Khotbah 1 Raja-Raja 8:22-23;41-43, Minggu 29 Mei 2016

Renungan

Invocatio :
Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa muridKu dan 
babtislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman”. (Matius.28:19-20).

Bacaan :
Lukas. 7:1-10 (Tunggal).

Khotbah :
1 Raja-raja. 8:22-23 ; 41-43. (Tunggal).

Tema :
“Itandai dingen iikutken bangsa doni enda Kam”/ “Semua
Suku Bangsa akan Mengenal dan mengikut Engkau”.
 
Pendahuluan.
Setiap manusia pasti memiliki tujuan di dalam kehidupan mereka, tujuan hidup inilah yang memotivasi mereka untuk bekerja keras agar apa yang mereka harapkan dapat menjadi kenyataan. Kalau tidak bekerja dan berjuang dengan sungguh, maka tujuan hidup itu akan menjadi angan-angan atau hayalan belaka.
 
Sebagai umat Allah, kita juga pasti memiliki cita-cita/harapan didalam kehidupan ini, selain kaita harus bekerja keras mencapainya tentu tetapi kita juga harus menyadari bahwa ada tugas dan tanggungjawab yang harus kita utamakan sebagai umat Allah, yaitu menjadi saksi Kristus di dunia ini, sesuai dengan Amanat Agung Tuhan Yesus Kristus.
 
Saudara-saudari yang terkasih, kitab Lukas yang menjadi bacaan minggu ini menyaksikan tentang perkerjaan Yesus kristus sebagai Mesias yang melakukan perkara-perkara besar sehingga orang banyak takjub serta datang kepadaNya untuk mendapatkan kesembuhan. Ada seorang perwira Romawi yang memiliki jabatan yang cukup tinggi dan pengaruh besar yang memiliki seorang hamba yang sakit keras, dia sudah berupaya agar hambanya dapat disembuhkan, namun upaya tersebut tidak berhasil. Dia mendengar tentang Yesus yang memiliki kuasa penyembuhan, sehingga dia sangat yakin Yesus dapat menyembuhkan hambanya sehingga ia memohon dengan iman agar Yesus berkenan untuk menyembuhkan hambanya itu. Yesus melihat keyakinan/iman yang luar biasa dari seorang perwira Romawi dan memuji imannya dan menyembuhkan hambanya itu. Kita dapat melihat bahwa penyembuhan yang dilakukan Yesus adalah karena iman perwira itu.
 
Saudara-saudari yang terkasih. Bangsa Israel yang dipimpin Raja Salomo adalah bangsa yang sangat termasyur diantara bangsa-bangsa yang ada di muka bumi ini. Salomo terkenal dengan hikmad dan kebijaksanaannya dan keberaniannya sehingga semua bangsa sangat takjub dan ingin sekali untuk datang ke Israel untuk bertemu dengan Raja Salomo. Kebudayaan yang berkembang saat itu adalah bahwa kebesaran dan kemenangan atas suatu bangsa adalah bukti bahwa Allah yang mereka sembah adalah Allah yang perkasa. Di dalam kitab 1 Raja-raja 10:1-13, dituliskan tentang kedatangan seorang ratu dari negeri Syeba mengunjungi Kerajaan Salomo dan segala kebesarannya. Ketika bertemu dengan raja Salomo dia sangat takjub dan memuji salomo serta Allah yang disembah oleh Bangsa Israel dan raja Salomo.
 
Di dalam bahan Khotbah minggu ini, kita membaca bahwa Raja Salomo berdoa Kepada Allah, Salomo memuliakan Allah yang Maha Kuasa atas langit dan bumi dan sebagai sumber dari segala Kebijaksanaan dan yang memberikan kemakmuran kepada bangsa Israel. Raja Salomo juga yakin bahwa Allah akan memberkati setiap bangsa-bangsa / orang asing yang datang menyembahNya. Hal ini adalah harapan Allah kepada bangsa Israel sebagai bangsa pilihan yang dikhususkan untuk menjadi berkat bagi seluruh suku bangsa di muka bumi ini. Melalui bangsa Israel bangsa-bangsa asing akan diselamatkan.
 
Kesimpulan dan Refleksi.
1. Yesus Kristus datang ke dunia menjadi Juruselamat Universal, Kita juga harus menyatakannya kepada dunia ini. Kitab Lukas menyaksikan bahwa Yesus Kristus adalah Mesias yang diutus untuk menyelamatkan seluruh umat manusia, bukan hanya sekelompok orang/suku tertentu. Dia menunjukkan kasihNya kepada seorang Perwira Romawi yang memiliki seorang hamba yang sakit keras. Melalui kesembuhan hambanya itu, tentu perwira Romawi akan beriman dan menerima Yesus sebagai Mesias. Kita sebagai umat Kristus, harus menyaksikan Injil kepada dunia ini, sehingga mereka beriman kepada Yesus Kristus.
 
2. Raja Salomo sebagai pemimpin bangsa yang besar, yang dianugerahi Kebijaksanaan, kekayaan dan Umur yang panjang, mengakui kebesaran Allah. Sering kali seseorang yang dianugerahi kekuasaan, kekayaan dan kemuliaan menjadi orang yang lupa diri, lupa bahwa Sumber dari semua itu adalah berkat dari Allah. Sebagai umat Allah kita harus selalu bersyukur kepada Allah dan tetap menyaksikan bahwa segala berkat itu bersumber dari Allah, sehingga menjadi kesaksian bagi semua orang agar mereka juga menyembah dan memuliakan Allah.
 
