak perduli... dsb. Lirik ini menunjukkan bahwa memang pada masa muda, anak muda dapat melakukan banyak hal, keberanian, kreativitas, solidaritas, simpati dan sebagainya. Namun, bagaimana jika keberanian dan semuanya itu, terjadi dalam situasi yang tidak tepat? Tema hari ini adalah Permata Jadi Teladan. Untuk itu, mari kita lihat kembali apa yang dikatakan Paulus di dalam surat Timotius...

 

Pembahasan
Surat 1 Timotius ini merupakan sebuah mandat ataupun tanggung jawab yang diberikan Paulus kepada Timotius untuk melayani di jemaat Efesus. Timotius adalah orang Listra (Moden Turki), ayahnya seorang Yunani, namun ibunya adalah seorang Kristen Yahudi (Kis. 16:1-3). Sejak kecil ia telah diajarkan tentang Firman Allah (PL) (2 Tim 1:5; 3:15). Paulus menyebutnya “anakku yang sah dalam iman” (2 Tim. & 1 Tim. 1:2) sehingga kemungkinan Pauluslah yang telah menginjili dia dan memberitakan Kristus kepadanya. Timotius bergabung dengan Paulus pada perjalanan misinya yang kedua (Kis. 16:1-3) yakni ketika Paulus menunjungi Tesalonika, Filipi, Korintus, dan juga ada bersama dengan Paulus ketika ia menulis surat Roma, 2 Korintus, Filipi, Kolose, 1 dan 2 Tesalonika serta Filemon. Dalam surat-suranya, Paulus
banyak menyebut Timotius sebagai “anaknya” bahkan anak yang terkasih, hal ini menunjukkan kedekatan Paulus dengan Timotius.
 
Jemaat yang dikasihi Tuhan, sebagaimana dikatakan bahwa inilah surat mandat kepada Timotius, tentu dalam bagian ini, disertakan kiat ataupun cara Timotius untuk tetap dapat bertahan melayani dan menjadi contoh bagi jemaat Efesus, sebab memang Timotius masih sangat muda (1 Tim. 1:3, 18). Oleh karena itu, melalui perikop hari ini ada beberapa hal yang ditegaskan Paulus kepada Timotius yakni:
 
1. Menjadi teladan dalam segala hal (ay 12)
Jangan seorangpun menganggap engkau rendah, oleh karena usia yang masih muda, tetapi jadilah teladan dalam perkataan, tingkah laku, kasih, kesetiaan, dan kesucian. Hal ini menegaskan bahwa seseorang berkenan di hadapan Tuhan, dan dihargai hadapan manusia bukan karena usia atau jabatan, gelar, pangkat, dan sebagainya. Memang umumnya selaku orang tua sudah barang tentu dihormati oleh orang yang lebih muda. Namun,sesungguhnya oleh karakter manusia itu sendiri. Pemimpin yang sejati tidak dilihat dari gelarnya ataupun kekuasaannya. Tetapi, bagaimana ia melakoni kehidupannya sendiri dan juga keluarga ataupun orang-orang di sekitarnya.
 

Timotius, seorang muda. Namun, ia dipercayai oleh Paulus untuk melayani di Efesus. Dalam hal ini, tidak secara otomatis Timotius menjadi sempurna dalam seluruh kehidupannya. tetapi, Paulus meyakini bahwa memang sebagai orang yang masih muda, Paulus yakin bahwa Timotius bisa diarahkan dan diingatkan untuk tetap bertahan dan menjadi teladan di dalam hidupnya. Bung Karno pernah berkata: “Berikan aku 10 orang pemuda, akan kuguncang dunia”. Dari ini juga nyata terlihat bahwa dengan dukungan kaum muda, yang penuh dengan semangat, masih cekatan dan berani bermimpi dapat mengubah sesuatu yang terasa mustahil, sebab pemuda memiliki banyak ide kreatif dan semangat. Tidak salah rasanya, jika sebelum Bung Karno, Paulus pun telah memikirkan bahwa memang kaum muda, sangat potensial dalam banyak hal, sehingga ia tidak ragu terhadap Timotius. 

2. Ketekunan (ay. 13)
 
Teladan yang baik, tidak hanya terlihat dari luarnya saja, tetapi harus juga nyata di dalam diri orang tersebut. Jika Timotius hanya berusaha menjadi yang terbaik atau menjadi teladan ketika di hadapan orang lain, maka sikap yang demikian merupakan sebuah kepura-puraan. Dan kepuraan-puraan tidak akan bertahan lama. Paulus mengajarkan kepada Timotius untuk tetap bertekun dalam membaca Kitab suci dan dalam membangun dan mengajar. Hal ini menegaskan bahwa sumbernya agar tetap ia bisa melakukan tugas pelayanan dengan baik adalah ketika ada ketekunan dalam membahas Kitab Suci.
 
Jelas bahwa dalam pelayanan yang ia temui bukan semuanya mudah. Sebagaimana dikatakan bahwa keadaan jemaat di Epesus di mana Paulus melayani sedang dipegaruhi oleh ajaran-ajaran sesat (1 Tim.1:3-7; 4:1-8; 6:3-5, 20-21), sehingga senjata yang paling ia butuhkan adalah dengan membangun waktu yang erat dengan Tuhan agar ia mampu menghadapi jemaat di Epesus.
 
