Khotbah II Korintus 3:12-18, Minggu 07 Februari 2016, PASSION I

Renungan

Invocatio    :
Tuhan hidup ! Trpujilah gunung batuku, dan mulialah Allah
Penyelamatku (Mas.18:46)

Bacaan    :
Keluaran 34 : 29 – 35   (Tunggal)

Thema    :
“Cerminkan/ Pancarkan Kemuliaan Tuhan”
Pembincarken Kemulian Dibata

 
Jemat yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus

Minggu ini adalah Minggu Passion I, yang mengingatkan kita tentang kesengsaraan dan penderitaan Tuhan Yesus Kristus untuk menebus kesalahan dan dosa-dosa manusia. Sesungguhnya penyakit kitalah yang ditanggungNya, kesengsaraan kitalah yang dipikulNya. Dia tertikam oleh karena pemberontakan yang kita lakukan, Dia diremukkan oleh kejahatan kita. Ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadaNya. Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus AnakNya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, tapi untuk menyelamatkannya oleh Dia (Yoh.3:16-17). Penderitaan dan pengorbanan Yesus Kristus bagi dunia ini adalah perwujudan kemulian Allah. Sepanjang kehidupan dan pelayanan Yesus di dunia ini walau pun melalui kesengsaraan dan penderitaan sampai kepada kematian, Dia tetap mencerminkan atau memancarkan kemuliaan Allah. Demikian juga tetunya bagi setiap orang percaya tetap setia dan taat dalam iman kepada Yesus Kristus dari setiap situasi yang kita hadapi kini, dan terus berjuang untuk mencerminkan kemuliaan Allah.
 
Firman Tuhan yang menjadi perenungan kita hari ini dalam 2 Korintus 3:12-18, dalam nats ini Rasul Paulus bersaksi tentang diri dan pelayanannya sebagai pelayan perjanjian baru. Dalam hal ini Paulus mengambil pelajaran dari Keluaran 34:30,34-35, Musa menyelubungi mukanya demi umatnya; mereka takut menghampiri dia karena wajahya masih memancarkan kemuliaan ilahi dari perjumpaannya dengan Allah di gunung Sinai. Dengan keberaniannya Paulus tidak seperti Musa, yang tidak dapat berkomunikasi dengan bangsa Israel dengan ketulusan yang serupa. Tapi Paulus dan rekan-rekan sepelayanan bertindak dengan penuh keberanian. Keberanian berarti kemampuan berbicara tentang keterbukaan, kejujuran, ketulusan yang mutlak. Musa menutupi wajahnya serta memudarnya cahaya dari wajah Musa, Paulus melihat suatu makna dari peristiwa itu bahwa Musa menghalangi umat Israel melihat seluruh kebenarannya- bahwa perjanjian yang lama itu harus berahir dengan kedatangan Kristus(Rom.10:4,Gal.3:24)”Sebab Kristus adalah kegenapan hukum Taurat, sehingga kebenaran diperoleh tiap-tiap orang yang percaya”.  Selubung yang menutupi wajah Musa merupakan gambaran tertutupnya pemahaman dan tumpulnya pikiran orang Yahudi hingga kini untuk menerima penyataan yang baru, yaitu hanya di dalam Kristuslah penutup mata yang menyebabkan kebodohan tentang maksud Allah dalam memberikan torah itu diambil dari padanya. Rasul Paulus kini mengadaptasi penyataan pada peristiwa pertobatannya. Apabila hati seseorang berbalik kepada Tuhan, selubung itu di ambil daripadanya. Tuhan adalah tidak lain daripada Roh itu sendiri yang mengangkat selubung ketidak pahaman. Seperti halnya Roh yang menyebabkan pelupuk kebodohan jatuh dari mata Rasul Paulus(Kis.9:17-18). Ketika Roh melaksanakan kuasaNya yang berdaulat, di situ ada kemerdekaan  dari hukum yang menghukum dan mematikan. Roh yang menghasilkan kemerdekaan dari dosa dan maut(gal.2:4, Rom.6:18,22,23). Kemerdekaan yang diberikan oleh Roh itulah yang menetapkan dia menjadi Rasul dan dengan keberanian untuk mengatakan kebenaran dengan terus terang. Kuasa Roh lah yang memberikan Paulus keberanian untuk melaksanakan pelayanannya. Kemuliaan dari perjanjian yang baru itu tidak disingkapkan dalam kekuatan manusia, tetapi di dalam kuat kuasa Roh. Dahulu wajah Musa lah yang menampakkan kemuliaan Allah. Hanya dia yang dapat bercakap-cakap dengan Allah dengan wajah yang tersingkap(Kel.34:34). Kini semua orang percaya di dalam Kristus mempunyai pemandangan yang jelas tentang kemuliaan Tuhan. Orang percaya adalah orang yang dibentuk mendekati gambar anak Allah(Rom.8:29). Proses perubahan ini sekarang dan di masa mendatang adalah dari kuasa Tuhan yaitu di dalam Roh. Oleh sebab itu dari keterbatasan dan ketidak sempurnaan setiap orang percaya, tetap menjadi saksi Tuhan untuk mencerminkan-memancarkan kemuliaan Tuhan.
 