3. Tugas Gereja Adalah Memperkenalkan kasih Allah didunia ini. Thema khotbah minggu ini, mengingatkan kita tentang eksistensi gereja di dunia ini, gereja hadir untuk menyaksikan Kasih dan kuasa Allah di dunia ini. Kehidupan warga gereja menjadi cerminan dari kehidupan Yesus Kristus yang mengasihi semua orang tanpa memandang suku bangsa. Mari kita mengevaluasi kehidupan bergereja kita apakah kita hadir untuk diri kita sendiri atau kehadiran kita sudah menjadi berkat buat lingkungan kita. Marilah menjadi berkat sehingga dunia ini akan mengenal dan menyembah Allah.
 
Pdt. Togu P. Munthe
Rg. Cililitan
 

Khotbah Yohanes 16:12-15, Minggu 22 Mei 2016

Renungan

Invocatio :
Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi. Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air. (Kej 1: 1-2)
 
Ogen :
Mazmur 8: 1-10 (Responsoria)
 
Khotbah :
Yohanes 16: 12-15 (Tunggal)
 
Tema :
ALLAH TRITUNGGAL
 
‘Pekerjaan Penghibur’, demikian judul perikop yang diberi oleh LAI. Minggu lalu kita merayakan Pentakosta, hari turunnya Roh Kudus, Roh Penolong dan Penghibur. Roh ini telah ada dan terus berkarya di dunia. Yoh 16: 8-9a menyatakan “Kalau Ia datang, Ia akan menyatakan kepada dunia arti sebenarnya dari dosa, dari apa yang benar, dan dari hukuman Allah. Ia akan menyatakan bahwa tidak percaya kepada-Ku adalah dosa..”(terjemahan BIS). Roh Kudus memberi pemahaman yang terang benderang dari apa yang dipahami secara abu-abu oleh dunia ini.

Yohanes 16:12 memberi gambaran bagaimana penilaian Yesus terhadap kesiapan diri murid-murid pada saat itu. IA melihat murid-murid belum sepenuhnya siap (belum dapat menanggungnya) menerima seluruh kebenaran. Prosesnya masih akan berlanjut sekalipun Tuhan Yesus tidak lagi ada di dunia secara jasmani. Disitulah peranan Roh Kudus, memampukan para murid memahami dan melakukan.

Ayat 13-15 menjelaskan murid-murid Yesus akan mengerti dan memahami segala sesuatunya dengan pertolongan Roh Kudus. Roh Kudus menyampaikan kebenaran, kesaksianNya berasal dari Bapa dan Anak. Segala sesuatu yang Bapa punya, adalah Aku (Yesus) punya. Ia (Roh Kudus) akan memuliakan Aku (Yesus) sebab Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterimaNya dari pada-Ku (Yesus). Artinya Bapa, Anak, dan Roh ada dalam misi yang sama karena Ketiganya adalah Esa. Allah Tritunggal bersaksi dan bekerja secara bersama-sama dalam sebuah harmoni.
 
