Khotbah Matius 8:18-22, Minggu 30 Juni 2013 (Minggu 5 Setelah Trinitatis)

Renungan

Introitus : 
lalu Ia berkata kepadanya:"Ikutlah Aku." Maka berdirilah Matius lalu mengikut Dia (Matius 9 :9b) 

Bacaan : I Raj-raja 19: 19 -21; Khotbah : Matius 8 : 18 – 22 

Thema : “Setialah mengikut Yesus” (“Setialah ngikutken Jesus”) 


Saudara yang dikasihi Tuhan Yesus, mungkin kita masih mengingat lagu : "Mengikut Yesus keputusanku”:
Mengikut Yesus, Keputusanku, Mengikut Yesus, Keputusanku, Mengikut Yesus, Keputusanku, ‘Ku Tak Ingkar, ‘Ku Tak Ingkar! 
'Ku Tetap Ikut, Walau Sendiri, ‘Ku Tetap Ikut, Walau Sendiri, ‘Ku Tetap Ikut, Walau Sendiri, ‘Ku Tak Ingkar, ‘Ku Tak Ingkar! 
Salib Di Depan, Dunia Kutinggal, Salib Di Depan, Dunia Kutinggal, Salib Di Depan, Dunia Kutinggal, ‘Ku Tak Ingkar, ‘Ku Tak Ingkar! 

Mengikut Yesus adalah tidak akan ingkar, atau S3. Setia Sampai Selamanya. Mungkin ada resiko yang akan kita hadapi, kenyataan yang tidak sesuai dengan yang pernah kita banyangkan. Tapi apapun yang akan terjadi akibat keputusan tersebut tidak akan membuat kita kendor atau tidak semangat mengikutNya.

Lebih lanjut: Khotbah Matius 8:18-22, Minggu 30 Juni 2013 (Minggu 5 Setelah Trinitatis)

 

Khotbah Matius 10:16-22, Minggu 23 Juni 2013 (Minggu 4 Setelah Trinitatis)

Renungan

Introitus : 
"Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati” (Matius 10:16)
 
Pembacaan : Galatia 4:4-9 (Responsoria); Khotbah : Matius 10:16-22) (Tunggal)
 
Thema : Cerdik seperti Ular dan Tulus seperti Merpati
 
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan Allah,
Allah telah menyatakan diriNya melalui kasihNya kepada manusia dengan banyak cara/bentuk. Kita sangat menyadari bahwa berkat hidup yang diberikan bagi kita adalah Anugerah. Demikian halnya yang kita miliki atas pengetahuan, hikmat bahkan segala apa yang kita miliki atas keberadaan kita menyadarkan kita tentang kebaikan Allah terhadap kita anak-anakNya. Kebaikan Allah tentu harus direspon dengan apa yang harus kita lakukan sebagai Anak Allah di dalam kehidupan ini. Artinya kita tidak bisa pasif dengan iman yang kita miliki. Sebagai Anak-Anak Allah tentu menjadi tanggung jawab kita melakukan perintahnya yang salah satu diantaranya menjadi saksi akan kasih Allah bagi dunia ini. Kesaksian yang dimaksud berhubungan dengan perbuatan kita untuk menyatakan kasih Allah di tengah-tengah kehidupan ini. Tentu pekerjaan menjadi saksi bukanlah hal yang mudah sebab hal pertama yang harus kita kuasai adalah diri kita sendiri. Ditengah perkembangan jaman yang semakin canggih ini tentu membentuk berbagai keberadaan kehidupan manusia itu sendiri. Dalam hal inilah Allah menghendaki peran kita sebagai anak-anakNya sekali apapun yang akan kita alami dan hadapi diharapkan kita tetap menunjukkan keberadaan kita.

Lebih lanjut: Khotbah Matius 10:16-22, Minggu 23 Juni 2013 (Minggu 4 Setelah Trinitatis)

 

Khotbah Lukas 7:40-50, Minggu 16 Juni 2013 (Mingggu 3 Setelah Trinitatis)

Renungan

Introitus : 
Lalu Ia berkata kepada perempuan itu:”Dosamu telah diampuni”. (Lukas 7:48). 
 
Bacaan : 2 Samuel 12:10-14 (tunggal); Khotbah : Lukas 7: 40-50 mulai ayat 36 (Tunggal). 
 
Tema : “Orang yang mengakui dosanya, diampuni!” 
 
Saudara-saudara yang kekasih dalam nama Tuhan Yesus Kristus, Mengaku dosa secata terbuka(di depan umum) jauh lebih sulit daripada mengaku dosa secara tertutup (pribadi di depan Allah), karena mengaku dosa secara terbuka tentunnya mendapat resiko yaitu menanggung malu, sedangkan mengaku dosa secara tertutup hanya Tuhan saja yang tahu dan diri sendiri. Selain mendapat malu, mengaku dosa secara terbuka juga dianggap sesuatu yang rendah, sehingga ada orang yang tidak mau mengakui kekurangannya atau meminta maaf kepada orang lain.