Jemaat yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus
Dari pengalaman hidup Paulus dalam memberitakan Injil seperti halnya yang di utarakan tersebut diatas,ada beberapa sikap yang patut kita teladani yang menjadi kekuatan iman kepada Yesus Kristus dan memancarkan kemuliaan Allah yaitu:  Berani Menghadapi tantangan dan penderitaan dengan mempertaruhkan iman pengharapan kepada Tuhan. Dengan kerendahan hati ia mengakui bahwa kemampuannya dalam melayani adalah oleh karna kuasa Allah yang bekarya di dalam Roh. Selubung yang menutupi yaitu sifat-sifat manusia lama ditanggalkan dan hidup baru di pimpin oleh Roh Kudus(Gal.5:22-26). Tetap setia dan menjadi saksi Kristus untuk memancarkan kemuliaan Tuhan dari sikap hidup, pelayanan, pekerjaan nya. Tentu halini adalah bagian hidup kita sebagai orang percaya. Yesus berkata,” Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apasaja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya. Dalam hal inilah Bapaku dimuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-muridKu. Amin.

 
      Pdt. Terima Tarigan 
GBKP Rg.CILEUNGSI
 
 

Khotbah Jeremia 1:4-10, Minggu 31 Januari 2016 SEXAGESIMA

Renungan

Invocatio    :
Tetapi waktu Ia, yang telah memilih aku sejak kandungan ibuku
dan memanggil aku oleh kasih karunia-Nya/Tapi Dibata, i bas lias ateNa enggo milih aku ope denga aku tubuh pe, janah idiloNa aku (Gal. 1:15)
(Catatan: Invocatio berbeda isi dan ayatnya, tertulis ayat 13 seharusnya ayat 15)
 
Bacaan    :
I Korintus 13:1-13 (Tunggal)
 
Tema    :
Lakukan Dan Sampaikan Perintah Allah/Dalanken Ras Peseh
Perentah Dibata
 
1. Yeremia dipanggil Allah menjadi nabi bagi kerajaan selatan (Kerajaan Yehuda). Ia melayani 40 tahun terakhir di Yehuda, termasuk hari-hari terakhir sebelum Yehuda Yerusalem dihancurkan  dan umat Israel dibawa ke Babel (627-586 SM). Ia melayani sepanajng pemerintahan Yosia, Yoahas, Yoyakim  dan Zedekia. Sepanjang masa itu umat Israel memberontak kepada Allah  dan mengandalkan persekutuan politik untuk memperoleh kebebasan dari musuh-musuhnya.  

2. Yeremia mendesak bangsa itu agar bertobat  dari dosa mereka dan memperingatkan mereka akan menderita terkena hukuman Allah karena menolak Allah dan hukum-hukum-Nyaa.  Karena berita yang disampaikan Yeremia  oleh karena pengabdian-Nya kepada Allah, Yeremia banyak mengalami pertentangan dan penderitaan.

3. Tidak mudah menyampaikan kritikan kepada  pembesar-pembesar, pemimpin-pemimpin dan kepada orang tua-orang tua.  Apa lagi diperhadapkan dengan kebudayaan Yahudi, menganggap anak yang masih muda  itu tidak tahu apa-apa, belum berpengalaman, sehingga pendapatnya tidfak perlu di dengarkan. Mengkritik kehidupan para pemimpin dan pembesar pasti mengundang reaksi yang sangat mengerikan, tetapi itulah yang di hadapi Yeremia.

4. Yeremia dijuluki dengan nabi yang yang berputus asa (bdk.  Yeremia 20:8-10) di satu sisi jika di amemberitakan apa yang di perintahkan Tuhan ancaman yang menghujam dirinya, jika dia tidak memebritakan apa yang di perintahkan Tuhan ada seperti api yang menyala-nyala di dalam hatinya yang terkurung di dalam tulang-tulangnya. Istilah kerennya....maju kena mundur kena  diam apa lagi...lebih berat.

5. Yeremia pasal 1:4-10, justru penguatan kepada Yeremia untuk menjalankan tugas panggilannya bahwa, dari  semula Tuhan telah menetapkan dirinya sebagai nabi, supaya Yeremia tidak takut dan gentas apalagi berputus asa dalam menjalankan tugas panggilannya. Sebelum Yeremia lahir Allah sudah menetapkan bahwa di akan menjadi nabi.

6. Sebagaimana Allah memiliki rencana bagi hidup Yeremia, demikian juga Allah mempunyai bagi setiap orang. Sasaran-Nya adalah agar kita hidup sesuai dengan kehendak-Nya, untuk menggenapi rancangan-Nya dalam diri kita.   Kita juga adalah umat pilihan Tuhan (1 Petrus 2:9 “Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib” memberitakan perbuatan Allah yang ajaib  untuk menggenap rencana-Nya, hidup sesuai dengan rencana Allah  kita juga mungkin tidak terlepas dari penderitaan, penolakan  tetapi sebagai umat yang percaya kita harus yakin bahwa suka dan duka dipakai Tuhan untuk mendatangkan kebaikan  karena rancangan Allah adalah rancangan damai sejahtera bukan rancangan kecelakaan (bdk. Roma 8:28 dan Yeremia 29:11)

7. Sebagaimana Tuhan berkata kepada Yeremia “Janganlah Takut” , karena waktu dipanggil menjadi nabi Allah dia sangat muda, dia mengalami rasa khawatir  dan gentar  ketika memikirkan harus menyampaikan Firman Tuhan kepada pembesar-pembesar dan tua-tua Yahudi . Allah berjanji  akan menyertai dan memberi kuasa  untuk memenuhi tugas panggilannya tersebut . Demikian juga Tuhan berkata kepada kita :”jangan takut” karena Allah akan senantiasa  berjanji untuk hadir  memberi pertolongan kepada setiap orang yang setia memberitakan kebenaran Tuhan walaupun banyak tntangan namun bertekun dalam iman.