Ketekunan yang dituntut di sini bukan hanya di dalam membaca dan merenungkan Kitab Suci, tetapi sebagaimana dikatakan di ayat 14 Jangan lalai dalam mempergunakan karunia yang ada padamu, yang telah diberikan kepadamu oleh nubuat dan dengan penumpangan tangan sidang penatua. Ini juga menegaskan bahwa ketekunan menjadikan seseorang tahu dan bijak dalam mempergunakan karunia yang ada padanya. Paulus semakin meneguhkan Timotius dengan penyebutan tumpang tangan sidang penatua.
 
Dengan demikian, maka Timotius harus mampu tekun, teliti dan cekatan dalam mempergunakan karunia yang telah ada padanya.
 
3. Senantiasa berjaga-jaga (Ay. 15-16)
 
15 Perhatikanlah semuanya itu, hiduplah di dalamnya supaya kemajuanmu nyata kepada semua orang. 16 Awasilah dirimu sendiri dan awasilah ajaranmu. Bertekunlah dalam semuanya itu, karena dengan berbuat demikian engkau akan menyelamatkan dirimu dan semua orang yang mendengar engkau.
 
Kata “memperhatikan” dalam ayat ini, tidak hanya sebatas memperhatikan, tetapi juga menjaga, merawat, memlihara. Dengan kata lain, ayat ini menegaskan kepada Timotius agar Timotius senantiasa menjaga dan memelihara dan bahkan senantiasa memeriksa apa yang telah ia ajarkan dan lakukan di dalam kehidupan berjemaat, dengan tujuan tetap berada di dalam koridor Firman Tuhan.
 
Dengan tetap mengawasi dan memeriksa diri sendiri, maka sikap demikian akan membawa Timotius tetap waspada, dan siap sedia setiap saat, ketika ada orang/kelompok yang akan menentang ajarannya dan pelayanannya. Pada pihak lain, sikap yang berjaga-jaga tersebut semakin membawanya agar tidak bertindak ceroboh, tetapi sangat hati-hati, sehingga ia semakin nyata di dalam pelayanannya. Dengan kata lain ini merupakan tuntutan untuk berintegritas di tengan-tengah pelayanan.
 
Jemaat yang dikasihi Tuhan, demikianlah Timotius muda di dalam pelayannya. Sebagaimana minggu ini adalah minggu Permata GBKP, Permata dituntut untuk menjadi contoh atau teladan. Tujuannya adalah dapat menyatakan kemuliaan Tuhan di dalam kehidupan sehar-hari. Seperti tadi yang telah disebutkan, bahwa permata teladan adalah mereka yang mau melakukan Firman Tuhan, tekun dan berintegritas di dalam kehidupannya sehari-hari.
 
Jemaat yang dikasihi Tuhan, sebagaiman Timmotius adalah hasil pelayanan Paulus, kita sebagai orangtua juga tidak terlepas dari tanggung jawab dalam hal mendukung permata menjadi teladan. Permata bisa menjadi teladan memerlukan figur yang dapat ia lihat pula yakni orangtua mereka di rumah.
 
Jadi sebagai orang tua, senantiasa didik dan arahkanlah anak permata kepada pengetahuan dan didikan yang kekal. Sebagaimana di dalam bacaan dikataka bahwa adalah sukacita bagi sang Guru Hikmat ketika anaknya menjadi bijak. Demikianlah hendaknya para orangtua, seharusnya senang dan bangga ketika permata bisa dewasa di dalam iman. Bukan tidak mungkin permata juga dapat menegur kita ketika orangtua salah. Namun, sebagai orangtua hendaknya kita juga bisa menerima teguran dari anak permata kita. Justru bukan merasa bahwa mereka menjadi lebih bijak ataupun lebih pintar. Kecenderungan orangtua, tidak mau salah di depan anak dan tidak mau mengaku salah.

 

Selamat menjadi permata teladan dan orangtua yang mendukung. Amin

 

Pdt. Andreas Josep Tarigan, M.Div
Rg. Harapan Indah
 

Khotbah Kejadian 1:26-31, Minggu 30 Agustus 2015

Renungan

Invocatio :
Berfirmanlah Allah,”baiklah kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi (Kejadian 1:26).
 
Ogen :
Yohanes 2:1-11
 
Tema :
ALLAH SUMBER BUDAYA
 
I. Kata Pengantar
 Dalam pandangan etika Kristen mengatakan bahwa Pandangan kita terhadap seseorang menentukan sikap kita terhadap dia. Maksudnya jika dalam pikiran kita sudah tertanam bahwa sesuatu itu atau seseorang itu tidak baik, maka kita tidak akan mau menyentuhnya atau memujinya. Sekalipun pakaian seseorang itu bagus maka dalam mata kita akan selalu jelek. Tetapi jika dalam pandangan kita seseorang itu baik maka jelekpun pakaiannya maka dalam pandangan kita akan selalu bagus. Demikian halnya dengan budaya. Pemahaman kita akan budaya menentukan sikap kita terhadap budaya tersebut. Salah satu budaya yang hampir dimiliki oleh setiap suku adalah budaya kekerabatan. Secara umum budaya kekerabatan sebenarnya sungguh amat baik dalam. Karena adanya budaya kekerabatan tersebut baik bagi suku Karo dan suku-suku lain di Indonesia itu sangat membantu dalam kehidupan bermasyarakat. Baik dalam melaksanakan pesta perkawinan, acara kematian, dsb. Sehingga sungguh sangat diperlukan memahami pengertian budaya yang sebenarnya.  
 
