Khotbah Rut 2:1-9, Minggu 12 Juni 2016

Renungan

Invocatio :
Kemudian haruslah engkau merayakan hari tujuh Minggu bagi 
TUHAN, Allahmu, sekedar persembahan sukarela yang akan kauberikan, sesuai dengan berkat yang diberikan kepada- mu oleh TUHAN, Allahmu. (Ulangan 16:10)

Bacaan :
Keluaran 23:14-19 (Tunggal)

Thema :
 
Sebagian Dari Hasil Panen Dibiarkan Untuk Orang Miskin Dan
Orang Asing (Imamat 19:9)
 
Pengantar
Dalam kesusasteraan modern kitab Rut digolongkan pada “roman historis” dalam arti ditempatkan pada latar belakang historis tertentu. Walaupun demikian kitap Rut mempunyai ciri keagamaan yang mau mengemukakan kebenaran dan pikiran keagamaan. Kitab ini berguna untuk membina umat Tuhan dan menetapkan hati dalam pergumulan menghadapi kesusahan. Dalam Alkitab terjemahan LAI kitab Rut ditempatkan sesudah kitap Hakim-Hakim(1200-1150 SM). Meskipun latar belakang historis ada pada zaman Hakim-Hakim, namun penulisan kitab Rut oleh para ahli PL diperkirakan sekitar abad ke V SM dalam teradisi Deoteronomist atau tradisi Ulangan.
 
Kitab Rut merupakan kisah yang mengharukan hati. Betlehem atau kota roti justru tidak lagi menghasilkan roti karena mengalami masa pacekelik atau gagalnya hasil panen karena tidak turun hujan. Situasi pacekelik inilah yang memaksa keluarga Naomi meninggalkan kota Betlehem menuju Moab kota asing bersama dengan suaminya Elimelekh dan anak-anaknya Mahlon dan Kiliyon. Diperantauan kedua anak laki-lakinya berkeluarga dengan perempuan Moab, Mahlon mempunyai isteri namanya Rut, Kilyon mempunyai isteri namanya Orpa. Maksud hati mempertahankan keberlangsungan hidup dinegeri asing , tapi yang terjadi justru sebaliknya, suami dan anak-anaknya meninggal di Moab. Di tengah kesusahan seperti itu Rut menantunya tetep menunjukkan kesetiaannya kepada keluarga Naomi dan juga kepada Allahnya Naomi ( Rut 1:16-17). Mereka pulang keBetlehem dengan tangan hampa. Kedatangan mereka menggemparkan seluruh kota Betlehem(19), Naomi tidak mau disebut dengan namanya tapi dia mengubahnya menjadi Mara [Pahit]. Naomi artinya menyenangkan diubahnya menjadi Mara atau Pahit. Naomi juga mengatkan bahwa Tuhan naik saksi menentangnya dan mendatangkan malapetaka kepadanya. (21).
 
Tafsiran.
Ayat 1. Boas (Padanya kekuatan)seorang yang sangat kaya, berasal dari kaum Elimelekh. Jika Boas termasuk kerabat keluarga Naomi, apakah Boas bersedia menolong Naomi dan Rut ? Sesuai dengan aturan agama, seharusnya Boas dapat menolong mereka, bahkan wajib hukumnya menolong kaum keluarga yang jatuh miskin.
 
Ayat 3. Rut pergi kebetulan ia berada di ladang Boas. Kata kebetulan berarti Rut tidak tahu di mana kini ia sedang berada.
 
Ayat 4. Boas dating keladang. Ia digambarkan sebagai seorang yang murah hati, waktu ia tiba di ladangnya ia menyapa pekerja-pekerja di ladangnya dengan salam hormat yang sangat baik. Boas bukan orang sombong, ia mengenal orang-orang yang bekerja untuk dia.
 
Ayat 5. Boas juga tahu kalau ada orang asing di antara para pekerja-pekerjanya, itu sebabnya ia bertanya tentang siapa perempuan yang ada di antaramereka.
 
Ayat 6. Jawaban pekerjanya atas pertanyaan Boas, bahwa perempuan itu Rut perempuan Moab. Ia pulang dengan Naomi dari Moab. Dengan menyebutkan orang Moab menunjukkan bahwa Rut bukan orang kita.
 