8. Sebagaiman Allah meyakinkan Yeremia  bahwa berita nubuatnanya  akan diilhami Allah, kata-katanya akan merupakan kata-kata Allah  (bdk. Rm.10:8 “Tetapi apakah katanya? Ini: "Firman itu dekat kepadamu, yakni di dalam mulutmu dan di dalam hatimu." Itulah firman iman, yang kami beritakan” ), sehingga Yeremia tidak pernah kompromi  atau melunakkan Firman Tuhan.  Demikian juga Allah meyakinkan kita bahwa roh Allah yang memberikan kata-kata yang harus kuita ucapkan dalam pemberitaan Firman Tuhan, sehingga kita juga tidak perlu takut mengatakan Firman Tuhan yang sesungguhnya  dan tidak memutar-mutar Firman Tuhan

9. Berita yang harus dibawa oleh Yeremia adalah berita “penghukuman dan pemulihan”  bahwa segala sesuatu yang berbau dosa, kenajisan dan ketidakadilan harus di cabut dan di robohkan , di runtuhkan dan di binasakan.  Berita ini jugalah yang harus kita bawa di zaman ini, ditengah banyaknya orang berpesta dalam dosa.  Angkatan manusia yang tidak kalah buas dengan binatang buas, saling menyikut, membenci dan saling memangsa.  Kita rindu tatanan hidup yang baru, hidup di alam saling mengasihi, itulah pekerjaan kita , itulah berita yang harus kita lakukan dan beritakan.

10. Generasi yang perlu kita kita bangun dan kita tanam adalah generasi yang takut akan Tuhan dan generasi yang penuh pengharapan dan beriman seta hidup di daslam kasih  (I Kor.13:1-13)

11. Lakukan dan Sampaikan/Beritakan  Perintah Tuhan, menjadi tanggung jawab kita setiap orang yang telah dipilih oleh Tuhan, karena hal ini akan membawa kita ke sebuah pengadilan agung (bdk. Yeheskiel  33:1-9)
 
“SUKACITA HIDUP DUNIA DAN AKHIRAT AKAN KITA PEROLEH
KETIKA KITA MENJADI PELAKU DAN PEMBERITA PERINTAH  TUHAN”
Pdt. Saul Ginting
GBKP Rg. Bekasi
 

Khotbah Lukas 4:14-21, Minggu 24 Januari 2016

Renungan

Invocatio :
Saudara-saudara, aku boleh berkata-kata dengan terus terang kepadamu tentang Daud, bapa bangsa kita.  Ia telah mati dan dikubur,   dan kuburannya masih ada pada kita  sampai hari ini. Tetapi ia adalah seorang nabi dan ia tahu, bahwa Allah telah berjanji kepadanya dengan mengangkat sumpah, bahwa Ia akan mendudukkan seorang dari keturunan Daud sendiri di atas takhtanya (Kisah Para Rasul 2:29-30)

Bacaan:
Nehemia 8:1-10 (Tunggal)

Thema : 
Tuhan Menggenapi JanjiNya

I. Pengantar
Janji merupakan ucapan yang menyatakan kesediaan dan kesanggupan untuk berbuat (seperti hendak memberi, menolong, datang, bertemu). Karena itu, janji harus ditepati, dilaksanakan. Berbicara tentang janji adalah hal yang tidak mudah. Karena, banyak orang yang mudah untuk menyatakan janjinya tetapi sulit untuk melakukannya. Ada sebuah ungkapan “janji adalah hutang.” Artinya saat kita mengucapkan janji maka kita dituntut untuk menepati janji yang kita ucapkan itu. Tentu kita ingat saat sidi, kita pernah berjanji menjadi pengikut Yesus yang setia. Kita berjanji menjadi warga dewasa yang ikut bertanggung jawab dalam tumbuh dan berkembangnya jemaat. Ketika kita menikah, kita berjanji untuk setia pada pasangan dalam keadaan suka dan duka. Waktu kita membaptiskan anak, kitapun berjanji untuk menjadi orang tua yang bertanggung jawab dalam mendidik dan meneladankan nilai-nilai iman kepada anak-anak. Janji yang kita ucapkan dengan disaksikan oleh jemaat menjadi janji kita kepada Tuhan. Kita belajar bukan sekedar berani mengucapkan janji itu, tetapi juga mampu melakukan apa yang menjadi janji kita itu.

II. Tafsiran Lukas 4:14-21
Ayat 14-15 “Yesus kembali ke Galilea”
Setelah Yesus menjalani kehidupan selama 40 hari tanpa makan di padang gurun dan di situ iblis mencobai Dia (Lukas 4:1-13), maka oleh kuasa Roh kembalilah Yesus ke Galilea. Injil Lukas memberi tempat yang istimewa bagi Roh Kudus sebagai kuasa Allah yang berkarya di dunia ini. Berbagai mujizat dilakukan oleh Roh Kudus, seperti dialami perawan Maria ketika mengandung bayi Yesus, Roh Kudus membimbing manusia (Lukas 1:35;  4:1,14). Lukas menampilkan Roh Allah yang membimbing pekerjaan manusia, termasuk karya Yesus. Galilea merupakan daerah tempat tinggal Yesus. Pada masa ini, Galilea dikuasai oleh kekaisaran Roma yang menduduki daerah itu sejak tahun 63 SM.
Kemudian tersiarlah kabar tentang Dia di seluruh daerah itu. Yesus mengajar di rumah-rumah ibadat, yaitu sinagoga. Sinagoga berasal daribahasa Yunani, artinya perkumpulan. Dalam Alkitab, Sinagoga menunjukkan kepada suatu kelompok yang berkumpul bersama untuk beribadat. Di Sinagoga mereka berkumpul untuk beribadat, belajar dan menjaga identitas kelompok mereka. Sinagoga menjadi tempat yang penting bagi peribadatan Yahudi dan kehidupan komunitas di daerah-daerah sekitar Laut Tengah.