Istilah ‘Allah Tritunggal’ adalah hasil pergumulan dan diskusi para bapa gereja kita. Hingga saat ini pun diskusi mengenai Allah Tritunggal masih berlanjut. Untuk memberi pemahaman kepada umat para teolog cenderung menjelaskan Allah Tritunggal dengan memaparkan peranan dari Allah Bapa, Allah Anak, dan Allah Roh Kudus. Secara umum penjelasannya seperti ini: Allah Bapa adalah pencipta dan pemelihara hidup kita. Allah Anak yaitu Yesus Kristus adalah teladan dan Juruselamat kita. Allah Roh Kudus adalah yang menolong, menghibur dan menguatkan kita. Kronologi waktunya menjadi jelas dan terbagi: Allah Bapa ada dan berkarya di sepanjang kehidupan umat yang dikisahkan di Perjanjian Lama. Yesus Kristus dinubuatkan oleh para nabi PL kemudian lahir, berkarya, mati, dibangkitkan dan naik ke surga pada zaman Perjanjian Baru dan dikisahkan oleh keempat Injil (Matius, Markus, Lukas, Yohanes). Roh Kudus diturunkan ke atas murid-murid dan orang percaya setelah 10 hari Yesus Kristus naik ke surga. Ini yang dipahami oleh sebagian besar orang Kristen. Tetapi ada kelemahan jika kita memahaminya sebatas itu. Pertama, Allah Tritunggal seolah-olah berperan dan berkarya dengan bergantian/bergiliran (istilahnya pakai shift), ada pembagian waktunya. Kedua, Allah Tritunggal seolah ada pembagian tugasnya. Padahal Allah Tritunggal tidak terpisahkan antara satu dengan lainnya. Saat Allah menciptakan langit dan bumi, bukan berarti Yesus dan Roh Kudus off. Invocatio Kejadian 1:2 memberi kita gambaran bahwa Roh Allah (dalam Alkitab sering bergantian istilah Roh Kudus, Roh Tuhan, Roh Allah) melayang-layang di atas permukaan air. Allah hadir dalam diri Roh. Jadi Roh Kudus bukanlah ‘lahir’ atau ‘ada’ saat kita memperingati Pentakosta minggu yang lalu, IA sudah ada sebelum dunia dibentuk. Sama halnya dengan Yesus Kristus. Injil Yohanes menulis Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah.(Yoh 1: 1-2). Firman (Yun: logos) yang menjadi daging adalah Yesus Kristus. Yesus adalah Anak-Nya yang Tunggal (bukan anak secara biologis) yang sudah ada sejak kekal. Yohanes Pembaptis dengan imannya mengakui “kemudian dari padaku akan datang Dia yang telah mendahului aku, sebab Dia telah ada sebelum aku” (Yoh 15: 1). Jadi, sekalipun kita mencoba memahami Allah Tritunggal dengan peranan-Nya yang signifikan dari masa ke masa, Allah Tritunggal tidak terbatas dengan pembagian waktu dan pembagian tugas. Adalah manusia yang terbatas dalam memahami-Nya, sehingga penjelasan tentang Allah Tritunggal terus dikembangkan dengan tetap mengakui bahwa logika manusia pun terbatas untuk memahami Allah. Karena itu yang perlu kita cari adalah bagaimana kita menyembah Allah yang Tritunggal, bukan mendefinisikanNya. Peranan Allah Tritunggal senantiasa kita alami setiap hari. Misalmnya, formulasi kalimat Votum minggu ini: “Kebaktian Minggu Trinitas ini dimulai dalam nama Allah Bapa, yang penuh kemuliaan, dalam nama Yesus Kristus, Juruselamat manusia, dan dalam nama Roh Kudus yang menyertai dan menolong kehidupan manusia.” Tidak hanya satu, tidak hanya dua, selalu Tritunggal. Jika Allah Tritunggal dipahami tanpa harus dipisah-pisahkan, itu yang kita sebut pengenalan. Kita mengenal Allah setiap hari melalu pengalaman dan hubungan pribadi kita dengan-Nya. Allah Tritunggal bukan tiga oknum yang bersatu, tapi memang SATU.
 
Yoh 16: 12-15 adalah perkataan Yesus memperjelas status Roh Kudus sebagai Roh Kebenaran, yang akan memimpin murid-murid (kita juga adalah murid-murid Yesus) ke dalam seluruh kebenaran dan akan memberitakan kepada kita hal-hal yang akan datang. Kita pun akan memahami karya Allah dalam dunia ini dengan bimbingan dari Roh Kudus. Banyak hal yang tidak kita mengerti di dunia ini, apa rencana Allah bagi dunia yang dirundung bencana, apa rencana Allah bagi GBKP, apa rencana Allah bagi diriku? Semua ini adalah pertanyaan yang kita cari jawabnya sepanjang hidup. Jawabnya tidak ditemukan dengan hitung-hitungan dan logika tetapi dengan iman, Roh Kuduslah yang akan menerangi proses pencarian kita. Juga, Roh Kudus yang akan terus mengajar kita dalam upaya memperlengkapi pemahaman kita mengenai Allah Tritunggal. Bukan untuk menemukan definisi, melainkan menghormati dan memuliakan Ketiganya Yang Esa. Kita memulikan Tuhan sebagaimana dinyatakan pemazmur dalam Mazmur 8:10 ”Ya Tuhan, Tuhan kami, betapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi!”
 
Muliakan Allah Bapa, muliakan Putra-Nya, muliakan Roh Penghibur,
Ketiganya Yang Esa!
Haleluya, puji Dia kini dan selamanya!
(Kidung Jemaat 242:1)
 
Pdt. Yohana Br Ginting
Perp. Samarinda
 

Khotbah II Korintus 3:12-18, Minggu 07 Februari 2016, PASSION I

Renungan

Invocatio    :
Tuhan hidup ! Trpujilah gunung batuku, dan mulialah Allah
Penyelamatku (Mas.18:46)

Bacaan    :
Keluaran 34 : 29 – 35   (Tunggal)

Thema    :
“Cerminkan/ Pancarkan Kemuliaan Tuhan”
Pembincarken Kemulian Dibata

 
Jemat yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus

Minggu ini adalah Minggu Passion I, yang mengingatkan kita tentang kesengsaraan dan penderitaan Tuhan Yesus Kristus untuk menebus kesalahan dan dosa-dosa manusia. Sesungguhnya penyakit kitalah yang ditanggungNya, kesengsaraan kitalah yang dipikulNya. Dia tertikam oleh karena pemberontakan yang kita lakukan, Dia diremukkan oleh kejahatan kita. Ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadaNya. Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus AnakNya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, tapi untuk menyelamatkannya oleh Dia (Yoh.3:16-17). Penderitaan dan pengorbanan Yesus Kristus bagi dunia ini adalah perwujudan kemulian Allah. Sepanjang kehidupan dan pelayanan Yesus di dunia ini walau pun melalui kesengsaraan dan penderitaan sampai kepada kematian, Dia tetap mencerminkan atau memancarkan kemuliaan Allah. Demikian juga tetunya bagi setiap orang percaya tetap setia dan taat dalam iman kepada Yesus Kristus dari setiap situasi yang kita hadapi kini, dan terus berjuang untuk mencerminkan kemuliaan Allah.
 
