Khotbah Kolose 1:11-20, Minggu 20 November 2016

Renungan

INVOCATIO :
I Korinti 15 : 10

BACAAN :
Mazmur 46 : 1 – 12

THEMA :
“Kuat didalam Tuhan”
 

1. Berdasarkan Kelender Gerejawi hari ini kita memasuki Minggu Akhir Tahun Gerejawi, tradisi gereja-gereja bahwa pada hari ini kita akan membacakan nama-nama warga jemaat kita yang telah meninggalkan kurun waktu satu tahun kalender gerejawi. Kita akan mengenang Saudara-saudara kita yang telah mendahului kita menghadap ke hadirat Allah. Mereka yang meninggal dalam kurun waktu satu tahun gerejawi, dari 21 November 2015 – 20 November 2016, kita kenang, dan nama-nama mereka dibacakan sebagai pertanda bagi kita semua, bahwa kitapun akan mengalami hal yang sama dengan mereka. Tidak seorangpun dari antara manusia yang dapat mengetahui kapan dan dimana dia akan mengakhiri hidupnya. Yang pasti hanya satu, semua makhluk hidup akan mengalami kematian.
 
Tapi satu hal yang pasti kekuatan kita hanya didalam Tuhan, sesuai Thema kita pada Minggu ini. Untuk lebih mengingatkan kita akan kekutanan Tuhan dalam hidup kita mari kita angkat Pujian “Kekutan dihidupku”
KEKUATAN DI HIDUPKU, KU DAPAT DALAM YESUS
DIA TAK PERNAH TINGGALKANKU, SETIA MENOPANGKU
BERSERU, BERHARAP DALAM YESUS
REFF:
AJAIB KAU TUHAN, PENUH KUASA
SANGGUP PULIHKAN KEADAANKU
DALAM TANGAN-MU, S'LURUH HIDUPKU
TAK AKAN GOYAH SELAMANYA
2. Melalui pemberitaan Firman pada Minggu ini, kita akan dikuatkan melalui Surat Rasul Paulus kepada jemaat Kolose yang menekankan tentang Doa serta Pemahaman yang benar tentang keutamaan Kristus.
 Kolose sebuah kota kecil yang tidak begitu penting di lembah sungai Likus. Kolose terletak kira-kira 169 km sebelah timur Efesus, bersama dua kota lain, Laodikia dan Hierapolis. Dalam ketiga kota tersebut telah terbentuk Jemaat-jemaat Kristen,
Aliran Gnostis-isme[1]


[1]Gnostisisme (bahasa Yunani: = pengetahuan) merujuk pada bermacam-macam gerakan keagamaan yang beraliransinkretisme pada zaman dahulu kala. Gerakan ini mencampurkan pelbagai ajaran agama, yang biasanya pada intinya mengajarkan bahwa manusia pada dasarnya adalahjiwa yang terperangkap di dalam alam semesta yang diciptakan oleh tuhan yang tidak sempurna. Secara umum dapat dikatakan Gnostisisme adalahagama dualistik, yang dipengaruhi dan memengaruhifilosofi Yunani,Yudaisme, danKekristenan.

, , Ajaran sesat “ Filsafat yang hampa dan palsu menurut ajaran turun temurun dan roh-roh dunia,(2,8)
 Doa –doa Paulus merupakan bahan pelajaran yang sangat berharga, kita melihat dalam bagian akhir pasal 1, Paulus bukan hanya menceritakan keinginan Paulus terhadap jemaat Kolose saja namun memberikan suatu gambaran yang bernilai bagi hidup doa orang yang beriman,”........apabila tiap-tiap orang kami nasehati, dan tiap-tiap orang kami ajari dalam segala khikmat, untuk memimpin tiap-tiap orang kepada kesempurnaan dalam Kristus”(1:28).
 
 Paulus tidak pernah jemu menekankan kemantapan doa terhadap mereka yang terikat pada tanggungannya. Kita melihat ada 3 Permohonannya:
Permohonan Pertama: Untuk segala Khikmat dan pengertian yang benar,(1:9) Hikmat itu terpusat kepada kehendak Allah dan demikian ada perbedaannya dengan khikmat-khikmat lain, terutama dengan macam khikmat yang dibualkan oleh guru-guru palsu.(Lihat 2:8)
Permohonan Kedua: dipusatkan pada hasil atau perwujudan praktis dari pengetahuan tentang kehendak Allah(1:9). Hidup yang layak dihadapanNya, cita-cita kehidupan Kristen.
Permohonan ketiga: Mengenai kekuatan Rohani. Permohonan semacam sekaligus meminta perhatian kepada ketidak-mampuan manusia untuk melakukan pekerjaan baik atau memperoleh pengetahuan yang benar dengan kekuatan sendiri.Dikuatkan dengan segala kekuatan , maknanya cukup luas dan semakin berlipat ganda lagi jika dikaitkan lagi dengan kata selanjutnya yakni: Oleh kuasa kemulianNya.(1:11).
 
3. Setelah menekankan pentingnyaakan Doa, Paulus beralih kepada keutamaanKristus yang juga “digugat” oleh kaum Gnostik. Kami melihat tiga keutamaan Kristus berdasarkan ayat 15 – 20:
Keutamaan Kristus[1]


[1]Sehubungan dengan “keutamaan Kristus” ini, Scotus mengatakan sebagai berikut: Allah adalah kasih, tak terhingga, kekal-abadi, kasih yang tak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Dalam diri Allah ditemukan segalanya yang diartikan dengan kasih, semua keberadaannya dan semua kegiatannya. Dengan demikian Allah pertama-tama mengasihi diri-Nya sendiri, karena obyek primer dan formal dari kehendak ilahi adalah Allah sendiri; dan Dia mengasihi diri-Nya sendiri dengan cara yang tak terhingga (tanpa batas) sebagai kebaikan yang tertinggi dan bersukacita secara tak terhingga pula dalam memiliki kebaikan itu. 