Yesus dipuji oleh mereka yang hadir di Sinagoga, hal ini menggambarkan keberhasilan Yesus. Salah satu tema yang menarik perhatian Lukas ialah Yesus mengajar. Lewat tema ini Lukas hendak menegaskan wibawa Yesus dalam pengajaranNya kepada umatNya tentang Allah dan rencanaNya. Selaku guru, Yesus tentu saja mempunyai murid yang memandang cara hidupNya sebagai pola hidup mereka sendiri. Dengan menampilkan Yesus sebagai guru yang mengajar di Sinagoga Yahudi, Lukas menekankan adanya kesinambungan antara ajaran Yesus dengan apa yang sejak dahulu dijanjikan Allah kepada Israel.

Ayat 16-17 Yesus mengajar di rumah ibadat ‘sinagoga’
Yesus datang ke Nazaret yang merupakan sebuah kota kecil di Galilea yang merupakan tempat tinggal Yusuf, Maria dan Yesus dibesarkan di kota itu. Wajarlah jikalau Yesus mengunjungi Nazaret tempat ia dibesarkan, dan itu menuntut suatu keberanian. Tempat yang paling sukar bagi seorang pengkotbah ialah gereja tempat ia hidup sebagai seorang anak; tempat yang paling sukar bagi seorang dokter untuk menjalankan tugas ialah dimana orang mengenalnya ketika ia masih muda. Namun, Yesus tetap pergi juga ke Nazaret.

Hari itu adalah hari Sabat, hari istirahat bagi orang Yahudi. Sabat adalah hari ke tujuh dalam satu pekan. Pada hari itu, Allah beristirahat, setelah menciptakan dunia (Kejadian 2:2-3). Menurut kebiasaaaNya, pada hari Sabat ia masuk ke rumah ibadat. Kebiasaan Yesus yang baik ini merupakan hal yang sangat patut ditiru (bdk.Ibrani 10:24-25). Hal ini merupakan caraNya memperingati Sabat sesuai dengan peraturan  Perjanjian Lama guna mengindahkan hari itu suci bagi Tuhan.  Lalu Dia berdiri hendak membaca Alkitab. Alkitab yang dimaksudkan adalah Alkitab Ibrani, yakni Perjanjian Lama.Yesus berdiri ketika membacakan Alkitab (ayat 16), tetapi duduk pada waktu berkotbah (ayat 20). Ini merupakan kebiasaan saat itu. Berdiri menunjukkan  suatu sikap menghormati Firman Tuhan. Berkotbah biasanya dilakukan dengan duduk (bdk. Kis 16:13), tetapi kadang-kadang juga dilakukan dengan berdiri (Kis. 13:16). Sikap duduk atau berdiri ini sebetulnya tidak mutlak, yang penting adalah : dalam hati kita menghormati Firman Tuhan.

Yesus bisa diijinkan untuk berkotbah si Sinagoga karena dalam Sinagoga memang ada kebebasan berkotbah. Jadi, kalau pemimpin sinagoga melihat seseorang yang ia anggap bisa berkotbah, maka ia mengijinkan orang itu berkotbah (bdk. Kis. 13:15). KepadaNya diberikan kitab nabi Yesaya.

Ayat 18-19 “Roh Tuhan ada pada Yesus”
Yesus mempunyai hubungan yang khusus dengan Roh Kudus, suatu hubungan yang penting untuk kehidupan pribadi kita. Dalam nubuat-nubuat PL tentang kedatangan Mesias, beberapa menubuatkan secara khusus bahwa Dia akan dikuasai oleh Roh Kudus (Yesaya 11:2; 61:1-2). Ketika Yesus membaca dari Yesaya 61:1-2 dalam rumah ibadat di Nasaret, Dia mengatakan “Pada hari ini genaplah nats ini sewaktu kamu mendengarnya” (Lukas 4:18-21).
Dalam petunjuk Yesus mengenai penggenapan nubuat Yesaya tentang kedatangan Roh di atasNya, Dia memakai ayat yang sama untuk meringkaskan sifat dari pelayananNya sebagai pemberitaan, penyembuhan dan pelepasan (Yesaya 61:1-2; Lukas 4:16-19). Yesus mengutip Yesaya 61:1-2 ini untuk menggambarkan misiNya di dunia ini.

  1. Roh Kudus mengurapi dan memberi kuasa kepada Yesus untuk misinya. Yesus adalah Allah (Yoh. 1:1), tetapi Dia juga manusia (1 Tim, 2:5). Sebagai seorang manusia, Ia harus  mengandalkan pertolongan dan kuasa Roh untuk melaksanakan semua tanggungjawabNya di hadapan Allah (Lukas 4:1, 14).
  2. Hanya sebagai seorang yang diurapi oleh Roh dapatlah Yesus hidup, melayani dan memberitakan Injil (Kis. 10:38). Dalam hal ini Dia menjadi teladan yang sempurna bagi orang Kristen; setiap orang yang percaya hendaknya menerima kelimpahan Roh Kudus.  

Yesus menerangkan maksud pelayananNya yang diurapi Roh, yaitu :

  1. Untuk menyampaikan Kabar Baik kepada orang miskin, papa, menderita, hina, patah semangat, hancur hati, dan mereka yang “gentar kepada firmanNya”.
  2. Untuk menyembuhkan mereka yang memar dan tertindas. Penyembuhan ini meliputi segenap pribadi, baik jasmani maupun rohani.
  3. Untuk mencelikan mata rohani mereka yang dibutakan oleh dunia dan iblis agar mereka dapat melihat kebenaran Kabar Baik Allah (bdk. Yohanes 9:39)
  4. Untuk memberitakan saat pembebasan dan penyelamatan yangsesungguhnya dari kuasa Iblis, dosa, ketakutan dan rasa bersalah (bdk. Yoh 8:36; Kis. 26:18).