Firman Tuhan yang menjadi perenungan kita hari ini dalam 2 Korintus 3:12-18, dalam nats ini Rasul Paulus bersaksi tentang diri dan pelayanannya sebagai pelayan perjanjian baru. Dalam hal ini Paulus mengambil pelajaran dari Keluaran 34:30,34-35, Musa menyelubungi mukanya demi umatnya; mereka takut menghampiri dia karena wajahya masih memancarkan kemuliaan ilahi dari perjumpaannya dengan Allah di gunung Sinai. Dengan keberaniannya Paulus tidak seperti Musa, yang tidak dapat berkomunikasi dengan bangsa Israel dengan ketulusan yang serupa. Tapi Paulus dan rekan-rekan sepelayanan bertindak dengan penuh keberanian. Keberanian berarti kemampuan berbicara tentang keterbukaan, kejujuran, ketulusan yang mutlak. Musa menutupi wajahnya serta memudarnya cahaya dari wajah Musa, Paulus melihat suatu makna dari peristiwa itu bahwa Musa menghalangi umat Israel melihat seluruh kebenarannya- bahwa perjanjian yang lama itu harus berahir dengan kedatangan Kristus(Rom.10:4,Gal.3:24)”Sebab Kristus adalah kegenapan hukum Taurat, sehingga kebenaran diperoleh tiap-tiap orang yang percaya”.  Selubung yang menutupi wajah Musa merupakan gambaran tertutupnya pemahaman dan tumpulnya pikiran orang Yahudi hingga kini untuk menerima penyataan yang baru, yaitu hanya di dalam Kristuslah penutup mata yang menyebabkan kebodohan tentang maksud Allah dalam memberikan torah itu diambil dari padanya. Rasul Paulus kini mengadaptasi penyataan pada peristiwa pertobatannya. Apabila hati seseorang berbalik kepada Tuhan, selubung itu di ambil daripadanya. Tuhan adalah tidak lain daripada Roh itu sendiri yang mengangkat selubung ketidak pahaman. Seperti halnya Roh yang menyebabkan pelupuk kebodohan jatuh dari mata Rasul Paulus(Kis.9:17-18). Ketika Roh melaksanakan kuasaNya yang berdaulat, di situ ada kemerdekaan  dari hukum yang menghukum dan mematikan. Roh yang menghasilkan kemerdekaan dari dosa dan maut(gal.2:4, Rom.6:18,22,23). Kemerdekaan yang diberikan oleh Roh itulah yang menetapkan dia menjadi Rasul dan dengan keberanian untuk mengatakan kebenaran dengan terus terang. Kuasa Roh lah yang memberikan Paulus keberanian untuk melaksanakan pelayanannya. Kemuliaan dari perjanjian yang baru itu tidak disingkapkan dalam kekuatan manusia, tetapi di dalam kuat kuasa Roh. Dahulu wajah Musa lah yang menampakkan kemuliaan Allah. Hanya dia yang dapat bercakap-cakap dengan Allah dengan wajah yang tersingkap(Kel.34:34). Kini semua orang percaya di dalam Kristus mempunyai pemandangan yang jelas tentang kemuliaan Tuhan. Orang percaya adalah orang yang dibentuk mendekati gambar anak Allah(Rom.8:29). Proses perubahan ini sekarang dan di masa mendatang adalah dari kuasa Tuhan yaitu di dalam Roh. Oleh sebab itu dari keterbatasan dan ketidak sempurnaan setiap orang percaya, tetap menjadi saksi Tuhan untuk mencerminkan-memancarkan kemuliaan Tuhan.
 
Jemaat yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus
Dari pengalaman hidup Paulus dalam memberitakan Injil seperti halnya yang di utarakan tersebut diatas,ada beberapa sikap yang patut kita teladani yang menjadi kekuatan iman kepada Yesus Kristus dan memancarkan kemuliaan Allah yaitu:  Berani Menghadapi tantangan dan penderitaan dengan mempertaruhkan iman pengharapan kepada Tuhan. Dengan kerendahan hati ia mengakui bahwa kemampuannya dalam melayani adalah oleh karna kuasa Allah yang bekarya di dalam Roh. Selubung yang menutupi yaitu sifat-sifat manusia lama ditanggalkan dan hidup baru di pimpin oleh Roh Kudus(Gal.5:22-26). Tetap setia dan menjadi saksi Kristus untuk memancarkan kemuliaan Tuhan dari sikap hidup, pelayanan, pekerjaan nya. Tentu halini adalah bagian hidup kita sebagai orang percaya. Yesus berkata,” Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apasaja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya. Dalam hal inilah Bapaku dimuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-muridKu. Amin.

