Khotbah 1 Tesalonika 2:1-8, Minggu 26 Oktober 2014

Renungan

Introitus :
Sebab itu juga kami berusaha, baik kami diam di dalam tubuh ini, maupun kami diam di luarnya, supaya kami berkenan kepada-Nya. (2 Kor.5:9).

Pembacaan : Mazmur 1:1-6; Khotbah : 1 Tes.2:1-8

Tema : Sifat-Sifat Pembawa Kabar Baik.

Pendahuluan :
(1) Saat membaca surat kepada jemaat Tesalonika ini, kita diajak untuk membayangkan suasana di sekitar tahun 51. Paulus merasa terganggu akibat pemberitaan palsu dan pengejaran terhadap jemaat Tesalonika yang telah dibinanya. Terlebih ketika peristiwa itu terjadi Paulus berada jauh dari jemaat binaannya tersebut. Memang Paulus sudah mengutus muridnya Timotius, namun laporan-laporan Timotius belum bisa menenteramkan hatinya. Ia masih ingin bertemu dengan jemaat Tesalonika untuk belajar bersama tentang nilai-nilai iman dan harapan dalam perjuangan selanjutnya.

Lebih lanjut: Khotbah 1 Tesalonika 2:1-8, Minggu 26 Oktober 2014

 

Khotbah Matius 22:15-22, Minggu 19 Oktober 2014

Renungan

Introitus :

“Bayarlah kepada semua orang apa yang harus kamu bayar” (Mat. 13:7a).

Pembacaan : Yesaya 45:1-7 (Anthiponal); Khotbah : Matius 22:15-22 (Tunggal)

Tema : “Lakukanlah Tanggung Jawabmu!”

 

Pendahuluan

Hidup dan tinggal di tengah-tengah bangsa yang pluralis bukanlah mudah. Kita sendiri dapat melihat bagaimana gereja-gereja disegel, dirusak, dan dibakar. Bahkan pendeta sendiri dianiya oleh sekelompok yang menamakan diri sebagai orang yang takut dan taat akan Tuhannya. Salah satu yang menjadi pergumulan dan perjuangan dari PGI yakni bagaimana terjadinya keadilan yang seadil-adilnya di bumi Pancasila ini, khususnya kebebasan beribadah. Namun, hingga saat ini masih juga kita lihat bahwa masih banyak terjadi diskriminasi, aniaya, bahkan penindasan terhadap agama-agama yang minoritas. Tetapi, pernahkah kita bertanya mengapa ini terjadi? Di mana letak masalahnya? Apa yang menyebabkan ini terjadi?

Lebih lanjut: Khotbah Matius 22:15-22, Minggu 19 Oktober 2014

 

Khotbah Matius 22:1-14, Minggu 12 Oktober 2014

Renungan

Introitus :
Marilah kita bersukacita dan bersorak-sorai, dan memuliakan Dia! Karena hari perkawinan Anak Domba telah tiba, dan pengantin-Nya telah siap sedia (Wahyu 19: 7).

Bacaan : Yesaya 25 : 1 – 9; Khotbah : Matius 22: 1-14

Thema :
Bersiap dan jalani Kerajaan Allah (Ersikap dingen dahilah Kinirajan Dibata e)

(1) Saudara yang dikasihi Tuhan pernahkah saudara mendapat undangan untuk menghadiri suatu acara panting? Undangan pasta ulang tahun, pengucapan syukur, pesta pernikahan, atau pun undangan-undangan penting lain misalnya? Jawabnya pasti sering. Sadarkah kita ketika mendapatkan undangan itu artinya kita mendapat suatu penghargaan besar dari si pengundang?

Coba umpama bila yang mengundang itu adalah seorang jutawan. Maka biasanya orang yang diundang adalah orang-orang yang dianggap pantas untuk diundang. Mana mungkin kira-kira ia mengundang orang-orang buta, orang timpang, orang gembel, dsbnya

Bagaimana kira-kira andaikata kita sebagai orang biasa tau-tau mendapat undangan dari bapak Jokowi untuk hadir dalam pesta pelantikannya? Boleh jadi kita berkata: "mimpi apa aku semalam"?
Tentu kita pasti berupaya untuk datang karena peristiwa semacam itu tentulah suatu peristiwa yang tak terlupakan seumur hidup kita, sebuah kenang-kenangan yang berharga!