II.Penjelasan Teks
 Dalam Kej 1:26-28 kita membaca tentang penciptaan manusia; Kej 2:4-25 memberikan rincian yang lebih lengkap mengenai penciptaan dan lingkungan mereka. Kedua kisah ini saling melengkapi dan mengajarkan beberapa hal. Yakni baik laki-laki maupun perempuan diciptakan secara khusus oleh Allah, (Kej 1:27).
 
  Laki-laki dan wanita keduanya diciptakan menurut "gambar" dan "rupa" Allah. Berdasarkan gambar ini, mereka dapat menanggapi dan bersekutu dengan Allah dan secara unik mencerminkan kasih, kemuliaan dan kekudusan-Nya. Mereka harus melakukannya dengan mengenal dan menaati-Nya (Kej 2:15-17). Manusia memiliki keserupaan moral dengan Allah, karena mereka tidak berdosa dan kudus, memiliki hikmat, hati yang mengasihi dan kehendak untuk melakukan yang benar (bd. Ef 4:24).
 
  Mereka hidup dalam persekutuan pribadi dengan Allah yang meliputi ketaatan moral (Kej 2:16-17) dan hubungan yang intim. Ketika Adam dan Hawa berdosa, keserupaan moral dengan Allah ini tercemar (Kej 6:5). Dalam proses penebusan, orang percaya harus diperbaharui kepada keserupaan moral itu lagi (bd. Ef 4:22-24; Kol 3:10). Adam dan Hawa memiliki keserupaan alamiah dengan Allah. Mereka diciptakan sebagai makhluk yang berkepribadian dengan roh, pikiran, perasaan, kesadaran diri, dan kuasa untuk memilih (Kej 2:19-20; Kej 3:6-7; 9:6).
 
 Sampai batas tertentu susunan jasmaniah laki-laki dan wanita itu menurut gambar Allah. Hal ini tidak berlaku untuk hewan. Allah memberikan kepada manusia gambar yang dengannya Dia akan tampil kepada mereka (Kej 18:1-2) dan bentuk yang akan dipakai Anak-Nya kelak (Luk 1:35; Fili 2:7; Ibr 10:5). Penciptaan manusia dalam rupa Allah tidak berarti bahwa mereka adalah ilahi.
 
   Seluruh kehidupan manusia pada mulanya berasal dari Adam dan Hawa (Kej 3:20). Menjadi gambar Allah adalah menjadi wakil Allah di dunia ini. Ini bukan semata-mata privilese (kepemilikan hak-hak khusus) melainkan juga tanggung jawab. Semakin besar hak diberikan, semakin berat pula kewajibannya. Menjadi gambar Allah bukan hanya memiliki sejumlah potensi Ilahi, tetapi bagaimana mewujudkan potensi itu bagi kemuliaan Allah.
 
 Kita dapat melihat bahwa pengaturan Allah atas manusia di sini sama sekali tidak membuka peluang untuk eksploitasi atas alam ini. Pertama, manusia diaturkan bukan untuk menjadi raja dunia melainkan mewakili Raja, Sang Pemilik dunia. Tindakan manusia merusak alam milik Allah adalah tidak berkenan bahkan berdosa di hadapan-Nya. Kedua, kerusakan alam berarti pula berkurangnya kenyamanan hidup manusia. Artinya konsekuensi penyalahgunaan kekuasaan Ilahi akan dirasakan paling berat oleh manusia sendiri.
 
  Dosa yang menyebabkan gambar Allah dalam diri manusia tidak berfungsi dengan benar. Manusia hidup bukan untuk kemuliaan Allah melainkan untuk kepentingan diri sendiri yang bersifat merusak dan menghancurkan. Hanya satu jalan untuk memperbaiki semua ini, yaitu dengan mengizinkan Allah memperbarui gambar-Nya di dalam diri kita oleh karya penyelamatan Yesus.
 
  Sebagaimana dalam tema kita menyatakan bahwa Allah adalah sumber budaya, dapat kita lihat dalam konteks penciptaaan yakni Adam dan Hawa. Menurut para ahli budaya memiliki beragam pengertian. Budaya berasal dari bahasa sansekerta yakni buddhayah yang memiliki arti segala sesuatu yang berhubungan dengan akal dan budi manusia. Secara umum, budaya berarti cara hidup yang dimiliki oleh sekelompok orang yang diwariskan kepada generasi berikutnya. Perbedaan antara suku, agama, politik, bahasa, pakaian, karya seni, dan bangunan akan membentuk suatu budaya.( http://www.duniapelajar.com/2014/07/10/pengertian-budaya-menurut-para-ahli/). Pengertian budaya juga adalah Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang, dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang, dan diwariskan dari generasi ke generasi.(  https://id.wikipedia.org/wiki/Budaya).
 