 
      Pdt. Terima Tarigan 
GBKP Rg.CILEUNGSI
 
 

Khotbah Jeremia 1:4-10, Minggu 31 Januari 2016 SEXAGESIMA

Renungan

Invocatio    :
Tetapi waktu Ia, yang telah memilih aku sejak kandungan ibuku
dan memanggil aku oleh kasih karunia-Nya/Tapi Dibata, i bas lias ateNa enggo milih aku ope denga aku tubuh pe, janah idiloNa aku (Gal. 1:15)
(Catatan: Invocatio berbeda isi dan ayatnya, tertulis ayat 13 seharusnya ayat 15)
 
Bacaan    :
I Korintus 13:1-13 (Tunggal)
 
Tema    :
Lakukan Dan Sampaikan Perintah Allah/Dalanken Ras Peseh
Perentah Dibata
 
1. Yeremia dipanggil Allah menjadi nabi bagi kerajaan selatan (Kerajaan Yehuda). Ia melayani 40 tahun terakhir di Yehuda, termasuk hari-hari terakhir sebelum Yehuda Yerusalem dihancurkan  dan umat Israel dibawa ke Babel (627-586 SM). Ia melayani sepanajng pemerintahan Yosia, Yoahas, Yoyakim  dan Zedekia. Sepanjang masa itu umat Israel memberontak kepada Allah  dan mengandalkan persekutuan politik untuk memperoleh kebebasan dari musuh-musuhnya.  

2. Yeremia mendesak bangsa itu agar bertobat  dari dosa mereka dan memperingatkan mereka akan menderita terkena hukuman Allah karena menolak Allah dan hukum-hukum-Nyaa.  Karena berita yang disampaikan Yeremia  oleh karena pengabdian-Nya kepada Allah, Yeremia banyak mengalami pertentangan dan penderitaan.

3. Tidak mudah menyampaikan kritikan kepada  pembesar-pembesar, pemimpin-pemimpin dan kepada orang tua-orang tua.  Apa lagi diperhadapkan dengan kebudayaan Yahudi, menganggap anak yang masih muda  itu tidak tahu apa-apa, belum berpengalaman, sehingga pendapatnya tidfak perlu di dengarkan. Mengkritik kehidupan para pemimpin dan pembesar pasti mengundang reaksi yang sangat mengerikan, tetapi itulah yang di hadapi Yeremia.

4. Yeremia dijuluki dengan nabi yang yang berputus asa (bdk.  Yeremia 20:8-10) di satu sisi jika di amemberitakan apa yang di perintahkan Tuhan ancaman yang menghujam dirinya, jika dia tidak memebritakan apa yang di perintahkan Tuhan ada seperti api yang menyala-nyala di dalam hatinya yang terkurung di dalam tulang-tulangnya. Istilah kerennya....maju kena mundur kena  diam apa lagi...lebih berat.

5. Yeremia pasal 1:4-10, justru penguatan kepada Yeremia untuk menjalankan tugas panggilannya bahwa, dari  semula Tuhan telah menetapkan dirinya sebagai nabi, supaya Yeremia tidak takut dan gentas apalagi berputus asa dalam menjalankan tugas panggilannya. Sebelum Yeremia lahir Allah sudah menetapkan bahwa di akan menjadi nabi.

6. Sebagaimana Allah memiliki rencana bagi hidup Yeremia, demikian juga Allah mempunyai bagi setiap orang. Sasaran-Nya adalah agar kita hidup sesuai dengan kehendak-Nya, untuk menggenapi rancangan-Nya dalam diri kita.   Kita juga adalah umat pilihan Tuhan (1 Petrus 2:9 “Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib” memberitakan perbuatan Allah yang ajaib  untuk menggenap rencana-Nya, hidup sesuai dengan rencana Allah  kita juga mungkin tidak terlepas dari penderitaan, penolakan  tetapi sebagai umat yang percaya kita harus yakin bahwa suka dan duka dipakai Tuhan untuk mendatangkan kebaikan  karena rancangan Allah adalah rancangan damai sejahtera bukan rancangan kecelakaan (bdk. Roma 8:28 dan Yeremia 29:11)

7. Sebagaimana Tuhan berkata kepada Yeremia “Janganlah Takut” , karena waktu dipanggil menjadi nabi Allah dia sangat muda, dia mengalami rasa khawatir  dan gentar  ketika memikirkan harus menyampaikan Firman Tuhan kepada pembesar-pembesar dan tua-tua Yahudi . Allah berjanji  akan menyertai dan memberi kuasa  untuk memenuhi tugas panggilannya tersebut . Demikian juga Tuhan berkata kepada kita :”jangan takut” karena Allah akan senantiasa  berjanji untuk hadir  memberi pertolongan kepada setiap orang yang setia memberitakan kebenaran Tuhan walaupun banyak tntangan namun bertekun dalam iman.

8. Sebagaiman Allah meyakinkan Yeremia  bahwa berita nubuatnanya  akan diilhami Allah, kata-katanya akan merupakan kata-kata Allah  (bdk. Rm.10:8 “Tetapi apakah katanya? Ini: "Firman itu dekat kepadamu, yakni di dalam mulutmu dan di dalam hatimu." Itulah firman iman, yang kami beritakan” ), sehingga Yeremia tidak pernah kompromi  atau melunakkan Firman Tuhan.  Demikian juga Allah meyakinkan kita bahwa roh Allah yang memberikan kata-kata yang harus kuita ucapkan dalam pemberitaan Firman Tuhan, sehingga kita juga tidak perlu takut mengatakan Firman Tuhan yang sesungguhnya  dan tidak memutar-mutar Firman Tuhan

9. Berita yang harus dibawa oleh Yeremia adalah berita “penghukuman dan pemulihan”  bahwa segala sesuatu yang berbau dosa, kenajisan dan ketidakadilan harus di cabut dan di robohkan , di runtuhkan dan di binasakan.  Berita ini jugalah yang harus kita bawa di zaman ini, ditengah banyaknya orang berpesta dalam dosa.  Angkatan manusia yang tidak kalah buas dengan binatang buas, saling menyikut, membenci dan saling memangsa.  Kita rindu tatanan hidup yang baru, hidup di alam saling mengasihi, itulah pekerjaan kita , itulah berita yang harus kita lakukan dan beritakan.