Namun kasih tidak dapat berhenti atau berdiam diri; kasih cenderung untuk terus-menerus menyebarkan dirinya, untuk mengekspresikan dirinya dalam diri pihak-pihak lain, untuk memberikan dirinya kepada pihak-pihak lain. Oleh karena itu, dari segala keabadian, Allah Yang Mahakuasa menghendaki agar ada pihak lain di luar diri-Nya yang akan menjadi manifestasi keluar dari kasih-Nya sendiri dan yang akan mengasihi-Nya sebagai balasan. Dengan demikian dalam rencana ciptaan-Nya yang bersifat kekal-abadi, Allah pertama-tama menghendaki bahwa ada seorang pribadi, dalam diri siapa Dia dapat memanifestasikan kasih-Nya secara sempurna dan pribadi itu dapat dan akan mengasihi-Nya karena Dia pantas untuk dikasihi dengan cara sesempurna mungkin. Pribadi itu adalah Putera-Nya yang tunggal, yang menjadi manusia, yang sebagai seorang manusia dapat mengasihi Dia sebagai seseorang yang di luar diri-Nya, dan sebagai Allah dapat mengasihi-Nya secara tanpa batas. 

, sebagai gambar Allah,keutamaan Kritus sebagai pencipta, dan keutamaan Kristus sebagaiPendamai.
 
4. Berdasarkan Pembahasan ini kita banding dengan Invocatio dan Pembacaan kami simpulkan bahwa Tuhan kita sungguh ber-inisiatif terhadap ciptaannya dan juga terhadap pemeliharan umatNya. Invocatio : “karena Kasih Karunia Allah” , didalam Bacaan Mazmur 46: “ Allah ada didalamnya”, “Allah akan menolong”, “Allah senantiasa menyertai kita”, “Tuhan kota Bentang”. Dalam bagian Khotbah ada 15 kali kata “Ia” dan kata “Dia”. Itulah keutamaan Kristus, Allah yang berinisitif, Allah berkasih Karunia, Allah sebagai Penolong, Dialah kekuatan kita atas segala persoalan yang kita hadapi.
 
Pdt. Iswan G. Manik
Runggun Pondok Gede
 

Khotbah Kolose 3:18-25, Minggu 13 November 2016

Renungan

 

 

Invocatio :
Kenca bage nina ka Tuhan Dibata la Mehuli adi manusia
nggeluh sisada-sisada. Kubahanlah teman sicocok man bana, guna nampatisa (Kejadian 2:18)
 
Ogen :
Kidung Agung, 2:1-17 (Antiphonal)

Thema :
Keluarga siSempabu” / Keluarga Harmonis.
 
 
 
PEMBUKAAN.
Minggu ini adalah minggu keluarga yang memberikan kesempatan kepada kita untuk menghayati kembali mengenai makna / arti, panggilan dan tujuan kita sebagai keluarga Kristen. Keluarga adalah organisasi tertua yang ada di dunia ini yang terdiri dari Suami, Istri, Anak dan Allah lah yang berinisiatif untuk membentuk keluarga tersebut. Allah memiliki tujuan dalam membentuk keluarga tentu saja untuk mendatangkan sukacita damai sejahtera kepada manusia itu sendiri dan keluarga menjadi “alat” untuk melaksanakan perintah Allah di dunia ini. Oleh karenanya setiap keluarga harus menyadari bukan hanya hidup untuk dirinya sendiri namun yang utama adalah memuliakan Allah.
 
Saudara-saudari yang terkasih di dalamKristus
Invocatio Kej.2:18, menyatakan bahwa Allah-lah inisiator penciptaan keluarga, “tidakbaik”… kalau manusia itu (Adam = manusia laki-laki) hidup sendiri saja kemudian Allah menciptakan perempuan (Hawa /Adamah = manusia perempuan) menjadi pendamping laki-laki itu, adam sangat bersukacita menyambut kehadiran Hawa dan mereka hidup dengan penuh sukacita/harmonis sebagai keluarga di taman eden. Coba kita bayangkan bagaimana kalau tidak ada pendamping di dalam kehidupan kita saat ini, tentu hidup ini akan hampa, oleh karenanya kita harus bersyukur atas rancangan Allah yang luar biasa di dalam kehidupan kita.
 
Saudara-saudari yang terkasih di dalam Kristus.
Kitab Kidung Agung 2:1-17; menggambarkan sepasang kekasih/suami dan istri/mempelai laki-laki dan mempelai perempuan yang sedang bersukacita saling mengungkapkan cinta satu dengan yang lain dengan penuh kebahagiaan, mempelai pria memuji-muji mempelai wanita dan sebaliknya. Mereka saling meng-ekspresikan kerinduan, pujian dan harapan satu dengan yang lain. Hal ini muncul karena ada rasa saling mencintai dan mengasihi di dalam hati mereka dan ini adalah merupakan anugerah dari Allah sang pencipta. Mungkin saja atau pasti kita yang telah berkeluarga pernah merasakan hal ini ketika kita sedang berpacaran dan memasuki pernikahan dan membentuk suatu keluarga. Hal ini juga menjadi satu perenungan kepada keluarga Kristen saat ini, apakah hubungan antara suami dan istri tetap harmonis, seperti mula-mula kita membentuk suatu keluarga, atau sebaliknya semangkin lama semakin “dingin”. Ada sebuah ilustrasi tentang dua orang yang menanam bunga di dalam pot bunga. Mereka sama-sama menanam bunga didalam pot yang berisi tanah yang baik. Bunga itu tumbuh dengan suburnya dan sangat indah, Namun setelah beberapa lama bunga yang satu tidak di rawat, tidak diberikan pupuk serta disirami air, sehingga semakin lama semakin kering dan mati, sementara buga yang lain dirawat dengan baik, di siram, di pangkas, di pupuk dan hasilnya bunga tersebut tetap segar dan indah.
 
Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus,
Kitab Kolose 3:18-25, menyatakan perintah yang harus dilakukan oleh setiap anggota keluarga, Suami, Istri dan Anak-anak, bahkan budak-budak, menjalankan peran mereka dengan baik sehingga terjadi relasi dan komunikasi yang baik hal ini akan menimbulkan keharmonisan di tengah-tengah keluarga. Ay.18, Istri harus tunduk kepada suaminya, walaupun mungkin saja jabatan atau penghasilan istri lebih tinggi dari suami karena suami adalah pemimpin keluarga, ay.19. suami sebagai pemimpin harus mendasari kepemimpinannya dengan kasih dan kelemah lembutan. Ay.20-21. anak-anak juga harus patuh kepada orangtua karena orangtua adalah teladan keluarga, orang tua juga harus mendidik anak dengan kasih dan sabar ay.22. budak juga harus melakukan tugasnya dengan baik. Rasul Paulus mengingatkan bahwa pekerjaan yang kita lakukan itu bukan berorientasi kepada objek pekerjaan saya tetapi kita melakukannya dengan prinsip pelayanan kepada Allah dan Allah lah yang memberi upah kepada umat yang setia serta hukuman kepada orang yang melakukan dosa, karena semua sama dihadapan Allah.

Refleksi
1. Kita sungguh bersyukur atas rancangan Tuhan yang telah membentuk keluarga kepada kita, kita harus merajawat/menjaga dan memelihara agar keluarga tetap dapat melakukan tugasnya sesuai dengan rancangan Allah.

2. Keluarga bahagia adalah keluarga yang setiap anggota keluarganya, baik suami istri, orang tua dan anak-anak hidup dalam ketaatan kepada Firman Tuhan dan mempersilahkan Tuhan hadir dalam keluarganya.

3. Banyak ancaman dan tantangan, perselisihan yang akan muncul dalam perjalanan hidup keluarga, hal ini adalah proses alamiah. Keluarga yang sempabu/harmonis juga pernah mengalaminya, saling pengertian dan saling mengasihi menjadi kekuatan untuk menjaga keharmonisan keluarga. Tetapi ke-egoisan anggota keluarga dapat merusak keutuhan keluarga, keharmonisan keluarga.

Pdt. Togu P. Munthe
Rg. Cililitan
 

Khotbah I Tesalonika 5:23-24, Minggu tanggal 06 November 2016

Renungan

Invocatio :
Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh 
Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, -bahwa kamu bukan milik kamu sendiri? Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu! (1 Korintus 6: 19-20)

Ogen :
Yesaya 38: 1-20

Tema :
Tubuhmu adalah Bait Roh Kudus”
 
 
Penjelasan Teks Alkitab
Bahan khotbah kita merupakan penutup dari surat Rasul Paulus kepada jemaat di Tesalonika, yang adalah surat tertua Rasul Paulus. Dalam surat ini Paulus juga mengingatkan jemaat di Tesalonika bahwa Allah menghendaki mereka hidup dalam kekudusan, yaitu dengan menjauhi percabulan, hidup dengan satu istri saja dalam pengudusan dan penghormatan bukan dalam keinginan hawa nafsu (1 Tes 4: 1-5). Jemaat dihimbau untuk menjauhkan diri dari segala jenis kejahatan (1 Tes 5: 22). Sampai kedatangan Yesus Kristus, jemaat harus mampu menjaga hidupnya sesuai hidup kudus yang dikehendaki Allah ini. Bukan hal yang mudah untuk dilakukan, manusia memiliki keterbatasan. Karena itulah Allah damai sejahtera, Allah sendiri, yang akan menguduskan secara menyeluruh: roh, jiwa, tubuh, agar terpelihara dengan sempurna sampai Yesus Kristus datang. Allah tetap setia dan pasti menggenapi janji-Nya. Bukan hanya roh dan jiwa yang dipelihara dengan sempurna, melainkan juga tubuh. Tubuh adalah fana, nanti jika manusia mati tubuhnya akan kembali ke tanah, bukan suatu alasan untuk tidak menghargai tubuh. Dengan tubuhlah manusia melakukan kehendak Allah. Invocatio 1 Kor 6: 19-20 Dengan tubuhlah manusia memuliakan Allah. Manusia telah dibeli dengan harga yang mahal, telah lunas dibayar. Zaman penulisan surat ini masih ada jual beli budak (manusia) jadi analogi ini relevan bagi pembaca zaman itu. seorang yang telah dibeli menjadi milik tuannya. Tugasnya adalah melakukan apapun yang membuat tuannya senang. Memuliakan Allah dengan tubuh adalah satu permintaan Tuhan yang telah menebus/membayar lunas manusia.
 
Pernyataan tubuh adalah Bait Roh Kudus adalah sebuah statement penting bagi kita manusia. Zaman Perjanjian Lama, umat boleh memasuki bait Allah untuk berjumpa dengan Allah disana. Bait Allah diimani sebagai tempat Allah tinggal, yakni di ruang maha kudus. Sebuah ruang yang hanya boleh dimasuki oleh imam tertentu. Bait Allah adalah tempat yang sakral. Jika dikatakan tubuh kita adalah bait Roh berarti Roh Allah diam di dalam diri kita. Adalah satu tanggung jawab yang besar untuk menjaga tubuh ini menjadi tempat yang benar-benar kudus. Kita bertanggung jawab secara fisik dan secara spiritual akan bait Roh Kudus ini.
 