Lebih lanjut: Khotbah Matius 22:1-14, Minggu 12 Oktober 2014

 

Khotbah Yesaya 5:1-7, Minggu 5 Oktober 2014

Renungan

Introitus :
Mengapa Engkau menarik kembali tangan-Mu, menaruh tangan kanan-Mu di dada?/ Engkai maka la kami isampatiNdu? Engkai maka ipelepasNdu saja kami? (Mazmur 74:11)

Bacan : Filipi 3:4b-14 (Tunggal); Khotbah : Yesaya 5:1-7 (Antiphonal)

Tema :
Hasilkanlah Buah Yang Baik Dan Manis Dalam Perbuatanmu/
Meramis Dingen Entebulah Buah Perbahanenndu


Pengantar
Kita sering mendengar celotehan-celotehan “yang tidak dapat dibina lebih baik binasakan saja”, karena buang-buang waktu, tenaga pikiran dan biaya dan akhirnya bisa membaawa kebinasaan. Istilah dalam suku karo “Labo terpegedang-gedang jambe la ertangke, pegedang pe nimai macikna nge”.

Demikian diilustrasikan tentang kehidupan bangsa Israel, seperti kebun anggur yang telah di berikan perawatan yang maksimal, yang menggambarkan bagaimana Allah telah berusaha sedapat mungkin untuk menjadikan Yehuda bangsa yang benar dan produktif. Tetapi ketika mereka tidak dapat menghargai semua perbuatan Tuhan, mereka gagal menjadi apa yang diinginkan oleh Tuhan barulah Tuhan akan membinasakan mereka. Seperti soerang tukang kebun membinasakan kebun mereka yang tidak mengahasilkan buah yang baik.

Lebih lanjut: Khotbah Yesaya 5:1-7, Minggu 5 Oktober 2014

 

Khotbah Matius 21:23-32, Minggu 28 September 2014

Renungan

Introitus :
 Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. (Matius 7:24)

Bacaan : Yehezkiel 18:1-4; 25-32; Khotbah : Matius 21:23-32

Tema : Iyakan dan Jalankan Perintah Yesus

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus,
Nats khotbah ini merupakan sebuah teguran dari Tuhan Yesus untuk para imam kepala dan tua-tua Yahudi yang masih meragukan kuasa Yesus, dan masih hidup dalam kemunafikan. Sebagai petinggi agama mereka hanya mengerti ajaran-ajaran Taurat TUHAN tetapi tidak melakukannya. Melalui perikop ini paling tidak ada dua hal bagaimanakah sikap sesorang mengiyakan dan menjalankan perintah Yesus?

1. Hidup dalam pengakuan kuasa Yesus
Jika ada sesorang yang merasa lebih benar, lebih baik, lebih pintar dan lebih layak untuk menerima kekuasaan dari pada orang lain, maka ketika ia melihat ada orang lain yang bisa melebihi ia dalam segala hal kemungkinan besar bisa timbul rasa iri hati pada dirinya. Dengan rasa iri hati yang semakin dalam mungkin ia akan mencoba untuk mencari jalan untuk menyingkirkan atau pun menjatuhkan reputasi orang tersebut. Begitulah yang terjadi dengan imam-imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi ketika melihat banyak kemampuan yang bisa dilakukan oleh Yesus, dalam berkhotbah/mengajar, menyucikan bait Allah dan mujizat yang dilakukan oleh Yesus (bnd. Matius 21:15, tetapi ketika imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat melihat mujizat-mujizat yang dibuat-Nya itu dan anak-anak yang berseru dalam Bait Allah: Hosana bagi Anak Daud!” hati mereka sangat jengkel). Sehingga ketika Yesus masuk ke Bait Allah, para imam kepala dan tua-tua Yahudi mendatangi Yesus dan menanyakan kuasa apa yang dipakai oleh Yesus. Yesus mengetahui maksud dari pertanyaan mereka hanya untuk ‘menyudutkan’ Yesus. Maka Yesus membalikkan pertanyan kepada mereka “dari manakah (kuasa) baptisan Yohanes? Dari sorga atau dari manusia?”. Sebenarnya mereka tahu kalau kuasa Yohanes dari sorga karena mereka adalah ahli dalam Taurat, tapi karena dari awal hendak menjebak Yesus maka mereka menjawab “kami tidak tahu”. Karena Yesus melihat kemunafikkan dan ketidakjujuran dalam diri mereka maka Yesus juga tidak memberitahukan kuasa apa yang ada pada Yesus. Walaupun sebenarnya mereka tahu kuasa apa yang ada pada Yesus, hanya saja mungkin karena Yesus berasal dari keluarga biasa dan mereka mengenal semua keluarganya (bnd. Matius 13:55) sehingga sulit bagi mereka untuk percaya kuasa Yesus berasal dari Sorga.

Lebih lanjut: Khotbah Matius 21:23-32, Minggu 28 September 2014

 

Page 1 of 42

BP-KLASIS-XXX

"SELAMAT DATANG mengunjungi Web GBKP KLASIS JAKARTA-BANDUNG"

Renungan

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
  • 6
  • 7
  • 8
  • 9
  • 10
  • 11
  • 12
  • 13
  • 14
  • 15

Pengunjung Online

We have 62 guests online

Login Form