Ayat 7. Dalam ayat tujuh sipekerja meneruskan bahwa Rut sopan sebab sebelumnya ia lebih dahulu minta izin untuk memungut jelai itu dan ia juga rajin kerja atau tidak malas. Orang Betlehem umumnya kurang mampu menghargai orang asing namun mereka heran ada orang asing yang baik dan sopan seperti Rut, sungguh di luar dugaan mereka.
 
Ayat 8. Dari informasi para pekerja itu Boas mendekati Rut. Ia memberi izin kepada Rut untuk terus memungut jelai-jelai gandumnya.
 
Ayat 9. Bahkan Boas memberi jaminan keamanan, pengerja-pengerja laki-laki tidak boleh menggangunya dan Rut boleh minum air bersama dengan para pengerja Boas.

Renungan.
Maksud cerita Rut pasal 2:1-9 mau mengatakan kepada para pembaca dan pendengar bahwa kesetiaan kepada kaum kerabat akan diberkati Tuhan, dan Tuhan itu pelindung orang yang malang seperti keluarga Naomi. Rut perempuan Moab setia kepada mertua dan bekas suaminya, ia bersedia mengorbankan segala sesuatunya untuk mengikut mertuanya yang malang, ia pulang bersama mertuanya ke Betlehem yang artinya meninggalkan rasa aman, kerabat dekat dan tuhannya di Moab, kemudian menyandarkan diri kepada bangsa asing yang tidak dia kenal serta menerimaTuhan Naomi tanpa ragu (16-17). Amin.

Pdt. I. B. Manik
GBKP RunggunCikarang
 

Khotbah Pengkhotbah 9:10-22, Minggu 5 Juni 2016

Renungan

Invocatio :
Dalam tiap jerih payah ada keuntungan, tetapi kata-kata
belaka mendatangkan kekurangan saja. Amsal 14 : 23

Bacaan :
Matius 21 : 28 - 32

Thema :
Bekerjalah (Erdahinlah)
 
Saudara-saudara yang Tuhan Kasihi,
Salah satu hewan ciptaan Tuhan yang dikenal sangat rajin ialah Semut. Banyak cerita tentang betapa rajinnya semut yang kita dengar dalam kehidupan kita. Mereka juga dalam dunia anak-anak sering dijadikan sebagai ikon untuk membangun semangat kerja mereka, sebab sering diceritakan bagaimana mereka mengupayakan agar persediaan makanan mereka sudah terkumpul banyak sebelum tiba musim hujan. Semangat kerja dibarengi dengan semangat gotong royong yang begitu luar biasa. Apabila ada yang menemukan makanan yang besarnya jauh melebihi ukuran kemampuannya maka secara serempak mereka membawa makanan itu menuju ke tempat dimana mereka bersarang. Point dari cerita sederhana ini adalah kerja adalah bagian yang penting untuk dapat bertahan hidup. Rajin Pangkal Kaya, ini juga sebagian dari cuplikan pribahasa Indonesia.
 
Sabda Firman Tuhan melalui thema yang ada pada hari ini sangatlah singkat, tapi jelas dan tegas sebab membawa ingatan kita kembali pada tugas utama yang diembankan oleh Tuhan Allah kepada manusia pada awal manusia dijadikanNya secara sempurna. Setelah Tuhan Allah menciptakan manusia maka FirmanNya 28 Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: "Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi." (Kej. 1 : 28). Secara sederhana dapat dikatakan bahwa keberadaan manusia di bumi ini agar disenangi oleh Tuhan adalah bekerja. Dan bukan NATO (No Action Talk Only) seperti yang tertulis pada Invocatio minggu ini.
 
