Khotbah Markus 15:22-41, Jumat tanggal 14 April 2017 (JUMAT AGUNG)

Renungan

Invocatio :
“BapamengasihiAku, olehkarenaAkumemberikannyawa-Ku untukmenerimanyakembali. Tidakseorang pun mengambilnyadaripada-Ku, melainkanAkumemberikannyamenurutkehendak-Ku sendiri.Akuberkuasamemberikannyadanberkuasamengambilnyakembali.Inilahtugas yang KuterimadariBapa-Ku.”Yohanes 10:17-18
 
Ogen :
Yesaya 53:1-9

Tema :
Pengorbanan Yesus Memberikan kemenangan bagi kita (manusia)
 
I. Pendahuluan
Kata pengorbanan sering kita dengar. Apa arti pengorbanan? Pengorbanan adalah engorbanan adalah suatu tindakan atas kesadaran moral yang tulus dan ikhlas atau juga bisa diartikan sebagai kerelaan seseorang akan suatu hal yang biasanya ditunjukan pada seseorang yang mempunyai tujuan atau makna dari tindakannya itu, dalam bentuk pertolongan dan tidak berharap imbalan dari suatu tindakan atau kerelaan, ikhlas semata-mata karna Tuhan. Pengorbanan diserahkan secara ikhlas tanpa pamrih, tanpa ada perjanjian, tanpa ada transaksi, kapan saja diperlukan.

Orang-orang yang berkorban biasanya adalah orang-orang yang melakukannya dengan ikhlas semata-mata karna Tuhan. Dan orang-orang yang berkorban berfikir bahwa pengorbanannya yang sedikit ataupun banyak akan berguna dan berarti sekali untuk orang yang menerima pengorbanannya itu, walau kadang ia harus rela mengorbankan jiwa dan raganya.

Pengorbanan untuk saat ini jarang sekali dilakukan oleh masyarakat, karena di zaman ini masyarakat cenderung memikirkan dirinya sendiri, tanpa memikirkan orang lain, sebenarnya pengorbanan adalah perbuatan sangat mulia karena dari pengorbanan itu bisa membantu seseorang mengubah hidupnya menjadi lebih baik.Pengorbanan adalah suatu tindakan yang mulia. Peringatan Jumat agung ini akan kita bahastentang pengorbanan Yesus yang mulia dan membebaskan manusia dari dosa.
 
II. Pendalaman Teks
a. Invocatio: Yohanes 10:17-18 “Bapa mengasihi Aku, oleh karena Aku memberikan nyawa-Ku untuk menerimanya kembali. Tidak seorangpun mengambilnya dari pada-Ku, melainkan Aku memberikannya menurut kehendak-Ku sendiri. Aku berkuasa memberikannya dan berkuasa mengambilnya kembali. Inilah tugas yang Kuterima dari Bapa-Ku”. Nats ini menyatakan Bapa mengasihi Aku, oleh karena Aku memberikan nyawa-Ku untuk menerimanya kembali.
Dalam ayat 14-15 hubungan antara Gembala yang Baik dan domba-Nya disamakan dengan hubungan antara Allah Bapa dan Anak. Tetapi dalam ayat ini hubungan kasih antara Allah Bapa dan Anak diuraikan lebih lanjut, dan dikaitkan dengan ketaatan Anak yang sempurna.
Pernyataan ini agak aneh. Kita berpikir bahwa kasih Allah Bapa terhadap Anak adalah kasih tanpa syarat, sama seperti Dia mengasihi kita tanpa syarat, dan tidak berdasarkan perbuatan kita. Namun dalam ayat ini kita membaca bahwa Allah Bapa mengasihi Tuhan Yesus karena Dia taat dalam hal pengorbanan di kayu salib, dan kebangkitan. Sebenarnya pernyataan ini mirip pernyataan dalam Filipi 2:8-9, yaitu bahwa "Ia... taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama...."
Dalam ayat ini kebangkitan Tuhan Yesus adalah tujuan dari pada kematian-Nya. Dia memberikan nyawa-Nya untuk menerimanya kembali. Kematian-Nya bukan merupakan kekalahan, melainkan sebagian dari kemenangan-Nya. Yesus menderita dan mati “untuk segala dosa kita, dan bukan untuk dosa kita saja, tetapi juga untuk dosa seluruh dunia” (1 Yohanes 2:2). Karena kematian dan kebangkitan-Nya, semua orang yang menerima tawaran keselamatan-Nya akan memperoleh pengampunan dan kehidupan kekal (Yohanes 3:16).
 
b. Yesaya 53:1-9 (Ogen)
Permasalahan yang dihadapi oleh orang Israel ialah mereka berdosa pada Tuhan dan ada di pembuangan Babilon selama 70tahun sebagai konsekuensinya. Namun, Tuhan menyelamatkan mereka dan memproklamasikan diri-Nya di hadapan bangsa-bangsa, terutama bangsa penjajah dengan nubuatyang disampaikan Yesaya. Inilah kabar baik bagi bangsa ini, juga bagi bangsa-bangsa lain.
Bagaimana cara Tuhan menyelamatkan mereka? Ia mengirimkan hamba-Nya dengan cara yang tidak diharapkan (53:1). Hamba ini muda ('taruk', Yes 53:2). Hamba ini akhirnya berhasil, disanjung dan dimuliakan (52:13). Rupanya tidak cakap, kurang dari yang diharapkan (52:14; 53:2b). Ia dihina dan dihindari orang dan penuh kesengsaraan (53:3) Namun ia akan membuat para bangsa dan pemimpinnya tercengang (52:15).
Sang Hamba mengemban tugas penebusan, dengan menanggung penyakit, memikul kesengsaraan dan pemberontakan kita (53:4, 6). Ia dihukum karena pemberontakan, kejahatan dan dosa kita supaya kita selamat dan sembuh (53:5, 12). Tanpa membela diri, Dia menjadi kurban dan mati bagi kita (53:7, 8b-9, 12). Kematian-Nya adalah kehendak Tuhan agar kita diselamatkan (53:10).
Rencana Tuhan terhadap sang Hamba ini ialah agar dia berhasil (52:13). Oleh karena itu melalui kematian-Nya, Tuhan memberikan kehidupan, kebenaran, dan hikmat kepada banyak orang (53:11). Sang Hamba pasti berhasil (53:12).
Nubuat Sang Hamba yang terakhir di Yesaya ini memberikan kepada orang Israel harapan bahwa mereka akan diselamatkan melalui Mesias yang dinantikan. Dialah yang akan memberikan kelepasan bagi orang Israel dari jajahan bangsa asing dan juga dari kungkungan dosa.

