Khotbah Roma 15:15-21, Minggu 16 Oktober 2016

Renungan

Invocatio :
Dalam himpunan umat-Mu kuwartakan kabar gembira bahwa 
Engkau telah menyelamatkan kami. Dengan tiada hentinya hal itu
kumaklumkan, Engkau tahu semua itu, ya TUHAN.
 
Bacaan :
Mazmur 34:1-15
 
Tema :
TETAP LAH SAMPAIKAN
 
 
I. KATA PENGANTAR
• Perjalanan Napak Tilas yang dilakukan oleh Moderamen GBKP terhadap Pendeta-pendeta adalah merupakan sebuah perjalanan yang mengingatkan para Pendeta yang ikut dalam napak tilas tersebut betapa sulitnya pelayanan dalam menyampaikan kabar Injil ke Tanah Karo yang dilakukan oleh Pendeta-pendeta dari utusan NZG. Dimana dalam perjalanan tersebut di mulai dari Kuta Jurung, Rambe, Periaria, Buluh Gading, Laza, Sala Bulan, Rumah nangkong, Buluh Awar, Tanjung Beringin. Dalam setiap perjalanan Pendeta-pendeta diingatkan akan perjuangan Zending dalam mengabarkan berita Injil. Bahkan ada diantara mereka yang harus melihat kematian Istri dan anaknya sewaktu melahirkan (Pendeta Tampenawas), ada yang harus meninggalkan istrinya sendirian di Buluh Awar karena Pendeta tersebut meninggal dunia waktu pelayanannya di Buluh Awar (Pdt. J. Wijngaarden), dsb. Jika kita mengingat kembali akan perjuangan mereka tentunya sangat memotivasi kita semua Pelayan-pelayan Tuhan masa kini untuk setia dalam pelayanan kita.

• Para Zending sesungguhnya dapat tinggal di negerinya tanpa harus melewati kesulitan itu semua, akan tetapi mereka memutuskan untuk menerima pelayanan tersebut dengan suka cita meskipun banyak tantangan yang harus mereka hadapi. Bahkan beberapa lagu KEE GBKP tercipta dari pergumulan yang dihadapi oleh para Pendeta Zending yang melayani ke Buluh Awar seperti KEE No. 69, “KATAKEN MAN YESUS”, Ini diciptakan oleh Pdt. J. Wijngaarden yang waktu itu menderita sakit perut. Ketika dibawa ke rumah sakit dia berkata kepada istrinya bahwa dia akan meninggal, karena istrinya bersedih akhirnya dia berkata bahwa dia akan menciptakan sebuah lagu untuk menghibur istrinya dan berkata kepada istrinya agar istrinya tetap bertahan untuk melayani di Buluh Awar. Masih banyak cerita yang menhgharukan lainnya yang dihadapi oleh para penginjil waktu itu. Kesulitan demi kesulitan mereka hadapi dan lewati hingga akhirnya para pelayan Tuhan baik Pendeta maupun Pertua Diaken dan semua jemaat dapat meneruskan pelayanan mereka untuk mengabarkan berita suka cita yakni berita Injil. Oleh sebab itu melalui firman Tuhan saat ini kita diajak untuk Tetap menyampaikan berita Injil..

II. PEMBAHASAN TEKS
• Dari Yerusalem sampai ke Ilirikum, Injil Kristus (19) telah diberitakan oleh Rasul Paulus. Pemberitaan ini merupakan hasil pemahaman Paulus akan statusnya sebagai rasul bahwa Tuhan memberinya kasih karunia untuk menjadi pelayan Kristus bagi bangsa-bangsa bukan Yahudi. Ia mengemban tugas imam dalam mewartakan Injil Allah supaya bangsa-bangsa bukan Yahudi diterima oleh Allah sebagai persembahan yang berkenan kepada-Nya, serta yang disucikan oleh Roh Kudus (15-16). Itu sebabnya Paulus tidak melakukan penginjilan ke Roma, karena sudah ada Petrus di sana.

• Paulus tidak mau membangun di atas dasar yang telah didirikan oleh orang lain (20). Ini bukan karena menghindari persaingan, melainkan agar daerah-daerah lain yang belum tersentuh oleh Injil dapat dijangkau juga. Paulus memang fokus pada panggilan untuk menjangkau bangsa-bangsa bukan Yahudi. Kesadaran akan panggilan itulah yang membuat Paulus memusatkan pikiran, usaha, dan kekuatannya untuk memenuhi panggilan yang telah dia terima.

• Paulus memang tidak mempunyai andil secara langsung dalam mendirikan jemaat di Roma. Namun sebagai rasul Kristus (1:1; 15:16), ia memiliki otoritas untuk mengajar dan menasihati mereka. Sama seperti jemaat lainnya, jemaat Roma, juga mempunyai masalah yang sangat serius, yaitu hubungan antara orang-orang Kristen Yahudi dengan orang-orang Kristen nonYahudi di dalam jemaat. Justru Paulus menyatakan bahwa ia mengemban tugas sebagai pelayan atau rasul Kristus bagi bangsa-bangsa lain. Tugasnya memberitakan Injil (16,19) dan memimpin bangsa-bangsa lain kepada Kristus (18). Kerasulan Paulus diteguhkan dengan tanda-tanda (19; bnd. 2Kor. 12:12) yang menunjukkan bahwa Kristus sendirilah sesungguhnya yang mengerjakan itu semua melalui dirinya. Paulus berbesar hati atas panggilan kerasulannya karena ia dikaruniai kehormatan memberitakan Injil di tempat-tempat yang belum mendengar Injil (Rm. 15:20-21). Dengan menegaskan kerasulan-Nya, Paulus menyatakan kerinduannya bersekutu dengan mereka, sehingga mereka boleh mendukung rencana pelayanannya ke Spanyol (24).