Saudara-saudara yang Tuhan kasihi,
Bekerja yang seperti apakah yang Tuhan inginkan dalam kehidupan kita. Ini juga sepertinya harus dikembalikan pada bagaimana Tuhan Allah “bekerja” mencipta atau menjadikan bumi beserta isinya. Ada hal yang menarik untuk dilihat dari setiap “akhir” dari pekerjaan yang dilakukan oleh Tuhan Allah pada setiap hari penciptaan. “Ia melihat semua baik adanya dan memberkatiNya” Menurut saya, ada hal penting yang diungkapkan pada setiap peristiwa itu yaitu pekerjaan itu adalah soal tanggungjawab dan menyelesaikan pekerjaan itu dengan hasil yang baik juga. Dan bila kita menoleh pada bacaan kita pada hari ini yang tertuangdi kitab Matius maka saya juga menyimpulkan bahwa kedua hal ini tidaklah diperlihatkan. Anak sulung, ketika mendapat “pekerjaan” dari orang tuanya; ia sama sekali tidak melihat bahwa itu adalah sebuah tanggungjawab yang harus dilaksanakannya. Oleh sebab itu ia mengabaikannya. Dan anak bungsu juga, melihat bahwa “pekerjaan” itu mungkin “mengganggunya” tapi karena orang tuanya yang menyuruhnya walau ada sungut-sungut namun ia melakukannya. Sering kali mungkin dalam kehidupan kita, ketika kepada kita diberikan tanggungjawab untuk menyelesaikan sebuah pekerjaan dan dikarenakan kita merasa bahwa itu “tidak menguntungkan kita” atau hanya “mengganggu kesenangan kita” maka kita mengabaikan atau kalaupun kita melakukannya maka kita akan melakukannya seadanya saja.
 
Padahal, kalau kita mau melihat jauh atau barangkali merenungkan bahwa “pekerjaan” itulah yang Tuhan kehendaki untuk kita lakukan, maka sikap yang seharusnya kita tumbuhkan dalam diri kita adalah melihat bahwa dengan melaksanakan pekerjaan itu maka kita telah menyenangkan Tuhan. Dan dengan menyelesaikan pekerjaan itu degan baik maka kita akan mendapatkan berkat dari Tuhan.
 
Saudara-saudari yang Tuhan kasihi,
Pernahkah kita berfikir betapa banyak yang menginginkan untuk bisa mendapatkan pekerjaan namun untuk mendapatkannya mereka harus berjuang dengan berbagai cara untuk mendapatkannya. Bahkan hingga saat ini kita masih serig mendengar bahwa masih banyak yang merindukan agar mendapat pekerjaan namun belum memperolehnya. Lalu, mengapa kita yang telah “dianugrahkan” pekerjaan namun serig kali juga “tidak mencintai pekerjaan” yang dianugrahkan kepada kita. Seolah-olah kita tidak percaya bahwa Tuhan sedang memberi kesempatan kepada kita untuk bisa bekerja dengan baik. Bahkan terkadang kita punya pemikiran bahwa melalui “pekerjaan” yang kita lakukan tidak akan pernah mampu memenuhi atau memuaskan “keinginan” kita. Bukan juga bermaksud untuk mengatakan bahwa “kita salah memilih pekerjaan” atau Tuhan salah memberikan pekerjaan.
 
Menelaah bahan khotbah hai ini, mengajar kita untuk melihat beberapa hal :
  1. Bekerja adalah sebuah kesempatan, oleh sebab itu apa yang kita miliki baik kekuatan, pikiran, kemampuan; semuanya haruslah dimanfaatkan dengan baik. Manusia diberikan pekerjaan untuk dapat mewujudkan kehendak Tuhan ketika Ia menciptakan manusia. Tuhan menginginkan setiap pekerjaan yang dilakukan haruslah mengarah pada sifat Ilahi dalam bekerja yakni bertanggungjawab dan menyelesaikannya dengan baik.
  2. Bekerja bukanlah untuk mengejar “keinginan hati” atau “kepuasan dunia”. Tapi bekerja merupakan “cara hidup” yang harus dilalui manusia untuk “mengisi waktu hidupnya”. Sebab setelahnya maka manusia akan pergi pada “kematian”. Dan itu adalah akhir dimana manusia tidak lagi dapat bekerja. Bisa saja ada pemikiran “untuk apa bekerja kalau toh mati”. Pikiran ini jelas tidak benar, karena ketika manusia bekerja maka di saat itu ia akan senantiasa membuka keomunikasi iman dengan Tuhan tentang arti dari perjalanan hidup yang telah dilaluinya. Manusia menjadi berarti dan berharga di hadapan Tuhan Allahnya apabila manusia iu melakukan apa yang dikehendaki oleh Tuhan Allahnya sebelum Tuhan Allahnya memanggilnya untuk kembali kepadaNya.
Saudara-saudari Jemaat Tuhan,
Sebagai umat yang diciptakan oleh Tuhan berarti kita punya kewajiban selama kita diberi kesempatan untuk hidup. Dan kewajiban itu adalah bekerja. Dan bila kewajiban hidup selama kesempatan hidup iu adalah bekerja, bukankah menjadi lebih baik bagi kita bila dalam mengerjakan setiap pekerjaan yang ada dalam kehidupan kita didasari oleh pikiran Tuhanlah yang empunya hidup dan pekerjaanku. Oleh sebab itu aku akan memanfaatkan sebaik-baiknya setiap kesempatan dan pekerjaan yang Tuhan berikan kepadaku. Entah sebagai apapun profesi dan bentuk pekerjaan yang diberikan kepada kita; marilah kita bertanggungjawab dan berusaha mengerjakan pekerjaan kita dengan sebaik-baiknya. Dan dengan demikian Tuhan akan senang dan Tuhan akan memberkati kita. Amin.