c. Markus 15:22-41 (Khotbah)
Mesias itu ialah Yesus. Dialah hamba yang menderita, karena dosa, pemberontakan, kejahatan semua manusia, termasuk Israel. Dia yang suci, benar, tidak berdosa, dibuat berdosa karena kita, supaya kita bisa dibenarkan di hadapan Allah (2Kor 5:21). Dia telah menanggung dosa kita di kayu salib supaya kita yang percaya dan mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran (1Ptr 2:24). Dialah sang Hamba yang sejati. Percayalah kepada-Nya.
Dalam nats kotbah ini memperlihatkan bagaimana proses kesengsaraan Yesus sampai mereka membawa Yesus ke Golgota. Mereka memberi anggur dan mur tapi Yesus menolaknya. Kemudian mereka menyalibkan Yesus. Dia disalibkan bersama 2 orang penyamun. Salah satu ucapan yang tidak asing lagi di telinga orang percaya setiap kali mengenang peristiwa Jumat Agung adalah kutipan dari Mzm. 22:2..."Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku? Aku berseru tetapi Engkau tetap jauh dan tidak menolong aku". Dalam bahasa aslinya (bhs. Ibrani) berbunyi demikian: "Eloi, Eloi, Lama Asabakhtani. Rahoq misyuati deber sya'anati".
Ini adalah sebuah erangan dari seorang yang sedang mengalami tekanan. Ia membutuhkan orang lain, namun tidak ada yang datang untuk menolongnya. Bapa yang merupakan gambaran dari pribadi yang mengayomi, pun keberadaannya terasa jauh. Begitu jauh sehingga ia harus berteriak.
Keadaan seperti inilah yang terjadi ketika Yesus tiba di bukit itu. Ia sangat lelah dan membutuhkan orang lain untuk mendampingi diriNya dalam menghadapi beratnya penderitaan itu. Namun apa yang diharapkan tidak seperti itu kenyataannya. Semua orang yang dahulu mencariNya, tak satu pun yang berani mendekat. Tidakkah beberapa hari sebelumnya, mereka dengan sangat antusias mengiring Tuhan Yesus masuk ke Yerusalem, mereka menghampar pakaiannya di jalan, menjadi permadani bagi Tuhan Yesus memasuki Yerusalem. Bukan hanya itu, mereka meneriakkan yel-yel kemenangan: "Hosana bagi Anak Daud, diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, hosana di tempat yang mahatinggi (Mat. 21:9)". Sungguh amat menyakitkan hati, orang yang sangat besar jumlahnya (Mat. 21:8) yang mengelu-elukan Dia,kini berbalik menjadi lawan, sambil berteriak: "Ia harus disalibkan (Mat. 27:23)". Dan di bukit Golgota tempat Ia disalibkan, setiap orang yang lewat menghujat Dia sambil menggelengkan kepala. Mereka berkata: "Hai Engkau yang mau merubuhkan Bait Suci dan mau membangunnya kembali dalam tiga hari, selamatkanlah diriMu jika Engkau Anak Allah, turunlah dari salib itu (Mat. 27:40)". Orang yang lewat menghujat dia. Imam-imam kepala dan ahli Taurat mengolok-olok Dia.
Murid-murid-Nya pun tidak ada yang datang menolong, semua lari mengamankan dirinya. Bahkan sehari sebelumnya, hanya dalam hitungan jam, di depan mataNya, seorang yang selama ini merasa diri lebih superior dari murid yang lainnya, dibarengi dengan kata-kata kutuk dan sumpah serapah; berkata: "Aku tidak kenal orang itu (Mat. 26:74)". Ia tidak lain Simon yang disebut Petrus. Tidakkah ini sebuah pengkhianatan yang langsung menusuk dalam sampai ke pusat kehidupan, sebuah tindakan dan perlakuan yang sama kejamnya dari pada yang dilakukan oleh Yudas Iskariot.
Sungguh berat dan sungguh menyakitkan apa yang dialami oleh Tuhan Yesus. Derita badani yang dibarengi dengan derita psikis; dicambuk, diperlakukan tidak adil dan sewenang-wenang, difitnah, dinista, diludahi dan dikutuki, siapa pun juga yang mengalaminya akan berteriak: "Eloi, Eloi, Lama sabakhtani".

III. Aplikasi
Mesias atau Juruselamat yang dinubuatkan telah dinyatakan oleh pengorbanan Yesus di kayu salib. Hal ini dilakukan-Nya adalah karena Kasih karuniaNya yang sangat besar bagi umat manusia yang berdosa. Penderitaan dan sakit yang harusnya manusia yang tanggung telah digantikan oleh Yesus. sesungguhnya semua yang dideritaNya adalah tumbal dari segala dosa dan pelanggaran kita. Ia berteriak demikian karena kita. Di kayu salib itulah dipertontonkan betapa dahsyatnya hukuman atas dosa, dan siapa pun kita tidak akan mampu menanggungnya. Karena itu, Dia yang tidak berdosa telah dijadikan dosa karena kita. Yesaya telah menubuatkan hal hal tersebut ketika ia menyampaikan firman ini:
"Ia dihina dan dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan; Ia sangat dihina, sehingga orang menutup mukanya terhadap Dia dan bagi kita pun Dia tidak masuk hitunga. Tetapi sesunguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungNya dan kesengsaraan kita yang dipikulNya, padahal kita mengira Dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah. Tetapi Dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, Dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadaNya, dan oleh bilur-bilurNya kita menjadi sembuh (Yes. 53:3-5)".

Salib itu adalah bukti cinta kasih Allah kepada kita. Salib itu berisi tiga kata dari Tuhan, yakni: "Aku mengasihi engkau (manusia)/I Love You". Ia mengatakan kata-kata itu tanpa mempersoalkan keadaan kita. Sekalipun kita adalah salah satu dari orang yang tersalib bersamaNya, seorang penjahat, tapi tetap YESUS berkata: "I Love You". Bukankah ini yang Ia ucapkan: "Hari ini juga, engkau akan bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus (Luk. 23:43)". Karena itu, merayakan Jumat Agung tidak lain kita merayakan cinta Kasih Allah, yang telah mengorbankan AnakNya sendiri menjadi tebusan atas dosa-dosa kita Jadi apa tanggung jawab dan respons kita terhadap Kasih Yesus???Sebagai pengikut Yesus Kristus harus dapat menyadari bahwa pengorbanan Yesus memberikan kemenangan kepada umat manusia yang percaya padaNya dengan mewujudkan hidup dalam kasih karunia yaitu dengan mengalami Tuhan setiap hari secara nyata. Dengan demikian, kita tidak meragukan sama sekali atas keberadaan Tuhan dalam hidup ini. Bagaimana menjadi manusia hidup berjalan dengan Tuhan. Baik dalam suka maupun duka. Kita harus berani mengiring Tuhan Yesus dengan sungguh-sungguh walau banyakorang mengolok-ngolok atau menghina iman percaya kita pada Yesus tidak goyah. Orang yang menerima pengorbanan/kasih karunia-Nya adalah orang yang rela menyerahkan hidupsepenuhnya bagi Tuhan. Tuhan Yesus datang kedunia hanya untuk melakukan kehendak Bapa. Ia taat dan menderita sampai mati dikayu Salib. Jadi sebagai pengikut Kristus, hendaknya kita hidup dalam kemenangan dengantaat pada kehendak Tuhan, rela menderita dan mengalami Tuhan (merasakan Tuhan selalu menyertai dan memelihara) sepanjang hidup kita.
Selamat merayakan Jumat Agung, Tuhan Yesus memberkati.
 