• Teladan Paulus yang patut kita ikuti adalah hak dan kewajiban tidak dicampuradukkan. Ia berhak didengar, namun ia tidak memaksa. Ia berkewajiban menginjili orang nonYahudi, ia melibatkan jemaat Roma untuk mendukung pelayanan mulia ini. Tanpa segan atau ragu Paulus memuji kelebihan dan keistimewaan Jemaat Roma. Mereka penuh dengan segala kebaikan, memiliki banyak pengetahuan dan karunia saling menasihati (ayat1). Pujian rasul ini tentu sangat menyukakan hati jemaat.

• Paulus tanpa segan mengingatkan orang Roma tentang panggilannya sebagai rasul bagi orang non-Yahudi. Sebagian orang Kristen Yahudi meremehkan orang non-Yahudi, tetapi Paulus malah bangga boleh dipanggil menjadi rasul bagi mereka yang bukan Yahudi. Dengan girang ia menyaksikan perbuatan Tuhan yang sangat memberkati pelayanannya (ayat 17-19), disertai kuasa dan tanda mukjijat. Pelayanan dalam panggilan dan penyertaan Tuhan memang tidak akan membuat kita kecewa atau menyesal. Sebagai Kristen pelayan Injil, hidup kita tidak luput dari tantangan atau salib. Panggilan yang jelas dan penyertaan Tuhan akan membuat kita kuat berjuang dan pada waktunya 'menuai' penuh sukacita.

• Prinsip pelayananan Paulus adalah ia berprinsip melayani Injil di wilayah (bidang) yang belum pernah dijangkau atau dijamah orang lain (ayat 20-21). Paulus rela keluar dari Yerusalem (pusat kehidupan budaya-agama Yahudi) dan melakukan perjalanan misi ke daerah-daerah baru wilayah orang kafir.

• Paulus mau melakukan itu semua karena Paulus sudah merasakan penyertaan Tuhan dalam hidupnya dan bagaimana kehidupannya diubahkan Tuhan setelah dia bertemu dengan Yesus. Sebagaimana yang dijelaskan dalam bacaan kita Mazmur 34:1-15 dimana Mazmur ini mengajak para pembacanya untuk mengalami Tuhan. Alami sendiri kebaikan-Nya (ayat 9) sebagaimana yang telah pemazmur rasakan. Apa yang pemazmur rasakan dan alami? Rupanya mazmur ini lahir dari pengalaman Daud yang dilindungi Tuhan saat melarikan diri dari Saul, yang hendak membunuh dirinya (ayat 1; lih. 1 Samuel 18-27). Sebagai seorang buronan, berulang kali Daud mengalami kesesakan, penindasan, dan merasa terjepit. Namun setiap kali ia menjerit kepada Tuhan, Tuhan menolong tepat pada waktunya (ayat 7). Perlindungan Tuhan dirasakan bagai dijaga oleh pasukan malaikat yang mengelilingi dia (ayat 8). Bagaikan satpam atau pengawal khusus yang dua puluh empat jam sehari menjaga penuh. Pemazmur mengajak para pembacanya merespons Tuhan agar pengalaman hidup mereka diperkaya, mazmur mengajak pembacanya agar mau memandang Tuhan sehingga hidup mereka akan penuh kesukacitaan (ayat 7). Pemazmur juga mengajak pembacanya agar takutlah akan Tuhan, maka Dia akan mencukupkan segala kebutuhan kita (ayat 10-11).
 
III. APLIKASI
• Sebagaimana yang dijelaskan di kata pengantar, bagaimana para Zending mau meninggalkan zona amannya di negerinya sendiri dan pergi ke Tanah Karo yang penuh dengan tantangan bahkan sampai meninggal duni atau melihat istri dan anak meninggal dunia. Demikianlah dalam khotbah kita minggu ini, kita diajak untuk tidak diam di zona aman kita tapi keluar untuk memberitakan kabar keselamatan bagi semua orang.

• Mungkin saja dalam kehidupan kita dipenuhi oleh berkat-berkat Tuhan yang melimpah, kita memiliki jabatan yang tinggi, kita tidak memiliki persoalan yang berat seperti yang dihadapi orang lain, tapi apakah kita pernah terpikir untuk keluar dari zona aman kita untuk memberitakan kasih Tuhan yang sudah kita rasakan dalam hidup kita supaya dapat dirasakan oleh orang lain?