10. Generasi yang perlu kita kita bangun dan kita tanam adalah generasi yang takut akan Tuhan dan generasi yang penuh pengharapan dan beriman seta hidup di daslam kasih  (I Kor.13:1-13)

11. Lakukan dan Sampaikan/Beritakan  Perintah Tuhan, menjadi tanggung jawab kita setiap orang yang telah dipilih oleh Tuhan, karena hal ini akan membawa kita ke sebuah pengadilan agung (bdk. Yeheskiel  33:1-9)
 
“SUKACITA HIDUP DUNIA DAN AKHIRAT AKAN KITA PEROLEH
KETIKA KITA MENJADI PELAKU DAN PEMBERITA PERINTAH  TUHAN”
Pdt. Saul Ginting
GBKP Rg. Bekasi
 

Khotbah Lukas 4:14-21, Minggu 24 Januari 2016

Renungan

Invocatio :
Saudara-saudara, aku boleh berkata-kata dengan terus terang kepadamu tentang Daud, bapa bangsa kita.  Ia telah mati dan dikubur,   dan kuburannya masih ada pada kita  sampai hari ini. Tetapi ia adalah seorang nabi dan ia tahu, bahwa Allah telah berjanji kepadanya dengan mengangkat sumpah, bahwa Ia akan mendudukkan seorang dari keturunan Daud sendiri di atas takhtanya (Kisah Para Rasul 2:29-30)

Bacaan:
Nehemia 8:1-10 (Tunggal)

Thema : 
Tuhan Menggenapi JanjiNya

I. Pengantar
Janji merupakan ucapan yang menyatakan kesediaan dan kesanggupan untuk berbuat (seperti hendak memberi, menolong, datang, bertemu). Karena itu, janji harus ditepati, dilaksanakan. Berbicara tentang janji adalah hal yang tidak mudah. Karena, banyak orang yang mudah untuk menyatakan janjinya tetapi sulit untuk melakukannya. Ada sebuah ungkapan “janji adalah hutang.” Artinya saat kita mengucapkan janji maka kita dituntut untuk menepati janji yang kita ucapkan itu. Tentu kita ingat saat sidi, kita pernah berjanji menjadi pengikut Yesus yang setia. Kita berjanji menjadi warga dewasa yang ikut bertanggung jawab dalam tumbuh dan berkembangnya jemaat. Ketika kita menikah, kita berjanji untuk setia pada pasangan dalam keadaan suka dan duka. Waktu kita membaptiskan anak, kitapun berjanji untuk menjadi orang tua yang bertanggung jawab dalam mendidik dan meneladankan nilai-nilai iman kepada anak-anak. Janji yang kita ucapkan dengan disaksikan oleh jemaat menjadi janji kita kepada Tuhan. Kita belajar bukan sekedar berani mengucapkan janji itu, tetapi juga mampu melakukan apa yang menjadi janji kita itu.

II. Tafsiran Lukas 4:14-21
Ayat 14-15 “Yesus kembali ke Galilea”
Setelah Yesus menjalani kehidupan selama 40 hari tanpa makan di padang gurun dan di situ iblis mencobai Dia (Lukas 4:1-13), maka oleh kuasa Roh kembalilah Yesus ke Galilea. Injil Lukas memberi tempat yang istimewa bagi Roh Kudus sebagai kuasa Allah yang berkarya di dunia ini. Berbagai mujizat dilakukan oleh Roh Kudus, seperti dialami perawan Maria ketika mengandung bayi Yesus, Roh Kudus membimbing manusia (Lukas 1:35;  4:1,14). Lukas menampilkan Roh Allah yang membimbing pekerjaan manusia, termasuk karya Yesus. Galilea merupakan daerah tempat tinggal Yesus. Pada masa ini, Galilea dikuasai oleh kekaisaran Roma yang menduduki daerah itu sejak tahun 63 SM.
Kemudian tersiarlah kabar tentang Dia di seluruh daerah itu. Yesus mengajar di rumah-rumah ibadat, yaitu sinagoga. Sinagoga berasal daribahasa Yunani, artinya perkumpulan. Dalam Alkitab, Sinagoga menunjukkan kepada suatu kelompok yang berkumpul bersama untuk beribadat. Di Sinagoga mereka berkumpul untuk beribadat, belajar dan menjaga identitas kelompok mereka. Sinagoga menjadi tempat yang penting bagi peribadatan Yahudi dan kehidupan komunitas di daerah-daerah sekitar Laut Tengah.