Pdt. CrismoriVeronika Br Ginting, S.Pd, S.Th
GBKP Yogyakarta
 

Khotbah Yesaya 50:4-9a, Minggu tanggal 09 April 2017 (PALMARUM)

Renungan

Invocatio :
“Tetapi Tuhan Allah menolong aku; sebab itu aku tidak mendapat noda. Sebab itu aku meneguhkan hatiku seperti keteguhan gunung batu karena aku tahu, bahwa aku tidak akan mendapat malu” (Yesaya 50:7).
 
Ogen :
Matius 21:1-11
 
Tema :
Tuhan Penolongku (Tuhan Si Nampati Aku)
I. Pengantar
Sebagai mahluk sosial, pastinya kita pernah mengalami situasi hidup seperti yang dituliskan nabi Yesaya dalam Yesaya 50:4-9a ini, bahwa terkadang akan ada tekanan-tekanan dalam hidup yang akan kita rasakan dari sekitar kita yang akan menguji ketaatan pada Tuhan. Jika tidak dapat dikontrol lagi maka hal inilah yang dapat mengakibatkan kemarahan, sakit hati, dengki, caci-maki, dendam. Dengan demikian, sangat penting bagi kita untuk mendapatkan pemahaman yang baru dalam menghadapi berbagai tekananan sehingga tetap dapat menjalani kehidupan dalam kedamaian. Karena itu, mari kita bersama menelisik Yesaya 50:4-9a.

II. Pembahasan Teks : Yesaya 50:4-9a
Nats ini merupakan bagian dari “Nyanyian-nyanyian Hamba Tuhan”. Dalam nyanyian ini Allah disebut dengan gelarnya Tuhan (Ibrani, adonai Yahwe), sedangkan murid Allah adalah sama dengan hamba Tuhan. Syair dari “Nyanyian-nyanyian Hamba Tuhan” ini menggambarkan beberapa hal, yaitu :
1) Persekutuan antara Tuhan dan hambaNya yang disebut sebagai muridNya (ayat 4-5a)
2) Penderitaan murid itu dalam ketaatan pada tugas panggilannya (ayat 5b-6).
3) Kepercayaan murid itu kepada Tuhan yang akan menyatakan dia benar (ayat 7-9)
Bentuk syair ini merupakan doa keluhan perorangan, yang memiliki unsur-unsur yaitu (1) keadaan pendoa di depan Allah, (2) penderitaannya, (3) kepercayaannya kepada Allah yang akan membebaskan dia (bnd. Mazmur 5; 6; 13; 17; dst). Hal yang dapat kita lihat dari murid Tuhan mengalami penderitaan oleh karena ia membawa firman Allah. Ia tidak dapat memohon dengan doa agar tugas panggilannya ditiadakan, atau agar akibat yang pahit dihilangkan. Ia mengiakan pelayanan yang Allah serahkan kepadanya, dan menanti-nantikan saatnya Allah sendiri menyatakan bahwa hambaNya benar.
 
Dengan demikian, melalui perikap kotbah ini kita akan melihat bahwa murid Tuhan akan dengan rela menanggung beban yang Tuhan serahkan kepadanya. Mengapa demikian ? Mari kita menelisik lebih mendalam melalui teks Yesaya 50:4-9a.
 
1. Persekutuan antara Tuhan dengan hambaNya yang disebut sebagai muridNya (ay. 4-5a)
Tuhan Allah telah memberikan kepadaku lidah seorang murid, supaya dengan perkataan aku dapat memberi semangat baru kepada orang yang letih lesu. Setiap pagi ia mempertajam pendengaranku untuk mendengar seperti seorang murid. Tuhan Allah telah membuka telingaku.
Pada bagian ini kita dapat melihat bahwa Tuhan Allah yang berkarya dalam memberikan lidah seorang murid serta membuka telinganya. Mengapa lidah dan telinga menjadi dua bagian yang penting ? Karena dengan memberikan lidah seorang murid dan membuka telinganya, Tuhan menentukan sikap muridNya. Setiap hari Tuhan menggiatkan telinga muridnya sehingga mempertajam pendengarannya serta memampukannya untuk belajar. Pagi-pagi orang suka berdoa (bd. Masmur 5:4), Allah menuntun muridNya untuk mendengarkan suaraNya setiap pagi, ia diajar selalu, pelajarannya tidak pernah selesai dan terus menerus sehingga ia semakin mengerti firmanNya setiap hari.

Murid Tuhan yang setiap hari diingatkan untuk mendengarkan firmanNya, sedemikian sehingga ia dapat memberikan semangat yang baru kepada orangyang letih lesu. Hal ini berarti, murid Tuhan meneruskan kepada orang lain, dalam hal ini orang yang sedang letih lesu, yaitu semangat yang diterimanya. Dengan lidah seorang murid dimana mulutnya dijadikan seperti pedang yang tajam (Yesaya 49:2), murid Tuhan tersebut menyampaikan firman Tuhan sedemikian rupa sehingga perkataannya didengar seperti firman Allah sendiri yang membangkitkan orang-orang yang tadinya lemah. Orang-orang yang sudah lama tertekan dan acuh tak acuh, bangun dalam kesadaran baru dan mulai bergerak menurut pola yang tertentu dengan penuh harapan sehingga terjadilah suatu perubahan dalam kehidupan.

Dengan demikian, dalam hal ini tampak bahwa sebagai seorang murid Tuhan, setiap hari memiliki persekutuan dengan Tuhan, mendengarkan firmanNya serta berdoa sehingga ketika menyaksikan tentang Tuhan kepada orang, terkhusus kepada orang yang sedang letih lesu karena berbagai beban persolan kehidupan dapat memberikan semangat yang baru bagi mereka.
 
2. Penderitaan murid itu dalam ketaatan pada tugas panggilannya (ayat 5b-6).
Dan aku tidak memberontak, tidak berpaling ke belakang. Aku memberi punggungku kepada orang-orang yangmemukul aku, dan pipiku kepada orang-orang yang mencabut janggutku. Aku tidak menyembunyikan mukaku ketika aku dinodai dan diludahi.