• Sebagai orang beriman kita dituntut untuk mau keluar dari zona aman kita memberitakan kabar keselamatan bagi setiap orang baik dari perkataan kita maupun perbuatan kita. Mungkin banyak tantangan yang harus kita lewati tapi yakinkan satu hal bahwa Tuhan tidak akan pernah diam dalam setiap pergumulan kita tetapi Tuhan akan bekerja ketika kita berseru kepadaNya. Mengalami Tuhan bisa terjadi dalam kehidupan sehari-hari, tak usah menunggu saat tekanan hidup tak tertahankan lagi. Alami Tuhan dengan melibatkan Dia dalam segala aspek hidup kita. Dekatkan diri pada-Nya dengan sikap yang terbuka agar Dia dengan bebas menyapa dan menjamah hidup kita. Saat kita mengalami kehadiran atau pertolongan-Nya, naikkan syukur bersama-sama umat Tuhan lainnya. Mahsyurkan nama-Nya di hadapan orang lain. Jangan pernah berhenti mewartakan kabar suka cita kepada setiap orang tapi berusahalah senntiasa untuk dapat mewartakan kabar suka cita (Injil) kepada setiap orang. Seperti yang dikatakan dalam Invocatio “ Dalam himpunan umat-Mu kuwartakan kabar gembira bahwa Engkau telah menyelamatkan kami. Dengan tiada hentinya hal itu kumaklumkan, Engkau tahu semua itu, ya TUHAN. Amin
 
Pdt. Jaya Abadi Tarigan
Rg. Bandung Pusat
 

Khotbah Kisah Para Rasul 16:13-15,40, Minggu 09 Oktober 2016

Renungan

Invocatio :
Kemolekan adalah bohong dan kecantikan adalah sia-sia, 
tetapi isteri yang takut akan Tuhan dipuji-puji. Amsal 31 : 30

Bacaan :
Keluaran 1 : 15 – 22 (Responsoria)
 
Thema :
Wanita Yang Takut Akan Tuhan
 
 
Jemaat yang dikasihi oleh Tuhan,
Ketika di dalam keluarga, apabila kita memiliki seorang anak laki-laki yang sudah beranjak dewasa; kira-kira apakah yang akan kita katakan sebagai seorang ayah kepada anak kita tersebut. Apakah : “Nak, apa bila nantinya engkau ingin berumahtangga, maka carilah wanita seperti ibumu” atau “Nak, jangan cari istri seperti ibumu”. Dan bagaimanakah reaksi sang anak kepada kita. Bisa saja anak akan mengatakan : “Pa... aku akan berusaha untuk mendapatkan istri seperti mama” atau “Pa, aku merasakan betapa tidak enaknya punya istri seperti mama”. Untuk alasan pertama, kita nyatakan itu kepada sang anak karena kita mengiinginkan agar anak juga ketika berumahtangga akan mendapatkan dan merasakan betapa “berartinya” kehadiran seorang istri seperti itu. Namun untuk yang kedua, karena “pengalaman hidup” yang dirasakannya dan juga beserta anak-anak tidaklah seperti yang diharapkan.
 
Di sini, kita belum menyentuh tentang bagaimana kehidupan iman “sang wanita” atau “istri” itu dalam kehidupannya. Namun hampir bisa kita menyatakan bahwa bila dari kedua orang tipikal wanita itu walaupun sama-sama punya Tuhan yang sama, dan mungkin sama-sama juga “aktif” dalamm kehidupan “berTuhannya”; PASTI ADA YANG BERBEDA. Hal yang mungkin membedakan itu adalah soal “kedalaman” dari rasa keberTuhanan itu. Untuk tipikal yang pertama, Tuhan ditempatkan sebagai Subjek “keberTuhanannya”, sedangkan untuk tipikal yang kedua, bukan Tuhan sebagai Subjek tapi kehadirannya sebagai manusia yang berTuhan hanya berada pada tatanan kulit atau penempatannya dalam tatanan sosial biasa.
 
Lalu, apakah yang menjadi dasar pegangan dan harapan kita ketika kita membicarakan tentang keberadaan “wanita” (baca : istri dan ibu) dalam kehidupan keluarga dan juga gereja. Karena, minggu ini memang secara khusus kita diajak untuk melhat seperti apa wujud atau tipikal yang ideal.