Semua orang yang dipenuhi Roh terpanggil untuk ikut serta dalam pelayanan Yesus dengan cara-cara demikian. Untuk melakukannya kita harus menyadari sungguh-sungguh kebutuhan dan kesengsaraan yang diakibatkan oleh dosa dan kuasa iblis yang dasyat yaitu keadaan perbudakan kepada kejahatan, kehancuran hati, kebutaan rohani dan penderitaan fisik. Kita harus sadar bahwa tanpa Kristus keadaan kita secara rohani betul-betul buruk. Jikalau kita tidak menyadari hal ini, kita tidak akan datang kepada Yesus.

Ayat 20-21 “Yesus sebagai penggenapan janji Allah”
Setelah Yesus membacakan Yesaya 61:1-2, kemudian Dia menutup kitab itu, lalu duduk serta memulai untuk mengajar. KataNya : “Pada hari ini genaplah nats ini sewaktu kamu mendengarnya”. Dengan demikian Yesus hendak menyatakan bahwa Dialah penggenapan janji Allah dalam Yesaya 61:1-2, Mesias yang digambarkan oleh Yesaya adalah diriNya sendiri. Allah berjanji, maka Dia menepati janjiNya. Kata-kata Yesus pastilah mengejutkan para pendengarNya. Mereka sudah mengenal Dia sejak kanak-kanak dan mereka menerima Dia sebagaimana adanya. Ketika Dia mengklaim diri-Nya sebagai penggenapan nubuat Mesianis ini, mereka terheran-heran.

III. Aplikasi

Kehadiran Yesus di dunia ini sebagai Mesias yang diurapi merupakan penggenapan janji Allah kepada manusia untuk menyampaikan kabar baik bagi orang-orang miskin, pembebasan bagi orang tawanan, penglihatan bagi orang buta, membebaskan orang yang tertindas serta memberitakan tahun rahmat Tuhan. Hal ini memperlihatkan bahwa apa yang telah dijanjikan (dinubuatkan) oleh Allah maka ditepatiNya.

Dalam hidup keseharianNya, Yesus memiliki kebiasaan yang patut untuk kita teladani yaitu setiap hari Sabat, Dia ke Sinagoga. Bagaimana dengan kita ? Apakah tetap setia memuji Tuhan untuk beribadah di gereja setiap minggunya ? Tampakkah sikap menghormati serta menghargai Firman Tuhan dalam ibadah ?  Ataukah ketika Firman Tuhan diberitakan, asik ber-BBM, facebook, WA….atau tidur???

Janji Allah adalah kepastian bagi mereka yang percaya kepada-Nya. Kita meyakini bahwa setiap janji Allah berlaku bagi kita umat-Nya. Kini sebagai umat milik-Nya, kita diajak untuk percaya bahwa Allah selalu menggenapi janji-janji-Nya. Kita meyakini karya Tuhan adalah kebaikan bagi hidup kita. Dengan percaya akan janji-janji Allah, kita memiliki pengharapan bahwa rancangan Tuhan adalah rancangan keselamatan dan damai sejahtera. Rancangan Tuhan selalu indah pada waktunya. Iman kepada Kristus memampukan kita untuk menjalani hidup yang penuh dengan pergumulan ini dengan selalu berpegang teguh pada janji-janji Allah. Oleh karena itu marilah hidup ini kita jalani dengan keyakinan dan kepastian akan janji Allah. Selalu ada penyertaan, pertolongan dan perlindungan bagi yang bersandar pada Tuhan Allah.

Kepustakaan

  1. Stefan Leks, Tafsir Injil Lukas, Yogyakarta : Kanisius, 2003.
  2. Lembaga Biblika Indonesia, Tafsir Perjanjian Baru 3 : Injil Lukas, Yogyakarta : Kanisius, 1981.
  3. William Barclay, Pemahaman Alkitab Setiap Hari : Injil Lukas, Jakarta : BPK Gunung Mulia, 2009.
  4. Lembaga Alkitab Indonesia, Alkitab Edisi Studi, Jakarta : Lembaga Alkitab Indonesia, 2012.
  5. Alkitab Penuntun Hidup Berkelimpahan, Jakarta : Lembaga Alkitab Indonesia, 2006.
  6. www.golgothaministry.org/lukas/lukas-4_14-30.htm

Pdt. Chrismori Br Ginting
GBKP Rg. Yogyakarta

Lebih lanjut: Khotbah Lukas 4:14-21, Minggu 24 Januari 2016

 

Khotbah Lukas 2:1-14, Sabtu 25 Desember 2015

Renungan

Invocatio :
Yakub memperanakkan Yusuf suami Maria, yang melahirkan
Yesus yang disebut Kristur (Matius 1:16)

Bacaan  :
Yesaya 9:1-6 (Responsoria).