Raja Hizkia, yang menjadi raja atas kerajaan Yehuda dalam usia 25 tahun, terkena sebuah penyakit parah dan ia hampir mati. Tuhan berkata melalui nabi Yesaya agar Raja Hizkia menyampaikan pesan terakhir kepada keluarganya sebab ia akan mati. Hizkia berdoa dan memohon kepada Tuhan, ia menangis dengan sangat, meminta agar Tuhan mengingat bahwa ia telah hidup dengan setia dan melakukan apa yang baik di mata Tuhan. Tuhan mendengar doa Raja Hizkia, dan Tuhan memperpanjang umurnya 15 tahun lagi. Setelah sembuh dan pulih, Hizkia menggubah sebuah syair yang mengakui kuasa Tuhan atas kehidupannya, rasa syukur yang hanya bisa diucapkan oleh orang yang hidup, yang telah diselamatkan Tuhan (Yes 38: 18-19).
 
Aplikasi
Menjaga tubuh sebagai bait Roh Kudus dapat dilakukan dengan penekanan pada dua hal yakni menjaga kekudusan dan menjaga kesehatan. Menjaga kekudusan: Setiap bagian tubuh ini diciptakan untuk tujuan baik, untuk menolong sesama dan memuliakan Allah. Janganlah kita melakukan hal baik dan hal buruk dengan tubuh yang sama. Misalnya, dengan mulut dan lidah kita bernyanyi memuji Tuhan dan berbicara tentang firman Tuhan, janganlah dengan mulut dan lidah yang sama kita memaki, mengutuk, dan mengucapkan dusta. Dengan tangan kita memainkan musik bagi kemuliaan Tuhan, janganlah dengan tangan yang sama kita melakukan kekerasan dalam rumah tangga. Dengan mata kita membaca Alkitab, janganlah dengan mata yang sama kita jatuh ke dalam dosa perzinahan. Jaga setiap anggota tubuh kita agar tetap melakukan fungsinya untuk tujuan baik. Bait Roh Kudus tidak pantas digunakan untuk melakukan hal-hal yang dibenci Allah.

Dalam Minggu Kesehatan ini, kita diingatkan untuk menjaga kesehatan tubuh. Banyak tips-tips hidup sehat yang sering kita dengar dan baca dari berbagai sumber, tetapi melaksanakannya butuh konsistensi. Ada 4 hal yang perlu diingat untuk menjaga kesehatan:
1. Jaga Pola Makan : makanlah makanan yang sehat dengan porsi yang pas, kurangi gorengan dan santan, hindari makanan cepat saji (fast food), minum air putih 8 gelas sehari, yang lebih penting adalah patuhi larangan dokter jika ada pantangan makanan tertentu karena mengidap penyakit tertentu. Sering kali “tubuh adalah bait Roh Kudus” dijadikan dasar untuk melarang orang merokok. Merokok merusak kesehatan, berarti merusak bait Allah. Tapi orang yang punya penyakit maag dan tetap suka mengonsumsi makanan pedas juga sama, merusak kesehatan, berarti merusak bait Allah. Orang yang punya tekanan darah tinggi atau kolesterol tapi tetap suka makan daging dan santan, juga merusak kesehatan, merusak bait Allah. Janganlah kita merusak tubuh karena selera atau candu terhadap makanan/minuman tertentu. Ada kata bijak berkata: Every time you eat or drink, you are either feeding disease or fighting it.

2. Olahraga Teratur : Pilihlah olahraga yang sesuai dengan kapasitas kita. Kurang olahraga bisa menimbulkan penyakit. Terlalu keras berolahraga juga tidak baik untuk tubuh. Jadi lakukan yang sesuai dengan kemampuan kita, dan usahakan teratur. Olahraga ringan yang bisa dilakukan oleh semua orang adalah berjalan kaki, pagi/sore 30-45 menit.

3. Istirahat Cukup : Tubuh perlu istirahat setelah beraktifitas seharian. Tidurlah pada jam tidur. Jangan memaksa diri terus bekerja pada saat jam istirahat. Metabolisme tubuh akan terganggu jika kita tidak tertidur nyenyak di malam hari.

4. Bijak Memanajemen Emosi : Untuk bisa mengendalikan emosi dalam segala situasi perlu penguasaan diri. Orang yang meledak-ledak dan pemarah mudah terkena penyakit tekanan darah tinggi bahkan stroke. Ketenangan bisa didapatkan dari hubungan yang baik dengan Tuhan. Selalu miliki waktu teduh dan doa pribadi mengawali dan mengakhiri hari untuk merasakan damai dan teduh bersama Tuhan. Jiwa yang tenang adalah sumber energi positif.
 
Kita perlu tubuh yang sehat dan kuat untuk beraktifitas, bekerja dan berusaha. Tapi terlebih kita perlu tubuh yang sehat untuk memuliakan Tuhan. Banyak orang yang rindu untuk datang ke gereja tapi kondisi fisiknya tidak memungkinkan. Belajar dari Raja Hizkia, kesehatan dan kehidupan kita tetap dalam kuasa Tuhan. Mungkin saat ini kita, atau anggota keluarga kita yang sedang mengalami penyakit berat, bisa jadi karena lalai menjaga kesehatan di masa lalu, atau faktor usia, atau penyebab lainnya, berdoalah kepada Tuhan. Saat kita mendoakannya, minta agar ia pun berdoa kepada Tuhan. Tetap berpengharapan agar Tuhan memulihkan kesehatan.
Selamat Hari Minggu Kesehatan.