  Berdasarkan pengertian budaya tersebut dapat dikatakan bahwa ketika Allah menciptakan manusia dengan akal pikiran dan juga memiliki perbedaan yakni laki-laki dan perempuan serta memberikan perintah kepada mereka untuk menguasai dunia ini, pada saat itu manusia sudah memiliki budaya untuk dapat dapat menerima perbedaan. Ketika manusia jatuh ke dalam dosa manusia diperhadapkan kembali kepada budaya yang baru yakni bekerja keras dalam mencukupi kebutuhan   hidupnya.
 
  Sebagai mana manusia Adam dan Hawa sudah diperhadapkan dengan budaya, Yesus juga dalam pelayanannya tidak mengesampingkan budaya. Mukjizat pertama yang dilakukan Yesus dalam pelayanannya di dunia adalah berhubungan dengan budaya, yakni: Mengubah air menjadi anggur dalam persta perkawinan di Kana. Bahkan Yesus membuat setiap orang yang hadir dalam pesta tersebut benar-benar merasakan hal yang berbeda yang tidak pernah terjadi dalam pesta sesuai dengan budaya orang Yahudi. Menurut adat istiadat orang Yahudi, jika ada pesta maka yang pertama dibagikan adalah anggur yang manis, sesudah habis baru anggur yang rasanya biasa. Tapi dalam pesta Kana, anggur yang disuguhkan tetap terasa manis. Ini menunjukkan bahwa manusia tidak dapat mengesampingkan budaya selama itu dapat memuliakan nama Allah.  
 
III. Refleksi
 Manusia setiap harinya pasti diperhadapkan dengan budaya, yakni di dalam keluarga, pekerjaan, lingkungan dan dalam setiap kehidupan manusia. Tetapi jika pemahaman kita tidak benar tentang budaya dapat membuat kita merasa tidak nyaman untuk melakukannya. Sehingga banyak orang merasa risih ketika berhadapan dengan budaya orang lain yang berbeda dengan kita. Bahkan ada gereja yang tidak mengijinkan jemaatnya melakukan aktivitas budayanya. Kalau kita berbicara tentang budaya, pasti setiap kita berbicara, berpakaian, beraktivitas, cara makan, cara berjalan, dan sebagainya akan berhubungan dengan budaya. Jadi dapat dikatakan bahwa Begitu Allah menciptakan manusia, pada saat itu juga manusia sudah hidup dalam budaya. Sebagaimana dalam kehidupan kita terutama bangsa Indonesia, Kita memiliki beragam budaya, agama, suku, bahasa, dan sebagainya, tapi buatlah perbedaan itu menjadi alat kita untuk mepersatukan kita. Selama budaya itu dapat memuliakan nama Tuhan, kita harus menjalankannya, tetapi jika budaya itu sudah mengesampingkan Iman kita, maka kita juga harus punya integritas iman. Amin       

 

Sumber:                       
1. Alkitab Penuntun Hidup Berkelimpahan.                                
2. Tafsiran Alkitab Wycliffe Volume 1    
3. Tafsiran Alkitab Masa Kini Volume 1                        
 
 Pdt. Jaya Abadi Tarigan,S. Th
  GBKP Runggun Bandung Pusat 
 

 

Lebih lanjut: Khotbah Kejadian 1:26-31, Minggu 30 Agustus 2015

 

Khotbah Kejadian 15 : 1-6 (Tunggal), Minggu 23 Agustus 2015

Renungan

Invocatio :
Lalu percayalah Abram kepada TUHAN, maka TUHAN memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran (Kejadian 15 : 6)
 
Ogen :
Efesus 4 : 17-24 (Tunggal)
 
Tema :
Bapa orang percaya (MAMRE Si Erkiniteken)
 
I. Pendahuluan
Normal 0 false false false EN-US X-NONE X-NONE MicrosoftInternetExplorer4
Abraham adalah bapa semua orang percaya, sebab ia lebih dahulu percaya daripada kita dan kita mengikuti sebagaimana ia percaya kepada janji Tuhan. Ia memegang janji Tuhan dan menantikan penggenapannya. Imannya membuat dirinya berharap kepada Tuhan yaitu pengharapan yang melampaui ketidakmungkinan. Pengharapan membawa ia keluar dari kata “mustahil” kepada iman bahwa bagi Allah tiada yang mustahil. Tapi perlu diungkapkan dalam lingkup keinginan Allah, bukan dalam keinginan manusia. Sebab apa yang dijanjikan Allah yang terjadi, bukan keinginan manusia yang terjadi.
 
Sebab banyak orang saat ini dengan pikirannya yang hampa tidak melihat harapan ada pada Allah dan Allah mampu berbuat apapun untuk kebaikan orang yang percaya kepadanya. Manusia cenderung lebih mempercayai bukti daripada “Sang Pembuat Menjadi Ada” dari yang tidak ada. Bahwa diri manusia sendiri dibuat menjadi ada (eksis) oleh karena kuasa Tuhan. Masakan kita menantang Allah dengan pemikiran yang dikuasai keraguan dan kecurigaan akankemahakuasaan Allah?
 