Murid Tuhan akan menghadapi perlawanan dari para musuhnya. Dalam teks kotbah ini tidak dijelaskan siapa yang menjadi musuh serta melawannya. Berbagai penderitaan yang akan dia alami sebagai bentuk perlawanan musuhnya yaitu “memukul punggung” dan juga “mencabut janggut”. Hal ini merupakan suatu tanda bagi seorang laki-laki di Timur Tengah (bd. Nehemia 13:25). “meludahi muka” (bd. Ul. 25:9; Bil. 12:14) berarti menghukum, menghinakan, mempermalukan. Orang yang diperlakukan demikian akan kehilangan muka, tidak dipandang lagi, diejek (bnd. Maz. 13:5; 35:15-25; 41:8-10), ia dianggap telah dibiarkan oleh Allah (bnd. Maz. 22:2-3,12,20; 55:2-6; Ayub 19:6-12; Yeremia 15:10-11, 15:8; 20:7,9,14-18).

Dalam keadaan yang sedemikian, murid Tuhan itu akhirnya sadar bahwa “oleh karena Engkaulah aku menanggung cela, noda meliputi mukaku” (Mazmur 69:8), ia rela menanggung penderitaan itu. Hal ini tampak dari pernyataan bahwa : “….aku tidak memberontak, aku tidak berpaling kebelakang, aku memberi punggungku, pipiku, aku tidak menyembunyikan mukaku….”. Dapat kita lihat bahwa ada 9 kali pengulangan kata “aku/ku” sehingga jelaslah bahwa murid Tuhan sendirilah yang mengambil sifat kerelaan hati dalam menanggung berbagai penderitaan yang dia alami.
 
3. Kepercayaan murid itu kepada Tuhan yang akan menyatakan dia benar (ayat 7-9)
Tetapi Tuhan Allah menolong aku; sebab itu aku tidak mendapat noda. Sebab itu aku meneguhkan hatiku seperti keteguhan gunungbatu karena aku tahu, bahwa aku tidak akanmendapat malu. Dia yang menyatakan aku benar telah dekat. Siapakah yang berani berbantah dengan aku ? Marilah kita tampil bersama-sama! Siapakah lawanku beperkara? Biarlah ia mendekat kepadaku! Sesungguhnya, Tuhan Allah menolong aku; siapakah yang berani menyatakan aku bersalah? Sesungguhnya, mereka semua akan memburuk seperti pakaian yang sudah usang; ngengat akan memakan mereka.
 
Sikap murid Tuhan berakar pada tindakan yang telah (ayat 4-5) dan akan (ayat 8-9) Tuhan Allah lakukan; dalam persekutuan yang berkelanjutan itu murid Allah ngetahui bahwa penghinaan yang dialaminya tidak datang dari tangan Tuhan (ayat 7), melainkan justru membuktikan kebenarannya (ayat 8a). Kata kerja menolong (ayat 7 dan 9) menunjukkan kesatuan tindakan-tindakan Allah. Di tengah-tengah penderitaan, dimana biasanya terdengar doa “Tolonglah aku ya Tuhan, Allahku” (bnd. Mazmur 109:26) tetapi dalam hal ini murid Tuhan itu mengatakan “Tuhan Allah menolong aku” dan rela menunggu saatnya pertolongan ini genap (bd. Yesaya 49:8).

Bagi murid Tuhan, noda dan diludahi serta tindak kekerasan yang disampaikan lawannya bukanlah hal yang mempermalukan, karena itu semua tidak dapat memisahkannya dari Tuhan. Ia menyatakan bahwa “aku meneguhkan hatiku seperti keteguhan gunung batu”. Dalam menghadapi lawannya, ia ada dalam keyakinan bahwa ia benar di mata Allah. Murid Allah itu teguh karena ia diteguhkan oleh Allah. Keteguhan hati murid Tuhan itu memberi kesaksian bahwa ia berdiri dipihak Allah, Pembelanya.
 
III. Aplikasi
Murid Tuhan yang disampaikan pada teks Yesaya 50:4-9a ini merujuk kepada hamba Tuhan. Hamba Tuhan yang mengalami berbagai tantangan dalam kehidupan setiap hari bahkan juga kekerasan. Memberi punggungku, memukul aku, pipiku, mencabut janggutku, diludahi, hal ini merupakan tindakan kekerasan yang dialami oleh hamba Tuhan tersebut. Hal yang menarik dapat kita lihat adalah dalam kesemua penderitaan yang dia alami, ada sikap kerelaan hati dalam menjalaninya. Mengapa hamba Tuhan tersebut sanggup dengan rela hati menjalaninya ?Ternyata kuncinya adalah persekutuannya yang sangat dekat dengan Tuhan. Hamba Tuhan tersebut dengan setia menjalin persekutuan dengan Tuhan setiap hari melalui doanya dan mendengarkan firman Tuhan sehingga ia dikuatkan dan diteguhkan serta merasakan bahwa Tuhanlah penolongnya.

“Tuhanlah Penolongku” menjadi suatu tema yang menarik dalam bahan kotbah ini. Di tengah berbagai tantangan dan penderitaan yang dialami oleh yang percaya kepada Tuhan, ingatlah bahwa Tuhan penolong kita. Mari melihat berbagai realitas kehidupan di dunia ini. Diberbagai daerah yang mengalami ketertindasan oleh karena iman percaya kepada Tuhan Yesus. Ternyata di daerah yang sedemikianpun Kabar Baik pun tetap tersebar. “Dihambat semakin merambat”. Hal ini dapat kita lihat dari berbagai perjuangan yang dilakukan yaitu “perjuangan nir-kekerasan” seperti yang dilakukan oleh Pdt. Martin Luter King dan juga Mahatma Gandhi.
Selamat menjalani kehidupan dalam pertolongan Tuhan.

Pdt. Rosliana Br Sinulingga, M.Si
GBKP Semarang
 

Khotbah Yohanes 4:5-26, Minggu Tanggal 19 Maret 2017 (PASSION IV)

Renungan

Invocatio:
"(42-3) Jiwaku haus kepada Allah, kepada Allah yang hidup. Bilakah aku boleh datang melihat Allah?" (Mazmur 42:2)

Bacaan:
Keluaran 17:1-7
 
Thema:
"Yesus Adalah Sumber Air Kehidupan"
 

Pendahuluan
Ketika Yesus disalibkan pada akhir hidupNya di saat puncak penderitaanNya di atas kayu salib Ia meneriakkan "haus!". Rasa haus adalah bukti beratnya penderitaan yang dialami Yesus; mengalami dehidrasi oleh karena panas terik dan menahan rasa sakit membuat banyak berkeringat atau karena banyak darah yang tercurah. Haus berbahaya merusak semua pungsi organ tubuh dan dapat menyebabkan kematian. Rasa haus tidak dapat di tahan, akan mengganggu kesehatan tubuh dan jiwa. Sebagaimana pentingnya air bagi kehidupan manusia maka untuk kelepasan dahaga manusia dan untuk menyelamatkan hidup manusia maka Yesus memperkenalkan diriNya sebagai "air kehidupan".