Saudara-saudari Yang Dikasihi Tuhan,
Minggu ini secara khusus ibadah kita mulai dari invocatio, bacaan Alkitab, bahan khotbah dan juga thema erat hubungannya dengan “dunia wanita”. Invocatio menegaskan tetang dua hal yang sangat tegas yakni tentang kehidupan jasmani dan kehidupan rohani. Hal yang bersifat jasmani tidak akan pernah kekal, tapi barangsiapa yang hidup memelihara kerohaniannya adalah hal yang disenangi oleh Tuhan dan manusia. Pada bagian bacaan Alkitab yang dituangkan di kitab Keluaran, juga menggambarkan sosok “wanita” yang secara kodratnya hidup lebih dekat dengan “perasaan” Para “wanita” berani menentang “perintah raja” yang pada jamannya adalah sebuah tindakan yang mengandung resko tinggi yakni mendapatkan hukuman yang berat, bahkan bisa berujung ke kematian. Ini dikarenakan mereka mendapat perintah untuk “membunuh” setiap bayi laki-laki yang lahir dari orang Ibrani. Namun perintah itu tidak dijalankan, apa yang menjadikan mereka seperti itu? Dalam kehidupan umat manusia, apabila bila didapati seorang wanita (baca : ibu) melakukan kekejaman terhadap anak-anak, maka akan banyak ungkapan yang sangat keras dialamatkan kepadanya, seperti : Kejam, Sadis, Biadab, Tak berperikemanusiaan, Tak berperasaan, dan lain sebagainya. Ternyata, para wanita dalam bacaan kita adalah wanita-wanita yang sangat “berperilaku luar biasa”. Keberanian mereka melakukan itu dikarenakan “rasa iba” dan yang terpenting perlu digarisbawahi ialah karena Takut Akan Tuhan. Upah yang mereka dapatkan...... Berkat yang besar dari Tuhan.
Selanjutnya, pada bagian khotbah juga ditekankan bagaimana sosok wanita yang luar biasa. Dimulai dari perilaku setia mendengar, mau menerima Yesus, hingga “memaksa rasul” untuk tinggal atau menginap di rumahnya. Suatu tindakan yang jika dipandang dari sisi dunia adalah tindakan yang hanya buang-buang waktu, tenaga dan juga dana. Tapi dari sisi pandang keimanan, maka apa yang dilakukan oleh “wanita ini” adalah suatu tindakan yang sangat disenangi oleh Tuhan. Mengapa? Dari hukum utama yang Yesus ajarkan, “kasihilah Tuhan Allahmu” dan “kasihilah sesamamu” benar-benar terwujud dalam diri wanita ini. Ada perhatian yang sangat serius ketika mendengaran pengajaran yang disampaikan oleh rasul, “meng’amini’nya” dengan memberi dirinya untuk dibabtis. Dan sebagai wujudnyata dari mendengar pengajaran itu, tergerak hatinya untuk menyambut rasul dan temannya untuk menginap di rumahnya. Ini menggambarkan keyakinannya bahwa apa yang dilakukannya pasti akan mendapat dukungan dari keluarganya. Artinya, keberadaan sang wanita dalam keluarga menjadi sangat penting dan punya pengaruh yang besar. Dan saya berkeyakinan bahwa bukan karena anggota keluarga adalah “anggota DKI” (di bawah kekuasaan istri dan di bawah kekuasaan ibu). Tapi lebih pada pengaruh baik dan tanggungjawab yang diperlihatkan sang wanita terhadap keluarganya.
 
Saudara-saudari yang Tuhan kasihi,
Dari uraian di atas, sepertinya sudah terjawabtentang hal : Lalu, apakah yang menjadi dasar pegangan dan harapan kita ketika kita membicarakan tentang keberadaan “wanita” (baca : istri dan ibu) dalam kehidupan keluarga dan juga gereja. Karena, minggu ini memang secara khusus kita diajak untuk melhat seperti apa wujud atau tipikal yang ideal.
 
Ada 2 hal yang bisa saya kemukakan tentang wanita yang menjadi idaman atau harapan kita yang hendaknya mewujudnyata dalam kehidupan kita :

1. Wanita yang takut akan Tuhan
Wanita yang digambarkan melalui tiga bagian Alkitab(invicatio, bacaan, dan juga khotbah) adalah wanita-wanita yang meletakkan kehidupan yang berkhikmad kepada Tuhan. Apapun yang mereka hendak lakukan dalam kehidupannya, senantiasa “mendengarkan Suara Tuhan”, sehingga ketika ada tindakan yang mereka lakukan jelas “menyenangkan hati Tuhan”. Dan tanpa menyadari dan berfikir tentang apa upah yang akan diberikan oleh Tuhan, justru disanalah Tuhan menyertai dan memberkati kehidupan mereka. Bukan hanya pemeliharaan dirinya tapi juga orang-orang yang dikasihinya juga mendapatkan aliran berkat Tuhan.

2. Wanita yang diharapkan juga hadir dalam kehidupan kita adalah wanita yang punya kepedulian terhadap orang lain. Artinya, wanita yang mampu bersosialisasi dan juga berbagi dengan setiap orang yang ada di sekitarnya. Bukan karena ingin “ditinggikan” dan “dihargai”, tapi semata-mata karena itulah panggilan kehidupannya.
 
Sebagai akhir dari khotbah hari ini, yang ingin kami sampaikan dan tegaskan ulang khususnya bagi setiap wanita yang hadir diibadah ini adalah jadilah wanita-wanita yang takut akan Tuhan dengan mencari dan melaksanakan apa yang diinginkanNya. Lalu, punya kepedulian terhadap sesama tanpa meninggalkan juga mengasihi diri sendiri (seperti bersolek, berpenampilan baik, bahkan pakailah perhiasan yang mempercantik diri tapi tanpa berlebihan; karena itu juga diperlukan). Dan bagi setiap laki-laki yang juga hadir di ibadah ini, hargai, dukung dan berikan perhatian yang pantas juga bagi setiap wanita yang berupaya untuk menghadirkan dirinya seperti isi firman yang kita dengar hari ni. Khususnya bagi setiap laki-laki yang masih berstatus “mencari pasangan hidup”, carilah tipikal wanita seperti ini, paling tidak yang mendekati isi firman ini agar nantinya akan mendapat berkat yang besar dari Tuhan kita. Amin
 