Pdt. Benhard Roy Calvyn Munthe
081361131151
 

Khotbah 1 Raja-Raja 8:22-23;41-43, Minggu 29 Mei 2016

Renungan

Invocatio :
Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa muridKu dan 
babtislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman”. (Matius.28:19-20).

Bacaan :
Lukas. 7:1-10 (Tunggal).

Khotbah :
1 Raja-raja. 8:22-23 ; 41-43. (Tunggal).

Tema :
“Itandai dingen iikutken bangsa doni enda Kam”/ “Semua
Suku Bangsa akan Mengenal dan mengikut Engkau”.
 
Pendahuluan.
Setiap manusia pasti memiliki tujuan di dalam kehidupan mereka, tujuan hidup inilah yang memotivasi mereka untuk bekerja keras agar apa yang mereka harapkan dapat menjadi kenyataan. Kalau tidak bekerja dan berjuang dengan sungguh, maka tujuan hidup itu akan menjadi angan-angan atau hayalan belaka.
 
Sebagai umat Allah, kita juga pasti memiliki cita-cita/harapan didalam kehidupan ini, selain kaita harus bekerja keras mencapainya tentu tetapi kita juga harus menyadari bahwa ada tugas dan tanggungjawab yang harus kita utamakan sebagai umat Allah, yaitu menjadi saksi Kristus di dunia ini, sesuai dengan Amanat Agung Tuhan Yesus Kristus.
 
Saudara-saudari yang terkasih, kitab Lukas yang menjadi bacaan minggu ini menyaksikan tentang perkerjaan Yesus kristus sebagai Mesias yang melakukan perkara-perkara besar sehingga orang banyak takjub serta datang kepadaNya untuk mendapatkan kesembuhan. Ada seorang perwira Romawi yang memiliki jabatan yang cukup tinggi dan pengaruh besar yang memiliki seorang hamba yang sakit keras, dia sudah berupaya agar hambanya dapat disembuhkan, namun upaya tersebut tidak berhasil. Dia mendengar tentang Yesus yang memiliki kuasa penyembuhan, sehingga dia sangat yakin Yesus dapat menyembuhkan hambanya sehingga ia memohon dengan iman agar Yesus berkenan untuk menyembuhkan hambanya itu. Yesus melihat keyakinan/iman yang luar biasa dari seorang perwira Romawi dan memuji imannya dan menyembuhkan hambanya itu. Kita dapat melihat bahwa penyembuhan yang dilakukan Yesus adalah karena iman perwira itu.
 
Saudara-saudari yang terkasih. Bangsa Israel yang dipimpin Raja Salomo adalah bangsa yang sangat termasyur diantara bangsa-bangsa yang ada di muka bumi ini. Salomo terkenal dengan hikmad dan kebijaksanaannya dan keberaniannya sehingga semua bangsa sangat takjub dan ingin sekali untuk datang ke Israel untuk bertemu dengan Raja Salomo. Kebudayaan yang berkembang saat itu adalah bahwa kebesaran dan kemenangan atas suatu bangsa adalah bukti bahwa Allah yang mereka sembah adalah Allah yang perkasa. Di dalam kitab 1 Raja-raja 10:1-13, dituliskan tentang kedatangan seorang ratu dari negeri Syeba mengunjungi Kerajaan Salomo dan segala kebesarannya. Ketika bertemu dengan raja Salomo dia sangat takjub dan memuji salomo serta Allah yang disembah oleh Bangsa Israel dan raja Salomo.
 