Pembahasan Teks
Orang-orang Farisi merasa terganggu dan tersaingi oleh karena para pengikutnya beralih kepada Yohanes pembaptis. Kemudian hari Yesus tampil dan lebih populer dan lebih di kagumi dari pada Yohanes pembaptis, sehingga orang-orang Farisi lebih menentangNya dan Yesus terancam, karena itu Yesus menyingkir ke Galilea. Apabila orang orang Yahudi berjalan dari Yudea ke Galilea pada umumnya perjalanan itu ditempuh selama enam hari, sebab mereka berjalan jauh karena menghindari daerah Samaria yang mereka musuhi. Tapi ketika Yesus menuju Galilea ia memilih perjalanan melalui Samaria, disamping mempersingkat waktu perjalanan hanya tiga hari saja, Yesus memanfaatkannya untuk memberitakan Kerajaan Allah. Menempuh perjalanan yang jauh Yesus letih dan singgah di Sikhar di sumur Yakub. Waktu itu kira-kira jam 12.00 siang, Yesus seorang diri sebab murid-muridNya pergi ke kota membeli makanan dan pada saat itu seorang wanita Samaria datang ke sumur itu untuk mengambil air.

Adalah hal yang janggal apabila wanita seorang diri ke sumur dan pada siang hari. Wanita Samaria ini kemungkinan adalah wanita yang di tolak dan di jauhi penduduk Samaria sebab perbuatannya yang kotor dan hina ( ia sudah lima kali kawin cerai dan kawin tidak resmi) maka ia tidak di ijinkan mengambil air dari sumur-sumur umum yang ada di dalam kota Samaria. Wanita samaria ini menyadari kesalahannya adalah hal yang memalukan maka ia menghindar dari orang-orang samaria dan rela menempuh perjalanan sejauh 1 km ke luar kota Samaria ke sumur Jakup demi untuk mendapatkan air dan di sana ia bertemu dengan Yesus.

Orang-orang Yahudi saling bermusuhan dengan orang-orang Samaria dan mereka sama-sama menghindari pertemuan dan dialog. Lebih khusus lagi seorang Rabi Yahudi tidak boleh berbicara dengan wanita, dan jika dilanggarnya kerabiannya akan di tolak. Tapi dalam rangka pemberitaan Kerajaan Allah, Yesus membuat terobosan baru terhadap semua aturan dan tradisi yang mempersempit kehadiran Kerajaan Allah.

Kepada wanita Samaria itu Yesus meminta air sebab ia tidak memiliki timba. Oleh karena permusuhan diantara orang Yahudi dengan orang Samaria maka wanita Samaria itu tidak memenuhi permintaan Yesus. Tapi kemudian Yesus memperkenalkan diriNya bahwa Ia adalah air hidup (yang dibutuhkan jiwa orang-orang yang haus kedamaian dan suka cita). Wanita Samaria itu tidak dapat memahami perkataan Yesus, maka ia mengejek Yesus dengan mempertanyakan apakah Yesus memiliki timba, apakah Yesus lebih besar dari pada Yakub yang telah bersusah payah menggali sumur itu. Tapi di balik ketidak mengertian dan keraguannya tentang pernyataan Yesus bahwa padaNya (Dia) ada air hidup, wanita Samaria tersebut merasakan dampak pertemuan dengan Yesus memberi kesejukan. Pada umumnya apabila seorang Rabi Yahudi bertemu dengan pendosa akan mengadilinya dan menyumpahinya, tapi Yesus menerima wanita Samaria itu, menghargai dan bersahabat dengannya. Yesus memperkenalkan diriNya sebagai air kehidupan yang tidak pernah kering, dan menjelaskan bahwa orang-orang yang menerimaNya dari dalam diri si penerima tersebut senantiasa akan memancar air kehidupan sampai akhir jaman sehingga jiwanya tidak akan haus lagi dan iapun dapat memberi dahaga bagi jiwa-jiwa yang haus. Kemungkinan berdasarkan pengenalan praktek agama-agama di jaman itu membuat wanita Samaria tersebut memahami pernyataan Yesus dengan pemahaman duniawi bahwa Yesus dapat memberi mantra-mantra supaya ia tidak akan haus lagi maka ia meminta air kehidupan yang ditawarkan Yesus.

Yesus melakukan terobosan baru bahwa dengan hadirnya Yesus sebahgai Juruselamat maka kehausan akan penyembahan kepada Allah seperti yang dilakukan orang-orang Yahudi di bukit Yerusalem dan seperti yang dilakukan orang-orang Samaria di bukit Gerizim akan berakhir. Penyembahan sakral dengan liturgi-liturgi dan kiblat yang dilakukan orang-orang Yahudi dan orang-orang Samaria akan bergeser menjadi penyembahan rohani, bahwa Allah akan di muliakan bukan lokal hanya di atas bukit Yerusalem atau bukit Gerizim tapi dalam persekutuan dengan Yesus Juruselamat oleh karena Roh Allah penyembahan dapat dilakukan di semua tempat dan setiap saat. Di dalam PL, penyembahan adalah hal yang sangat penting dan dirindukan sebab ketika penyembahan berlangsung para penyembah menemukan kepuasan jiwanya, mendapat kelegaan dan kedamaian. Tapi jika orang-orang Yahudi hanya dapat menyembah Allah di bukit Yerusalem atau orang-orang Samaria di bukit Gerizim maka kepuasan jiwa, kelegaan dan kedamaian hanya di dapatkan sesaat saja sepanjang ibadah itu berlangsung dan sesudah mereka meninggalkan bukit itu akan hilanglah kepuasan dan kelegaannya dan menjadi haus lagi, dan penuh kecemasan. Penyembahan di dalam Yesus oleh Roh tidak dibatasi tempat dan waktu dan dapat dilakukan dapat dilakukan terus menerus.

Air kehidupan yang di tawarkan Yesus adalah pengampunan dosa, hidup suci yang kekal. Air kehidupan hanya layak diberikan kepada orang-orang yang menyadari kehausan jiwanya dan meninggalkan dosa serta melawan segala kejahatan. Wanita samaria itu adalah wanita yang selalu haus akan kepuasan nafsunya yang tidak pernah terpuaskan. Lima kali ia kawin tidak resmi dan cerai tetapi ia tidak menemukan dahaga dalam jiwanya, dan keadaan itu telah memperburuk keadaannya. Demi air hidup yang di tawarkan Yesus ia telah membuka diri dan Yesus telah melepas belenggu dosa yang mengikatnya dan membuatnya menderita. Air hidup (anugerah) Allah bukan barang murahan, diberikan Yesus kepada orang yang berobat, mengakui dosa dan meninggalkannya.
Dengan menerima Yesus sebagai Juruselamat membuat wanita Samaria itu menemukan kepuasan jiwanya, lalu meninggalkan Yesus di sumur itu dan meninggalkan tempayannya lalu pergi ke kota untuk memberitakan Yesus adalah Mesias. Kehausan jiwanya dan kehausan jasmaninya telah terpuaskan. Ketika di dalam dosa ia dikucilkan dan dalam rasa malu menjauhkan diri dari saudara-saudaranya sebangsa. Setelah mengenal dan menerima Yesus sebagai juruselamat yang adalah air kehidupan membuatnya merasakan hubungannya dipulihkan dekat dengan Allah dan tanpa rasa malu lagi ia mendekatkan diri dengan sesamanya, mendatangi kota Samaria dan saudara-saudaranya sebangsa.