Pdt. Benhard Roy Calvyn Munthe
081361131151
Rg. Cisalak
 

Khotbah Mazmur 149:1-9, Minggu 02 Oktober 2016

Renungan

Invocatio :
Dan berkata-katalah seorang kepada yang lain dalam mazmur,
kidung puji-pujian dan nyanyian rohani. Bernyanyi dan bersoraklah bagi Tuhan dengan segenap hati.( Efesus 5:19)

Bacaan :
2 Samuel 6: 1-5

Tema :
Menari dan Bernyanyi dengan Penuh Ucapan Syukur
 
 
I. Memahami Teks bacaan I
Pelanggaran terhadap kekudusan Allah dan pelecehan terhadap hadirat Allah dipandang sebagai kejahatan serius olehAllah. Namun kekurangpekaan kita terhadap hadirat Allah dan kekudusanNya memasuki hadiratNya. Pasal ini memperlihatkan bahaya kurangnya sensitivitas terhadap hadirat dan kekudusan Allah.
 
Dengan dijadikannya Yerusalem sebagai pusat pemerintahan, membuat Daud ingin menempatkan tabut Allah di kota itu sebagai lambang kehadiranNya ( 1-3). Namun sayangnya, pemindahan tabut dilakukan tidak sesuai dengan aturan Tuhan ( bdk. Kel. 25: 12-15). Tabut dibawa dengan kereta, padahal seharusnya diusung oleh orang Lewi dari keluarga Kehat ( Bil. 4:15). Dalam hal ini di saat pemindahan tabut Daud dan seluruh umat Israel menari dan bernyanyi untuk memuji Tuhan dan nyanyian mereka diiringi dengan alat musik kecapi, gambus, rebana dan ceracap. Yang dilakukan Daud ini mereka menyatakan dengan nyanyian itu memuji nama Tuhan dan dengan sepenuh hati untuk mengucap syukur kepada Tuhan.
 
II. Memahami Teks bacaan II
Mazmur 149 menyerukan agar umat Israel dipanggil untuk memuji Tuhan dengan penuh sukacita , bahkan sorak sorai dan tari-tarian diiringi musik rebana dan kecapi. Alasan utama memuji Tuhan disini adalah karena TuhanberkenankepadaumatNYadankemenangan yang Ia telah berikan kepada umatNya atas musuh-musuh mereka. Dengan memuji Tuhan mereka mengakui bahwa Tuhanlah sumber kemenangan mereka, bukan jasa atau kekuatan mereka ( ayat 4). Oleh karena itu, mereka bisa berbaring dengan damai bahkan bersorak-sorai ( ay. 5). Pujian disini bisa berlatar belakang dalam sejarah Israel, entah pada masa permulaan ketika Tuhan memerdekakan secara tuntas dari perbudakan Mesir, ataupun pada saat-saat masalah datang dan Tuhan memberi keselamatan dan jalan keluar terhadap masalah yang mereka hadapi. Kemenangan yang Allah berikan kepada Israel berarti kekalahan para musuh. Oleh karena itu bagian kedua mazmur berisikan seruan pembalasan terhadap bangsa-bangsa yang dahulu telah memusuhi dan menganiaya mereka. Pembalasan ini tidak bersifat pribadi, melainkan dalam rangka menegakkan keadilan Allah. Pedang bermata dua menjadi alat penghukuman Allah atas mereka. Pertama, membalas kejahatan setimpal ( ay. 7), kedua, membelenggu kuasa kejahatan ( ay.8), ketiga, melaksanakan penghukuman sesuai dengan firman Tuhan ( Ay. 9). Ketiganya bisa juga ditimpakan kepada Israel kalau mereka berubah setia pada Tuhan.
 
III. Refleksi
Jika kita lihat hal pujian penyembahan nyata melanda gereja Tuhan, kegerakan rohani terjadi dimana-mana, kepada siapa puji-pujian kita tujukan? Puji-pujian kita harus tertuju dan terpusat kepada Tuhan, bukan kepada hamba Tuhan, peminpin pujian atau pemain musik karena hanya Tuhan yang menerima pujian dan kemuliaan. “ Ya Tuhan dan Allah kami, Engkau layak menerima puji-pujian dan hormat dan kuasa, sebab Engkau telah menciptakan segala sesuatu, dan oleh karena kehendakMu semuanya itu ada dan diciptakan ( Wahyu 4:11. )
 
Apa itu pujian? Adalah ungkapan hati penuh sukacita dan ucapan syukur kepada Tuhan karena kasih setiaNya, kebaikanNya, anugrahNya, pertolonganNya, kemenanganNya dan perbuatanNya yang ajaib. Dalam memuji dan menyembah Tuhan sudah kah kita memahami dan meresapi setiap kata yang kita nyanyikan?. Jika tidak, berarti kita memuji dengan bibir saja, sedangkan hati kita jauh dari Tuhan.
 