Di dalam bahan Khotbah minggu ini, kita membaca bahwa Raja Salomo berdoa Kepada Allah, Salomo memuliakan Allah yang Maha Kuasa atas langit dan bumi dan sebagai sumber dari segala Kebijaksanaan dan yang memberikan kemakmuran kepada bangsa Israel. Raja Salomo juga yakin bahwa Allah akan memberkati setiap bangsa-bangsa / orang asing yang datang menyembahNya. Hal ini adalah harapan Allah kepada bangsa Israel sebagai bangsa pilihan yang dikhususkan untuk menjadi berkat bagi seluruh suku bangsa di muka bumi ini. Melalui bangsa Israel bangsa-bangsa asing akan diselamatkan.
 
Kesimpulan dan Refleksi.
1. Yesus Kristus datang ke dunia menjadi Juruselamat Universal, Kita juga harus menyatakannya kepada dunia ini. Kitab Lukas menyaksikan bahwa Yesus Kristus adalah Mesias yang diutus untuk menyelamatkan seluruh umat manusia, bukan hanya sekelompok orang/suku tertentu. Dia menunjukkan kasihNya kepada seorang Perwira Romawi yang memiliki seorang hamba yang sakit keras. Melalui kesembuhan hambanya itu, tentu perwira Romawi akan beriman dan menerima Yesus sebagai Mesias. Kita sebagai umat Kristus, harus menyaksikan Injil kepada dunia ini, sehingga mereka beriman kepada Yesus Kristus.
 
2. Raja Salomo sebagai pemimpin bangsa yang besar, yang dianugerahi Kebijaksanaan, kekayaan dan Umur yang panjang, mengakui kebesaran Allah. Sering kali seseorang yang dianugerahi kekuasaan, kekayaan dan kemuliaan menjadi orang yang lupa diri, lupa bahwa Sumber dari semua itu adalah berkat dari Allah. Sebagai umat Allah kita harus selalu bersyukur kepada Allah dan tetap menyaksikan bahwa segala berkat itu bersumber dari Allah, sehingga menjadi kesaksian bagi semua orang agar mereka juga menyembah dan memuliakan Allah.
 
3. Tugas Gereja Adalah Memperkenalkan kasih Allah didunia ini. Thema khotbah minggu ini, mengingatkan kita tentang eksistensi gereja di dunia ini, gereja hadir untuk menyaksikan Kasih dan kuasa Allah di dunia ini. Kehidupan warga gereja menjadi cerminan dari kehidupan Yesus Kristus yang mengasihi semua orang tanpa memandang suku bangsa. Mari kita mengevaluasi kehidupan bergereja kita apakah kita hadir untuk diri kita sendiri atau kehadiran kita sudah menjadi berkat buat lingkungan kita. Marilah menjadi berkat sehingga dunia ini akan mengenal dan menyembah Allah.
 
Pdt. Togu P. Munthe
Rg. Cililitan
 

Khotbah Yohanes 16:12-15, Minggu 22 Mei 2016

Renungan

Invocatio :
Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi. Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air. (Kej 1: 1-2)
 
Ogen :
Mazmur 8: 1-10 (Responsoria)
 
Khotbah :
Yohanes 16: 12-15 (Tunggal)
 
Tema :
ALLAH TRITUNGGAL
 
‘Pekerjaan Penghibur’, demikian judul perikop yang diberi oleh LAI. Minggu lalu kita merayakan Pentakosta, hari turunnya Roh Kudus, Roh Penolong dan Penghibur. Roh ini telah ada dan terus berkarya di dunia. Yoh 16: 8-9a menyatakan “Kalau Ia datang, Ia akan menyatakan kepada dunia arti sebenarnya dari dosa, dari apa yang benar, dan dari hukuman Allah. Ia akan menyatakan bahwa tidak percaya kepada-Ku adalah dosa..”(terjemahan BIS). Roh Kudus memberi pemahaman yang terang benderang dari apa yang dipahami secara abu-abu oleh dunia ini.

Yohanes 16:12 memberi gambaran bagaimana penilaian Yesus terhadap kesiapan diri murid-murid pada saat itu. IA melihat murid-murid belum sepenuhnya siap (belum dapat menanggungnya) menerima seluruh kebenaran. Prosesnya masih akan berlanjut sekalipun Tuhan Yesus tidak lagi ada di dunia secara jasmani. Disitulah peranan Roh Kudus, memampukan para murid memahami dan melakukan.