Sama seperti orang-orang Yahudi, orang-orang Samaria juga menantikan kedatangan Juruselamat. Benar seperti yang di katakan Yesus, setelah wanita Samaria tersebut menerima Yesus sebagai air hidup dirasakannya kesegaran dan suka cita. Ia berbagi sukacitanya dengan memberitakan Yesus Sang Juruselamat sehingga dari pemberitaan tersebut banyak orang Samaria memjadi percaya dan mengalami hidup baru.

Aplikasi
Banyak orang hanya dapat merasakan rasa haus pada tubuhnya oleh karena memerlukan air tapi tidak dapat merasakan dan menyadari rasa haus di dalam jiwanya. Di dalam kisah penciptaan dunia dan segala isinya; pada setiap tahapan penciptaan dan dalam penciptaan manusia Allah menilai semua baik adanya juga manusia baik adanya. Tapi setelah manusia jatuh ke dalam dosa maka keadaan manusia menjadi buruk, dan dengan berkembangnya dosa keadaan manusia terus semakin lebih buruk. Dosa membuat manusia lumpuh tidak merasa tentram, tidak dapat merasakan kedamaian dan tidak dapat bersuka cita. Jiwa manusia haus dan merindukan Allah penciptaNya, sebab hanya Allah yang dapat membebaskan manusia dari kuasa dosa.

Allah yang kita sembah adalah Allah yang peduli dan mengerti akan keluhan anak-anakNya. Karena itu Ia memberikan Yesus Kristus untuk membersihkan manusia dari segala dosa dan memberi kelegaan kepada jiwa yang haus. Yesus adalah sumber kehidupan manusia, sehinga orang-orang yang menerima Yesus akan tetap hidup dan bertumbuh, semakin lebih besar dan menghasilkan buah yang manis. Hanya di dalam Yesus ada kehidupan dan jiwa yang tentram. Karena itu marilah kita datang dan setia menyembahNya. Orang-orang yang meninggalkan persekutuan dengan Yesus dan sesama orang percaya di hari ke hari yang dijalaninya keadaannya akan menjadi lebih buruk. Tapi orang-orang yang memelihara persekutuannya dengan Yesus akan menemukan ketentraman jiwanya dan dari dalam hatinya akan memancar "air hidup" sehingga ia memiliki keberanian dan kuasa membawa orang datang kepada Yesus.

ewgm-sitelusada-bekasi
 

Khotbah Mazmur 121:1-8, Minggu tanggal 12 Maret 2017 (PASSION III)

Renungan

Invoctio :
Sebab Tuhan Allah kita, Dialah yang telah menuntun kita dan nenek moyang kita dari tanah Mesir, dari rumah-rumah perbudakan dan yang telah melakukan tanda tanda mujizat yang besar ini di depan mata kita sendiri, dan yang telah melindungi kita sepanjang jalan yang kita tempuh dan diantara semua bangsa yang kita lalui, (Yosua 24:17)
 
Bacaan :
Yohanes 3:1-17 (responsorial)

Tema :
Tuhanlah Perlindunganku
 
 
1. Masmur 121 merupakan masmur Ziarah yang biasa dinyanyikan umat dalam perjalanan menuju atau mendaki ke bukit Sion yaitu kota Yerusalem, yang terletak di dataran tinggi pegunungan Yehuda. Seluruh orang Israel yang berziarah akan berjalan dengan hati yang sukacita (Mazmur 42:5; Yesaya 30:29) untuk menghadiri tiga perayaan besar orang Israel yang terdapat di Ulangan 16:16 dan juga Keluaran 23:14-17 yaitu hari raya Roti tidak beragi, hari raya Tujuh minggu dan hari raya Pondok daun. Ditambahkan dalam Ulangan 12:5-7 disebutkan tentang pemberian persembahan bakaran, korban sembelihan, persembahan persepuluhan, persembahan khusus, korban nazar dan korban sukarela. Dalam hal ini ziarah berarti datang ketempat yang mulia (rumah ibadah), mengikuti perayaan besar keagamaan dan mempersembahkan persembahan. Ziarah dalam konteks mengunjungi tempat sakral (bermakna dalam sejarah iman/ agama) juga merupaken tindaken konkrit sebagai latihen rohani yang secara khusus masih dilakukan oleh umat Islam dan Katolik dengan cara yang berbeda.

2. Dalam perjalanan ziarah tersebut juga sekaligus membawa korban persembahan sehingga dengan banyaknya beban maka perjalanan akan semakin sulit ditambah dengan medan yang cukup sulit dilalui. Perjalanan mendaki dengan barang yang banyak ditambah cuaca ekstrim panas disiang hari dan dingin dimalam hari sehingga pemazmur mengatakan alam Ayat 1 “Aku melayangkan pandanganku ke gunung-gunung; dari manakah akan datang pertolonganku?” Kata gunung-gungung mengacu ke kondisi perjalanan yang dilalui peziarah yaitu daerah perbukitan dan rawan kejahatan juga, bandingkan dengan perumpamaan Yesus tentang orang Samaria yang baik hati dalam Lukas 10:25-37. Peristiwa pemberian Hukum Taurat kepada Musa terjadi di Gunung Sinai (Kel 20) yang akhirnya mempengaruhi pemahaman bangsa Israel bahwa Allah itu berada di tempat yang tinggi. Pertanyaan tersebut dijawab sendiri oleh pemazmur dengan kesadaran tentang siapa yang akan sanggup menolongnya, ayat 2 “…Pertolonganku ialah dari Tuhan, yang menjadikan langit dan bumi”. Jawaban tersebut menjelaskan sumber/ asal pertolongan yang diharapkan yaitu dari Tuhan semata. Menjadi perenungan untuk kita bahwa ketika kita dalam kesusahan hidup ada begitu banyak tawaran yang menjanjikan penyelesaian dan jalan keluar namun pemazmur memastikan bahwa pertolongan yang kita butuhkan yaitu yang datangnya dari Tuhan pencipta langit dan bumi.