Lebih lanjut: Khotbah Lukas 7:40-50, Minggu 16 Juni 2013 (Mingggu 3 Setelah Trinitatis)

 

Khotbah Lukas 7:11-17, Minggu 9 Juni 2013

Renungan

Introitus : 
Tak berkesudahan kasih setia Tuhan, tak habis-habisnya rahmat-Nya (Rat. 3:22)
 
Bacaan : 1 Raja-raja 17:17-24 (tunggal); Khotbah : Lukas 7:11-17 (tunggal)
 
Tema : 
Jesus Peduli dan Menolong (Jesus Kepate ras Nampati)
 
Pendahuluan
Adalah suatu kebahagiaan tersendiri jika ada suatu benda yang sudah lama hilang dan akhirnya kita temukan kembali. Terlebih jika seorang anak atau keluarga yang sudah lama tidak bertemu kemudian berjumpa kembali pastinya akan membawa sukacita yang luar biasa. Sejalan dengan itu kecenderungan banyak orang ketika hidup semuanya baik: kesehatan baik, keuangan cukup atau malah lebih dari cukup, hubungan dalam keluarga baik, pekerjaan baik, pelayanan baik, semuanya baik-baik saja, biasanya kita cenderung memuji Allah dan cepat mengucapkan kata syukur kepadaNya. Namun jika salah satu atau semuanya memburuk, itu bagaikan badai yang sedang mengamuk menerpa hidup, maka kegelisahan pun mulai muncul, ragu, cemas dan mulai bertanya-tanya apakah benar ada Allah yang melihat apa yang sedang terjadi namun terus membiarkan semuanya itu terjadi (bnd.1 Raj. 17:18, tentang keluhan janda Sarfat). Permasalahan dalam kehidupan yang sedang terjadi sering membuat kita gelisah, merasa tidak tentram, bahkan sangat sukar melalui malam-malam tanpa bisa tertidur karena pikiran kita dipenuhi dengan persoalan demi persoalan.

Lebih lanjut: Khotbah Lukas 7:11-17, Minggu 9 Juni 2013

 

Khotbah Yeremia 9:22-26, Minggu 2 Juni 2013

Renungan

Introitus : 
Tetapi siapa mau yang bermegah, baiklah bermegah karena yang berikut: Bahwa ia memahami dan mengenal Aku, bahwa Akulah Tuhan yang menunjukkan kasih setia, keadilan dan kebenaran di bumi, sungguh semuanya itu kusukai, demikianlah Firman TUHAN (Yeremia 9:24).
 
Bacaan : II Korintus 10:12-18 (Tunggal); Khotbah : Yeremia 9:22-26
 
Tema : 
Bermegah di dalam Tuhan (Megahlah atendu ibas Tuhan).
 
Kata Pendahuluan
 
Saudara-saudara yang kekasih,
Godaan untuk bermegah dalam diri manusia dan bermegah di dalam Tuhan seperti tarik tambang. Kecenderungan pemenang tarik tambang bermegah dalam diri manusia dan bermegah di dalam Tuhan dimenangkan oleh bermegah dalam diri manusia. Rasanya manusia tidak puas kalau tidak mengagung-agungkan, memperlihatkan, memamerkan, menonjolkan kelebihan-kelebihan yang dimiliki itu kepada orang lain sebagai hasil kebijaksanaan atau usahanya belaka. Hasilnya Mereka lupa bahwa sumber dari apa yang dimiliki itu adalah Tuhan. Dengan bermegah dalam diri manusia, mereka telah mencuri kemuliaan Allah, menjadi kemuliaan diri sendiri. Padahal dalam kehidupan kita bagi kemuliaan Allah sebab Ia sendiri sumber berkat dan kelebihan-kelebihan yang kita miliki. (Contoh-contoh bermegah dalam diri manusia dapat kita temukan dalam jejaring sosial yang memamerkan diri dengan kalimat:”Naik mobil baru nih”, “lagi nginap di hotel X nih’, “beli X nih”, secara tidak sadar ada unsur menonjolkan diri).

Lebih lanjut: Khotbah Yeremia 9:22-26, Minggu 2 Juni 2013

 

Page 1 of 29

 

 "SELAMAT DATANG mengunjungi Web GBKP KLASIS JAKARTA-BANDUNG"

Renungan

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
  • 6
  • 7
  • 8
  • 9
  • 10
  • 11
  • 12
  • 13
  • 14
  • 15

Pengunjung Online

We have 57 guests online

Login Form