Allah mengarahkan manusia kepada iman yang teguh, yang berharap penuh pada Allah. Harapan yang berpusat pada Allah yang menolong manusia di dalam kelemahan dan keterbatasannya.
 
II. Pendalaman Nats
Abraham meninggalkan negeri dan sanak saudaranya karena percaya akan janji Allah. Ia juga telah banyak merasakan penyertaan Allah dalam hidupnya. Tetapi umur yang telah sampai 85 tahun belum mendapatkan anak membuat ia meragukan janji Allah. Abraham bertanya atau lebih tepatnya bersungut-sungut atau mengeluh "Ya Tuhan ALLAH, apakah yang akan Engkau berikan kepadaku, karena aku akan meninggal dengan tidak mempunyai anak, dan yang akan mewarisi rumahku ialah Eliezer, orang Damsyik itu."  Sungguh tidak berkenan cara Abraham mengungkapkan isi hatinya kepada Bapa Surgawi dengan mengatakan: Bapa tidak mau memberiku anak, Bapa membiarkanku mati tanpa anak? Sedangkan hamba-hamba dalam rumahku memiliki banyak anak sedangkan aku tidak punya sama sekali. Saat janji Allah belum digenapi, keraguan dan ketidaksabaran, cenderung mendorong hati manusia mengambil kesimpulan yang tidak menyenangkan bagi Allah.
 
Allah mendorong Abraham untuk mempertahankan harapannya. Walaupun bukti belum di depan mata, seharusnya bersyukur dalam banyak hal yang Allah lakukan. Sebab dapat terjadi Abraham telah mati dalam peperangan melawan keempat raja Sodom dan kawan-kawannya, sehingga tidak sanggup lagi untuk bertanya. Karena Allah hendak memenuhi janji-Nya sehingga hidup Abraham dipertahankan? Bukankah Allah menjadi perisai bagi Abraham sehingga hidupnya masih berlanjut?
 
 Ay. 4. Anak seorang hamba yang lahirdi rumahmu tidak akan menjadi ahli warismu, seperti telah dijanjikan kepadamu, seorang anak dari dirimu sendiri akan menjadi ahli warismu. Allah memberikan jawaban "ini tidak akan, dan iniakan", bahwa manusia mereka-rekakan tetapi Allah yang menentukan. Allah menyediakan yang lebih baik bagi kita daripada “ketakutan” kita sendiri.
 
Allah menyuruh Abraham memandang bintang-bintang di langit."Coba lihat ke langit, hitunglah bintang-bintang, jika engkau dapat menghitungnya." Tentu Abraham tidak mampu menghitungnya karena keterbatasan manusia menghitungnya. “Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu!” Lebih jauh Allah menyingkapkan masa depan kepada Abraham dalam Kejadian 15:13 Firman TUHAN kepada Abram: "Ketahuilah dengan sesungguhnya bahwa keturunanmu akan menjadi orang asing dalam suatu negeri, yang bukan kepunyaan mereka, dan bahwa mereka akan diperbudak dan dianiaya, empat ratus tahun lamanya”. Satu sisi pernyataan ini adalah kabar buruk, tapi bagi Abraham saat itu menjadi kabar sukacita sebab ini adalah bukti keturunannya menjadi sebuah bangsa.
 
 Allah berjanji dan Abraham mempercayai janji Allah. Kata Ibrani yang diterjemahkan menjadi ‘mempercayai’ berarti “mengatakan amin”. Allah memberikan janji kepada Abraham, dan Abraham menjawab dengan “amin!” Iman inilah yang diperhitungkan sebagai kebenaran. Kata memperhitungkan dalam Roma 4:3 adalah kata Yunani yang berarti “memasukkan ke dalam perhitungan”. Kalau seseorang bekerja, ia memperoleh gaji dan uang ini diperhitungkan sebagai haknya. Tetapi Abraham tidak bekerja untuk memperoleh janji Allah; ia hanya percaya kepada Firman Allah.
 
Orang-orang Yahudi sangat bangga akan sunat dan hukum Taurat. Jika seorang Yahudi ingin menjadi benar di hadapan Allah, ia harus disunat dan melakukan hukum Taurat. Tetapi Abraham dinyatakan benar ketika ia belum disunat. Kesimpulannya jelas: sunat tidak ada hubungannya dengan pembenaran Abraham. Abraham dibenarkan karena percaya kepada janji Allah, bukan karena melakukan hukum Taurat; karena hukum Allah melalui Musa belum diberikan. Janji Allah kepada Abraham diberikan benar-benar karena kasih karunia Allah. Abraham tidak mengusahakannya atau memperolehnya sebagai ganjaran.Roma 4:2-3 mengatakan “Sebab jikalau Abraham dibenarkan karena perbuatannya, maka ia beroleh dasar untuk bermegah, tetapi tidak di hadapan Allah. Sebab apakah dikatakan nas Kitab Suci? "Lalu percayalah Abraham kepada Tuhan, dan Tuhan memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran."
 