Ayat 13-15 menjelaskan murid-murid Yesus akan mengerti dan memahami segala sesuatunya dengan pertolongan Roh Kudus. Roh Kudus menyampaikan kebenaran, kesaksianNya berasal dari Bapa dan Anak. Segala sesuatu yang Bapa punya, adalah Aku (Yesus) punya. Ia (Roh Kudus) akan memuliakan Aku (Yesus) sebab Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterimaNya dari pada-Ku (Yesus). Artinya Bapa, Anak, dan Roh ada dalam misi yang sama karena Ketiganya adalah Esa. Allah Tritunggal bersaksi dan bekerja secara bersama-sama dalam sebuah harmoni.
 
Istilah ‘Allah Tritunggal’ adalah hasil pergumulan dan diskusi para bapa gereja kita. Hingga saat ini pun diskusi mengenai Allah Tritunggal masih berlanjut. Untuk memberi pemahaman kepada umat para teolog cenderung menjelaskan Allah Tritunggal dengan memaparkan peranan dari Allah Bapa, Allah Anak, dan Allah Roh Kudus. Secara umum penjelasannya seperti ini: Allah Bapa adalah pencipta dan pemelihara hidup kita. Allah Anak yaitu Yesus Kristus adalah teladan dan Juruselamat kita. Allah Roh Kudus adalah yang menolong, menghibur dan menguatkan kita. Kronologi waktunya menjadi jelas dan terbagi: Allah Bapa ada dan berkarya di sepanjang kehidupan umat yang dikisahkan di Perjanjian Lama. Yesus Kristus dinubuatkan oleh para nabi PL kemudian lahir, berkarya, mati, dibangkitkan dan naik ke surga pada zaman Perjanjian Baru dan dikisahkan oleh keempat Injil (Matius, Markus, Lukas, Yohanes). Roh Kudus diturunkan ke atas murid-murid dan orang percaya setelah 10 hari Yesus Kristus naik ke surga. Ini yang dipahami oleh sebagian besar orang Kristen. Tetapi ada kelemahan jika kita memahaminya sebatas itu. Pertama, Allah Tritunggal seolah-olah berperan dan berkarya dengan bergantian/bergiliran (istilahnya pakai shift), ada pembagian waktunya. Kedua, Allah Tritunggal seolah ada pembagian tugasnya. Padahal Allah Tritunggal tidak terpisahkan antara satu dengan lainnya. Saat Allah menciptakan langit dan bumi, bukan berarti Yesus dan Roh Kudus off. Invocatio Kejadian 1:2 memberi kita gambaran bahwa Roh Allah (dalam Alkitab sering bergantian istilah Roh Kudus, Roh Tuhan, Roh Allah) melayang-layang di atas permukaan air. Allah hadir dalam diri Roh. Jadi Roh Kudus bukanlah ‘lahir’ atau ‘ada’ saat kita memperingati Pentakosta minggu yang lalu, IA sudah ada sebelum dunia dibentuk. Sama halnya dengan Yesus Kristus. Injil Yohanes menulis Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah.(Yoh 1: 1-2). Firman (Yun: logos) yang menjadi daging adalah Yesus Kristus. Yesus adalah Anak-Nya yang Tunggal (bukan anak secara biologis) yang sudah ada sejak kekal. Yohanes Pembaptis dengan imannya mengakui “kemudian dari padaku akan datang Dia yang telah mendahului aku, sebab Dia telah ada sebelum aku” (Yoh 15: 1). Jadi, sekalipun kita mencoba memahami Allah Tritunggal dengan peranan-Nya yang signifikan dari masa ke masa, Allah Tritunggal tidak terbatas dengan pembagian waktu dan pembagian tugas. Adalah manusia yang terbatas dalam memahami-Nya, sehingga penjelasan tentang Allah Tritunggal terus dikembangkan dengan tetap mengakui bahwa logika manusia pun terbatas untuk memahami Allah. Karena itu yang perlu kita cari adalah bagaimana kita menyembah Allah yang Tritunggal, bukan mendefinisikanNya. Peranan Allah Tritunggal senantiasa kita alami setiap hari. Misalmnya, formulasi kalimat Votum minggu ini: “Kebaktian Minggu Trinitas ini dimulai dalam nama Allah Bapa, yang penuh kemuliaan, dalam nama Yesus Kristus, Juruselamat manusia, dan dalam nama Roh Kudus yang menyertai dan menolong kehidupan manusia.” Tidak hanya satu, tidak hanya dua, selalu Tritunggal. Jika Allah Tritunggal dipahami tanpa harus dipisah-pisahkan, itu yang kita sebut pengenalan. Kita mengenal Allah setiap hari melalu pengalaman dan hubungan pribadi kita dengan-Nya. Allah Tritunggal bukan tiga oknum yang bersatu, tapi memang SATU.
 