3. Tuhan adalah Penolong dijelaskan secara lebih mendetail di ayat-ayat berikutnya. Tuhan Penjagamu tidak akan terlelap (ay 3); tidak tertidur (ay 4) artinya Tuhan menempatkan manusia dibawah pengawasan dan penjagaanNya. Menjadi renungan bahwa manusia memiliki keterbatasan dalam membantu sesamanya namun Tuhan sangat mampu memberi pertolongan tepat pada waktunya. Tuhan memberikan perlindungan sekaligus pertolongan, dalam konteks pemazmur pertolongan dan perlindungan diterima saat melakukan perjalanan ziarah yang penuh dengan tantangan yaitu matahari tidak akan menyakiti pada waktu siang dan bulan pada waktu malam (ayat 6) dan Tuhan akan menjaga dari segala kecelakaan, menjaga nyawa (ayat 7). Demikianlah kesetiaan Tuhan yang memberikan rasa aman dan tenteram selama perjalanan ziarah. Menjadi renungan bahwa dalam perjalanan hidup setiap harinya (ziarah?) Tuhan hadir menjadi Penjaga dan Penolong umatNya sekarang dan selamanya (ayat 8). Dalam Perjanjian Baru kita mendapat penegasan tentang kasih setia Tuhan dalam Yohanes 3:16 “ karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNya yang Tunggal supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal”. Demikianlah kesetiaan Allah memberikan rasa aman dan tenteram dalam perjalanan ziarah, tidak saja dalam ziarah tapi dalam perjalanan kehidupan setiap harinya sehingga kehadiran Allah dalam kehidupan umat-Nya pasti. Oleh karena itu Martin Luther menyebut Yoh.3:16 sebagai miniature of Gospel.

4. Nikodemus peminpin agama Yahudi, menjumpai Yesus ketika hari sudah gelap untuk berbincang dengan Yesus, pemilihan waktu ini diambil supaya orang banyak tidak tahu tentang pertemuan tersebut. Dalam percakapan ada dibahas tentang dilahirkan kembali. Nikodemus memahami dilahirkan kembali berarti masuk kembali kerahim ibunya dan dilahirkan lagi. Namun Yesus menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah dilahirkan dari air dan Roh, hidup baru. Karya Roh Kudus tidak dapat dikendalikan oleh manusia dan manusia yang sudah lahir kembali dalam Roh, keselamatanya tidak dapat diukur dengan ukuran manusia. Hal ini baru bagi Nikodemus karena bagi orang Parisi, kebaikan/ keselamatan seseorang biasanya diukur dengan melihat kepatuhannya terhadap hukum Taurat. Keselamatan tidak akan didapatkan hanya dengan taat melakukan Hukum Taurat tapi merupakan anugerah Allah. Tuhan langsung turun tangan untuk menyelamatkan manusia.

5. Masing-masing kita sedang berjalan dalam “ziarah” di dunia ini dan pasti banyak tantangan dan pergumulan yang sudah dan akan kita temui. Melalui bahan renungan kita diminggu ini ditegaskan kembali bahwa Tuhan yang kita sembah tidak akan membiarkan kita berjalan sendiri tanpa pengawalan, pengawasan dan pertolongan. Keyakinan ini akan memberi kita kepercayaan diri bahwa dalam ziarah ini, dalam penyertaan Tuhan, akan membawa kita dengan selamat pada tujuan. Tantangan yang dihadapi pengikut Kristus tidak akan membuat kita berhenti apalagi hilang pengharapan namun tetaplah focus pada anugerah Tuhan yang telah disediakan bagi kita sekarang dan selamanya.

Pdt. Erlikasna Purba
GBKP Denpasar
 

Khotbah Roma 5:12-19, Minggu 05 Maret 2017 (PASSION II)

Renungan

Invocatio :
“Sebab TUHAN, Allahmu, adalah Allah Penyayang, Ia tidak akan meninggalkan atau memusnahkan engkau dan Ia tidak akan melupakan perjanjian yang diikrarkan-Nya dengan sumpah kepada nenek
moyangmu” (Ulangan 4:31).

Bacaan :
Mazmur 32:1-11(Tunggal)

Tema :
Hidup Dalam Kasih Karunia Tuhan
 
 
I. Pengantar
Rumusan teologia Calvin tentang manusia yang sudah jatuh kedalam dosa adalah “Rusak total”, barang yang rusak total sudah selayaknya di buang. Walaupun manusia sudah rusak total oleh kejatuhannya kedalam dosa, tapi Tuhan tidak memusnahkannya, itulah yang disebut dengan kasih karunia. Paulus mengatakan bahwa manusia yang telah jatuh kedalam dosa adalah orang durhaka (ay 5:6), cerita anak durhaka yang terkenal adalah cerita Malinkundang yang dikutuk menjadi batu, iya memang itulah selayaknya dilakukan kepada orang-orang durhaka “dikutuk”. Tetapi Tuhan tidak mengutuk manusia bahkan mau menanggung “kutukan” dosa itu dengan mati di kayu salib, inilah kasih karunia yang terbesar. Mati untuk orang baik, orang benar dan bagi orang yang dicintai, mungkin ada, tapi kalau mati untuk orang durhaka, penjahat, pembrontak, berkorban bagi barang yang rusak, ini adalah sesuatu yang imposible. Tetapi itulah yang dilakukan oleh Yesus, melalui kematianNya di Kayu Salib, inilah yang di sebut dengan “Kasih Karunia”. Kita sudah mengenal kasih karunia, dan sekarang bagaimana supaya kita tetap hidup didalamnya? Mari kita telusuri Firman Tuhan yang menjadi renungan kita di minggu Passion yang ke-2 ini.
 
II. Pendalaman Naskah Alkitab
1. Dosa (12)
Dosa adalah pelanggaran cinta kasih terhadap Tuhan atau sesama yang dapat mengakibatkan terputusnya hubungan antara manusia dengan Allah. Utamanya, dosa disebabkan karena manusia mencintai dirinya sendiri atau hal-hal lain sedemikian rupa sehingga menjauhkan diri dari cinta terhadap Allah. Dosa adalah penyimpangan dari Firman Allah. Upah dosa adalah maut (Roma 6:23). Sifat dosa sama seperti “racun kontak” atau seperti lingkaran obat anti nyamuk, mulai dari lingkaran luar (dalam) jika di bakar perlahan akan menjalar kedalam (keluar), tergantung dari mana dimulai. Demikian dikisahkan bagaimana dosa memasuki dunia dan mencemari semua manusia, dimulai dari kehidupan Adam (manusia pertama). Dosa itu semakin hari semakin berkembang melebihi deret hitung bahkan mengalahkan perkembang biakan ayam, satu ayam bertelur 12 dan menetas, penetasan berikutnya sudah 13 ekor dan akan bertelur lagi di kali 12 =156 di kali 12 menjadi 1572 dan seterusnya, cepat sekali pertambahan/ perkembangnnya, tetapi masih kalah dengan pertambahan/ perkembangan dosa, karena setiap orang bukan saja melahirkan satu dosa, sehingga dosa ada dimana-mana, di kiri- di kanan, di atas – dibawah, sehingga tidak ada lagi manusia yang benar seorang pun tidak (Roma. 3:11-18), dengan demikian semua manusia layak di hukum mati, di musnahkan, dan di kutuk (disalibkan).