Thema :
Dia Lahir Untuk Kita
 
Saudara yang dikasihi Tuhan Yesus, kini tiba saatnya kita kembali melaksanakan ibadah Natal, dimana setiap tanggal 25 di bulan Desember dunia ini ikut bersukaria/memeriahkan bahkan dunia bisnispun bergeliat, toko-toko dan mall ikut dihiasi berbagai-bagai pernak-pernik natal. Baik pohon Natal, lampion, dan lampu-lampu Natal. Juga tidak ketinggalan makanan yang bernuansa Natal, tidak ketinggalan pakaian yang bernuansa Natal (merah dan hijau). Dimana-mana orang merayakan Natal baik di kota maupun di desa, bahkan di pelosok sekalipun juga ikut merayakan Natal. Natal sudah menjadi budaya luar buasa bukan??.. kalau kita amati bagaimana semaraknya suasana Natal itu di laksanakan. Terkadang suasana Natal ini sudah menjadi ajang pameran-pameran untuk memikat orang-orang yang merayakan Natal. Suasana Natal tentunya menyedot dana yang begitu signifikan. Panitia-panitia telah membuat anggaran-anggaran di setiap perayaan dan ibadah Natal itu. Tentunya dana yang paling banyak konsumi dan acara, maka terkadang menghabiskan dana ratusan juta. Juga dikalangan keluarga mengeluarkan dana, juga kantor-kantor bahkan asosiasi-asosiasi dan arisan, bahkan ada diwilayah di RT/RW merayakan Natal.
 
Saudara inilah momen Natal yang dirayakan umat manusia, dan di setiap tahunnya ada peningkatan , dana dan pernak-pernik.
Mari kita telusuri peristiwa yang merupakan awal peristiwa Natal dimana kelahiran Yesus  (yang merupakan Hari Natal itu).
Kelahiran Yesus itu diawali dengan pemberitaan/nubuatan para Nabi, diantaranya Nabi Yesaya dimana ia menjelaskan tentang kelahiran Raja Damai itu. Dimana kelahiran Raja Damai itu untuk menerangi negeri yang kelam, dan menimbulkan sorak-soari dan sukacita, mematahkan kuk yang menekan tongkat si penindas. Dan Yesasya terus mengumandangkan pada umatNya : seorang anak telah lahir untuk kita, lambung pemerintahan ada diatas bahunya. Hal inilah nubat tentang kelahiran Yesus (Mesias), walaupun hal ini masih ratusan tahun kemudian.
 
Kelahiran Mesias itu kini mengingatkan kita sebagai umat Kristiani, bagaimana kita menyikapinya lewat peristiwa yang dimana saat itu Yusuf dan Maria disaat usia kandungan sudah saatnya tiba akan melahirkan, namun harus memenuhi perintah Kaisar Agustus untuk mendaftarkan kewarganegaraannya. Yusuf dan Maria berangkat ke Betlehem sebagai kota asal nenek moyangnya Daud. Harus melaksanakan tugas itu sebagai warga Negara yang baik. Dan disaat itulah Maria melahirkan sang Putra Kudus itu (Yesus) dan kelahiranNya beda dengan kelahiran bayi-bayi yang lain. Sebab Ia di lahirkan di kandang dan dibaringkan di palungan. Kalau kita bayangkan masa tega banget Allah membuat seperti itu, tega banget manusia (orang Betlehem) membiarkan sang Mesias itu dilahirkan di kandang. Tetapi dibalik itu ada hal-hal yang dirancang oleh Allah, sebab kandang tempat yang kotor dan bau, tetapi kehadiran Mesias itu adalah untuk orang yang papa, orang yang duka dan tertindas oleh tongkat, dan dikandang itu siapa saja boleh hadir baik dikalangan atas maupun bawah. Ternyata benar, bahwa yang pertama hadir ditempat kelahiran itu diperintahkan Malaikat ialah para gembala.
Saudara, kenapa harus gembala yang pertama sekali diberitakan Allah tentang sudah lahirnya Mesias itu? Dapat saya pahami :
  1. Gembala itu pekerja yang tulus dan setia
  2. Gembala itu sanggup menghadapi segala cuaca (panas dan dingin)
  3. Gembala itu tidak banyak tuntutan
  4. Gembala itu tidak mengharapkan tanda jasa/penghargaan
  5. Pekerjaannya/karyanya dibutuhkan semua orang
Lewat 5 hal ini mengigatkan bagi umat Kristen yang merayakan Natal. Kita juga adalah harus sebagai gambaran Gembala yang disuruh malaikat untuk melakukan kehendakNya, jangan perayaan Natal saja kita laksanakan namun tidak ada actionnya.
 
Kita yang telah merayakan Natal, harus juga sebagai Pekerja yang setia untuk melaksanakan amanat Natal itu. Apa yang kita terima di saat Natal itu harus beritakan bagi orang lain. Orang percaya yang selalu merayakan Natal harus sanggup menghadapi segala tantangan, tidak pernah mengeluh terhadap hal-hal yang terjadi, sebab dia tahu perintah Allah itu selalu mendapatkan penyertaan.
 
Sebagai orang percaya sebagaimana gembala, tidak pernah banyak menuntut, dia hanya berharap apa yang di beri tuan sebagai pemilik ternak yang ia gembalakan. Demikian juga kita sebagai umat Kristen yang dipakai oleh Yesus, janganlah banyak menuntut, namun banyaklah berbuat. Jangan kau Tanya apa yang diberikan Gereja padaku, tetapi tanyalah dirimu apa yang akan kau berikan bagi Gerejaku. Sebagai orang Kristen, tidak perlu mendapatkan penghargaan dari orang lain, berbuatlah seperti apa yang diperintahkan Tuhan walaupun tidak pernah diberi penghargaan/tanda jasa, sebab Tuhan Yesus akan menghargai semua pekerjaanmu. Dan perlu kita ingat bahwa karya Gembala lewat ternak itu dibutuhkan semua orang misalnya : susu, daging dan pakaian dari bulu domba, tas, dompet, tali pinggang dari kulit.
 