Dalam hal ini mazmur ini bisa kita pakai untuk memuji Tuhan, karena Dia sudah memberikan kemenangan kepada kita atas kuasa Dosa, dan bahwa pelaku dosa akan menerima pembalasan yang setimpal. Namun, kita bisa selangkah lebih maju karena Kristus sudah mati buat kita yang telah berdosa. Pembalasan yang setimpal sudah di timpakan kepada Kristus. Oleh karena itu, bagi kita yang sudah mendapatkan kemenangan marilah kita menari dan memuji nama Tuhan dengan sepenuh hati dan selalu mengucap syukur atas apa yang telah diberikan Tuhan Yesus dalam hidup kita. Suka dan duka terjadi dalam hidup kita namun teruslah berjalan, bernyanyi menari, dan mengucap syukur pada Yesus. Amin.
 
Pdt. Rosliana Br Sinulingga
Rg. Semarang
 

Khotbah I Korintus 7:17-24, Rabu 17 Agustus 2016

Renungan

Invocatio:
Aku hendak hidup dalam kelegaan, sebab aku mencari titah-titah-Mu. (Mazmur 119:45)
 
Bacaan :
Mikha2:8-13 (Tunggal)
 
Tema :
"Mempergunakan Kebebasen"
 
 Pendahuluan
Dalam memperingati 71 tahun Indonesia merdeka, sejenak marilah kita memahami arti kata merdeka. Merdeka artinya bebas (dari perhambaan, penjajahan, dsb); berdiri sendiri, tidak terkena atau lepas dari tuntutan..., tidak terikat, tidak bergantung kepada orang atau pihak tertentu; leluasa, boleh berbuat dengan merdeka (bdg. KBBI). Dan pernyataan Indonesia di dalam pembukaan UUD 1945 tentang kemerdekaan " Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan." Kemerdekaan itu adalah hak segala bangsa (setiap orang) sebab penjajahan itu adalah kekejaman yang merusak perdamaian dan ketentraman. Penjajahan itu musuh yang harus diperangi dan penjajah adalah penjahat.
 
Selanjutnya pembukaan UUD 1945 mengatakan "Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya." Sebagai negara yang percaya kepada Tuhan, Segenap rakyat Indonesia mengakui bahwa kemerdekaan itu diperoleh atas rahmat (belas kasihan) Allah Yang Maha Kuasa. Karena itu gema semangat kemerdekaan harus nyata di sepanjang jaman, sebab rasa syukur kepada Allah tidak pernah cukup dan tidak boleh berakhir sepanjang Indonesia masih tetap berdiri. Segenap rakyat Indonesia harus tunduk kepada kasihan Allah yang memerdekakan Indonesia, supaya kita dapat membangun Indonesia dengan tiada letih, jujur, adil dan rela berkorban sebab dasarnya syukur kepada Allah. Tanpa dasar rasa syukur maka kemerdekaan itu akan dimanfaatkan orang-orang yang tidak bertanggung jawab sebagai kesempatan memperkaya diri, memuaskan rasa senang sendiri dll dan dilakukannya tanpa takut akan Allah, tanpa pertimbangan moral dan etika yang benar. Mari kita buka mata dengan situasi Indonesia dan mari kita mengukur semangat nasional kita bagi Indonesia. Sudahkah kita menyatakan syukur dan mengumumkan kepada dunia bahwa seisi rumah kita adalah umat Allah yang bersyukur dan merdeka dengan mengibarkan bendera merah putih di depan rumah kita?
 
Pembahasan
Di dalam bahasan Firman Tuhan di hari kita mempeingati kemerdekaan Indoneia yang ke 71 hari ini, kita melihat persoalan yang terjadi di dalam jemaat Korintus yaitu sebahagian kelompok orang-orang Yahudi yang menjadi kristen menuntut supaya orang-orang kristen yang bukan berlatar belakang Yahudi apabila mereka menjadi kristen mereka harus disunatkan terlebih dahulu (di Yahudikan). Sunat menurut mereka menjadi persyaratan mutlak yang harus di lakukan supaya orang-orang yang bukan Yahudi dapat dilayakkan menjadi ahli waris Kerajaan Allah seperti yang diperintahkan Allah kepada Abraham "Orang yang lahir di rumahmu dan orang yang engkau beli dengan uang harus disunat; maka dalam dagingmulah perjanjian-Ku itu menjadi perjanjian yang kekal." (Kej. 17:13) bandingkan Kej. 17:7-14.
 
Sebahagian kelompok Yahudi kristen memahami sunat tidak penting karena itu ketika menjadi kristen tidak perlu di sunatkan. Pendapat tersebut juga menjadi pertentangan diantara kelompok kristen yang berlatar belakang Yahudi.
 
Pengajaran menjadi kristen harus di sunatkan terlebih dahulu mempengaruhi sebahagian kelompok kristen yang bukan berlatar belakang Yahudi, sehingga diantara kristen yang bukan berlatar belakang yahudi juga terjadi perselisihan. Atas persoalan tersebut Rasul Paulus menjelaskan "Kalau seorang dipanggil dalam keadaan bersunat, janganlah ia berusaha meniadakan tanda-tanda sunat itu. Dan kalau seorang dipanggil dalam keadaan tidak bersunat, janganlah ia mau bersunat. Sebab bersunat atau tidak bersunat tidak penting. Yang penting ialah mentaati hukum-hukum Allah. (7:18-19).