Pdt. Yohana Br Ginting
Perp. Samarinda
 

Khotbah Yeremia 1;10-19, Minggu 23 Oktober 2016

Renungan

Invocatio :
“Sebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniahkami dibaharui dari hari ke hari” (2 Korintus 4:16)

Bacaan :
Efesus 4:23-31

Tema :
“Membongkar dan memperbaiki perbuatan yang tidak benar”
(Mbungkar ras mpekena perbahanen si la payo”
 
 
Jemaat yang dikasihi Tuhan mungkin kita sudah pernah mendengar “aku bukan yang dulu lagi” (aku lanai si gel-gel e : lagu karo). Lagu ini memberi makna bahwa ada perubahan dalam diri orang tersebut. Dia bukanlah pribadi yang dahulu, dia tidak lagi sama seperti sebelumnya. Berbicara tentang perubahan tentu sebagai orang yang percaya kepada Tuha Yesus, kita harus memiliki perubahan kearah yang lebih baik. Meninggalkan semua perbuatan-perbuatan yang tidak benar dihadapan Tuhan dan masuk kedalam kehidupan baru berdasarkan kebenaran Tuhan. Tentunya Firman Tuhan disampaikan kepada kita agar kita memiliki pembaharuan hidup, yang kita kenal dengan pertobatan. Pertobatan adalah perubahan hidup dari segala kebiasaan-kebiasaan atau karakter yang selama ini tidak benar menjadi pribadi yang hidup dalam kebenaran. Meninggalkan segala perbuatan “yang lama” (hidup lama), mengubahnya menjadi hidup yang baru. Kita harus diubahkan, dibentuk kembali (direformasi) supaya semakin menunjukkan karakter Kristus.

Dalam alkitab kita kenal dengan reformasi yang dilakukan oleh raja Yosia, ketika ia menjadi raja ia memperbaiki sistem kehidupan dan sistem keagamaan bangsa Israel yang menyembah berhala, yang membuat tempat-tempat pemujaan berhala. Raja Yosia mengembalikan keimanan bangsa Israel kepada Tuhan yang disembah bangsa Israel (lih. 2 Raj. 23).

Nats khotbah kita berbicara tentang pemanggilan Yeremia menjadi seorang nabi ditengah-tengah bangsa Israel. Yeremia adalah seorang nabi yang dipanggil Tuhan dalam usia muda. Pemilihan dan pemanggilan Yeremia menjadi nabi Tuhan untuk menyuarakan suara kebenaran. Dan melalui Yeremia Tuhan memberikan kuasa untuk pembaharuan hidup. Dalam ayat 10; adanya kuasa mencabut dan merobohkan, membinasakan dan meruntuhkan untuk membangun dan menanam. Yeremia akan meruntuhkan segala pebuatan-perbuatan dosa dan membangun kembali kehidupan bangsa Israel dengan takut akan Tuhan (memperbaiki sitem keagamaan bangsa Israel). Mengembalikan cara hidup orang Israel sebagai bangsa pilihan. Menjadikannya kembali kudus, mengembalikan identitas bangsa pilihan. Dengan kata lain “merenovasi” atau “me-reformasi” kehidupan bangsa Israel. Segala yang tidak sesuai dengan Firman Tuhan akan dibuang. Yeremia ditetapkan menanamkan dan membangun bangsa-bangsa dengan Firman Tuhan. Apa yang terjadi sehingga harus di runtuhkan? Bangsa Israel hidup dalam penyembahan-penyembahan berhala, mereka sujud menyembah atas buatan tangan mereka sendiri (ayat 16). Bangsa Israel telah murtad kepada Tuhan (bnd. Yer. 2).

Kemudian Tuhan memperlihatkan pengelihatan kepada Yeremia sebuah dahan pohon badam, yang menunjukkan bahwa perintah Tuhan harus segera dilaksanakan. (badam dalam bhs Ibarani : mempercepat). Yeremia harus dengan segera menyuarakan seruan pertobatan bagi banngsa Israel. Menyuarakan akibat dari perbuatan dosa yang dilakukan Israel ketika tidak setia kepada Tuhan. Yeremia juga diberi pengelihatan akan sebuah periuk yang berisi air mendidih yang datangnya dari utara, menandakan adanya penyerangan dari utara oleh bangsna lain, yang akan menghancurkan bangsa itu. Kedua hal ini memperlihatkan bagaimana pentingnya pemanggilan dan pengutusan Yeremia.

Ketika Yeremia menjalankan tugas dan panggilannya, Tuhan memberikan kekuatan kepada Yeremia. Karena Yeremia akan mendapat perlawanan dan akan diperangi ketika memberitakan Firman Tuhan, baik dari bangsa Israel juga dari bangsa-bangsa lain. Kekuatan yang diberi Tuhan kepada Yeremia seperti sebuah kota yang memiliki kubu dan menjadi tembok tembaga yang kuat. Dalam hal ini yang dimaksudkan oleh Tuhan adalah ada kuasa ketika Yeremia akan berbicara. Apa yang diperkatakn oleh Yeremia akan mampu mengubahkan raja- raja Yehuda, imam-imam, pemuka-pemuka dan rakyatnya yang telah melakukan perbuatan-perbuatan tercela dihadapan Tuhan untuk kembali menjadi bangsa yang takut akan Tuhan. Perkataan Yeremia akan menentang segala perbuatan-perbuatan dosa. Seruan Yeremia mempunyai kekuatan untuk mengubahkan. Dan para lawan Yeremia tidak akan pernah mampu mengalahkan Yeremia.
 
Dari khotbah ini beberapa hal yang menjadi aplikasi bagi kita adalah:
• Pembaharuan hidup tentu hal yang paling dasar dalam kehidupan orang yang beriman. Tanpa meninggalkan perbuatan-perbuatan lama (hidup lama) mustahil seseorang akan berakar, tumbuh dan berbuah dalam iman yang baru. Lalu sejauh mana Firman Tuhan yang kita baca dan yang kita dengar telah memperbaharui hidup kita? Apakah Firman Tuhan itu telah membuat kita bertumbuh, apakah kita mengalami perubahan? Terkadang kita terlalu meyalahkan orang lain bahkan pengerja-pengerja gereja dalam pertumbuhan iman kita. Karena pertumbuhan iman bukan soal pribadi siapa pemberita Firman tetapi bagaiman seorang jemaat itu hidup dalam Firman itu sendiri. Yang menjadi masalah, kita tidak pernah hidup dalam Firman itu, Firman itu hanya sebatas bacaan sehingga tidak pernah ada perubahan hidup yang ditunjukkan.