Pernahkah terbayang oleh kita jikalau tidak ada gembala? Pasti dunia ribut. Sebab karya Gembala itu dibutuhkan semua orang, kaya, miskin, kalangan atas bawah, presiden  sendiri butuh karya Gembala itu. Demikian juga kita sebagai umat Kristen, karya kita dibutuhkan semua orang, sebab Yesus sudah perintahkan : Beritakanlah bagi semua orang.
 
Dia lahir untuk kita, itulah Thema ibadah Natal Umum kita di tahun ini. Hal ini menguatkan dan menghibur kita lewat penyertaan dan penyelamatan lewat Dia yang lahir itu, seperti yang di nubuatkan Nabi Yesaya. Besar kuasaNya dan damai sejahtera tidak akan berkesudahan, ia mendasarkan dan mengokohkan (Yes.9:6). Walaupun awalnya kehadiranNya sungguh terhina, namun setelah kehadiran Gembala itu terjadi suatu perobahan, bahwa Dia yang lahir itu adalah besar, dimana para Gembala itu menceritakan semua apa yang ia dengar dari Malaikat itu. Dia lahir ternyata untuk semua lapisan baik kalangan atas maupun bawah, kaya dan miskin, pintar maupun bodoh, bahkan bagi orang-orang tidak memperdulikan, Dia tetap memperdulikanNya. Dia mengatakan kepada Gembala juga bagi kita : jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa, hari ini telah lahir bagimu juruselamat, yaitu Kristus Tuhan (Lukas 2:10-11). Kehadiran Mesias itu untuk kita sebagai juruselamat, dan ia menghibur kita, Ia membuat kesukaan besar bagi kita.
 
Saudara, marilah kita laksanakan kegiatan ibadah dan perayaan Natal itu dengan sederhana, kita lebih baik banyak berbuat lewat persembahan Natal, berbagi buat sesama yang membutuhkan daripada Natal itu hura-hura.
Pdt. A. Brahmana
081317054961
 

Khotbah Ibrani 10:5-10, Minggu 20 Desember 2015

Renungan

Invocatio :
Hal ini dibuat-Nya untuk menunjukkan keadilan-Nya /
Arah si enda icidahken Dibata maka IA bujur kap
 (Roma 3 : 25b)

Bacaan/ogen :
Zakaria 2 : 10 - 13 (Antiphonal)
 
Tema :
Yesus Persembahan Yang Sempurna
 
Pendahuluan
Puji Tuhan, kita telah memasuki Minggu Advent IV yang merupakan Minggu Advent terakhir sebelum Natal. Kata Advent berarti coming, arrival. Kedatangan. Minggu-minggu Advent, artinya minggu-minggu menantikan kedatangan Sang Kristus, Sang Mesias. Kedatangan Sang Kristus yang dinantikan bukan hanya dalam kelahiran-Nya tetapi juga dalam kedatangan-Nya kedua kali sebagai Hakim yang Agung.
 
Dalam minggu-minggu Advent yang perlu kita lakukan adalah menanti. Bagaimana sikap kita dalam masa-masa penantian tersebut ? Dalam menanti Sang Kristus, Sang Mesias ? Sikap kita ditentukan oleh pemahaman dan kesadaran kita atas keberadaan diri sebagai orang berdosa, sehingga sungguh-sungguh kita memahami lalu mensyukuri dengan tulus dan bulat hati akan kedatangan Sang Kristus yaitu Yesus yang merupakan persembahan sempurna untuk menguduskan kita orang yang berdosa, yang kemudian dalam kedatangan-Nya yang kedua kali menjadi Hakim yang Agung atas orang yang hidup dan yang mati.
 
Pendalaman Nats
Dosa dalam konsep Kristen sangat berbeda dengan dosa dalam konsep agama-agama lain. Dalam konsep Kristen, dosa lebih dalam, lebih luas. Dosa itu status manusia; kita ini orang berdosa. Dalam Kejadian 3, bukan dituliskan bahwa Adam dan Hawa berbuat dosa, tetapi mereka jatuh ke dalam dosa. Dari gambar Allah yang tinggi dan mulia, mereka jatuh menjadi orang berdosa.
 
Bukan karena kita mencuri, maka kita berdosa, tetapi karena kita berdosa, maka kita mencuri. Bisa dianalogikan dengan gambaran seperti ini : bukan karena singa menerkam kambing, maka ia menjadi hewan buas, tetapi karena singa hewan buas maka ia menerkam kambing. Oleh karena itu, manusia tidak bisa menebus dirinya sendiri dari dosa. Diperlukan kuasa dari luar[1]