Yesus dipuji oleh mereka yang hadir di Sinagoga, hal ini menggambarkan keberhasilan Yesus. Salah satu tema yang menarik perhatian Lukas ialah Yesus mengajar. Lewat tema ini Lukas hendak menegaskan wibawa Yesus dalam pengajaranNya kepada umatNya tentang Allah dan rencanaNya. Selaku guru, Yesus tentu saja mempunyai murid yang memandang cara hidupNya sebagai pola hidup mereka sendiri. Dengan menampilkan Yesus sebagai guru yang mengajar di Sinagoga Yahudi, Lukas menekankan adanya kesinambungan antara ajaran Yesus dengan apa yang sejak dahulu dijanjikan Allah kepada Israel.

Ayat 16-17 Yesus mengajar di rumah ibadat ‘sinagoga’
Yesus datang ke Nazaret yang merupakan sebuah kota kecil di Galilea yang merupakan tempat tinggal Yusuf, Maria dan Yesus dibesarkan di kota itu. Wajarlah jikalau Yesus mengunjungi Nazaret tempat ia dibesarkan, dan itu menuntut suatu keberanian. Tempat yang paling sukar bagi seorang pengkotbah ialah gereja tempat ia hidup sebagai seorang anak; tempat yang paling sukar bagi seorang dokter untuk menjalankan tugas ialah dimana orang mengenalnya ketika ia masih muda. Namun, Yesus tetap pergi juga ke Nazaret.

Hari itu adalah hari Sabat, hari istirahat bagi orang Yahudi. Sabat adalah hari ke tujuh dalam satu pekan. Pada hari itu, Allah beristirahat, setelah menciptakan dunia (Kejadian 2:2-3). Menurut kebiasaaaNya, pada hari Sabat ia masuk ke rumah ibadat. Kebiasaan Yesus yang baik ini merupakan hal yang sangat patut ditiru (bdk.Ibrani 10:24-25). Hal ini merupakan caraNya memperingati Sabat sesuai dengan peraturan  Perjanjian Lama guna mengindahkan hari itu suci bagi Tuhan.  Lalu Dia berdiri hendak membaca Alkitab. Alkitab yang dimaksudkan adalah Alkitab Ibrani, yakni Perjanjian Lama.Yesus berdiri ketika membacakan Alkitab (ayat 16), tetapi duduk pada waktu berkotbah (ayat 20). Ini merupakan kebiasaan saat itu. Berdiri menunjukkan  suatu sikap menghormati Firman Tuhan. Berkotbah biasanya dilakukan dengan duduk (bdk. Kis 16:13), tetapi kadang-kadang juga dilakukan dengan berdiri (Kis. 13:16). Sikap duduk atau berdiri ini sebetulnya tidak mutlak, yang penting adalah : dalam hati kita menghormati Firman Tuhan.

Yesus bisa diijinkan untuk berkotbah si Sinagoga karena dalam Sinagoga memang ada kebebasan berkotbah. Jadi, kalau pemimpin sinagoga melihat seseorang yang ia anggap bisa berkotbah, maka ia mengijinkan orang itu berkotbah (bdk. Kis. 13:15). KepadaNya diberikan kitab nabi Yesaya.

Ayat 18-19 “Roh Tuhan ada pada Yesus”
Yesus mempunyai hubungan yang khusus dengan Roh Kudus, suatu hubungan yang penting untuk kehidupan pribadi kita. Dalam nubuat-nubuat PL tentang kedatangan Mesias, beberapa menubuatkan secara khusus bahwa Dia akan dikuasai oleh Roh Kudus (Yesaya 11:2; 61:1-2). Ketika Yesus membaca dari Yesaya 61:1-2 dalam rumah ibadat di Nasaret, Dia mengatakan “Pada hari ini genaplah nats ini sewaktu kamu mendengarnya” (Lukas 4:18-21).
Dalam petunjuk Yesus mengenai penggenapan nubuat Yesaya tentang kedatangan Roh di atasNya, Dia memakai ayat yang sama untuk meringkaskan sifat dari pelayananNya sebagai pemberitaan, penyembuhan dan pelepasan (Yesaya 61:1-2; Lukas 4:16-19). Yesus mengutip Yesaya 61:1-2 ini untuk menggambarkan misiNya di dunia ini.

  1. Roh Kudus mengurapi dan memberi kuasa kepada Yesus untuk misinya. Yesus adalah Allah (Yoh. 1:1), tetapi Dia juga manusia (1 Tim, 2:5). Sebagai seorang manusia, Ia harus  mengandalkan pertolongan dan kuasa Roh untuk melaksanakan semua tanggungjawabNya di hadapan Allah (Lukas 4:1, 14).
  2. Hanya sebagai seorang yang diurapi oleh Roh dapatlah Yesus hidup, melayani dan memberitakan Injil (Kis. 10:38). Dalam hal ini Dia menjadi teladan yang sempurna bagi orang Kristen; setiap orang yang percaya hendaknya menerima kelimpahan Roh Kudus.  