 Abraham adalah bapa semua orang percaya, baik orang Yahudi maupun orang yang bukan Yahudi (Rm. 4:16; Gal. 3:7, 29). Paulus melihat peremajaan tubuh Abraham sebagai suatu gambaran kebangkitan dari antara orang mati. Satu alasan mengapa Allah menunda dalam memberikan keturunan kepada Abraham dan Sara adalah untuk membiarkan seluruh kekuatan jasmani mereka menurun dan kemudian lenyap. Tak dapat dibayangkan bahwa seorang laki-laki yang berumur 99 tahun dan memperanakkan seorang anak dalam rahim istrinya yang berumur 89 tahun! Dipandang dari segi reproduksi, keduanya telah mati.
 
Perbedaan terjadi karena Allah telah berjanji; dan Allah yang berjanji ini mampu untuk menggenapinya. Allah tidak memberikan janji kosong sebab Firman Allah berkuasa melakukan kehendakNya. Setiap perkataan Allah mengandung kuasa menggerakkan kepada yang akan terjadi. “Sebab ketika Allah memberikan janji-Nya kepada Abraham, Ia bersumpah demi diri-Nya sendiri, karena tidak ada orang yang lebih tinggi dari pada-Nya, kata-Nya: "Sesungguhnya Aku akan memberkati engkau berlimpah-limpah dan akan membuat engkau sangat banyak"(Ibr. 6:13-14). Allah melakukan demi diri-Nya sendiri, bahwa Ia adalah Allah yang tidak mengingkari diri-Nya sendiri.
 
 Pada saat Abraham mengakui bahwa ia “mati”, maka kuasa Allah mulai bekerja di dalam tubuhnya. Semua fakta ini membuat iman Abraham semakin indah. Ia tidak memiliki Alkitab untuk dibaca; ia hanya memiliki janji Allah yang sederhana. Ia boleh dikata seorang diri sebagai orang percaya, ditengah-tengah orang-orang tidak percaya. Namun, Abraham percaya kepada Allah. Sekarang ini orang memiliki Alkitab yang lengkap untuk dibaca dan dipelajari. Mereka memiliki persekutuan gereja, dan dapat melihat kembali pada iman orang-orang percaya pada masa lampau seperti yang tercatat dalam sejarah gereja dan Alkitab. Namun demikian, banyak orang tidak mau percaya!
 
III. Pointer Aplikasi 
Yang menjadi perhatian utama kita bahwa Abraham memperoleh pembenaran karena iman. Roma  4:18“Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Abraham berharap juga dan percaya, bahwa ia akan menjadi bapa banyak bangsa, menurut yang telah difirmankan: "Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu." Dan apa yang difirmankan Allah terwujud dan terbukti bagi kita saat ini.
 
Kita juga butuh pembenaran dari pernyataan Allah atas kita. Istilah teologi untuk keselamatan adalah pembenaran karena iman. Pembenaran adalah tindakan Allah untuk membenarkan orang berdosa di dalam Kristus berdasarkan karya penyelamatan Kristus yang sempurna di kayu salib. Bahwa dosa-dosa kita telah ditanggung-Nya, Ia yang tidak berdosa menjadi dosa karena kita. Dan kebenarannya dikenakan kepada kita, sehingga kita dibenarkan dihadapan Allah Bapa. Ini adalah keputusan Allah sendiri (seperti hakim memutuskan perkara) bahwa kita dinyatakan benar karena Kristus membela dan mewakili kita. Pada waktu orang berdosa percaya kepada Kristus, Allah membenarkan dia, dan pernyataan pembenaran tidak akan pernah dicabut, sebab telah disahkan dan dimateraikan dengan darah Kristus. Jadi kita telah percaya kepada Kristus, bukan percaya kepada diri kita sendiri dan percaya kepada kemampuan kita berbuat baik. Kita percaya hanya Kristus yang mampu menebus kita dari dosa. Kita mengaku seperti Abraham mengaku kepada Tuhan bahwa dirinya telah mati (tidak mampu beroleh keturunan oleh dirinya sendiri) maka Allah menolongnya. Demikian juga kita mengaku bahwa kita telah mati di dalam dosa dan memohon penebusan Tuhan supaya kita beroleh kehidupan.
 
Selama seorang berdosa yang sesat merasa bahwa ia cukup mampu melakukan sesuatu untuk menyenangkan Allah ia tidak dapat diselamatkan oleh kasih karunia. Ini juga bisa berarti kebaikan manusia juga menyesatkan dirinya.Tanpa pengenalan akan Allah maka manusia akan melakukan kejahatan atas dirinya sendiri. “Perasaan mereka telah tumpul, sehingga mereka menyerahkan diri kepada hawa nafsu dan mengerjakan dengan serakah segala macam kecemaran” (Kol. 4:19).
 
Yang kita harapkan transformasi karena pengenalan akan Allah di dalam Yesus Kristus, “kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu, dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya” (Ef.4:23-24). Bahagian manusia terdalam diperbaharui Allah, sehingga di dalam iman yang sejati Allah mengerjakan kehendak-Nya.
 