Kalimat Rasul Paulus yang mengatakan "Yang penting ialah mentaati hukum-hukum Allah" kemungkinan besar tegoran yang disampaikan Rasul Paulus di dalam teks ini ditujukan kepada kelompoh Yahudi sebab mereka menjadi Kristen tetapi tidak mengedepankan perubahan ketaatan kepada ajaran dan aturan yang baru di dalam kekristenan.
 
Kelompok orang-orang Yahudi yang menjadi kristen mereka telah di bebaskan dari keadaannya sebagai hamba bagi hukum taurat dan tradisi sunat dan kalau mereka telah menjadi kristen seharusnya mereka hidup sebagai umat Allah yang telah di merdekakan dalam penebusan di dalam Kristus. Kematian kristus di atas kayu salib adalah pembayaran tebusan dengan harga yang lunas. Kalau dalam pemahaman lamanya orang-orang kristen yang berlatar belakang Yahudi memahami diselamatkan oleh karena menjadi keturunan Abraham dengan tanda lahiriah sunat, tetapi di dalam penebusan di atas kayu salib orang-orang kristen telah di jadikan anak bagi Allah, menjadi ahli waris kerajaan Allah. Pemahaman lama dengan ajaran baru tidak boleh di campur adukkan, sebab menjadi kristen berarti dipilih dan di panggil Tuhan untuk pelayananNya, adalah menjadi orang-orang bebas untuk menyatakan imannya dan ia sepenuhnya menjadi milik Tuhan, untuk melakukan kehendak Tuhan. Apabila orang Yahudi melakukan ketaatan sebagai suatu keharusan atau keterpaksaan berarti ketaatan mereka sebagai ketaatan budak. Berbeda dengan ketaatan kristen dilakukan dalam rangka syukur kepada Allah atas penebusan di dalam Yesus Kristus. Mengucap syukur dalam perbuatan di sampaikan sepanjang hidup bukanlah keterpaksaan tetapi ekspresi dari kemerdekaan-kebebasan yang dilakukan dengan suka cita.
 
Refleksi dan Penutup
Belenggu dosa yang mengikat manusia, memperbudaknya dan manusia itu selalu gagal membebaskan dirinya. Dosa membuat kualitas hidup manusia rendah dan manusia itu kurang berharga. Dalam peristiwa Yesus menebus manusia yang diperbudak dosa dengan harga lunas bukanlah karena alasan pertimbangan manusia yang terbelenggu dosa itu berharga tingi di mata Allah tetapi penebusan Allah dilakukanNya karena alasan begitu besar kasih Allah kepada dunia - manusia (bdg. Yoh 3:16), kasih Allah yang mendorong-Nya membebaskan manusia dari perbudakan dosa. Bukan karena manusia berharga, sebab menjadi budak dosa membuat manusia itu tidak berharga, tapi Yesus menebus manusia dengan harga nyawa-Nya. Jadi hidup manusia yang tidak berharga oleh karena diperbudak dosa itu menjadi berharga karena penebusan di dalam Yesus yang memberinya nilai yang baru. Karena itu katakan kepada diri kita "Kamu berharga karena penebusan di dalam Yesus Kristus!" "karena itu hiuplah sebagai manusia yang merdeka, lakukanlah kewajibanmu:...."
 
Umat Kristen yang telah diberi harga tersebut memiliki martabat yang tinggi untuk menyatakan kasih Allah dan bersyukur oleh karena kasih Allah di tengah tengah bangsa Indonesia. Sebagai manusia rohani dan sebagai bagian bangsa Indonesia orang percaya telah mendapatkan kemerdekaannya. Itulah modal dan kesempatan yang terbesar untuk berkarya membangun bangsa Indonesia. Menjadi manusia yang berkualitas, berakal budi, penuh hormat, jujur, adil dapat dipercaya dan berani membuat terobosan baru dalam sistim sosial, ekonomi dan politik yang bergejolak di tengah tengah masyarakat. Orang percaya hendaknya memiliki keberania sebagai manusia merdeka untuk menyatakan pendapatnya, berkrya memerdekakan bangsa ini dari keterpurukan, kemiskinan, penyakit sosial dll.
 

Pdt. Ekwin WGM-GBKP sitelusada bekasi
 

Khotbah Rut 2:1-9, Minggu 12 Juni 2016

Renungan

Invocatio :
Kemudian haruslah engkau merayakan hari tujuh Minggu bagi 
TUHAN, Allahmu, sekedar persembahan sukarela yang akan kauberikan, sesuai dengan berkat yang diberikan kepada- mu oleh TUHAN, Allahmu. (Ulangan 16:10)

Bacaan :
Keluaran 23:14-19 (Tunggal)

Thema :
 
Sebagian Dari Hasil Panen Dibiarkan Untuk Orang Miskin Dan
Orang Asing (Imamat 19:9)
 
Pengantar
Dalam kesusasteraan modern kitab Rut digolongkan pada “roman historis” dalam arti ditempatkan pada latar belakang historis tertentu. Walaupun demikian kitap Rut mempunyai ciri keagamaan yang mau mengemukakan kebenaran dan pikiran keagamaan. Kitab ini berguna untuk membina umat Tuhan dan menetapkan hati dalam pergumulan menghadapi kesusahan. Dalam Alkitab terjemahan LAI kitab Rut ditempatkan sesudah kitap Hakim-Hakim(1200-1150 SM). Meskipun latar belakang historis ada pada zaman Hakim-Hakim, namun penulisan kitab Rut oleh para ahli PL diperkirakan sekitar abad ke V SM dalam teradisi Deoteronomist atau tradisi Ulangan.
 