• Pembaharuan itu dimulai dari hati dan pikiran. (Ef.4:23) yang akan membuahkan karakter hidup baru. Dalam bacaan kita dijelaskan perbuatan-perbuatan yang harus kita ubahkan dalam hidup kita: kemarahan yang membuahkan dosa; jangan mencuri : tetapi bekerjalah dengan keras, dan melakukan pekerjaan baik dengan tangan sendiri; jangan lagi memperkatakan perkataan kotor, tetapi perkataan baik yang membangun, jangan memperkataan perkatan yang mendukakan Roh Kudus. Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan pertikaian dan fitnah dan segala kejahatan semuanya harus dibuang dari dan digantikan dengan penuh kasih dan saling mengampuni. Mencabut, membinasakan dan meruntuhkan segala karakter-karakter dan perbuatan yang tidak sesuai kehendak Tuhan dengan membangun dan menanamkan Firman Tuhan.

• Ilustrasi: jika memiliki sebuah laptop atau komputer yang terkena virus maka kita akan memperbaikinya dengan menginstal kembali agar laptop atau komputer itu kembali bersih dari virus-virus yang menghancurkannya. Dan kemudian memasukkan antivirus yang baru agar terlindung dengan baik dan tidak diserang lagi oleh virus tersebut. Demikian juga dengan hidup kita ketika kita hidup dalam karakter yang tidak benar atau perbuatan yang tidak benar tentu kita harus membuangnya, membebaskan diri kita dari pikiran dan perbuatan yang tidak benar. Dengan diisi oleh Firman Tuhan yang akan menjadi benteng pertahanan bagi kita untuk hidup di jalan Tuhan, jalan kebenaran tentunya yang mebuahkan perbuatan-perbuatan yang benar.

• Membongkar dan memperbaiki perbuatan yang tidak benar sebagai tema kita pada minggu ini sebagai peringatan hari reformasi gereja.* Mengingatkan kita bahwa sebagai gereja (pribadi) harus terus diperbaharui menjadi gereja-gereja yang berintegritas (bnd. Invocatio). Integritas akan ada ketika seseorang takut akan Tuhan. Orang yang takut akan Tuhan tidak akan melakukan perbuatan-perbuatan dengan sesuka hatinya, ia tahu bahwa ada batasan perbuatanya. (Bnd. 1 Samuel 2:12-17, anak-anak Imam Eli yang tidak takut akan Tuhan sehingga mereka melakukan perbuatan-perbutan yang jahat, mementingkan kenikmatan-kenikmatan duniawi, mental yang tidak berintegritas dan tidak bermoral).

• Jemaat Tuhan harus terus menerus di perbaharui, terus-menerus mengalami perubahan dan pertobatan (Rom. 12:1-2). Sehingga dalam kehidupan kita bukanlah keinginan kita tetapi Roh Kudus yang mengarahkan kita. Dan kita boleh berkata, hidupku bukanya aku lagi tapi Kristus dalamku. Sama seperti apa yang dilakukan oleh Rasul Paulus. Ia meninggalkan apa yang ia yakini selama ini dan hidup untuk Allah. Apa yang ia yakini selama ini telah ia salibkan bersama Kristus suapaya ia benar-benar menghidupi kehidupannya hanya oleh Kristus yang ada di dalam dia (bnd. Gal. 2:19-20).

• Juga, sebagai umat Tuhan kita semua telah dipanggil dan diutus menjadi hambaNya (bnd. Mat. 5:13-16 : Kamulah garam dan terang dunia), untuk menyuarakan suara kebenaran dan pembaharuan. Memang Tuhan memanggil orang-orang khusus dengan kemampuan khusus. Tetapi pada dasarnya kita semua orang-orang yang percaya kepada Yesus diberi kemampuan seperti Yeremia, untuk hidup dan menyuarakan kebenaran. Tuhanlah yang akan memberi kita kekuatan.

• Mari jemaat yang dikasihi Tuhan, segera dan sekaranglah waktunya unutk meninggalkan segala yang tidak benar, membuang dan membinasakannya dan menggantikannya dengan menanamkan terang kasih Firman Tuhan dalam hidup kita. Selamat berproses dalam perubahan karakter pribadi kita. Tuhan Yesus memberkati. Amin.
 
Bajem GBKP Banjarmasin
Pdt. Noprita Br Kembaren
 
* Reformasi gereja dilakukan oleh beberapa tokoh gereja yang ada di Eropa abab pertengahan . Dan reformasi yang paling besar dilakukan oleh Marthin Luther ( tahun 1517) yang mereformasi pemahaman tentang surat penghapuasn dosa dan beberapa hal yang menurut Martin Luther sudah tidak sesuai lagi dengan kebenaran Firman Tuhan, yang ia suarakan melalui 95 dalil. Dimana ia menemukan peyimpangan-peyimpangan pengajaran tentang Firman Tuhan. Martin Luther ingin mengembalikan kebenaran pengajran Firman Tuhan sesuai dengan Alkitab.
 

Khotbah Roma 15:15-21, Minggu 16 Oktober 2016

Renungan

Invocatio :
Dalam himpunan umat-Mu kuwartakan kabar gembira bahwa 
Engkau telah menyelamatkan kami. Dengan tiada hentinya hal itu
kumaklumkan, Engkau tahu semua itu, ya TUHAN.
 