Pdt.L.Z.Raprap, “Kalo Tuhan Tahu, Ngapain Kita Minta?”, Jakarta : BPK-GM, cet.ke-2, 2010, hal. 15 - 24
[1] Handbook to the Bible – Pedoman Lengkap Pendalaman Alkitab, hal. 194
.
Dalam hukum Taurat diatur persembahan korban, yang terdapat dalam kitab Imamat, yaitu  :
  1. Korban bakaran (pasal 1 dan 6:8-13); satu-satunya persembahan korban dengan membakar habis binatang korbannya sebagai tanda dedikasi.
  2. Korban sajian (pasal 2 dan 6:14-18); sering menyertai korban bakaran dan korban keselamatan.
  3. Korban keselamatan atau korban pendamaian (pasal 3 dan 7:11-36); mendamaikan atau memperbaiki kembali persekutuan/hubungan antara pihak yang mempersembahkan korban itu dengan Allah; dapat pula berupa persembahan korban syukur.
  4. Korban penghapus dosa (4:1-5:13 dan 6:24-30); dibuat untuk mendapatkan pengampunan. Hubungan antara korban penghapus dosa dengan korban penebus salah tidaklah jelas. Umumnya korban penghapus dosa diadakan bagi dosa-dosa terhadap Allah, sedangkan korban penebus salah diadakan bagi kesalahan-kesalahan terhadapa sesama. (tetapi dosa terhadap orang lain pun dilihat sebagai dosa terhadap Allah, seperti yang jelas dinyatakan dalam pasal 6:2)
  5. Korban penebus salah (5:14-6:7 dan 7:1-10)
Namun :
  1. Darah lembu jantan atau darah domba jantan yang dipersembahkan tidak mungkin menghapuskan dosa (bdk.Ibrani 10:4). Bila itu mungkin maka, tidak akan ada lagi korban bakaran dan korban penghapusan dosa berikutnya yang dipersembahkan kepada Allah karena sudah dihapus oleh darah lembu jantan atau darah domba jantan yang telah dipersembahkan. Dalam kenyataannya, tiap tahun bangsa Israel mempersembahkan korban bakaran dan korban penghapusan dosa kepada Allah karena terus diingatkan akan dosa-dosa mereka. 
  2. Korban-korban tersebut tidak dikehendaki oleh Allah dan Allah tidak berkenan kepadanya meskipun dipersembahkan menurut hukum Taurat (Ibrani 10:8). Mengapa ???  Sebab ketaatan yang sejati bukan sekedar upacara keagamaan. Ketaatan yang sejati berarti hanya percaya kepada Tuhan, menyesali dosa dengan sungguh-sungguh, dan hidup sesuai dengan
kehendak TUHAN, termasuk memperlakukan orang lain secara adil. Dalam perjalanan hidup bangsa Israel, korban persembahan terus diberikan kepada Allah namun kejahatan tetap merajalela. Seperti yang diperlihatkan dalam kitab Amos dimana, kaum kaya dan berkuasa menindas orang miskin dan menyembah ilah-ilah asing.  
 
Untuk itu, Allah sendiri datang untuk menebus kita melalui darah Yesus agar kita tidak binasa. Dosa yang mendarah daging dalam hidup kita telah ditebus dan dibersihkan oleh Allah melalui darah Yesus. Dalam ketaatan-Nya, Yesus memberi diri sebagai korban persembahan penghapus dosa sehingga setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal.
 
Allah melalui Yesus menyatakan diri bukan hanya Allah yang Mahatinggi; bila demikian maka tidak ada seorangpun yang mampu sampai kepada-Nya. Bukan hanya Allah yang Mahakudus; bila demikian tidak ada seorangpun yang layak dihadapannya. Bukan pula hanya Allah yang Mahabesar; bila demikian tidak ada seorangpun yang berani menghampirinya. Allah melalui Yesus disamping Mahatinggi, Mahakudus, Mahabesar tetapi juga Allah yang Mahakasih, yang telah bangkit dari tempat kediaman-Nya yang kudus dan diam di tengah-tengah umat-Nya. (bdk.Zakharia 2:10-13 – bacaan pertama/ogen)
 
Aplikasi
Pemahaman dan kesadaran diri seperti yang diuraikan di atas kiranya yang melandasi kita dalam menanti kedatangan sang Mesias, baik dalam kelahiran-Nya maupun kedatangan-Nya yang kedua kali. Sesungguhnya, kita sungguh-sungguh menanti kedatangan-Nya layaknya seperti orang tenggelam mencari udara. Marilah kita mengaku dan menyadari diri seperti dalam Yesaya 64:5-6,8 :“Sesungguhnya, Engkau ini murka, sebab kami berdosa; terhadap Engkau kami memberontak sejak dahulu kala. Demikialah kami sekalian seperti seorang najis dan segala kesalehan kami seperti kain kotor; kami sekalian menjadi layu seperti daun dan kami lenyap oleh kejahatan kami seperti daun dilenyapkan oleh angin. Tetapi sekarang, ya TUHAN, Engkaulah Bapa kami! Kamilah tanah liat dan Engkaulah yang membetuk kami, kami sekalian adalah buatan tangan-Mu!”
Dengan begitu :
  1. Dalam kita menyambut dan merayakan kelahiran-Nya melalui perayaan Natal, kita persiapkan diri dan acara perayaaan dengan penuh sukacita dan kerendahan hati sehingga kita lebih fokus pada makna natal bukan sekedar perayaan; memberi perhatian pada isi natal bukan bentuk; lebih memikirkan substansi natal bukan sekedar konsepsi. 
  2. Dalam menyambut dan menanti kedatangan Yesus Kristus yang kedua kali, kita isi hidup dan hari-hari kita dengan hal-hal yang membuat hidup kita bermakna. Menebar kasih kepada sesama dan cipataan yang lain melalui kata dan perbuatan. Menjadi berkat bagi orang lain dalam apapun yang kita lakukan.
Kita lakukan bagian kita sebaik-baiknya dan sebenar-sebenarnya dengan satu harapan “Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kita seluruhnya dan semoga roh, jiwa dan tubuh kita terpelihara sempurna dengan tak bercacat pada kedatangan Yesus Kristus, Tuhan kita.” (bdk.1 Tesalonika 5:23) Amin.
Pdt.Asnila br Tarigan
Perpulungen Makassar
 

Page 1 of 55

BP-KLASIS-XXX

"SELAMAT DATANG mengunjungi Web GBKP KLASIS JAKARTA-BANDUNG"

Renungan

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
  • 6
  • 7
  • 8
  • 9
  • 10
  • 11
  • 12
  • 13
  • 14
  • 15

Pengunjung Online

We have 34 guests online