Yesus menerangkan maksud pelayananNya yang diurapi Roh, yaitu :

  1. Untuk menyampaikan Kabar Baik kepada orang miskin, papa, menderita, hina, patah semangat, hancur hati, dan mereka yang “gentar kepada firmanNya”.
  2. Untuk menyembuhkan mereka yang memar dan tertindas. Penyembuhan ini meliputi segenap pribadi, baik jasmani maupun rohani.
  3. Untuk mencelikan mata rohani mereka yang dibutakan oleh dunia dan iblis agar mereka dapat melihat kebenaran Kabar Baik Allah (bdk. Yohanes 9:39)
  4. Untuk memberitakan saat pembebasan dan penyelamatan yangsesungguhnya dari kuasa Iblis, dosa, ketakutan dan rasa bersalah (bdk. Yoh 8:36; Kis. 26:18).

Semua orang yang dipenuhi Roh terpanggil untuk ikut serta dalam pelayanan Yesus dengan cara-cara demikian. Untuk melakukannya kita harus menyadari sungguh-sungguh kebutuhan dan kesengsaraan yang diakibatkan oleh dosa dan kuasa iblis yang dasyat yaitu keadaan perbudakan kepada kejahatan, kehancuran hati, kebutaan rohani dan penderitaan fisik. Kita harus sadar bahwa tanpa Kristus keadaan kita secara rohani betul-betul buruk. Jikalau kita tidak menyadari hal ini, kita tidak akan datang kepada Yesus.

Ayat 20-21 “Yesus sebagai penggenapan janji Allah”
Setelah Yesus membacakan Yesaya 61:1-2, kemudian Dia menutup kitab itu, lalu duduk serta memulai untuk mengajar. KataNya : “Pada hari ini genaplah nats ini sewaktu kamu mendengarnya”. Dengan demikian Yesus hendak menyatakan bahwa Dialah penggenapan janji Allah dalam Yesaya 61:1-2, Mesias yang digambarkan oleh Yesaya adalah diriNya sendiri. Allah berjanji, maka Dia menepati janjiNya. Kata-kata Yesus pastilah mengejutkan para pendengarNya. Mereka sudah mengenal Dia sejak kanak-kanak dan mereka menerima Dia sebagaimana adanya. Ketika Dia mengklaim diri-Nya sebagai penggenapan nubuat Mesianis ini, mereka terheran-heran.

III. Aplikasi

Kehadiran Yesus di dunia ini sebagai Mesias yang diurapi merupakan penggenapan janji Allah kepada manusia untuk menyampaikan kabar baik bagi orang-orang miskin, pembebasan bagi orang tawanan, penglihatan bagi orang buta, membebaskan orang yang tertindas serta memberitakan tahun rahmat Tuhan. Hal ini memperlihatkan bahwa apa yang telah dijanjikan (dinubuatkan) oleh Allah maka ditepatiNya.

Dalam hidup keseharianNya, Yesus memiliki kebiasaan yang patut untuk kita teladani yaitu setiap hari Sabat, Dia ke Sinagoga. Bagaimana dengan kita ? Apakah tetap setia memuji Tuhan untuk beribadah di gereja setiap minggunya ? Tampakkah sikap menghormati serta menghargai Firman Tuhan dalam ibadah ?  Ataukah ketika Firman Tuhan diberitakan, asik ber-BBM, facebook, WA….atau tidur???

Janji Allah adalah kepastian bagi mereka yang percaya kepada-Nya. Kita meyakini bahwa setiap janji Allah berlaku bagi kita umat-Nya. Kini sebagai umat milik-Nya, kita diajak untuk percaya bahwa Allah selalu menggenapi janji-janji-Nya. Kita meyakini karya Tuhan adalah kebaikan bagi hidup kita. Dengan percaya akan janji-janji Allah, kita memiliki pengharapan bahwa rancangan Tuhan adalah rancangan keselamatan dan damai sejahtera. Rancangan Tuhan selalu indah pada waktunya. Iman kepada Kristus memampukan kita untuk menjalani hidup yang penuh dengan pergumulan ini dengan selalu berpegang teguh pada janji-janji Allah. Oleh karena itu marilah hidup ini kita jalani dengan keyakinan dan kepastian akan janji Allah. Selalu ada penyertaan, pertolongan dan perlindungan bagi yang bersandar pada Tuhan Allah.

Kepustakaan

  1. Stefan Leks, Tafsir Injil Lukas, Yogyakarta : Kanisius, 2003.
  2. Lembaga Biblika Indonesia, Tafsir Perjanjian Baru 3 : Injil Lukas, Yogyakarta : Kanisius, 1981.
  3. William Barclay, Pemahaman Alkitab Setiap Hari : Injil Lukas, Jakarta : BPK Gunung Mulia, 2009.
  4. Lembaga Alkitab Indonesia, Alkitab Edisi Studi, Jakarta : Lembaga Alkitab Indonesia, 2012.
  5. Alkitab Penuntun Hidup Berkelimpahan, Jakarta : Lembaga Alkitab Indonesia, 2006.
  6. www.golgothaministry.org/lukas/lukas-4_14-30.htm

Pdt. Chrismori Br Ginting
GBKP Rg. Yogyakarta

Lebih lanjut: Khotbah Lukas 4:14-21, Minggu 24 Januari 2016

 

Page 1 of 55

BP-KLASIS-XXX

"SELAMAT DATANG mengunjungi Web GBKP KLASIS JAKARTA-BANDUNG"

Renungan

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
  • 6
  • 7
  • 8
  • 9
  • 10
  • 11
  • 12
  • 13
  • 14
  • 15

Pengunjung Online

We have 223 guests online