Bacaan :
Mazmur 34:1-15
 
Tema :
TETAP LAH SAMPAIKAN
 
 
I. KATA PENGANTAR
• Perjalanan Napak Tilas yang dilakukan oleh Moderamen GBKP terhadap Pendeta-pendeta adalah merupakan sebuah perjalanan yang mengingatkan para Pendeta yang ikut dalam napak tilas tersebut betapa sulitnya pelayanan dalam menyampaikan kabar Injil ke Tanah Karo yang dilakukan oleh Pendeta-pendeta dari utusan NZG. Dimana dalam perjalanan tersebut di mulai dari Kuta Jurung, Rambe, Periaria, Buluh Gading, Laza, Sala Bulan, Rumah nangkong, Buluh Awar, Tanjung Beringin. Dalam setiap perjalanan Pendeta-pendeta diingatkan akan perjuangan Zending dalam mengabarkan berita Injil. Bahkan ada diantara mereka yang harus melihat kematian Istri dan anaknya sewaktu melahirkan (Pendeta Tampenawas), ada yang harus meninggalkan istrinya sendirian di Buluh Awar karena Pendeta tersebut meninggal dunia waktu pelayanannya di Buluh Awar (Pdt. J. Wijngaarden), dsb. Jika kita mengingat kembali akan perjuangan mereka tentunya sangat memotivasi kita semua Pelayan-pelayan Tuhan masa kini untuk setia dalam pelayanan kita.

• Para Zending sesungguhnya dapat tinggal di negerinya tanpa harus melewati kesulitan itu semua, akan tetapi mereka memutuskan untuk menerima pelayanan tersebut dengan suka cita meskipun banyak tantangan yang harus mereka hadapi. Bahkan beberapa lagu KEE GBKP tercipta dari pergumulan yang dihadapi oleh para Pendeta Zending yang melayani ke Buluh Awar seperti KEE No. 69, “KATAKEN MAN YESUS”, Ini diciptakan oleh Pdt. J. Wijngaarden yang waktu itu menderita sakit perut. Ketika dibawa ke rumah sakit dia berkata kepada istrinya bahwa dia akan meninggal, karena istrinya bersedih akhirnya dia berkata bahwa dia akan menciptakan sebuah lagu untuk menghibur istrinya dan berkata kepada istrinya agar istrinya tetap bertahan untuk melayani di Buluh Awar. Masih banyak cerita yang menhgharukan lainnya yang dihadapi oleh para penginjil waktu itu. Kesulitan demi kesulitan mereka hadapi dan lewati hingga akhirnya para pelayan Tuhan baik Pendeta maupun Pertua Diaken dan semua jemaat dapat meneruskan pelayanan mereka untuk mengabarkan berita suka cita yakni berita Injil. Oleh sebab itu melalui firman Tuhan saat ini kita diajak untuk Tetap menyampaikan berita Injil..

II. PEMBAHASAN TEKS
• Dari Yerusalem sampai ke Ilirikum, Injil Kristus (19) telah diberitakan oleh Rasul Paulus. Pemberitaan ini merupakan hasil pemahaman Paulus akan statusnya sebagai rasul bahwa Tuhan memberinya kasih karunia untuk menjadi pelayan Kristus bagi bangsa-bangsa bukan Yahudi. Ia mengemban tugas imam dalam mewartakan Injil Allah supaya bangsa-bangsa bukan Yahudi diterima oleh Allah sebagai persembahan yang berkenan kepada-Nya, serta yang disucikan oleh Roh Kudus (15-16). Itu sebabnya Paulus tidak melakukan penginjilan ke Roma, karena sudah ada Petrus di sana.

• Paulus tidak mau membangun di atas dasar yang telah didirikan oleh orang lain (20). Ini bukan karena menghindari persaingan, melainkan agar daerah-daerah lain yang belum tersentuh oleh Injil dapat dijangkau juga. Paulus memang fokus pada panggilan untuk menjangkau bangsa-bangsa bukan Yahudi. Kesadaran akan panggilan itulah yang membuat Paulus memusatkan pikiran, usaha, dan kekuatannya untuk memenuhi panggilan yang telah dia terima.

• Paulus memang tidak mempunyai andil secara langsung dalam mendirikan jemaat di Roma. Namun sebagai rasul Kristus (1:1; 15:16), ia memiliki otoritas untuk mengajar dan menasihati mereka. Sama seperti jemaat lainnya, jemaat Roma, juga mempunyai masalah yang sangat serius, yaitu hubungan antara orang-orang Kristen Yahudi dengan orang-orang Kristen nonYahudi di dalam jemaat. Justru Paulus menyatakan bahwa ia mengemban tugas sebagai pelayan atau rasul Kristus bagi bangsa-bangsa lain. Tugasnya memberitakan Injil (16,19) dan memimpin bangsa-bangsa lain kepada Kristus (18). Kerasulan Paulus diteguhkan dengan tanda-tanda (19; bnd. 2Kor. 12:12) yang menunjukkan bahwa Kristus sendirilah sesungguhnya yang mengerjakan itu semua melalui dirinya. Paulus berbesar hati atas panggilan kerasulannya karena ia dikaruniai kehormatan memberitakan Injil di tempat-tempat yang belum mendengar Injil (Rm. 15:20-21). Dengan menegaskan kerasulan-Nya, Paulus menyatakan kerinduannya bersekutu dengan mereka, sehingga mereka boleh mendukung rencana pelayanannya ke Spanyol (24).

• Teladan Paulus yang patut kita ikuti adalah hak dan kewajiban tidak dicampuradukkan. Ia berhak didengar, namun ia tidak memaksa. Ia berkewajiban menginjili orang nonYahudi, ia melibatkan jemaat Roma untuk mendukung pelayanan mulia ini. Tanpa segan atau ragu Paulus memuji kelebihan dan keistimewaan Jemaat Roma. Mereka penuh dengan segala kebaikan, memiliki banyak pengetahuan dan karunia saling menasihati (ayat1). Pujian rasul ini tentu sangat menyukakan hati jemaat.