Berjuanglah melawan ketidakpercayaan, keraguan dan penilaian diri sendiri yang menyimpang. Kehidupan tidak ditentukan oleh diri sendiri. Di dalam iman pun manusia tidak dapat menyombongkan diri, sebab pekerjaan Allah yang dinyatakan di dalam diri kita.Setelah Allah membenarkan kita maka Ia menumbuhkan kemauan dan kehendak untuk mengerjakan kehendak Allah, “karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya” Flp. 2:13). Allah memperlengkapi kita untuk melakukan kehendak-Nya, dan mengerjakan di dalam kita apa yang berkenan kepada-Nya.
 
Perjanjian Allah dengan Abraham menyangkut diri kita juga. Galatia  3:9, 29 “Jadi mereka yang hidup dari iman, merekalah yang diberkati bersama-sama dengan Abraham yang beriman itu. Dan jikalau kamu adalah milik Kristus, maka kamu juga adalah keturunan Abraham dan berhak menerima janji Allah”. Keturunan Abraham yang banyak memberikan kelegaan bagi kita. Sebab menjawab keraguan “apakah aku termasuk ke dalam keturunan Abraham?” Iman kepada Yesus Kristus adalah jaminan akan keselamatan dan hari-hari yang kita lalui. Ada pengharapan yang teguh menanti kita di depan. Maka melangkahlah dengan pasti, berjalan dengan iman yang melihat yang tidak kelihatan, yang disediakan Allah bagi orang yang percaya kepada-Nya.
 
Puisi: Iman dan Keraguan
Keraguan melihat rintangan
Iman melihat jalan!
Keraguan melihat malam gelap,
Iman melihat hari terang!
 Keraguan melihat jalan berliku untuk melangkah,
Iman melihat jalan lurus ke tujuan!
Keraguan bertanya, "Siapa yang percaya?"
 Jawaban iman, "aku percaya!”
 
Kita perlu melangkah keluar dalam iman dan berjalan dengan iman mengikut Tuhan, pergi kemana pun disuruh. Membiarkan Tuhan melindungi kita dan membela kita serta menentukan seluruh aspek hidup kita.Amin.
Pdt. Sura Purba Saputra, M.Th
GBKP Bandung Timur

Lebih lanjut: Khotbah Kejadian 15 : 1-6 (Tunggal), Minggu 23 Agustus 2015

 

Khotbah Roma 8:8-25 (Antiphonal), Minggu 16 Agustus 2015

Renungan

Invocatio :
Aku akan mengangkat kamu menjadi umatKu dan Aku akan menjadi Allahmu, supaya kamu mengetahui, bahwa Akulah, Tuhan, Allahmu, yang membebaskan kamu dari kerja paksa orang Mesir. Dan Aku akan membawa kamu ke negeri yang dengan sumpah telah Kujanjikan memberikannya kepada Abraham, Ishak dan Yakub, dan Aku akan memberikannya kepadamu untuk menjadi milikmu; Akulah Tuhan." Lalu Musa mengatakan demikian kepada orang Israel, tetapi mereka tidak mendengarkan Musa karena mereka putus asa dan karena perbudakan yang berat itu (Keluaran 6:6-8)
 
Ogen :
Keluaran 15:19-21 (tunggal)
 
Tema :
Dimerdekakan untuk memerdekakan  
  

 

Jemaat yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus,,,,
 
Puji syukur kepada Tuhan atas kemerdekaan bangsa kita yang telah dijalani selama 70 tahun dan esok sebagai puncak peringatan hari kemerdekaan RI yang kita cintai.
 
 
Tema kita dimerdekakan untuk memerdekakan. Merdeka artinya (kbbi) , bebas dari perhambaan, penjajahan, berdiri sendiri, lepas dari tuntutan, tidak terikat, tidak bergantung kepada orang atau pihak tertentu. Dimerdekakan berarti di bebaskan dari perhambaan, penjajahan dan tuntutan agar tidak bergantung kepada orang atau pihak tertentu. Memerdekakan berarti menjadikan merdeka, membebaskan, melepaskan dari penjajahan, memberikan kebebasan.
 
 
Invocatio Keluaran 6:6-8, Tuhan menyatakan makna dan maksud hakiki dari peristiwa Keluaran dan terjadinya perjanjian di gunung Sinai. Tuhan berjanji untuk menebus Israel dari perbudakan, mengangkat mereka sebagai umatNya dan menjadi Allah mereka, dari pihak mereka, mereka berjanji untuk melaksanakan kehendak Penebus mereka. Penebusan Israel dari Mesir oleh Allah merupakan dasar utama perpindahan hak milik Israel kepada Allah sendiri. Israel adalah milik Allah melalui penciptaan dan pemilihan kini juga melalui penebusan. Allah membebaskan mereka oleh kasih karunia karena Iman.

 

Bacaan Keluaran 15:19-21, merupakan Ungkapan syukur bangsa Israel (Miryam bersama dengan perempuan yang lain) bernyanyi dan menari karena mereka merasakan pertolongan Tuhan dalam melepaskan mereka dari Mesir. Dengan nyanyian pujian mereka mengungkapkan isi hatinya yang paling dalam kepada Tuhan.