Kitab Rut merupakan kisah yang mengharukan hati. Betlehem atau kota roti justru tidak lagi menghasilkan roti karena mengalami masa pacekelik atau gagalnya hasil panen karena tidak turun hujan. Situasi pacekelik inilah yang memaksa keluarga Naomi meninggalkan kota Betlehem menuju Moab kota asing bersama dengan suaminya Elimelekh dan anak-anaknya Mahlon dan Kiliyon. Diperantauan kedua anak laki-lakinya berkeluarga dengan perempuan Moab, Mahlon mempunyai isteri namanya Rut, Kilyon mempunyai isteri namanya Orpa. Maksud hati mempertahankan keberlangsungan hidup dinegeri asing , tapi yang terjadi justru sebaliknya, suami dan anak-anaknya meninggal di Moab. Di tengah kesusahan seperti itu Rut menantunya tetep menunjukkan kesetiaannya kepada keluarga Naomi dan juga kepada Allahnya Naomi ( Rut 1:16-17). Mereka pulang keBetlehem dengan tangan hampa. Kedatangan mereka menggemparkan seluruh kota Betlehem(19), Naomi tidak mau disebut dengan namanya tapi dia mengubahnya menjadi Mara [Pahit]. Naomi artinya menyenangkan diubahnya menjadi Mara atau Pahit. Naomi juga mengatkan bahwa Tuhan naik saksi menentangnya dan mendatangkan malapetaka kepadanya. (21).
 
Tafsiran.
Ayat 1. Boas (Padanya kekuatan)seorang yang sangat kaya, berasal dari kaum Elimelekh. Jika Boas termasuk kerabat keluarga Naomi, apakah Boas bersedia menolong Naomi dan Rut ? Sesuai dengan aturan agama, seharusnya Boas dapat menolong mereka, bahkan wajib hukumnya menolong kaum keluarga yang jatuh miskin.
 
Ayat 3. Rut pergi kebetulan ia berada di ladang Boas. Kata kebetulan berarti Rut tidak tahu di mana kini ia sedang berada.
 
Ayat 4. Boas dating keladang. Ia digambarkan sebagai seorang yang murah hati, waktu ia tiba di ladangnya ia menyapa pekerja-pekerja di ladangnya dengan salam hormat yang sangat baik. Boas bukan orang sombong, ia mengenal orang-orang yang bekerja untuk dia.
 
Ayat 5. Boas juga tahu kalau ada orang asing di antara para pekerja-pekerjanya, itu sebabnya ia bertanya tentang siapa perempuan yang ada di antaramereka.
 
Ayat 6. Jawaban pekerjanya atas pertanyaan Boas, bahwa perempuan itu Rut perempuan Moab. Ia pulang dengan Naomi dari Moab. Dengan menyebutkan orang Moab menunjukkan bahwa Rut bukan orang kita.
 
Ayat 7. Dalam ayat tujuh sipekerja meneruskan bahwa Rut sopan sebab sebelumnya ia lebih dahulu minta izin untuk memungut jelai itu dan ia juga rajin kerja atau tidak malas. Orang Betlehem umumnya kurang mampu menghargai orang asing namun mereka heran ada orang asing yang baik dan sopan seperti Rut, sungguh di luar dugaan mereka.
 
Ayat 8. Dari informasi para pekerja itu Boas mendekati Rut. Ia memberi izin kepada Rut untuk terus memungut jelai-jelai gandumnya.
 
Ayat 9. Bahkan Boas memberi jaminan keamanan, pengerja-pengerja laki-laki tidak boleh menggangunya dan Rut boleh minum air bersama dengan para pengerja Boas.

Renungan.
Maksud cerita Rut pasal 2:1-9 mau mengatakan kepada para pembaca dan pendengar bahwa kesetiaan kepada kaum kerabat akan diberkati Tuhan, dan Tuhan itu pelindung orang yang malang seperti keluarga Naomi. Rut perempuan Moab setia kepada mertua dan bekas suaminya, ia bersedia mengorbankan segala sesuatunya untuk mengikut mertuanya yang malang, ia pulang bersama mertuanya ke Betlehem yang artinya meninggalkan rasa aman, kerabat dekat dan tuhannya di Moab, kemudian menyandarkan diri kepada bangsa asing yang tidak dia kenal serta menerimaTuhan Naomi tanpa ragu (16-17). Amin.

Pdt. I. B. Manik
GBKP RunggunCikarang
 

Page 1 of 56

BP-KLASIS-XXX

"SELAMAT DATANG mengunjungi Web GBKP KLASIS JAKARTA-BANDUNG"

Renungan

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
  • 6
  • 7
  • 8
  • 9
  • 10
  • 11
  • 12
  • 13
  • 14
  • 15

Pengunjung Online

We have 67 guests online