Yoh 16: 12-15 adalah perkataan Yesus memperjelas status Roh Kudus sebagai Roh Kebenaran, yang akan memimpin murid-murid (kita juga adalah murid-murid Yesus) ke dalam seluruh kebenaran dan akan memberitakan kepada kita hal-hal yang akan datang. Kita pun akan memahami karya Allah dalam dunia ini dengan bimbingan dari Roh Kudus. Banyak hal yang tidak kita mengerti di dunia ini, apa rencana Allah bagi dunia yang dirundung bencana, apa rencana Allah bagi GBKP, apa rencana Allah bagi diriku? Semua ini adalah pertanyaan yang kita cari jawabnya sepanjang hidup. Jawabnya tidak ditemukan dengan hitung-hitungan dan logika tetapi dengan iman, Roh Kuduslah yang akan menerangi proses pencarian kita. Juga, Roh Kudus yang akan terus mengajar kita dalam upaya memperlengkapi pemahaman kita mengenai Allah Tritunggal. Bukan untuk menemukan definisi, melainkan menghormati dan memuliakan Ketiganya Yang Esa. Kita memulikan Tuhan sebagaimana dinyatakan pemazmur dalam Mazmur 8:10 ”Ya Tuhan, Tuhan kami, betapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi!”
 
Muliakan Allah Bapa, muliakan Putra-Nya, muliakan Roh Penghibur,
Ketiganya Yang Esa!
Haleluya, puji Dia kini dan selamanya!
(Kidung Jemaat 242:1)
 
Pdt. Yohana Br Ginting
Perp. Samarinda
 

Khotbah II Korintus 3:12-18, Minggu 07 Februari 2016, PASSION I

Renungan

Invocatio    :
Tuhan hidup ! Trpujilah gunung batuku, dan mulialah Allah
Penyelamatku (Mas.18:46)

Bacaan    :
Keluaran 34 : 29 – 35   (Tunggal)

Thema    :
“Cerminkan/ Pancarkan Kemuliaan Tuhan”
Pembincarken Kemulian Dibata

 
Jemat yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus

Minggu ini adalah Minggu Passion I, yang mengingatkan kita tentang kesengsaraan dan penderitaan Tuhan Yesus Kristus untuk menebus kesalahan dan dosa-dosa manusia. Sesungguhnya penyakit kitalah yang ditanggungNya, kesengsaraan kitalah yang dipikulNya. Dia tertikam oleh karena pemberontakan yang kita lakukan, Dia diremukkan oleh kejahatan kita. Ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadaNya. Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus AnakNya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, tapi untuk menyelamatkannya oleh Dia (Yoh.3:16-17). Penderitaan dan pengorbanan Yesus Kristus bagi dunia ini adalah perwujudan kemulian Allah. Sepanjang kehidupan dan pelayanan Yesus di dunia ini walau pun melalui kesengsaraan dan penderitaan sampai kepada kematian, Dia tetap mencerminkan atau memancarkan kemuliaan Allah. Demikian juga tetunya bagi setiap orang percaya tetap setia dan taat dalam iman kepada Yesus Kristus dari setiap situasi yang kita hadapi kini, dan terus berjuang untuk mencerminkan kemuliaan Allah.
 