2. Dosa Lebih Tua dari Hukum Taurat (13-14)
Semua manusia sudah berdosa, ini menjadi perdebatan di zaman Paulus, karena pemahaman umum (apalagi di dunia hukum), bagaimana orang tahu melanggar undang-undang (hukum) kalau hukumnya tidak ada? Bukankah dosa itu dikenal setelah ada Undang-undang (Hukum Taurat). Paulus mengatakan bahwa dari dulu dosa itu sudah ada tetapi tidak diperhitungkan. Kalau tidak diperhitungkan ya sama saja dengan tidak ada. Untuk memahami ayat 13 ini kita, harus perhadapkan dengan ayat 20 “dimana dosa bertambah banyak di situ anugerah bertambah banyak” artinya hukum taurat menolong kita untuk menghitung berapa banyak dosa pelanggaran kita dan berapa banyak anugerah yang kita terima, sehingga Paulus mengatakan bahwa kalau Taurat tidak ada dosa tidak dapat diperhitungkan. Hukum Taurat adalah hukum yang tertulis yang diberikan melalui Musa, sedangkan jauh sebelum itu perintah Tuhan (undang-undang Tuhan) sudah ada yang langsung di sampaikan (lisan) kepada orang yang dipilih Tuhan (bd. Peraturan/ Perintah yang diberikan kepada Adam agar jangan makan buah pohon pengetahuan). Sama dengan peradaban manusia sebelum ada undang-undang yang tertulis sudah ada hukum-hukum (norma-norma) yang berlaku, dan setiap pelanggarannya pasti mendatangkan sangsi.

Kelihatannya Paulus tidak mau berlama-lama berdebat tentang hal ini, tetapi Paulus lebih menekankan bahwa “ada atau tidak ada hukum Taurat” dosa itu sudah ada dan setiap perbuatan dosa pasti mendatangkan hukuman. Jadi hukuman atas dosa itu bukan saja setelah zaman Musa tetapi sejak zaman Adam (bd. Kej. 3:17-19). Manusia yang pertama sampai manusia yang terakhir nantinya membutuhkankan “pertolongan” (kasih Karunia Allah). Karena orang yang sudah jatuh ke dalam dosa dan sesama orang yang sudah jatuh kedalam dosa, tidak bisa menyelamatkan dirinya atau sesamanya). Hukuman dosa yang ditanggung dalam hal ini bukan saja pelanggaran hukum Tuhan yang tertulis atau tidak tertulis, tetapi jauh lebih dalam adalah tabiat dosa yang sudah mewarnai semua hati (bathin) manusia.

3. Kasih Karunia Tuhan (15-19)
Kasih karunia adalah kasih yang diberikan kepada orang yang sesungguhnya tidak layak menerimanya (anak durhaka yang diampuni, barang yang rusak total diperbaiki menjadi seperti baru). Paulus mengatakan bahwa : Dosa dan kematian dibawa oleh satu pribadi masuk ke dunia, demikian juga dengan ketaatan satu pribadi semua manusia dibenarkan. Paulus menekankan kemampuan tertinggi dari penebusan yang disediakan oleh Yesus Kristus untuk menghapus dampak dari kejatuhan kedalam dosa. Adam membawa dosa dan kematian tetapi Kristus membawa kasih karunia dan hidup.
 
III. Pointer aplikasi
1. Semua manusia telah jatuh kedalam dosa, upah dosa adalah maut.
2. Semua manusia membutuhkan kasih karunia Tuhan, karena orang yang sudah jatuh kedalam dosa tidak bisa menyelamatkan dirinya.
3. Berbahagialah karena Tuhan tidak memperhitungkan semua pelanggaran kita, serusak apapun kita, sedurhaka apa pun kita, ketika kita berseru kepada Tuhan dan mau bertobat kita akan diampuni (Mzm 32:1-11), karena Allah kita penuh dengan kasih karunia (bd. Invocatio).
4. Hidup di dalam kasih karunia. Sebagai orang yang sudah diampuni/ dibebaskan yang ada adalah “bersyukur dan bersukacita”. Sebagai orang yang sudah dimerdekakan kita memiliki paradigma baru tentang Taurat Tuhan. Di zaman dulu Taurat itu dipandang sebagai beban yang sangat berat (kuk yang menekan), tetapi bagi kita adalah anugerah. Karena melalui Hukum Taurat kita dapat menghitung berapa besar dosa (pelanggaran) kita dan sebesar itu jugalah kasih karunia yang Tuhan berikan bagi kita (Roma 5:20 “Tetapi hukum Taurat ditambahkan, supaya pelanggaran menjadi semakin banyak; dan di mana dosa bertambah banyak, di sana kasih karunia menjadi berlimpah-limpah). Ibarat utang, semakin banyak utang kita yang dilunasi semakin banyak anugerah yang kita terima (Catatan: tetapi bukan memberi kebebasan untuk berbuat dosa, Roma 6:14 “Sebab kamu tidak akan dikuasai lagi oleh dosa, karena kamu tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia”). Taurat adalah wujud kasih Allah agar kita dapat berjalan dalam koridor yang benar (orang yang telah diselamatkan, mengucap syukur dengan ketaatan pada Allah). Menjadi rambu-rambu yang dapat mengantarkan kita ke “negeri Kasih Karunia, dimana tidak ada tangis dan kematian. Jadi boleh kita katakan bahwa Hidup dalam kasih karunia Tuhan hidup sesuai dengan “Hukum Taurat” yang sudah disederhanakan isinya, yaitu : “mengasihi Allah dengan segenap hati dan mengasihi sesama manusia seperti mengasihi diri sendiri”. Sebagai wujud mengasihi Tuhan dan sesama, kita aktif dalam persekutuan (koinonia), gigih dalam bersaksi (marturia) dan rajin dalam pelayanan (diakonia).

5. Di Minggu-minggu Passion ini mari kita merenungkan betapa “Hebat” penderitaan Yesus untuk menanggung dosa kita, Dia rela dicaci maki, di fitnah dan diludahi, di cambuk dan di salibkan, di tombak dan dibunuh. Tidak ada kasih yang lebih besar selain kasih yang memberikan nyawanya bagi sahabatnya (Yoh. 15:13). Dalam Galatia 2:20 “ Paulus mengatakan hidupku bukannya aku lagi melainkan Kristus yang ada di dalamku”, lebih jauh lagi dalam 1 Korintus 9:16 “celakalah aku jika aku tidak memberitakan Injil”. Inilah tanggung jawab yang harus kita lakukan sebagai ungkapan rasa syukur dan suka cita hidup dalam kasih karunia Tuhan, selamat mencoba. Tuhan memberkati.
 
Pdt. Saul Ginting, S.Th, M.Div
GBKP Bekasi
 

Page 1 of 61

BP-KLASIS-XXX

"SELAMAT DATANG mengunjungi Web GBKP KLASIS JAKARTA-BANDUNG"

Renungan

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
  • 6
  • 7
  • 8
  • 9
  • 10
  • 11
  • 12
  • 13
  • 14
  • 15

Pengunjung Online

We have 29 guests online