• Paulus tanpa segan mengingatkan orang Roma tentang panggilannya sebagai rasul bagi orang non-Yahudi. Sebagian orang Kristen Yahudi meremehkan orang non-Yahudi, tetapi Paulus malah bangga boleh dipanggil menjadi rasul bagi mereka yang bukan Yahudi. Dengan girang ia menyaksikan perbuatan Tuhan yang sangat memberkati pelayanannya (ayat 17-19), disertai kuasa dan tanda mukjijat. Pelayanan dalam panggilan dan penyertaan Tuhan memang tidak akan membuat kita kecewa atau menyesal. Sebagai Kristen pelayan Injil, hidup kita tidak luput dari tantangan atau salib. Panggilan yang jelas dan penyertaan Tuhan akan membuat kita kuat berjuang dan pada waktunya 'menuai' penuh sukacita.

• Prinsip pelayananan Paulus adalah ia berprinsip melayani Injil di wilayah (bidang) yang belum pernah dijangkau atau dijamah orang lain (ayat 20-21). Paulus rela keluar dari Yerusalem (pusat kehidupan budaya-agama Yahudi) dan melakukan perjalanan misi ke daerah-daerah baru wilayah orang kafir.

• Paulus mau melakukan itu semua karena Paulus sudah merasakan penyertaan Tuhan dalam hidupnya dan bagaimana kehidupannya diubahkan Tuhan setelah dia bertemu dengan Yesus. Sebagaimana yang dijelaskan dalam bacaan kita Mazmur 34:1-15 dimana Mazmur ini mengajak para pembacanya untuk mengalami Tuhan. Alami sendiri kebaikan-Nya (ayat 9) sebagaimana yang telah pemazmur rasakan. Apa yang pemazmur rasakan dan alami? Rupanya mazmur ini lahir dari pengalaman Daud yang dilindungi Tuhan saat melarikan diri dari Saul, yang hendak membunuh dirinya (ayat 1; lih. 1 Samuel 18-27). Sebagai seorang buronan, berulang kali Daud mengalami kesesakan, penindasan, dan merasa terjepit. Namun setiap kali ia menjerit kepada Tuhan, Tuhan menolong tepat pada waktunya (ayat 7). Perlindungan Tuhan dirasakan bagai dijaga oleh pasukan malaikat yang mengelilingi dia (ayat 8). Bagaikan satpam atau pengawal khusus yang dua puluh empat jam sehari menjaga penuh. Pemazmur mengajak para pembacanya merespons Tuhan agar pengalaman hidup mereka diperkaya, mazmur mengajak pembacanya agar mau memandang Tuhan sehingga hidup mereka akan penuh kesukacitaan (ayat 7). Pemazmur juga mengajak pembacanya agar takutlah akan Tuhan, maka Dia akan mencukupkan segala kebutuhan kita (ayat 10-11).
 
III. APLIKASI
• Sebagaimana yang dijelaskan di kata pengantar, bagaimana para Zending mau meninggalkan zona amannya di negerinya sendiri dan pergi ke Tanah Karo yang penuh dengan tantangan bahkan sampai meninggal duni atau melihat istri dan anak meninggal dunia. Demikianlah dalam khotbah kita minggu ini, kita diajak untuk tidak diam di zona aman kita tapi keluar untuk memberitakan kabar keselamatan bagi semua orang.

• Mungkin saja dalam kehidupan kita dipenuhi oleh berkat-berkat Tuhan yang melimpah, kita memiliki jabatan yang tinggi, kita tidak memiliki persoalan yang berat seperti yang dihadapi orang lain, tapi apakah kita pernah terpikir untuk keluar dari zona aman kita untuk memberitakan kasih Tuhan yang sudah kita rasakan dalam hidup kita supaya dapat dirasakan oleh orang lain?

• Sebagai orang beriman kita dituntut untuk mau keluar dari zona aman kita memberitakan kabar keselamatan bagi setiap orang baik dari perkataan kita maupun perbuatan kita. Mungkin banyak tantangan yang harus kita lewati tapi yakinkan satu hal bahwa Tuhan tidak akan pernah diam dalam setiap pergumulan kita tetapi Tuhan akan bekerja ketika kita berseru kepadaNya. Mengalami Tuhan bisa terjadi dalam kehidupan sehari-hari, tak usah menunggu saat tekanan hidup tak tertahankan lagi. Alami Tuhan dengan melibatkan Dia dalam segala aspek hidup kita. Dekatkan diri pada-Nya dengan sikap yang terbuka agar Dia dengan bebas menyapa dan menjamah hidup kita. Saat kita mengalami kehadiran atau pertolongan-Nya, naikkan syukur bersama-sama umat Tuhan lainnya. Mahsyurkan nama-Nya di hadapan orang lain. Jangan pernah berhenti mewartakan kabar suka cita kepada setiap orang tapi berusahalah senntiasa untuk dapat mewartakan kabar suka cita (Injil) kepada setiap orang. Seperti yang dikatakan dalam Invocatio “ Dalam himpunan umat-Mu kuwartakan kabar gembira bahwa Engkau telah menyelamatkan kami. Dengan tiada hentinya hal itu kumaklumkan, Engkau tahu semua itu, ya TUHAN. Amin
 
Pdt. Jaya Abadi Tarigan
Rg. Bandung Pusat
 

Page 1 of 57

BP-KLASIS-XXX

"SELAMAT DATANG mengunjungi Web GBKP KLASIS JAKARTA-BANDUNG"

Renungan

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
  • 6
  • 7
  • 8
  • 9
  • 10
  • 11
  • 12
  • 13
  • 14
  • 15

Pengunjung Online

We have 32 guests online