Firman Tuhan yang menjadi perenungan kita hari ini dalam 2 Korintus 3:12-18, dalam nats ini Rasul Paulus bersaksi tentang diri dan pelayanannya sebagai pelayan perjanjian baru. Dalam hal ini Paulus mengambil pelajaran dari Keluaran 34:30,34-35, Musa menyelubungi mukanya demi umatnya; mereka takut menghampiri dia karena wajahya masih memancarkan kemuliaan ilahi dari perjumpaannya dengan Allah di gunung Sinai. Dengan keberaniannya Paulus tidak seperti Musa, yang tidak dapat berkomunikasi dengan bangsa Israel dengan ketulusan yang serupa. Tapi Paulus dan rekan-rekan sepelayanan bertindak dengan penuh keberanian. Keberanian berarti kemampuan berbicara tentang keterbukaan, kejujuran, ketulusan yang mutlak. Musa menutupi wajahnya serta memudarnya cahaya dari wajah Musa, Paulus melihat suatu makna dari peristiwa itu bahwa Musa menghalangi umat Israel melihat seluruh kebenarannya- bahwa perjanjian yang lama itu harus berahir dengan kedatangan Kristus(Rom.10:4,Gal.3:24)”Sebab Kristus adalah kegenapan hukum Taurat, sehingga kebenaran diperoleh tiap-tiap orang yang percaya”.  Selubung yang menutupi wajah Musa merupakan gambaran tertutupnya pemahaman dan tumpulnya pikiran orang Yahudi hingga kini untuk menerima penyataan yang baru, yaitu hanya di dalam Kristuslah penutup mata yang menyebabkan kebodohan tentang maksud Allah dalam memberikan torah itu diambil dari padanya. Rasul Paulus kini mengadaptasi penyataan pada peristiwa pertobatannya. Apabila hati seseorang berbalik kepada Tuhan, selubung itu di ambil daripadanya. Tuhan adalah tidak lain daripada Roh itu sendiri yang mengangkat selubung ketidak pahaman. Seperti halnya Roh yang menyebabkan pelupuk kebodohan jatuh dari mata Rasul Paulus(Kis.9:17-18). Ketika Roh melaksanakan kuasaNya yang berdaulat, di situ ada kemerdekaan  dari hukum yang menghukum dan mematikan. Roh yang menghasilkan kemerdekaan dari dosa dan maut(gal.2:4, Rom.6:18,22,23). Kemerdekaan yang diberikan oleh Roh itulah yang menetapkan dia menjadi Rasul dan dengan keberanian untuk mengatakan kebenaran dengan terus terang. Kuasa Roh lah yang memberikan Paulus keberanian untuk melaksanakan pelayanannya. Kemuliaan dari perjanjian yang baru itu tidak disingkapkan dalam kekuatan manusia, tetapi di dalam kuat kuasa Roh. Dahulu wajah Musa lah yang menampakkan kemuliaan Allah. Hanya dia yang dapat bercakap-cakap dengan Allah dengan wajah yang tersingkap(Kel.34:34). Kini semua orang percaya di dalam Kristus mempunyai pemandangan yang jelas tentang kemuliaan Tuhan. Orang percaya adalah orang yang dibentuk mendekati gambar anak Allah(Rom.8:29). Proses perubahan ini sekarang dan di masa mendatang adalah dari kuasa Tuhan yaitu di dalam Roh. Oleh sebab itu dari keterbatasan dan ketidak sempurnaan setiap orang percaya, tetap menjadi saksi Tuhan untuk mencerminkan-memancarkan kemuliaan Tuhan.
 
Jemaat yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus
Dari pengalaman hidup Paulus dalam memberitakan Injil seperti halnya yang di utarakan tersebut diatas,ada beberapa sikap yang patut kita teladani yang menjadi kekuatan iman kepada Yesus Kristus dan memancarkan kemuliaan Allah yaitu:  Berani Menghadapi tantangan dan penderitaan dengan mempertaruhkan iman pengharapan kepada Tuhan. Dengan kerendahan hati ia mengakui bahwa kemampuannya dalam melayani adalah oleh karna kuasa Allah yang bekarya di dalam Roh. Selubung yang menutupi yaitu sifat-sifat manusia lama ditanggalkan dan hidup baru di pimpin oleh Roh Kudus(Gal.5:22-26). Tetap setia dan menjadi saksi Kristus untuk memancarkan kemuliaan Tuhan dari sikap hidup, pelayanan, pekerjaan nya. Tentu halini adalah bagian hidup kita sebagai orang percaya. Yesus berkata,” Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apasaja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya. Dalam hal inilah Bapaku dimuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-muridKu. Amin.

 
      Pdt. Terima Tarigan 
GBKP Rg.CILEUNGSI
 
 

Page 1 of 56

BP-KLASIS-XXX

"SELAMAT DATANG mengunjungi Web GBKP KLASIS JAKARTA-BANDUNG"

Renungan

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
  • 6
  • 7
  • 8
  • 9
  • 10
  • 11
  • 12
  • 13
  • 14
  • 15

Pengunjung Online

We have 19 guests online