 

Pada waktu bangsa Israel berada di Mesir dibawah pimpinan raja Firaun yang keras hati, kehidupan mereka sangat menderita di bawah pimpinan raja. Raja Firaun tetap mempertahankan bangsa Israel agar tetap tinggal di Mesir, walaupun sudah diancam oleh berbagai bagai tulah yang dibuat oleh Allah, supaya bangsaNya dilepaskan dari Mesir, tetapi raja Firaun tetap mempertahankan bahwa bangsa Israel tidak boleh keluar dari Mesir. Ada sepuluh tulah yang didatangkan ke Mesir supaya hati raja Firaun lembut, sehingga mengizinkan Israel keluar, tetapi sampai tulah yang ke sembilan raja tetap mengeraskan hatinya dan tidak memberikan Israel keluar dari Mesir. Tulah yang terakhir adalah kematian anak sulung bangsa Mesir, barulah raja Firaun mengizinkan Israel keluar dari Mesir. Namun, setelah mereka pergi, hati raja kembali berubah keras dan menyuruh pegawainya mengejar bangsa Israel dengan membawa 600 kereta yang terpilih lengkap dengan perwiranya. Tuhan mengeraskan hati Firaun dan bangsa Mesir, sehingga mereka mengejarnya, bangsa Israel ketakutan dan berseru seru kepada Tuhan karena mereka merasa pasti dibunuh bangsa Mesir di gurun pasir sehingga mereka memarahi Musa dengan mengatakan " mengapa kamu membawa kami keluar dari Mesir.

 

Khotbah Roma 8 : 18-25, Paulus dalam suratnya untuk jemaat di Roma mengajarkan banyak tentang cara hidup orang percaya yang semestinya. Pasal 8 menjelaskan bahwa kita dapat hidup bebas dari kuasa daging, yaitu hawa nafsu dosa atau manusia lama. Roh kudus di dalam kita menyaksikan bahwa kita bukan hanya anak anak manusia, melainkan juga adalah anak anak Allah. Kita hidup dalam Roh dengan pengharapan akan kemuliaan Allah. Di sini dinyatakan maksud keabadian Allah. Segala makhluk pun bersama kita sedang merindukan dan menanti nantikan kemerdekaan kemuliaan anak anak Allah.

 

Ayat 18-19 dalam bertekun kita harus fokus kepada kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita bukan pada penderitaan. Penderitaan yang kita alami tidak sebanding dengan kemuliaan yang akan kita terima pada saat dinyatakan kepada kita.

 

Ayat 20-23 dalam bertekun kita menyadari bahwa kita telah dimerdekakan dari roh perbudakan dan kebinasaan walaupun sebagai orang percaya kita tidak terlepas dari penderitaan. Penderitaan itu hanya sementara saja, karena pada akhirnya kita dibebaskan dari penderitaan tubuh yang fana diganti dengan tubuh yang kekal.

 

Ayat 24-25 orang percaya harus bertekun karena telah ditebus dan diselamatkan oleh Tuhan Yesus Kristus. Dengan demikian kita tetap memiliki iman untuk terus bertekun dalam pengharapan yang sejati. Paulus menggambarkan orang beriman adalah orang yang mengalami penderitaan dan tetap memiliki pengharapan akan pemenuhan janji Allah. Kebangkitan Kristus menjadi dasar pengharapan orang percaya. Meskipun orang percaya akan mati karena dosa Adam tetapi akan dibangkitkan di masa yang akan datang.

 

Dalam perikop ini Paulus mengingatkan jemaat di Roma bahwa sebagai anak anak Allah mereka memiliki pengharapan yang mulia sekalipun mereka masih hidup ditengah berbagai penderitaan, keluhan dan kesakitan di dunia ini.

 

Jemaat yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus,,,,
 
Kemerdekaan adalah anugrah Allah bagi manusia dan bangsa dalam keterikatannya, sebagai bangsa besar yang telah dimerdekakan tentu kita menghargai dan mengisi kemerdekaan dengan lebih baik lagi, minimal menjaga kebersihan gereja, lingkungan, dan rumah kita agar terhindar dari kebanjiran dan penyakit penyakit. Sebagai manusia khususnya warga GBKP yang telah dibebaskan dan diselamatkan melalui Yesus Kristus dari perbudakan dosa maka tanggung jawab kita harus tetap kita lakukan yaitu hidup sebagai orang yang telah memerdekakan orang lain. Marilah kita tetap menunjukkan kualitas iman kita guna Kemuliaan Tuhan. Tuhan memberkati, Merdekaaa..

 

Pdt Nur Elly Tarigan-Cl Rg GBKP Karawang

Lebih lanjut: Khotbah Roma 8:8-25 (Antiphonal), Minggu 16 Agustus 2015

 

Page 1 of 52

BP-KLASIS-XXX

"SELAMAT DATANG mengunjungi Web GBKP KLASIS JAKARTA-BANDUNG"

Renungan

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
  • 6
  • 7
  • 8
  • 9
  • 10
  • 11
  • 12
  • 13
  • 14
  • 15

Pengunjung Online

We have 93 guests online